He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 67


__ADS_3

Handphone yang tergeletak di meja ruang tengah itu berdering membuat sang empunya yang ada di dapur berlari keluar dan mengangkat sambungan telepon itu.


“Halo, dengan siapa saya bicara?” tanya Winda, lalu mendudukkan tubuhnya ke sofa.


“Ini saya Anna, Mbak. Ibunya Abrisam.”


Dari seberang sana terdengar suara Anna yang lembut dan tidak bersemangat.


“Oh... kenapa bu Anna mau pesan kue lagi?”


“Bukan, Mbak. Saya mau bertanya, apa Sam ke sana untuk bertemu Adira?”


“Sam nggak ada di sini tuh, Bu. Memangnya ada apa ya? Tadi pagi Dira cerita ke saya kalau ponsel Sam nggak bisa dihubungi. Sam juga nggak ada di rumah?”


“Sam kabur, Mbak. Dia tidak terima kalau Papanya akan menikah dengan ibu dari pacarnya.”


Winda terdiam. Ia mengingat sesuatu, kenapa dia harus melupakan ini. Anna adalah ibu dari Sam yang berarti istri dari Tomi. Anna yang Winda kenal adalah wanita yang baik tidak seperti cerita Tomi selama ini.


“Mbak, masih di situ ‘kan? Mbak saya minta tolong. Tolak lamaran Mas Tomi. Kasihan Sam dan Dira kalau mereka ikut teluka karena hubungan kalian. Saya sama Mbak Siska juga nggak suka kalau Mas Tomi menikah lagi. Istrinya sudah dua Mbak. Apa Mbak nggak tahu itu?”


“Saya mau tanya sesuatu Ann, boleh?”


“Silakan. Tanya apa, Mbak?”


“Apa kamu dan istri Mas Tomi yang satunya hanya mementingkan uang Mas Tomi? Kalian tidak harmonis?”


Kali ini Anna yang terdiam di seberang sana. Ia berpikir, begitu tega Tomi menfitnahnya dengan Siska. Padahal kedua istrinya sudah baik hati.


“Ann, kenapa kamu tidak menjawabnya?”


“Begini Mbak. Keluarga kami memang tidak harmonis sejak Mas Tomi yang terobsesi pada wanita. Ia terus berganti pasangan sesukanya. Tadinya dia juga ingin menikah dengan seorang wanita yang lebih muda dari saya. Namun, gagal karena perempuan itu menyelingkuhinya. Padahal tidak ada yang kurang dari kedua istrinya yang sudah dinikahi ini. Kami selalu mengurus Mas Tomi. Kami juga menikah bukan karena hartanya.”


Mendengar penuturan Anna dari sambungan telepon. Winda jadi tahu selama ini ia telah tertipu. Tomi membalikkan semua fakta agar istrinya terlihat jelek di depan Winda.



Ponsel Adira yang ada di dalam tas berbunyi. Gadis itu segera mengeluarkannya dan melihat ada sebuah pesan masuk.


Mama


Dir, tadi tante Anna telepon Mama. Katanya Sam nggak di rumah. Apa dia ke sekolah? Kalau kamu tahu kabarin tante Anna ya. Ini nomernya, 08576653xxxx

__ADS_1


Dira lekas membalasnya agar sang mama tidak khawatir.


Adira


Sam nggak masuk sekolah, Ma. Ini kami mau ke rumahnya. Mungkin nggak jadi dan mau cari di tempat lain.


“Dari siapa Dir?” tanya Vio yang duduk tepat di sebelah Adira.


“Mama.” Dira menyimpan ponselnya kembali. Ia menepuk pundak Emran yang duduj di depan dengan sopir taksi, “Mran, kata mama gue Sam nggak ada di rumahnya. Percuma kalau kita ke sana.”


“Jadi kita cari ke mana?” tanya Yara yang duduk bertiga bersamaan Vio dan Dira.


Emran yang menoleh ke belakang itu berpikir sejenak, “kalau begitu kita ke tempat anak jalanan. Gue ngerasa Sam ada di sana.”


“Hah? Sam suka main ke sana?” tanya Vio yang tidak percaya.


Emran mengangguk, “biasanya kami ke sana ramai-ramai dengan anak motor lain buat memberikan bantuan.”


“Wah, nggak nyangka kalian baik-baik juga sampai memikirkan orang lain.” Yara salut dengan ketiga cowok itu.


Emran memberi intruksi pada sopir dan kembali duduk menghadap ke depan lagi.


“Lah, kok malah belok sini?” gumam Manha yang membawa motor milik Emran.


“Nggak tahu juga gue, Nay. Ikutin ajalah.” Cowok itu mau tidak mau mengikuti taksi di depannya. Naya hanya mengangguk setuju.


Tidak lama mereka berhenti di dekat fly over. Semua yang ada di taksi lekas turun. Manha membuka kaca helmnya.


“Kok malah ke sini?” tanya Manha yang masih duduk di atas motornya.


“Kata nyokapnya Dira. Sam nggak ada di rumahnya. Dari pada buang-buang waktu ke dana mending kita cari di rumah kardus,” jawab Emran yang mengeraskan suaranya karena berisik dengan suara kendaraan yang berlalu-lalang.


“Kalau gitu gue harus muter lewat sana.” Emran hanya mengangguki ucapan Manha, “duluan ya guys.”


Kanaya melambaikan tangan sambil tersenyum pada teman-temannya saat motor yang dikemudikan Manha kembali melaju.


“Terus kita harus jalan kaki?” tanya Violet mengipaskan kipasnya sedari tadi.


“Iya, dekat kok. Kita ‘kan lewat jalan pintas. Nggak kayak mereka yang harus muter.”


Emran berjalan lebih duluan untuk menunjukan arah.

__ADS_1


“Ugh, panas.” Lebih kencang Vio mengipaskan kipasnya.


“Udah nggak usah kebanyakan mengeluh!” menggandeng tangan Vio sambil berjalan.


Mereka berempat sampai lebih dulu. Namun, tidak lama Manha dan Kanaya juga datang. Naya cepat turun dari motor dan melepas helmnya. Ia berlari menghampiri Dira.


“Pada ke mana ini orang-orangnya?” tanya Emran melihat rumah kardus itu sepi.


“Cari uang kali,” jawab Manha berjalan mendekat dengan merapikan rambutnya.


“Gimana, Kak. Lumayan ‘kan hasil kita. Suara kakak bagus juga.”


Sam tersenyum malu, “ah kamu bisa aja, Lif.”


Saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya Adira menoleh dan berkata, “itu dia.”


Semua temannya menoleh. Sam yang berjalan mendekat juga terkejut dengan kedatangan kawan-kawannya.


Abrisam berpisah dengan anak-anak jalanan itu dan berjalan lebih cepat ke arah teman-temannya.


“Kalian ngapain ke sini?”


“Ya nyariin lo lah,” jawab Emran seadanya.


“Sam!” Adira berhambur memeluk kekasihnya, “aku khawatir sama kamu. Kenapa kamu pergi dari rumah?”


Cowok ini membalas pelukan Dira, “maafin aku Dira udah buat kamu khawatir. Aku kesal sama Papi. Dia masih ngotot mau nikah sama Tante Winda. Jadi, aku pikir dengan pergi dari rumah membuat Papi berubah pikiran.”


Dira melepas pelukannya, “lalu bagaimana?”


“Sepertinya ini sia-sia. Papi malah memblokir kartu ATM aku. Ia tidak berniat mencariku.”


Sam melihat ke arah teman-temannya yang lain, “untuk kalian semua sementara jangan kasih tahu kalau gue ada di sini.”


“Beres!” Manha dan Emran mengajungkan jari mereka. Yang lain hanya menyauti saja.


Adira yang mendongak menatap Sam bersuara lagi, “tapi Tante Anna khawatir sama kamu, Sam.”


“Sayang.” Sam memegang kedua bahu Dira, “untuk kali ini jangan kasih tahu Mamaku dulu ya. Ini demi kita.”


Adira mengangguk pelan.

__ADS_1



__ADS_2