He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 26


__ADS_3

“Eh-eh mau ke mana kamu?”


Sam yang ingin kabur berpapasan dengan ibu penjaga perpustakaan. Ia hanya bisa menelan ludah.


“Sam!” seru Adira yang melihat itu.


Gadis ini segera bangkit dari duduknya dan mendekat. Meninggalkan Afraz dengan bukunya begitu saja.


“Dir!” panggilan Afraz saja tidak ia pedulikan, “ganggu aja sih sam.”


Setelah sedikit mengomel Afraz ikut berdiri dan mendatangi tempat keributan itu.


“Kenapa ya, Bu?” tanya Adira.


Sam dan penjaga perpustakaan itu menoleh. Di sana juga banyak yang menonton mereka. Mereka jadi pusat perhatian pengunjung perpustakaan.


“Ini Sam merusak rak buku saya.” Ibu itu menunjuk rak buku yang sudah reot gara-gara ditinju oleh cowok di samping Dira ini.


“Gila lo, Sam. Kenapa harus ngancurin rak buku? Kalau ada masalah jangan diluapin di sini.” Sam menatap tajam pada Afraz yang sedang ikut bergabung dalam percakapan.


“Masalahnya itu lo gob*ok,” ucap Sam dalam hatinya. Kemudian ia mengalihkan pandangan.


“Sudah-sudah, sekarang Sam ibu hukum. Bersihkan kamar mandi di samping perpustakaan!” perintah ibu penjaga perpuspustakaan.


“Dira juga ikut dihukum ‘kan, Bu?” tanya Sam.


Adira terkejut, ia refleks melotot ke Sam.


“Kenapa gue jadi kena juga?” tanya Adira.


“Iya, Adira tidak salah. Kamu yang buat masalah.” Adira mengangguki ucapan ibu itu.


“Bu Adira ini penjaga saya yang ditugaskan Pak Yuhdi untuk mengawasi saya dan merubah sikap saya. Kata Pak Yuhdi kalau saya buat salah Dira juga terkena hukumannya,” jelas Sam yang sedikit mengarang bebas.


Ibu penjaga perpustakaan itu menatap Adira.


“Nggak ada begitu, Bu.” Adira menggeleng dengan mengibaskan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


“Bu Mai, anak ini pasti berbohong.” Afraz mencoba membelas Adira.


“Nggak, Bu. Saya serius. Tanya saja pada Pak Yuhdi,” ujar Sam meyakinkan.


Ibu bernama lengkap Maimunah itu menjadi bingung. Adira kembali bersuara lagi.


“Saya memang di suruh Pak Yuhdi untuk merubah sikap Sam, tapi...”


“Tuh ‘kan, Bu. Saya nggak bohong.” Sam dengan cepat menyela Adira agar rencananya menyeret gadis itu berhasil.


“Kamu saya hukum juga Dira. Bantu Sam membersihkan kamar mandi. Kalian tidak boleh balik ke kelas kalau kama mandinya belum bersih!” ujar Bu Mai.


“Tapi Bu?”


“Ayo, ikut gue.” Sam menarik satu tangan Adira untuk keluar dari ruangan itu.


Sam menerobos kerumunan siswa dan siswi yang masih berkumpul. Afraz hanya bisa melihat kepergian Adira dengan hati kesal. Bu Mai juga tidak peduli pada sakit hatinya. Ibu penjaga perpustakaan membubarkan kerumunan itu, lalu ke majanya.


“Dira ‘kan belum jawab pertanyaan gue tadi. Aah sial!”



“Ini semua gara-gara lo! Sekarang gue jadi telat masuk ke kalas. Ngapain sih lo kena hukum ngajak-ngajak gue?” tanya Adira sambil berjalan.


“Gue begini juga salah lo,” gumam Sam yang ternyata sedikit terdengar dengan Dira.


“Apa salah gue? Gue di sana cuma ngerjain PR.”


“Hah?” Sam menoleh, “bukan, lo salah dengar. Gue nggak mau aja capek sendirian dan kalau ngerjainnya berduakan lebih cepat.”


“Alasan lo kekanakan. Tidak bertanggung jawab dengan ulah sendiri.”


Adira terus berjalan hingga tidak menyadari kalau Sam sudah berbelok ke arah lain. Gadis itu menoleh karena tidak merasakan diikuti lagi.


“Sam!” teriaknya membuat sang empunya nama menoleh dan berhenti.


“Mau ke mana? Kelas kita di sana.” Tunjuk Adira pada arah yang benar.

__ADS_1


“Gue nggak mau masuk kelas, lo aja sendiri sana!”


Sam melanjutkan jalannya lagi. Namun, bukan Adira kalau tidak bisa membawa Abrisam masuk ke kelasnya. Dira berlari mendekati cowok ini dan salah satu menarik lengannya.


“Ayo, ikut gue masuk kelas!” Adira terus menarik lengan panjang milik Sam.


“Gue nggak mau.” Sam hanya menahan tubuhnya hingga tidak ada efek apa pun dari tarikan Dira.


Sebenarnya ia bisa saja menepis tangan dan melepaskan genggaman gadis itu. Namun, ia tidak tega kalau Adira sampai jatuh ke lantai.


“Lo harus mau! Lo harus patuh sama gue. Karena gue yang ditugaskan sama Pak Yuhdi mengawasi kelakuan lo. Ayo!” sekuat tenaga Dira menarik cowok itu dan akhirnya ada hasil.


Sam bergeser sedikit dari posisinya. Lelaki itu juga sempat takjub Adira sekeras itu keinginannya. Akhirnya Sam melunak, ia mengikuti maunya gadis ini. Lagi pula mereka jadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di kelas tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


Tok...tok...tok


Sampai di kelas Adira mengetuk pintu kelas dengan Sam di sebelahnya.


“Masuk!” guru yang mengajar menyuruh kedua murid itu untuk masuk.


Adira dan Abrisam terlebih dulu menjelaskan dari mana mereka sehingga baru tiba. Setelah itu guru mengizinkan untuk duduk.


Dira menghela napas saat bisa menjatuhkan bokongnya ke kursi kesayangannya di sekolah ini.


“Nih.” Violet menggeser buku Adira mendekat pada si empunya.


Dira menoleh, “ini buka PR gue tadi yang di perpus?”


Vio mengangguk, “iya, Afraz yang kembaliin ke sini. Katanya lo dihukum bareng Sam.”


Adira memasang ekspresi cemberut dan menopang pipi dengan kedua tangannya. Lagi, ia menghela napas.


“Benar, ini semua gara-gara Sam yang bilang kalau dia dihukum gue juga harus dihukum. Padahal Pak Yuhdi nggak pernah bilang begitu.”


Violet menoleh ke belakang. Tepatnya, pada meja Sam. Cowok itu merebahkan kepalanya di meja. Sepertinya si tidur.


“Setiap lo dekat dia pasti lo ke seret-seret sama masalahnya,” ujar Vio yang kembali menatap Adira.

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi? Gue udah usaha jauhin dia, tapi rasanya ada aja yang bikin kita dekat."



__ADS_2