
Adira, Violet dan Yara berjalan bersamaan menuju luar gedung sekolah. Koridor ramai karena ini sudah waktunya pulang sekolah. Semua siswa-siswi membubarkan diri.
Sambil berjalan menuju gerbang sekolah mereka berbincang-bincang ringan.
“Mau naik angkot, Dir?” tanya Yara.
“Iya, naik apa lagi.”
“Bareng deh,” lanjut Yara.
“Emangnya motor lo ke mana?” tanya Violet yang heran.
“Lagi di bengkel. Ada masalah gitu jadi harus diservis,” jawab Yara.
“Motor baru udah rusak aja.” Perkataan Violet diangguki Dira.
“Baru beli sih, tapi beli bekas.”
“Oalah...” seru Vio dan Dira bersamaan, “pantas aja.” Tambah Dira.
“Ya sudah kita bareng aja. Lo dijemput seperti biasa kan, Vi?” Vio yang ditanya oleh Dira mengangguk.
“Oke, sip deh.”
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan mereka. Membuat ketiga gadis itu menghentikan langkahnya.
“Ayo, bareng gue aja!” ajak Sam terlebih dahulu membuka kaca helm full face-nya.
“Nggak! Gue bisa pulang bareng Yara. Lo pulang aja sendiri.” Dira lekas menggandeng lengan Yara yang berdiri di sebelahnya.
“Lo ‘kan pacar gue, sebagai pacar lo harus nurut sama pacarnya. Ayo, sayang. Naik!” Sam menepuk jok belakang beberapa kali.
“Halu lo ya? Sejak kapan lo sama Dira jadian?” tanya Violet dengan volume suara yang meninggi.
“Lo aja yang nggak tahu kalau gue sama Dira udah jadian. Emang kita perlu ngasih tahu? Siapa lo? Nggak penting.”
Wajah Vio memerah. Cowok di depannya sangat menyebalkan. Rasanya gadis ini ingin sekali menjambak rambut laki-laki itu dengan tangannya sendiri.
“Gue sahabatnya Dira. Dira nggak mungkin kalau jadian nggak cerita dulu ke sahabatnya.” Violet mengibaskan kipas tangannya, “Please deh, preman halu. Adira itu di tembak Afraz bukan lo. Lo itu cuma halu mau jadi pacarnya.”
Adira dan Yara hanya menyimak perdebatan dua orang di hadapannya ini.
Sam merasa darahnya naik mendengar nama Afraz. Ia tidak suka pada lelaki modus itu. Abrisam memajukan sedikit kendaraan roda dua itu, lalu tangannya menggapai pergelangan tangan Dira.
“Lo harus pulang bareng gue!” Sam menarik tangan Dira hingga pegangan gadis itu pada Yara terlepas.
“Gue nggak mau.” Adira memberontak dan berusaha melepaskan tangannya.
Abrisam mendekat ke telinga Dira, “lo mau gue aduin ke Pak Yuhdi kalau lo udah nggak mau ngawasin gue lagi?” ucapnya berbisik.
Dira terdiam sejenak. Rupanya ia sedang berpikir. Tanpa dipaksa lagi, gadis itu naik ke atas motor Sam dan duduk di boncengan.
Violet dan Yara terheran-heran.
“Dir?” gumam Vio menatap teman sebangkunya yang mau pulang bareng Sam.
“Maaf guys, gue duluan.” Pamit Adira dengan lesu.
Sam menutup kembali kaca helmnya. Berancang-ancang akan segera menjalankan kendaraan.
“Dadah!” Sam melambaikan tangannya pada kedua gadis yang masih tak percaya akan kemauan Dira mengikuti Sam.
Motor dengan warna oranye bercampur putih dan hitam itu melaju keluar dari gerbang sekolah.
Yara menghela napas, “gue pulang sendiri deh.”
Violet mengusap-usap punggung Yara, lalu mereka melanjutkan langkah keluar sekolah.
Dari jauh Manha dan Emran juga memperhatikan kejadian barusan.
“Sam sejak tertusuk itu otaknya eror ya? Katanya dia nggak suka sama Dira. Tahu-tahu udah ngumumin aja kalau sudah jadian,” ucap Manha yang ada di boncengan Emran.
__ADS_1
“Yang tertusuk tuh pundaknya apa hubungannya sama otak?” tanya Emran yang ada di depan.
“Kan dipelajaran IPA juga ada. Katanya tuh sel-sel tubuh kita ini saling terhubung. Nah, bisa aja ‘kan dari pundak terhubung ke otak?”
“Kumaha maneh saja!”
Emran lalu menjalankan motornya. Manha yang tidak mengerti apa yang diucapkan Emran hanya mengedikkan bahu dan tenang duduk di boncengan. Yang penting masih diantari pulang sama Emran.
Abrisam menepikan motornya di pinggir jalan. Dahi Adira berkerut pikirannya jadi bertanya-tanya.
“Ayo turun!” ajak Sam padanya.
“Tapi ini belum sampai rumah gue. Lo cuma mau mainin gue doang ya?”
Cowok itu tertawa pelan.
“Tuh.” Sam menunjuk toko helm yang ada di depan mereka, “gue mau beliin lo helm dulu.”
Sam menatap ke depan dan menunjuk-nunjuk, “di depan sana ada lampu merah biasanya sering ada polisi yang jaga. Lo mau kita kena tilang?” lanjut Sam yang menoleh ke belakang.
“Lo ini yang ditilang, salah siapa nawarin bareng.”
Abrisam turun dari kendaraan roda duanya, sebelumnya ia matikan dulu mesin dan mencabut kuncinya.
“Maka itu dari pada STNK dan SIM gue nanti ditahan lebih baik kita beli helm di sini. Ayo!” Sam menarik tangan Adira untuk turun dari atas motornya.
Dira menurut saja dan ikut turun. Setelah kakinya menginjak jalan. Dengan cepat ia menepis tangan Sam yang masih menggandeng tangannya.
“Nggak perlu gandengan memangnya kita mau nyeberang?” cowok itu tertawa kecil, “lo yang beliin ya? Gue nggak punya uang sebanyak itu.”
Sam mengangguk, “iya memang gue yang beliin helmnya. Lo pilih aja yang lo suka.”
Bersamaan mereka masuk ke dalam toko helm dan disambut oleh pelayan toko.
Dira berjalan pelan sambil memperhatikan helm-helm yang disusun rapi. Sedangkan Sam juga melihat-lihat dari sisi yang lain.
Sam menoleh ke belakang, “yang ini mau?” cowok itu menunjukkan helm hello kitty.
“Gue pikir semua cewek suka pink.” Sam meletakkan lagi pilihannya.
Dira tersenyum saat melihat helm warna kuning bermotif bebek. Ia lekas mengambil helmnya dan menoleh pada Sam.
“Gue mau yang ini.” Gadis itu tersenyum.
Abrisam yang berbalik, mematung melihat senyum Dira padanya.
“Woi, gue mau ini!” teriak Dira karena Sam tidak meresponsnya.
Sam langsung tersadar dari lamunannya, lalu mendekati Adira.
“Ya sudah, mbak saya beli yang ini,” ucap Sam pada pelayan toko.
“Baiklah, 300 ribu Mas,” ujar pelayan toko itu.
Sam mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan. Adira sedikit terpukau saat tidak sengaja melihat uang yang ada di dompet Sam. Wajar saja pikir Adira, Sam adalah anak pengusaha sukses.
“Sudah, ayo kita pulang!” Sam berjalan duluan keluar dari toko itu. Adira dengan membawa helmnya menyusul dari belakang.
Abrisam kembali duduk di motornya dan menghidupkan mesin motornya lagi.
“Pakai dong helmnya!” suruh Sam yang melihat Dira hanya memegang saja helm itu.
Adira sedikit tersentak saat lengannya ditarik oleh Sam. Sekarang jarak mereka cukup dekat. Cowok ini mengambil alih helm itu dari tangan Dira dan memasangkannya pada kepala gadis ini.
Dira hanya diam memperhatikan wajah Sam yang ada di hadapannya. Lelaki itu menjauhkan lagi tangannya saat sudah selesai memasangkan helm.
“Udah, ayo naik!”
Adira mengangguk dan berjalan ke belakang. Ia menaik lagi ke atas jok motor.
__ADS_1
“Pegangan!” Sam melihat Dira dari kaca spionnya. Dira tidak menuruti perintah Sam. Ia cuek saja, pura-pura tidak mendengar.
Dira terkejut saat tangannya ditarik untuk melingkar di perut cowok di depannya ini.
Baru saja Dira ingin melepas tangannya dari pinggang Sam. Namun, cowok itu sudah bersuara duluan, “jangan dilepas! Lo mau jatuh?”
Walau sedikit mengomel di belakang, tapi Adira tidak melepas pegangannya. Perlahan motor Abrisam berjalan kembali.
“Nah, yang itu rumah gue.” tunjuk Adira pada pagar berwarna-warni.
Sam memelankan laju motornya dan lama-kelamaan menepi. Cowok ini membuka helm yang terpasang di kepalanya. Kedua matanya mengamati rumah Adira.
“Ini rumah atau taman kanak-kanak?” tanya Sam yang asal sebut saja.
“Sembarangan!” Dira menepuk lengan Sam saat ia sudah turun dari boncengan, “ini rumah gue. Bukan taman kanak-kanak.”
“Abis ceria banget warnanya.”
Bunyi suara pagar yang dibuka. Membuat kedua remaja itu menoleh. Winda datang sambil membawa sampah yang ingin ia buang.
“Eh, anak mama sudah pulang.” Winda terlebih dahulu meletakkan sampah pada tong yang tersedia di depan rumah, lalu menghampiri Dira.
“Iya, Ma.” Dira menci*um punggung tangan Winda.
“Ini siapa?” tunjuk Winda pada Sam, “mama kira kamu pulang sama Afraz.”
Dengan sigap Sam turun dari motornya. Ia menjawab lebih dulu sebelum keduluan Adira.
“Saya Abrisam, Tante.” Sam ikut menci*um punggung tangan Winda, “calon mantu, Tante.”
“Hah?” Winda terkejut.
Dira menyenggol lengan cowok yang sekarang berdiri di sebelahnya, “apaan sih lo?”
“Lah, ‘kan benar. Kita sekarang pacar. Suatu saat nanti gue akan jadi suami lo. Jadi, gue ini calon mantu mama lo.”
Dahi Adira berkerut saat Sam menjelaskan itu.
“Kalian pacaran?” tanya Winda.
Adira cepat menggeleng dan mengerak-gerakan tangannya, “nggak, Ma. Dia halu doang.”
“Jangan begitu dong sayang. Masa lo nggak ngakuin gue di depan camer.” Sam beralih melihat Winda, “maaf Tante, saya pikir Dira masih malu. Karena kita baru saja jadian.”
“Maaa, dia...”
Perkataan Dira terpotong saat Sam bersuara lagi.
“Aduh,” Sam melenguh saat melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, “saya nggak bisa lama-lama Tante, masih ada urusan.”
“Oh iya.” Winda mengangguk-angguk.
Sam mengambil tangan Winda dan menci*um punggung tangan itu lagi.
“Saya pamit, lain kali nanti main lagi ke sini.” Sam mengulas senyuman termanisnya.
“Dih, nggak ada yang terima lo bertamu di sini,” ujar Adira dalam hati.
Sam yang merasa diperhatikan oleh Dira. Menatap gadisnya, “kenapa? Nggak rela gue pulang?”
Dira menjulurkan lidahnya seperti orang ingin muntah, “pulang aja sana! Huss!”
Sam tertawa kecil, “itu helmnya.” Tunjuk cowok ini pada helm yang masih bertengger di kepala Dira.
Dengan cepat Adira melepas helmnya dan mengembalikan ke tangan Sam. Tanpa berkata apa pun lagi gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Sam hanya tersenyum, lalu segera menaiki motornya lagi. Ia pasang helm dan menghidupkan mesin motor. Memencet klakson dan menoleh ke Winda.
“Hati-hati!” pesan Winda.
__ADS_1
Lalu setelah itu motor Sam melaju menjauh dari Winda.