He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 50


__ADS_3

“Gue ke kantin dulu ya.” Emran menepuk punggung Abrisam sekilas saat ia berdiri dari duduknya.


Abrisam yang sedang mengelap keringat dengan handuk kecilnya berteriak, “gue titip minum!”


Emran tidak membalas perkataan Sam. Namun, tiba-tiba seseorang mengulurkan sebotol air mineral.


“Kok cepat amat?” Sam mendongak dan melihat Adira-lah yang mengulurkan botol itu padanya.


“Buat lo. Ambil!” Dira tersenyum manis.


“Nggak usah. Gue udah nitip sama Emran,” ucapnya menolak dan kembali mengelap keringat.


Sam bergeser duduk agar jaraknya dengan Dira berjauhan. Namun, melihat kursi kosong di sebelah Sam, ia segera duduk. Cowok itu membelakangi Adira.


“Gue ke sini cuma mau sampaikan pesan mama. Mama mengundang lo makan sepulang sekolah ini. Katanya mau terima kasih udah nolongin gue,” ucap Adira memberi tahu tujuannya.


“Gue nggak bisa. Hari ini ada acara keluarga.” Sam menjawab dengan mata menatap ke arah lain, “bilang maaf ke Tante.”


Adira mengngguk, “oh begitu. Gue bakal sampaikan.” Adira meletakkan botol minumnya di bangku yang ia duduki bersama Sam, “gue permisi dulu.”


Setelah itu Adira berdiri dan pergi meninggalkan lapangan yang masih ramai dengan orang yang menonton pertandingan basket.


Dari jauh Manha yang berjalan bersama Emran kembali ke lapangan melihat Adira yang meninggalkan Abrisam.


“Itu ada Dira.”


Ucapan Manha membuat Emran mendongak. Cowok yang memakai kaos basketnya itu memperhatikan Sam dari kejauhan sambil terus berjalan mendekat.


“Minum gue mana?” tanya Sam yang menatap Emran yang baru datang bersama Manha.


“Gue nggak dengar lo nitip minum.” Emran mengedikkan bahunya.


Manha memiringkan kepalanya, “itu ada minum di belakang lo.” Tunjuk cowok berseragam putih abu-abu ini. Manha tidak ikut bertanding dalam lomba.


Sam menoleh ke belakang. Ia melihat botol air yang diletakkan di bangku tempatnya duduk. Kepalanya kembali tegak menatap sejalur dengan arah Adira pergi. Sosok gadis itu sudah tidak tertangkap mata.


“Dari Adira ya?” tanya Manha yang duduk di bangku dengan botol air di tengah mereka. Sedangkan Emran duduk di bawah sambil mendeguk air yang ia beli dari kantin.


“Minum aja kali ‘kan haus!” tambah Manha yang kali ini bersandar sambil melihat ke arah lapangan.


Sam mengambilnya dan membuka tutup botol itu. Menenggak isinya sampai sisa setengah. Emran tersenyum menatap Sam dari bawah.



Sepulang sekolah Sam dan Tomi pergi ke rumah keluarga Kanaya. Kedua pria itu terlihat rapi. Tomi seperti biasanya, berjas dan dasi yang membuatnya berkelas. Sedangkan Abrisam, cowok itu juga memakai jas tanpa di kancing dengan kemeja putih, celana dasar hitam, rambut yang di tata rapi, dan sepatu kinclong. Berbeda dari biasanya. Ia lebih tampan kalo ini.


Tomi berjalan lebih dulu menuju ambang pintu. Sam masih diam di samping mobilnya. Merasa tidak diikuti pria paruh baya itu berhenti melangkah, lalu berbalik ke belakang.

__ADS_1


“Abrisam sedang apa kamu di situ? Cepat ke sini!”


Bentakkan Tomi menyadarkan Sam dari lamunannya.


“Iya, Pi.” Cowok itu tidak membantah ia berjalan mendekati Tomi.


Tomi memencet bel rumah tidak lama istri Adam membuka ‘kan pintu untuk mereka.


“Eh, tamu dari jauh udah datang.” Tomi tertawa pelan, “ayo masuk!” Wulan mempersilakan bapak dan anak itu untuk memasuki rumahnya.


Pintu dibuka lebar oleh Wulan. Sam dan Tomi melangkah menuju ruang tamu. Adam menyambutnya dengan sangat hangat di sana.


“Silakan-silakan duduk!” Adam menunjuk sofa di depannya. Bapak dan anak itu kompak bersamaan menjatuhkan bokong ke sofa.


“Saya panggilkan Kanayanya dulu sambil mau membuatkan minum. Permisi,” ujar Wulan sedikit menunduk sopan sebelum pergi.


Sedangkan Kanaya yang ada di kamar sedang uring-uringan. Naya sudah cantik dengan busana yang ia kenakan senada dengan hingh heel-nya. Rambut yang biasanya tergerai panjang juga sekarang di sanggul anggun.


“Nay... Naya!” Wulan mengetuk pintu kamar anak semata wayangnya itu pelan.


Kanaya berhenti mondar-mandir dan menurunkan tangannya yang menopang dagu.


“Iya, Bun!” teriaknya dari dalam.


“Sam-nya sudah datang sayang. Ayo temui!”


Menghela napas dulu, kemudian Naya melangkah mendekati pintu dan membuka pintu berwarna putih itu.


Kedua perempuan itu menuruni anak tangga beriringan. Mata Abrisam dan Kanaya bertemu saat Naya dan Bundanya sudah memasuki ruang tamu. Kedua orang itu saling bertatapan cukup lama.


“Kenapa Sam? Kanaya cantik ya?” goda Adam.


Sam lekas menundukkan kepala dan tersenyum tipis. Sebenarnya bukan itu yang ada di pikiran Sam. Ia tidak bisa kalau harus bertunangan dengan teman lamanya itu. Dikepalanya hanya ada Adira dan Adira sekarang.


“Kalau begitu langsung saja kita bahas kapan cara pertunangan yang resmi kita adakan,” ucap Tomi.


“Baiklah,” balas Adam.


Semuamya telah berkumpul minuman dan beberapa cemilan juga sudah terhidang di depan mereka.


Adam dan Tomi asik berdiskusi hanya sesekali Wulan menimpali untuk memberi saran. Sam dan Naya, kedua anak itu hanya diam. Apa lagi Naya yang gelisah.


Pertemuan itu berakhir dengan makan malam. Semua orang kelihatan bahagia. Pengecualian untuk Sam dan Naya.


“Bagaimana pertemuannya?” tanya Siska yang membukakan pintu saat Tomi dan Sam kembali.


Ibu rumah tangga itu memang tidak pergi. Karena Tomi melarang kedua istrinya untuk ikut.

__ADS_1


“Tanya Papi aja, Bun!” Sam berlalu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan kebingungan di benak Siska.



“Adira!”


Sedari tadi Dimas sudah mengetuk pintu kamar adiknya. Namun, gadis penyuka karakter bebek itu matanya masih terpejam.


“Dira bangun dulu. Kunci rumah kakak mau ke kampus!" Lagi Dimas mengetuk pintu.


Dira terlihat gilasah. Telinganya iya tutup dengan bantal, “apa sih Kak Dimas pagi-pagi udah berisik aja.”


Gadis itu masih terus melanjutkan tidurnya. Hari ini bukan hari libur masih ada satu hari sebelum pembagian rapor, tapi Dira sudah tidak berangkat ke Sekolah. Katanya malas dan ia ingin rebahan seharian di kamar.


Padahal ada satu alasan lain lagi yang membuatnya enggan pergi ke sekolah, yaitu Sam. Masih berat baginya melihat Sam yang terus bersikap dingin.


“Dira!” teriak Dimas yang mulai kesal, “kebo banget.” Cowok itu memukul pintu lebih kuat.


Mata Dira terbuka lebar dan bantalnya yang menutup telinga ia lepaskan.


“Buset, Kak Dimas kayak orang ngajak tawuran,” gumamnya segera turun dari ranjang.


“Iya sabar!” teriak Dira mendekati pintu kamarnya.


Ia putar kunci dan membuka pintu, “ada apa sih?”


“Akhirnya bangun juga lo. Gue mau ke kampus, kunci pintu rumah dulu.”


“Emangnya Mama ke mana? Ganggu gue lagi tidur cantik aja.” Dira menahan gagang pintunya. Ia hanya membuka pintu kamar sebesar tubuhnya. Tidak mau kamar yang masih berantakkan itu terlihat oleh kakaknya.


“Mama nganter pesanan. Terus katanya abis itu mau makan siang sama temannya.”


“Mama sering banget makan di luar sama teman. Temannya itu cewek atau cowok sih, Kak?”


Dimas mengedikkan kedua bahunya, “mana gue tahu. Tanya aja sama Mama.”


“Nanti deh. Jadi ngampus nggak lo?”


“Jadi dong.” Lelaki di hadapan Dira itu melihat jam tangannya, “setengah jam lagi masuk ini gue.”


Segera Dimas berjalan menghampiri pintu utama rumahnya. Adira menutup pintu kamarnya dan membuntuti Dimas.


“Suka banget lo pergi mepet-mepet,” omel Dira saat pintu rumah sudah Dimas buka.


“Yang dipepet itu enak.” Dimas tertawa sedangkan Adira mengerutkan bibirnya.


Ketika Dimas sudah hilang di balik pintu. Gadis yang masih memakai piama ini segera mengunci pintu sesuai intruksi kakaknya. Dira melihat jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul setengah sepuluh pagi pantas saja perutnya berbunyi.

__ADS_1


“Makan dulu deh, abis itu lanjut rebahan,” ujarnya berjalan sambil mengelus-elus perut menuju dapur.



__ADS_2