He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 54


__ADS_3

Abrisam memberikan uang kepada penjual es krim, lalu mengambil dua corn es krim coklat. Ia berjalan mendekati Adira yang duduk di sebuah bangku panjang berwarna hijau letaknya di bawah pohon rindang.


“Untuk lo!” Sam memberikan satu es krim ke Dira.


Adira dengan senang hati menerimanya, “makasih.”


“Sama-sama.” Sam mengambil tempat duduk di sebelah Dira.


“Jadi lo kabur dari acara pertunangan lo?” tanya Adira di sela-sela menjilat es miliknya.


Sam mengangguk, “iya benar, Kanaya yang nyadarin gue. Kalau sebenarnya hati gue cuma buat lo.”


Adira terhenti menyantap es krim coklat miliknya. Pandangannya tertuju pada Abrisam.


Sam mendengus, “akhirnya gue sadar ternyata semua ini gara-gara ego gue yang tinggi.” Ia mendongak dan menatap Adira. Mata mereka saling bertemu.


“Gue nggak mau kehilangan orang yang gue cinta untuk ke dua kalinya,” lanjut Abrisam.


Adira cepat-cepat mengalihkan pandangan dan menyantap es krim yang sudah meleleh ke tangannya.


“Tolong dong ambilin tisu di tas gue.” Adira membusungkan tubuhnya ke arah Sam.


Sam dengan sigap membuka tas yang Dira pakai, lalu mengambilkan tisu dari dalam. Memberikan pada gadis itu. Adira menggunakannya untuk membersihkan tangan yang terkena es krim.


“Makanya cepat abiskan! Kebanyakan begong sih tadi.” Adira hanya tertawa saja, “nih di sini juga ada.” Sam mengambil tangan dira yang memegang tisu dan mengarahkan ke sudut bibir gadis itu. Dira terdiam saat tangannya digenggam Sam sambil diarahkan untuk membersihkan bibirnya yang belepotan.


“Sudah bersih.” Sam melanjutkan mengabiskan es krim miliknya yang sudah ingin mencair juga.


Dira menurunkan tangannya dan ikut memakan es yang ada di tangan satunya.


“Oh iya, gimana sama keluarga lo? Lo nggak kena marah kabur begini?”


Pertanyaan Dira membuat Sam jadi berpikir. Tomi pasti akan marah padanya. Namun, apa pun yang terjadi nanti ia akan hadapi ini semua demi Dira.


“Nggak usah dibahas ya.” Dahi Dira berkerut mendengar ucapan Sam, “biar ini jadi urusan gue. Gue yang ngelakuin jadi gue harus terima konsekuensinya.”


Adira mengerti, lalu ia mengalihkan pembicaraan.


“Ayo kita naik biang lala!” tunjuknya pada wahana yang besar dan tinggi.


Sam mengikuti arah tunjuk gadis itu. Sekarang mereka ada di kawasan wahana hiburan. Sam sengaja mengajak Dira ke sana. Ia ingin mengabiskan waktunya dengan gadis itu.


“Kenapa? Takut ketinggian ya?” Adira menatap Abrisam penuh selidik.


Sam menggeleng cepat. Namun, wajahnya terlihat tegang.


“Ya sudah ayo naik ke sana.” Dira berdiri lebih dulu, “sini es krimnya.” Gadis itu mengambil es krim Sam dan membersihkan tangan cowok itu dari noda es krim.

__ADS_1


Adira membuang semuanya ke kotak sampah. Ia kembali berdiri di depan Sam.


“Ayo!” Gadis itu menarik tangan Sam agar cowok itu lekas berdiri.


Mau tak mau Sam harus mengikutinya. Setelah membeli tiket dan akhirnya mengantri wajah Sam tambah pucat.


“Ayo naik!” Dira menarik tangan Sam setelah seorang pengawai membukan pintunya.


Biang lala mulai berputar. Dira terlihat gembira dengan pandangan melihat ke bawah. Sedangkan Sam, cowok itu berpegangan pada besi dan takut-takut ketika menengok ke bawah.


“Sam muka lo pucat banget. Lo beneran takut?”


“Nggak.” Sam menggelengkan kepalanya cepat, “gue berani.”


Adira mengambil kedua tangan Abrisam. Menggenggamnya dengan erat.


“Nggak usah bohong sama gue. Tatap gue!”


Sam mengikuti intruksi Dira. Ia menatap wajah gadis itu. Sama saja jantungnya masih berdebar kencang. Namun, rasa takut sedikit demi sedikit hilang.


“Ini nggak berbahaya Sam. Lo pasti selamat sampai di bawah. Jangan lihat ke bawah kalau lo emang takut! Tatap lurus ke depan atau lihat gue.”


Ucapan-ucapan penenang dari Adira buat ketakutan pada diri cowok ini menghilang. Ia pikir ini tidak terlalu buruk. Hikmah dari semua ini ia bisa terus memandang wajah gadis itu. Bahkan ia nggak mau turun sekarang.


“Menyenangkan bukan?” tanya Adira sambil tersenyum manis. Sam mengangguk saja.


Hingga tidak terasa hari mulai sore dan kedua orang itu kembali pulang.



Sam menyetop taksinya di depan pagar rumah. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan membayar.


Saat lelaki ini berjalan masuk dengan jas yang ia lampirkan ke lengan matanya tertuju pada dalam rumah. Tampak ramai di sana.


“Sam!”


Baru saja menginjakkan kaki di depan pintu masuk sang ayah sudah memanggil dengan nada membentak.


“Kemari!”


Sam hanya mengikuti perintah Tomi. Di ruang tamu cukup ramai. Ada Kanaya dan kedua orang tuanya juga.


PLAKKK


Tomi menampar anaknya saat mereka sudah berdekatan. Sam memegang pipinya yang terasa panas. Anna dan Siska serta Kanaya sekeluarga pun terkejut oleh tindakan Tomi.


“Ke mana saja kamu seharian ini?” Tomi diam sebentar, “bagus ya, meninggalkan acara begitu saja. Kamu bikin malu Papi. Kamu nggak mikirin perasaan Naya?”

__ADS_1


“Sam pergi bertemu Adira, Pi. Maaf kalau Sam bikin acaranya berantakan.”


“Om, aku ‘kan sudah bilang kalau aku yang suruh Sam untuk pergi,” ucap Naya mencoba membantu Abrisam.


“Diam Naya! Om tidak berbicara padamu. Biarkan Sam yang menjelaskan.”


Adam menepuk-nepuk tangan anaknya yang ada di atas paha. Mengintruksi agar Naya patuh dengan perkataan Tomi. Naya menoleh sekilas ke sang ayah, lalu tertegun.


“Sam nggak mau dijodohin, Pi.” Sam menurunkan tangannya dari pipi, “Sam nggak cinta sama Naya lagi. Udah ada Adira yang mengantikan posisi Naya.”


“Bukannya sebelum itu kamu sudah setuju? Apa bagusnya gadis lain selain Naya? Papi sudah memilihkan yang baik untukmu.” Beberapa pertanyaan terlontar dari bibir lelaki paru baya itu.


“Terus menurut Papi apa bagusnya yang lain dari Bunda dan Mama? Kenapa Papi masih mencari yang lain?” Sam membalik pertanyaannya.


“Anak kurang ajar! Papi sedang memahas kamu. Urusan Papi kamu tidak boleh ikut campur.” Betapa malunya Tomi pada keluarga Naya akan ketahuan ke-playboy-annya.


Sam menghela napas. Membenarkan jas yang ada di lengannya dan berdiri tegak menatap tajam sang ayah.


“Kanaya dan Adira sama-sama orang yang baik, Pi. Namun, saat ini hati Sam ada di Adira. Sam masih muda, masih bisa merubah keputusan yang memang tidak baik. Sam juga nggak mau menyakiti hati Naya. Dengan pura-pura cinta padanya.” Sam menoleh ke Kanaya yang duduk di samping kedua orang tuanya, “Naya juga yang menyuruh Sam untuk mengejar orang yang Sam cinta. Sam nggak mau menyiakan kesempatan itu lagi.”


Kanaya yang menegakkan kepalanya kembali. Mendengar perkataan sahabatnya ini, tersenyum. Ia mendukung keputusan Sam.


Setelah menjelaskan semuanya Abrisam berlari menaiki anak tangga, menuju kamarnya.


“Sam!”


“Sam! Papi belum selesai berbicara!” teriak Tomi berkali-kali memanggil anak laki-lakinya. Namun, dihiraukan oleh Abrisam.


Tomi memandang ke arah keluarga Adam yang duduk di sofanya. Ia memasang wajah sedih. Pria itu duduk berhadapan dengan teman sekaligus rekan bisnisnya.


“Maafkan saya, Adam. Perjodohan anak kita jadi berantakan. Saya yang salah mendidik Abrisam.” Tomi tersenyum miris, “saya kira Sam masih menyukai Naya.”


“Sebenarnya Saya kecewa dengan keluargamu ini. Saya malu dengan sanak saudara yang saya undang ke pesta. Terpaksa saya juga membatalkan perjanjian bisnis kita,” ujar Adam dengan tegas.


Tomi terkejut, “tidak bisakah bisnis itu kita lanjutkan saja?”


“Tidak, saya tidak mau bekerja sama dengan orang yang tidak bisa menepati janjinya.” Keputusan Adam sudah bulat.


Anna dan Siska yang sudah menyimak ikut sedih dan tidak enak hati.


“Yah, kasihan Om Tomi. Lanjutkan aja kerja samanya. Naya nggak masalah sama pertunangan yang batal. Naya sama Sam juga masih berteman.” Gadis yang sudah tidak menggunakan gaun pestanya itu mencoba membujuk Adam.


“Maaf Naya, Ayah tidak bisa.” Adam melihat istrinya, “ayo kita pulang!”


Adam sudah berdiri, “kami permisi.”


Kanaya dan ibunya menyusul sang Ayah yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari rumah.

__ADS_1



__ADS_2