
Siang yang cukup terik ini Abrisam dan Adira sedang menyantap makan siang mereka di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor tempat Sam bekerja.
Wanita itu sengaja berkunjung, salah satu alasannya adalah bosan di rumah. Padahal Dira penasaran dengan sekretaris muda yang Tomi suruh untuk membantu Sam bekerja. Setelah kenal ternyata Andrea cukup ramah dan mudah bergaul. Dira tidak melihat gelagat yang mencurigakan.
Entah bawaan bayi atau Dira memang cemburuan. Ia sudah berusaha penuh akan percaya dengan Sam. Toh, selama ini lelaki itu selalu berkata jujur padanya.
“Oh iya, Sayang.” Sam membuka percakapan setelah dari tadi sibuk dengan makanan, “kemarin aku bertemu Tania lagi.”
Adira nampak tertarik dengan pembahasan ini. Ia bertanya, “lalu bagaimana? Selama ini dia benar pulang kampung?”
Sam mengangguk, “benar, ternyata dia pergi untuk menjauh dariku.”
“Kenapa begitu? Bukannya, kalian teman baik.”
Pria berdasi hitam ini meletakkan dulu sendok dan garpu yang dia pegang, lalu saling menautkan jari-jarinya.
“Sebelumnya, kamu jangan marah ya.”
Kening wanita yang menyantap nasi dengan ayam goreng itu berkerut. “kenapa aku harus marah?”
“Karena ini menyangkut perasaan Tania ke aku.” Adira tambah penasaran. Dia sampai menghentikan makan, “Tania pergi karena jatuh cinta padaku. Aku nggak tahu kalau dia menyimpan perasaan itu. Aku sama sekali nggak suka sama dia. Hubungan aku dengan dia itu cuma teman. Bahkan aku anggap ia seperti saudara.”
Dira menyentuh sebelah tangan suaminya yang sudah ada di atas meja. Ia mencoba menenangkan Sam.
“Iya, aku mengerti.”
“Apa aku sangat bersalah telah melukai hati temanku sendiri?”
“Cewek jatuh cinta pasti ada sebabnya. Nggak hanya cewek saja yang seperti itu. Cowok juga pasti sama. Nggak mungkin cinta datang tanpa sebab. Pasti ini juga ada salahmu.”
Sam menundukkan kepala, “Tania juga bilang begitu. Ini karena aku terlalu care dengan dia.”
Dira mengulas senyum tipis dan mengusap-usap punggung tangan sang suami.
“Lain kali kamu jangan berlebihan perhatian sama cewek. Ini yang aku takuti selama ini. Kalian jatuh cinta, untung saja hanya terjadi satu orang. Bagaimana kalau kamu juga merasakan yang sama?”
Lelaki itu mendongakkan kepala saat mendengar perkataan istrinya. Dira tampak berkaca-kaca. Kali ini Sam yang beralih menggenggam tangan Dira.
“Maafin aku. Aku memang nggak peka sama perasaan kalian, tapi aku selalu berusaha menjaga kesetiaan.”
__ADS_1
“Sudah nggak apa-apa. Aku sudah lupakan itu. Aku sudah lihat semua bukti cintamu padaku. Terus, Tania ke mana sekarang?”
“Dia bilang mau kembali ke kampung. Tania akan berusaha menghilangkan perasaannya terhadapku.” Sam menghela napas, lalu menatap lurus ke depan, “tetap saja aku merasa bersalah padanya. Aku nggak bisa melindungi dia. Bahkan jadi penyebab hancurnya masa depan dia. Walau dia bilang suatu saat dia akan kuliah lagi.”
“Mungkin jalannya memang begini Sam. Ingat pesanku jangan ulangi ini lagi kepada gadis lain. Kalau kamu nggak mau menyakiti hati orang lain lagi.”
Abrisam mengangguk. Ia melepas genggaman tangan, lalu melanjutkan menyantap makan siang. Adira jadi terpikir Gabriel, apa ia ikut menceritakan Gabriel juga. Kata Kanaya, ini harus disampaikan, tetapi Sam masih memikirkan perasaan bersalahnya. Takut beban pikiran lelaki itu bertambah lagi.
“Habis makan aku pesan rujak ya.” Alis Dira menaut, “sepertinya aku masih mengidam.”
Gadis itu sempat tertawa kecil mendengar penuturan suaminya.
“Pesankan buat aku juga. Kayaknya aku juga sudah mulai ingin ini-itu.”
“Oke, pelayan!”
Sam mengangkat sebelah tangannya.
“Untukku dibungkus saja,” tambah Adira.
•••
“Permisi, saya ke toilet dulu,” ujar Sam meminta izin.
“Silakan,” balas klien itu begitu ramah.
Tidak membuang-buang waktu dan kebetulan ini sudah di ujung. Sam lekas melangkah pergi meninggalkan kedua pria tua itu.
Pria ini keluar dari kabin kamar mandi dan lantas mendekati wastafel. Memutar keran hingga air mengalir keluar. Sam melihat pantulan orang yang berdiri di sebelahnya dari cermin. Merasa mengenal ia segera menoleh.
“Gabriel?”
Orang yang juga sedang sibuk membersihkan tangan itu menoleh ke arah Sam. Benar saja lelaki yang memakai seragam koki ini adalah Gabriel.
Sam mematikan keran, “lo dari kapan di Jakarta?”
“Sudah beberapa bulan ini. Nggak nyangka kita bisa bertemu di sini.”
“Lo kerja di sini?”
__ADS_1
Gabriel mengangguk dengan tangan mematikan keran air di depannya, “iya, kebetulan ini restoran punya bokap aku.”
“Ini juga tempat Dira bekerja dulu, tapi kenapa Dira nggak pernah kasih tahu gue kalau lo ada di Indonesia?”
“Aku juga tidak tahu. Mungkin Dira tidak mau hubungannya denganku diketahui olehmu.”
Dahi Sam berkerut, “maksud lo apa?”
“Adira hamil ‘kan?” Sam mengangguk pelan, “itu bukan anak kamu, tapi anak aku. Kami menjalin cinta di restoran ini.”
BRUK
Gabriel sedikit oleng. Tinjuan keras dari tangan Abrisam mengenai wajahnya. Lelaki berbaju koki ini menunjukan smick pada Sam. Ia menatap remeh suami teman baiknya itu.
Ternyata Gabriel membalas meninju wajah Sam. Namun, dengan cepat Sam menghindar. Mereka berkelahi di kamar mandi. Lebih banyak Abrisam yang menghajar Gabriel dari pada sebaliknya.
“Jaga mulut lo kalau ngomong tentang istri gue!” Sam mencengkram kuat kerah baju lelaki itu, “Adira nggak mungkin begitu.”
Pria yang sudah babak-belur itu tertawa pelan, “kamu sudah tertipu. Kenapa Dira tidak cerita kalau aku ada di sini? Ya karena untuk menutupi hubungan kami darimu.”
“Aaak!” Abrisam berteriak kesal, lalu memukul Gabriel lagi. Kepala koki itu membalasnya.
Seseorang yang ingin masuk ke toilet melihat perkelahian itu. Ia berteriak keras, akhirnya beberapa orang datang untuk memisahkan.
Di sinilah Abrisam sekarang. Ada di dalam mobil bersama Tomi. Mereka ingin kembali ke kantor. Tomi malu dengan rekan bisnisnya karena ulah Sam yang masih suka berkelahi.
“Kamu itu kalau ada masalah bisa nggak menggunakan otot?”
Abrisam meringis saat menyentuh wajah, “kalau dia nggak mengesalkan Sam nggak akan beri dia pukulan, Pi.”
“Kamu kenal sama chef itu?”
Sam mengangguk, “dia teman Dira sewaktu kuliah di Australia. Kenapa Dira nggak pernah kasih tahu Sam kalau orang itu ada di sana? Padahal Dira juga kerja di situ, Pi.”
“Mungkin, Dira takut kamu seperti ini. Berkelahi kalau bertemu chef itu.”
“Lain kali jangan lakukan ini lagi! Terutama saat kita sedang bertemu klien. Mengerti?”
Abrisam mengangguk saja. Lelaki ini menatap keluar jendela mobil. Ia memikirkan kata-kata Gabriel. Sam tidak ingin memberitahu Tomi kalau Gabriel bilang yang Adira kandung adalah anaknya bukan anak Sam. Pikiran Abrisam jadi berkecamuk. Ia bingung harus percaya pada siapa. Sedangkan orang paling ia percaya selalu menutup-nutupi masalahnya.
__ADS_1
•••