
Baru saja Sam masuk ke dalam rumahnya. Namun, handphone yang ada di saku celananya berbunyi. Cowok itu memilih untuk melipir mendekati sofa di ruang tamu itu.
Ia merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Ternyata itu telepon dari Adira. Betapa senangnya Sam melihat nama itu kembali muncul di layar ponselnya.
Sam duduk dahulu sebelum menggeser tombol hijau di layar handphone-nya.
“Halo sayang!” sapanya dengan tersenyum lebar.
“Halo Sam. Maafin Aku ya,” ucap Adira dengan lembut.
“Harusnya Aku yang minta maaf, Dir.”
“Nggak, ini salah Aku udah diamin Kamu selama seminggu. Harusnya Aku nggak begitu. Kamu masih cinta sama Aku ‘kan, Sam? Belum berpindah ke cewek lain?”
Abrisam bergeming. Hal ini membuat Dira semakit takut. Namun, tidak lama diseberang yang jauh di sana suara Sam terdengar sedang tertawa keras.
“Sam nggak lucu!”
“Kamu sih pertanyaannya aneh-aneh aja. Aku masih cinta sama Kamu dan nggak pernah berubah.”
Kedua sudut bibir gadis itu tertarik dan membentuk setengah lingkaran.
“Selama ini Aku nurutin kata-katamu. Aku udah jauhin Tania,” lanjut Sam.
Adira tidak menyangka kalau seorang Sam yang keras itu mau mematuhinya. Padahal dulu diatur saja susah.
“Makasih, Aku senang. Jadi, Aku nggak perlu khawatir lagi kehilangan Kamu.”
“Sebenarnya, Kamu nggak perlu khawatir karena Aku nggak mungkin selingkuh atau pergi dari Kamu.”
“Aku mau aja percaya sama Kamu, tapi karena Kamu anaknya Om Tomi yang mempunyai masa lalu buruk membuat rasa percaya itu terkikis,” ucap Adira di dalam hatinya.
Dahinya Sam berkerut saat suara Dira tidak terdengar lagi.
“Dir, Dira! Kamu masih di situ ‘kan?” pertanyaan Sam membuat gadis yang sempat melamun ini tersadar.
“Iya, Aku masih di sini. Aku percaya Sam. Aku nggak ngelarang kamu main sama siapa pun, tapi kalau sama cewek tolong batasi.”
“Iya Adira. Tenang aja. Jangan cemburuan gitu dong,” ujar Sam mencoba menggoda kekasihnya.
“Apaan sih? Kamu udah mandi belum?”
Abrisam bersandar ke sofa dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Belum, Aku baru aja sampai rumah. Tadi nongkrong dulu sama motor motor”
“Pantesan baunya sampai ke sini?” Adira tertawa pelan, “kamu masih suka ketemu geng motormu itu?”
“Aku masih wangi walau belum mandi ya. Kadang-kadang kalau ada waktu senggang Aku kumpul sama mereka.”
“Sam!” teriak Anna berkacak pinggang melihatnya dari jauh.
__ADS_1
Abrisam yang dipanggil lekas menoleh. Ia menutup ponselnya dengan telapak tangan.
“Ada apa, Ma?"
“Kamu itu udah sampai rumah, masuk nggak salam terus bukannya mandi malah teleponan,” ucap Anna yang menegur anaknya.
“Bentar lagi, Ma. Ini lagi telepon sama Adira.”
“Ya sudah jangan lama-lama. Habis itu langsung mandi! Udah mau magrib ini.”
Abrisam mengangkat sebelah tangannya seperti memberi hormat, “siap, Ma.”
Anna mengulum bibir dengan tangan mengelus perutnya yang besar itu. Ia perlahan pergi masuk kembali ke dalam rumah. Lelaki itu menempelkan lagi handphone-nya ke telinga.
“Maaf, Dir. Tadi Mama manggil.”
“Nggak apa-apa, udah sana mandi dulu! terus salat ya!”
“Oke, Kamu juga istirahat. Jangan sering begadang. Jangan khawatir sama Aku. Aku di sini baik-baik aja.”
Adira tersenyum lagi, “iya sayang.”
Setelahnya sambungan telepon mati. Abrisam menyimpan ponselnya lagi. Ia melepas sepasang sepatunya, lalu menenteng sepatu menuju kamar yang ada di lantai dua.
•••
Abrisam serta kedua temannya keluar dari mobil yang sudah berhasil terparkir. Ia mengikuti temannya dari belakang.
Musik keras yang selalu membuat dada berdetak kencak kembali memekakkan telinga Sam saat menginjakan kaki ke dalam night club itu.
Sam berjalan ke arah meja bar. Tempat itu sepi, tidak ada bartender yang meracik minumam atau melayani pengunjung. Ia tidak melehat gadis yang waktu itu juga.
Abrisam mendudukan tubuhnya di kursi berputar yang ada di depan meja bar. Ia melihat ke arah teman-temannya.
“Sam sini joget bareng!” teriak Manha yang asyik bergoyang. Sedangkan sebelahnya Emran yang berjoget dengan gadis asing.
Abrisam menggeleng, “lo aja! Gue di sini aja.”
Manha tidak mengambil pusing. Ia melanjutkan saja aktifitasnya itu.
“Dasar orang tua nggak tahu diri!” gerutu Tania saat memasuki ruang bar. Ia membersihkan lengannya yang tidak tertutup kain.
Tania merapikan rambutnya ketika melihat seseorang duduk membelakangi meja bar. Ia buru-buru mendekat.
“Permisi Tuan, Anda ingin memesan minum?” tanya Tania dengan lembut.
Sam yang sedang menyusuri ruangan club itu dengan sepasang matanya. Memutar kursi untuk menjawab tawaran orang di belakangnya.
Mata bulat dengan bola mata hitam pekat itu melebar. Betapa terkejutnya Tania melihat Abrisam di depannya sekarang.
“Tania?” tunjuk cowok itu yang coba meyakinkan kalau itu benar temannya, “Mbak, Tania ‘Kan? Dandan lo beda banget.”
__ADS_1
Tania cepat membelakangi Sam, “Maaf Tuan, Saya bukan Tania. Tunggu sebentar Saya akan mencarikan bartender pengganti untuk Tuan. Saya ada keperluan mendadak.”
Kening cowok ini berkerut. Ia tidak diam saja saat Tania memilih melarikan diri.
“Tania tunggu!” teriak Sam, kemudian berlari mengejar gadis berdress mini itu.
Ternyata gadis itu berlari ke arah pintu belakang. Ia segera menutup pintu saat sampai di laur dan menahannya ketika Sam berusaha membuka pintu itu.
“Tania kenapa lo pergi? Kenapa lo ada di tempat ini? Tania gue butuh penjelasan!” Sam terus mendorong pintu.
“Gue bukan Tania!” balasnya yang berteriak.
“Kalau lo bukan Tania kenapa takut liat gue? Kenapa lo malah lari?”
“Gue ‘kan sudah bilang sama lo. Gue ada urusan,” jawabnya yang masih saja bersikeras.
Akhirnya Sam mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mendorong pintu itu. Tania sampai terjatuh dibuatnya.
“Auu...” gadis ini merintih dan membersihkan tangannya. Ia mendongak saat Sam mengulurkan tangan.
Tania mengacuhkan pertolongan Sam. Ia berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun. Gadis itu masih saja usaha menutupi wajah dengan rambut panjang bergelombangnya.
“Kenapa lo ada di sini?” tanya Sam tegas.
Tania yang tadinya masih menutupi identistas sekarang lebih terbuka. Ia menunduk dan berbicara.
“Gu-gue... di sini untuk kerja. Gue bartender di night club ini,” jelas Tania terbata-bata.
Sam menggelengkan kepalanya, masih tidak percaya atas keputusan temannya itu.
“Astaga Tania, lo nggak bisa cari kerjaan yang lebih baik? Di sini ‘kan bahaya buat lo.”
Gadis itu mendongakkan kepalanya. Menatap tajam ke arah Abrisam.
“Gue nggak punya pilihan, Sam. Gue udah coba cari kerjaan lain, tapi nggak ada yang cocok waktunya sama jadwal kuliah gue. Cuma di sini yang cocok dan gajinya cukup besar.” Mata Tania mulai berkaca-kaca, “gue bukan lo yang sudah bergelimang harta. Gue butuh uang untuk berobat Ibu dan Kuliah. Pesiun Bapak hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Kalau gue nggak kerja siapa yang akan memenuhi semuanya.”
Sekarang cowok itu mengerti mengapa setiap malamnya nomor gadis ini tidak bisa dihubungi. Ternyata ia sedang berkerja di sini.
“Ibu tahu soal kerjaan lo ini?” tanya Sam mulai melembut.
Tania menggelengkan kepala. Ia menunduk dan air matanya terjatuh membasahi pipi.
“Ibu tahunya gue kerja di kafe.” Tania mengangkat kepalanya lagi, “tolong jangan bilang siapa-siapa! Gue masih butuh kerjaan ini.”
Sam merogoh saku belakang celananya. Ia mengeluarkan sapu tangan dan mengulurkannya ke depan Tania.
“Hapus air mata lo! Gue akan jaga rahasia ini.”
Tania tersenyum, gadis ini mengambil sapu tangan itu dan mengusapkannya ke wajah.
•••
__ADS_1
Note:
Maaf ya kalau ceritanya makin kesini nggak bagus. semoga masih bisa menghibur kalian ini.