He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 52


__ADS_3

Hari yang menentukan masa depan Abrisam sudah datang. Acara penting itu diadakan di sebuah hotel bintang lima. Ini semua permintaan Tomi. Ia mau acara anaknya meriah.


Seseorang mengetuk pintu kamar Sam dari luar. Cowok yang duduk di tepi kasur dengan menatap layar ponselnya itu lekas menyimpan ponsel ke dalam saku.


“Masuk aja nggak di kunci!” teriaknya kembali menatap lurus ke depan.


Pintu kamar hotel yang berwarna coklat itu perlahan terbuka. Menunjukan seorang gadis dengan gaun merah muda serta mahkota kecil di kepalanya. Sangat anggun dan cantik sosok gadis itu.


“Sam...” lirihnya membuat Abrisam menoleh ke arahnya.


“Masuk aja Naya!” Kanaya lebih masuk ke dalam kamar yang sepi itu. Hanya ada Sam di dalamnya. Gadis ini membiarkan pintu kamar terbuka.


“Ada apa?” tanya Sam mendongak karena Kanaya masih berdiri di depannya.


Kanaya segera mengambil tempat duduk di sebelah Abrisam. Ia mengantur gaunnya yang kepanjangan itu terlebih dulu.


“Aku mau tanya sama kamu. Kamu yakin akan bertunangan denganku?”


Pertanyaan itu membuat Sam tertegun. Perlahan ia mengangguk.


“Gue udah yakin.” Sam menatap Naya yang memiringkan kepala sedikit untuk melihat cowok itu dari samping, “lo tenang aja gue akan ngebahagiain lo.”


“Bagaimana cara orang yang tidak bahagia bisa membahagiakan orang lain?”


Mendengar pertanyaan yang terlontar lagi dari bibir tipis itu membuat Abrisam tertohok. Naya benar, mana mungkin ia bisa membahagiakan gadis itu sedangkan ia tak bahagia.


Naya sedikit bergerak membenarkan posisi duduknya.


“Jujur Sam. Aku masih cinta sama kamu.” Pernyataan itu berhasil menegakkan kepala Abrisam. Ia menatap tajam Kanaya, “aku seneng banget bisa dijodohin sama kamu. Awalnya aku juga menolak, tapi perasaan seakan mendorongku untuk egois. Namun, aku lebih nggak bisa melihat kamu nggak bahagia. Pergilah, Sam! Tempatmu bukan di sini. Aku ikhlas jika status kita hanya sahabat saja.”


Sam menyerongkan duduknya dan meraih kedua tangan Naya. Gadis itu menunduk, melihat ke arah tangannya yang digenggam cowok berjas biru tua itu.


“Lo udah suka gue? Sejak kapan?” tanya Sam yang terlihat penasaran.


Naya tersenyum tipis, “apa masih penting kamu mengetahui sejak kapan aku jatuh cinta padamu?” cowok itu mengangguk, “Sam, aku menyukaimu sejak tinggal di rumah nenek. Aku baru sadar saat kita berjauhan. Kalau aku susah hidup tanpamu. Aku tahu cintamu sekarang bukan untukku lagi ‘kan?”


“Nggak Naya. Cinta gue masih sama. Gue cinta sama lo dari dulu sampai sekarang. Makanya gue mau kita dijodohkan.” Genggaman tangan itu makin kuat.

__ADS_1


“Cukup Sam!” Naya menarik paksa kedua tangannya hingga terlepas dari tangan Sam, “kamu jangan bohongi perasaanmu. Jangan sama sepertiku! Kehilangan orang yang dicinta hanya karena egois dan emosi semata. Aku tidak mau itu terjadi denganmu.”


Abrisam tertegun kembali. Naya tepat sekali, Sam memang sedang menipu hatinya sendiri. Perasaannya kini penuh dengan Adira. Begitupun dengan pikirannya.


“Aku tahu hatimu ini.” Gadis itu menunjuk-nunjuk dada Sam, “sudah terisi oleh Adira. Tidak ada namaku lagi di sana. Kejar Dia! Kalau dia belum cinta padamu buat dia cinta. Hanya itu permasalahannya.” Mata Kanaya sudah berkaca-kaca.


Terdengar kembali suara pintu yang diketuk. Abrisam menoleh ke belakang sedangkan Kanya berusaha menyembunyikan wajahnya dan mengapus air mata.


“Kalian sedang apa?” tanya Siska yang ada di ambang pintu, “ayo keluar acaranya sudah mau dimulai!”


Sam berdiri dan merapikan jasnya. Ia menoleh ke Naya. Gadis itu juga menatapnya.


“Ayo kita selesaikan acara ini.” Sam berjalan lebih dulu.


Naya terkejut kalau Sam tidak juga berubah pikiran.



Dari tadi Adira uring-uringan di atas kasur. Libur sekolah ia memang banyak di rumah. Keluar kalau disuruh mengantarkan kue oleh Winda atau diajak main dengan kedua sahabatnya.


Perasaan Adira tambah kacau saat teringat telepon Yara kemarin. Kalau hari ini Sam akan bertunangan dengan Kanaya. Adira tidak tahu sama sekali kalau cowok itu benar-benar menerima perjodohannya.


Tiba-tiba lagu berjudul someone you loved dari Lewis Capaldi melantun merdu dari benda pipih yang tergeletak di atas nakas samping ranjang.


Adira mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya itu. Video call dari kedua sahabatnya. Dira merubah posisi berbaring menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menggeser ikon hijau di layar.


Tampaklah sekaligus kedua temannya itu.


“Hai Adira!” seru mereka kompak sambil melambaikan tangan.


“Apa sih kalian?” Dira agak aneh melihat kedua orang itu tampak senang, “abis menang lotre ya, girang amat?”


“Nggak ya, Ra?” mendengar pertanyaan itu Yara menggeleng dan tersenyum.


“Dir, jalan yok! Main ke mall atau ancol. Seru tuh kayaknya,” ajak Violet yang atusias.


Adira menggeleng, “nggak ah, mager. Kalian aja. Gue mau di rumah.”

__ADS_1


“Ya ampun, Dir. Liburan itu jalan-jalan jangan ngerem aja di rumah. Lama-lama bertelur loh,” ucap Yara membuat Violet tertawa dan Dira tersenyum-senyum.


“Bisa aja lo. Biarin aja siapa tahu telurnya telur emas. Lumayan bisa dijual. Mas lagi mahal sekarang.”


“Ayolah, Dir! Gue teraktir deh buat makannya.” Violet terus berupaya membujuk, “nggak bosen lo di rumah?”


“Nggak. Rumahku adalah surgaku. Udah deh kalian jalan berdua aja. Gue kurang mood.” Pendirian Adira belum goyah juga.


“Lo mikirin Sam yang mau tunangan hari ini?” tanya Yara.


Adira terdiam. Wajahnya kembali tidak bersemangat.


“Lo benaran suka Dir sama Sam? Gue sebenarnya lebih suka lo sama Afraz.” Satu pertanyaan lagi datang dari Vio.


“Vio udah deh. Bukannya kita sudah berjanji nggak akan terlalu ikut campur dalam pilihan Adira. Lagi pula Sam anak yang baik. Sudah banyak perubahannya.”


Mendengar bantahan dari Yara, Vio tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka memang sudah sepakat. Akan menyetujui siapa pun pilihan Adira.


Adira masih tetap menjauhkan ponsel dari wajahnya agar tidak terlalu besar ketika kedua temannya menatap.


“Sebenarnya gue juga nggak ngerti guys. Ini perasaan suka yang beneran suka atau sekedar simpati aja, tapi waktu dengar Sam mau tunangan kenapa hati gue rasanya nyesek ya?”


Seketika Yara dan Violet tertawa terbahak-bahak sampai dahi Adira berkerut dan alisnya tertaut.


“Apa-nya yang lucu?”


“Itu namanya lo cemburu Dira,” ucap Violet yang berusaha meredahkan tawanya.


“Walau lo suka sama Sam benaran sekarang. Kayaknya udah nggak ada kesempatan lagi deh, Dir. Hari ini mereka tunangan. Kalau sudah begitu lo nggak bisa dekat-dekat Sam lagi.” Perkataan Yara membuat Adira sedih.


“Nah ’kan Adira jadi murung.” Vio mengibas-kibaskan kipasnya dari seberang sana, “jangan sedih Dira kalau jodoh nggak akan kemana. Kita jalan-jalan aja yuk! Biar lo nggak sedih.”


“Tapi...”


“Lo nggak boleh nolak! atau kita nggak temanan lagi.” Violet cepat memotong ucapan Dira.


“Oke, gue mandi dulu.”

__ADS_1


“Astaga Dira... udah jam sepuluh belum juga mandi.” Yara geleng-geleng kepala dibuatnya. Sedangkan Adira sendiri tertawa geli, lalu memutuskan sambungan video.



__ADS_2