
Hari ini pembagian rapor. Adira di temani sang Mama untuk mengambil hasil belajarnya satu semester ini.
Gadis itu melihat Anna yang datang tanpa Abrisam. Ibu tiri Sam yang kedua ini memang ditugaskan untuk menemani anak tirinya. Siska tidak bisa karena ia harus mengambil rapor milik Jasmin. Sedangkan Tomi harus bertemu kliennya di hari sabtu itu.
“Tante Sam-nya nggak ikut?” tanya Adira saat Anna keluar kelas dan sudah menerima hasil belajar anaknya.
Anna berhenti berjalan dan mendekat ke Dira dan Winda yang berdiri di seberang kelas.
“Ikut kok, tapi tadi izin ke temu teman-temannya,” jawab Anna diakhiri senyum sesudah menjelaskan.
Adira mengangguk-angguk mengerti. Ia tahu kalau sebenarnya Sam sedang menghindari dirinya.
“Oh jadi ini Mamanya, Sam?” Winda mengulurkan tangannya, “Winda, mamanya Dira. Kalau nggak salah pernah order kue ke saya ‘kan beberapa kali.”
Anna tersenyum lagi dan membalas jabatan tangan itu, “iya, Bu. Saya Anna, customer kue ibu. Saya dua kali memesan dan ada salah satunya Adira yang mengantar ke butik.”
“Oh iya-iya saya ingat.” Winda mengangguk-anggukkan kepalanya, “nggak nyangka kamu ibu Sam masih muda.”
Anna hanya terawa canggung saat di bilang ibu muda oleh Winda.
“Bagaimana nilai Dira?” Anna mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdulillah, Bu. Dira rengking satu. Nilainya diatas tujuh semua. Ada beberapa yang dapat sembilan,” jawab Winda dengan bangga.
“Wah, ternyata Dira ini siswi yang pintar ya.”
Adira tertawa garing, “tante bisa saja.”
“Sam bagaimana, Bu?” tanya Winda, “soalnya dia beberapa bulan ini belajar dengan Adira.”
“Oh, dia belajar denganmu?” tunjuk Anna pada Dira dengan terkejut. Adira hanya mengangguk, “pantasan saja nilai Sam sedikit naik, tapi kata guru tadi Sam tidak mengikuti satu ulangan. Tidak susulan pula.”
Adira jadi teringat saat Sam pulang lebih dulu ketika mereka bertengkar. Sam kembali tidak memperdulikan pelajarannya.
__ADS_1
“Ma sudah selesai? Ayo kita pulang!” tiba-tiba Abrisam sudah ada di sebelah Anna.
Anna mengangguk, “sudah.” Ia menoleh pada Winda dan Adira, “saya permisi Bu, Dir.”
“Tunggu Tante!” baru saja anak dan ibu itu ingin melangkah. Namun, Dira menghentikannya.
“Ada apa, Dira?” tanya Anna yang menoleh ke belakang.
“Dira minta waktu lima menit untuk bicara sama Sam.” Mendengar namanya disebut cowok itu menatap Adira.
“Baiklah, silakan.”
Adira menarik sebelah lengan Abrisam dan membawanya menjauh dari Anna dan Winda.
“Ada apa?” tanya Sam menghempaskan tangan Adira yang mengenggam pergelangannya.
“Kenapa lo nggak ikut susulan? Jadinya nilai lo nggak bagus ‘kan!”
“Itu bukan urusan lo lagi. Semua tentang gue nggak ada urusannya sama lo.”
“Gue nggak mau punya teman licik dan pembohong kayak lo!” Sam menoleh ke belakang, “ma ayo kita pulang!” teriaknya.
Abrisam berjalan lebih dulu meninggalkan Adira yang terdiam di tempat. Segitu marahnya Sam pada Dira.
Abrisam menepikan motornya di sebuah restoran tempat ia dan kedua sahabatnya berjanji.
“Siang bro!” seru cowok itu saat sampai di meja yang ditempati Manha dan Emran. Tidak lupa bertos ala-ala anak lelaki sekarang. Setelah itu Sam menarik kursi dan duduk.
“Ini undangan buat kalian.” Sam memberikan satu-persatu kartu undangan pada dua cowok itu.
“Lo jadi juga tunangan sama Kanaya?” tanya Manha yang baru saja membaca nama mempelai di kartu.
__ADS_1
Abrisam mengangguk, “jadi dong.”
“Lo benaran nggak akan nyesal ‘kan Sam?” tanya Manha lagi.
“Nggak dong.” Balasnya dengan percaya diri, “keluarga udah sepakat akan mengadakan acara ini libur sekolah. Pernikahan akan digelar setelah kami lulus.”
“Kalau gue nggak mau nikah muda. Selesai sekolah mau kuliah dulu,” ucapan Emran dapat persetujuan Manha.
“Gue juga kuliah kali. Kata Papi dan Om Adam kita nggak dilarang untuk kuliah.”
“Lo undang Adira?” tanya Emran meletakkan undangan ke atas meja.
Sam menggeleng, “gue nggak undang semua orang. Teman sekolah cuma beberapa aja.”
“Limited edition dong ini?” tanya Manha yang terpukau, “bangganya gue di undang ke pertunangan pengusaha terkaya seindonesia.”
“Lebay!” celetuk Emran dan mengambil kopi pesanannya yang sudah hampir dingin itu.
Sam hanya memperhatikan perdebatan dan ia juga sesekali tertawa. Emran kembali meletakkan gelasnya setelah menyeruput kopi.
“Lo nggak undang Dira karena takut berubah pikiran setelah dia liat itu ‘kan?” tanya Emran membuat Sam salah tingkah.
“Nggak juga. Gue juga nggak undang Violet dan Yara. Beberapa teman sekelas gue sendiri nggak undang.”
“Dih, kejam amat caramu. Masa teman sendiri nggak diundang?” Manha mengaduk-aduk jus buah naga di tangannya.
“Karena ini hanya acara keluarga. Jadi, teman yang di undang hanya yang orang tuanya rekan bisnis bokap gue.”
“Kita nggak rekan bisnis bokap lo?”
Sam dibuat kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Manha yang makin kemari makin ngaco.
“Sudahlah, gue mau pesan minum dan makanan dulu.” Sam mengangkat tangannya, “pelayan!”
__ADS_1