He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 39


__ADS_3

“Assalammuaikum, aku pulang.” Adira masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak terkunci, “Sam lalai banget sih. Masa pintu dibiarin aja nggak dikunci gini.”


Gadis yang baru pulang dari kerja dengan membawa jinjingan kantung belanjaan itu melangkah lebih dalam. Ia tidak mendapati Sam di ruang tengah. Dira menyimpan dahulu belanjaan di dapur, lalu beringsut pergi ke kamar.


Ia membuka kamar dengan pelan, “Sam!”


Abrisam tidak menyahuti panggilan istrinya. Tampak di depan jendela lelaki itu duduk termenung. Adira jadi sedikit khawatir jarang sekali suaminya itu melamun seperti ini.


Dira meletakkan tas ke kasur, lalu duduk di samping Sam. Lelaki ini menatap pemandangan jalanan kompleks di depannya.


“Ada apa, Sam?” Dira bertanya dengan tangan menepuk paha pemuda itu.


Sam tersentak dengan bahu sedikit mengedik. Ternyata sedari tadi ia melamun.


“Dira, kamu baru pulang?” tanya cowok ini membenarkan posisi duduknya. Sekarang mereka berhadapan.


“Dari depan aku udah salam, tapi nggak ada yang nyahut. Kamu aku panggil juga nggak jawab. Malah ada di sini lagi melamun. Ada masalah apa? Persentasimu tadi nggak lancar? Nilaimu buruk?” Gadis itu melempari banyak pertanyaan.


Abrisam menggeleng, “bukan, skripsiku lancar aja. Nilainya belum keluar hari ini. Ada masalah lain.”


“Apa itu? Coba cerita ke aku.”


“Bengkel terbakar.”


“Hah?” Dira cukup kaget sampai mulutnya mengangak, “kok bisa?”


“Kata warga yang bantu padamkan karena konslet liatrik, tapi sakelarnya nggak menyala.”


“Berarti bekelmu sengaja dibakar orang?” Adira tiba-tiba menebak begitu saja.


Sam menatap istrinya dengan tajam, “pikiranmu sama denganku. Aku bersama Rio sudah melaporkan kejadian ini ke polisi. Polisi akan segera menyelidiki kasus ini." Sam menatap lurus ke depan, “yang jadi pikiranku sekarang bagaimana dengan usaha kita. Uangmu saja belum tergantikan. Terus besok-besok kita makan apa?”


Adira mengusap-usap bahu Sam, “tenang aja. Aku ‘kan masih bekerja. Gajiku cukup kok buat kebutuhan kita sehari-hari.”


Lelaki ini menoleh kembali. Menggenggam salah satu tangan Dira.


“Maafin aku ya, belum bisa bikin kamu bahagia dengan usahaku sendiri.” Wajah pemuda ini nampak sendu.


“Jangan bilang begitu. Bersama kamu aku udah bahagia Sam. Kita usaha sama-sama untuk membangun bengkel itu lagi ya.” Wanita ini tersenyum lebar menatap suaminya.

__ADS_1


Sam mendekatkan tubuh ke Dira. Memeluk wanita itu di dalam dekapannya. Dira yang sangat mengerti kegelisahan suaminya saat ini membalas peluk itu ditambah dengan elusan lembut di punggung.


“Kita pasti bisa menghadapi ujian hidup ini.”


•••


Adira bingung saat melihat amplop putih yang didekatkan padanya. Ia menatap manager yang duduk behadapan dengan dirinya sekarang.


“Ini apa, Pak?” tanya Dira menunjuk amplop itu.


“Kamu baca saja!”


Jantung mulai berdebar lebih cepat dari biasanya. Dira khawatir saja kalau ini surat peringatan karena dia sudah melukai Gabriel kemarin.


Mata melebar dan mulut sedikit terbuka. Adira tidak percaya dengan yang dibacanya. Ini lebih dari dugaan.


“Saya dipecat, Pak?” tanya Dira dan diangguki manager itu.


“Maaf, Dira. Saya harus memberikan kabar yang nggak enak padamu. Ini salahmu juga telah membut Pak Gabriel marah. Jadi, kamu terpaksa kami pecat.”


Wanita ini mencondongkan tubuh ke depan, “please, Pak. Jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini.”


“Maaf Dira. Saya nggak bisa melanggar keputusan Pak Gabriel bersama ayahnya.” Manager itu mengeluarkan amplop lagi, "ini pesangon buatmu."


Gadis ini menghampiri Gabriel, “El, aku minta maaf. Tolong jangan pecat aku dari restoranmu ini. Aku sangat butuh pekerjaan saat ini.”


Gabriel tertawa dengan tampang meremehkan, “kemarin kamu udah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan. Sekarang memohon tidak dipecat?”


Sebenarnya Adira malas sekali melakukan ini. Ia tidak salah sepenuhnya dengan kejadian kemarin. Salah sendiri Gabriel memaksanya terus-menerus hingga ia berbuat kasar. Namun, teringat Sam yang tidak bekerja lagi ia harus bisa bertahan di sini agar mendapat pemasukan.


“Aku ‘kan sudah meminta maaf. Itu juga salahmu memaksaku. Aku sudah tolak dengan baik-baik.”


“Kalau begitu aku akan menolakmu juga dengan baik-baik. Maaf, aku tidak terima kamu bekerja di sini lagi.” Gabriel menunjuk arah jalan untuk Dira pergi, “silakan angkat kaki dari sini!”


Dira menundukkan kepala dan memasang wajah sedih. Ia berjalan perlahan untuk meninggalkan Gabriel.


“Ada satu cara buat kamu tetap bisa bekerja di sini.”


Perkataan lelaki itu membuat kaki Dira berhenti melangkah, lalu menolehkan kepala ke belakang.

__ADS_1


“Apa itu?”


Gabriel menurunkan tangan dari dada. Berdiri tegak, lalu melangkah beberapa kali untuk mendekati Adira.


“Kamu cukup jadi pacarku,” bisiknya di telinga gadis itu.


Adira menjauhkan kepala. Menatap Gabriel tidak habis pikir.


“Kamu menyuruhku berselingkuh dari Sam? Kamu gila?”


Suara Adira cukup kuat saat bertanya seperti itu. Untung saja tempat mereka berdiri sedang tidak ada orang yang berlalu-lalang.


Pria ini menunjukan smick-nya, “padahal itu syarat yang mudah. Kamu nggak perlu jadi milikku seutuhnya. Cukup berpacaran saja. Aku akan langsung membolehkanmu kerja lagi. Bahkan posisimu akan naik menjadi kepala koki bersamaku.”


“Aku nggak mau! Aku nggak mungkin menghianati Sam.” Gadis ini menggelengkan kepalanya.


Dira jadi menyesal pernah menjadikan Gabriel teman baik. Ternyata begini sifat aslinya, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


“Jadi kamu menolak lagi? Hidupmu akan lebih sengsara dari ini.”


Mendengarkan acaman lelaki itu, Dira jadi terpikir bengkel Sam yang sengaja dibakar itu.


“Oh jadi kamu juga yang bakar bengkel Sam?” tanya Dira yang sudah kehabisan kesabaran.


Gabriel mengenggam pergelangan tangannya sendiri dari belakang, “memang kamu punya bukti?”


Adira bergeming. Benar juga kata lelaki itu. Dira belum mempunyai bukti yang mengarah ke Gabriel.


“Jangan menuduh sembarangan atau bisa-bisa kamu yang masuk penjara!”


“Tapi perasaanku kamu juga yang berbuat itu pada, Sam.”


Gabriel berdecak, “ckck, kasihan kamu, sudah usaha suaminya terbakar sekarang kamu sendiri dipecat. Sana mengemis pada orang tua kalian.”


“Menyesal aku menjadi temanmu! Aku nggak mau kenal kamu lagi, El! Kamu jahat!”


Setelah menyemprotkan kata-kata pedas pada teman lelakinya itu Adira melangkah pergi.


“Adira kamu benar tidak mau menjadi pacarku?” tanya Gabriel sambil berteriak, “akan aku tunggu sampai kamu mau.”

__ADS_1


Pria ini tertawa setelah apa yang ia lakukan pada taman baiknya itu. Adira sama sekali tidak menghiraukan lagi ucapan laki-laki itu. Ia sekarang ingin membereskan barang-barangnya yang ada di loker.


•••


__ADS_2