
Suara dari elektrokardiograf memenuhi ruangan dingin dan bau khas obat-obatan itu. Seseorang pemuda berbaring di atas ranjang dengan banyaknya kabel-kabel yang menempel di dada, kaki yang terperban, hidung yang memakai alat bantu pernapasan dan siku yang juga digulung perban.
Belum ada tanda-tanda anak laki-laki itu akan sadar sedari tadi. Keluarga terus memantau dari luar melalu kaca besar yang menghalangi jarak mereka.
“Sam...” Siska sedari tadi masih saja menangis. Ia begitu terpukul saat melihat anak laki-lakinya itu kecelakaan di depan matanya.
“Sudah, Mbak. Jangan menangis lagi! Anna mengerti perasaan Mbak, Anna juga sedih melihat Sam begini. Kita hanya bisa mendoakan.” Anna terus memeluk Siska sambil sesekali mengusap lengannya.
Siska berbalik menatap suaminya yang tertegun duduk di sebuah kursi tunggu.
“Ini semua gara-gara kamu, Mas! Coba kamu mengalah demi Sam ini nggak akan terjadi.”
Tomi mendongak dan menatap istri keduanya itu, “tolong jangan salahkan saya lagi. Saya juga tidak mau terjadi seperti ini pada Sam.”
Pria itu menunduk. Mengusap rambutnya ke belakang dengan kedua tangan.
“Saya sudah lalai jadi orang tua.” Bahu Tomi bergetar, “Maafkan saya Nissa tidak bisa menjaga anak kita.”
Bayang-bayang dari ibu kandung Abrisam itu terus melintas di benak Tomi. Ia tidak menepati pesan Nissa untuk menjaga dengan baik putra mereka.
Siska menatap Anna. Yang ditatap hanya diam.
“Mas.” Siska duduk di sebelah Tomi, mengusap pundaknya, “kita berdoa saja semoga saja Sam bisa sembuh kembali.”
Tomi mendongak, mengambil tangan Siska yang mengusap pundaknya tadi.
“Maafkan saya, saya bukan suami dan ayah yang baik untuk kalian dan anak-anak kita.”
Anna yang melihat itu mendekat pada Siska dan Tomi.
“Kami sudah maafkan, Mas. Asal Mas tidak mengulangi ini lagi,” ucap Anna dengan lembut.
__ADS_1
Tomi mengangguk cepat. Ia meraih tangan Anna dan mengenggam kedua tangan istrinya itu.
“Terima kasih kalian sangat baik sekali.”
Siska mengulas senyumnya pada Tomi.
“Tante, Om, bagaimana keadaan Sam?” pertanyaan dari seseorang dengan suara yang tidak asing lagi membuat Anna dan Siska menoleh.
Disana ada Adira, Emran dan Manha yang baru saja tiba di rumah sakit.
“Kalian malam-malam ke sini?” Anna menghampiri ketiga teman anaknya itu.
“Tadinya mau ke sini besok pagi Tante, tapi Dira maunya malam ini juga,” jelas Emran.
“Tante bagaimana keadaan Sam?” ulang Adira.
Anna mengusap kepala Dira, “kamu yang sabar ya sayang. Sam masih kritis. Baru saja setengah jam yang lalu selesai di operasi.”
“Kaki Sam patah maka itu dia perlu segera dioperasi. Tangannya juga cidera. Kalian doakan saja agar Sam cepat pulih.”
“Itu selalu kami lakukan Tante,” kata Emran dengan anggukan kepala.
Air mata Dira telah membasahi pipinya. Gadis itu menarik kakinya berjalan mendekati kaca besar ruang rawat itu. Langkahnya serasa berat. Ia tidak tega melihat Sam yang tadi sore masih banyak bercerita padanya sekarang harus terbaring dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.
Adira meletakkan satu tangannya di kaca. Seakan dari jauh menyentuh pipi Sam.
“Sam, kamu cepat sadar ya. Aku menunggumu,” gumam Adira diserati isakannya.
Adira membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa. Rumahnya sudah terlihat sepi dengan lampu yang padam di setiap ruangan.
__ADS_1
Tiba-tiba lampu ruang tamu menyala dan terdengar suara Winda, “kamu masih ke rumah sakit juga? Kamu sudah berani melawan mama?”
Dengan hati-hati Adira memutar tubuhnya.
“Dira cuma khawatir sama keadaan Sam, Ma. Dira merasa Dira turut andil bersalah dalam kecelakaan ini. Sam begini gara-gara mempertahankan hubungannya dengan Dira.”
“Kali ini kamu mama maafkan.” Winda berjalan mendekati anak perempuannya itu, “ini terakhir kalinya kamu bertemu keluarga penipu itu.”
“Maksud Mama?”
“Kamu nggak boleh lagi berpacaran dengan Sam. Mama tidak mau kamu punya hubungan apa pun dengan keluarga pradipta itu. Mengerti?”
Gadis ini menggeleng, “nggak, Ma. Dira nggak bisa menjauh dari Sam.”
“Kamu ini berani membantah Mama? Mama tidak mau kita punya urusan lagi dengan Sam dan keluarganya. Mereka itu bukan orang baik. Ayahnya Sam itu sudah membohongi Mama. Ia bilang keluarganya tidak harmonis dan istrinya matre nggak peduli pada dirinya. Kenyataannya apa? Semua itu bohong!”
“Dira nggak bisa berhenti begitu aja Ma buat nggak suka sama Sam.” Air bening di peluk mata jatuh membasahi sebelah pipi gadis itu, “yang jahat di keluarga Sam itu Papinya bukan Sam atau kedua ibunya. Ini masalah Mama sama Om Tomi tolong jangan libatkan kami.”
Diam-diam dari balik pintu kamarnya Dimas mengintip. Tidur yang nyenyak terganggu dengan pertengkaran anak dan ibu itu.
Adira akan melangkah pergi meninggalkan Winda. Namun, kakinya berhenti kembali saat ibunya itu berbicara.
“Kamu masih mau melihat Mama ada di dunia ini ‘kan Dira?” Dengan suara bergetar Winda bertanya seperti itu.
Dira hanya diam tidak berniat untuk menoleh. Setelahnya ia berlari menuju kamar. Pintu kamar Dimas yang terbuka saja ia tidak menyadarinya.
Gadis ini masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu dengan rapat dan bersadar sambil menangis.
“Sam, kenapa saat kita ingin bersama-sama, tapi dunia seakan mau memisahkan kita?” Dira lebih terisak dengan tangisnya yang menjadi-jadi.
__ADS_1