He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 38


__ADS_3

Adira turun dari angkutan kota. Kemudian lekas masuk ke dalam restoran. Sudah cukup banyak karyawan yang datang. Hari ini memang Dira sedikit kesiangan.


Wanita itu berjalan masuk ke dapur dengan sesekali menegur teman seprofesi. Ia membuka pintu ruangan pribadi para koki dan masuk ke sana. Lantas setelahnya Dira menyimpan tas ke dalam loker yang tersedia di sana. Namun, saat membuka lemari kecil itu ia menemukan kotak kecil berwarna merah muda.


Dira melihat ke arah pintu. Ia seperti tahu ini pemberian dari siapa. Gadis ini menyimpan tasnya dan berganti meraih kotak merah muda itu. Sebelum pergi Dira mengunci loker terlebih dahulu.


Gadis ini jalan tergesa-gesa keluar dari dapur.


“Adira kok belum ganti pakaian?” tanya Anita yang beru saja berpapasan dengannya.


“Nanti, Mbak. Saya ada urusan sebentar.” Balasan itu ia sampaikan sambil terus berjalan tanpa menatap Anita.


Adira berhenti di depan pintu bertuliskan ruangan Head Chef. Walau sedikit emosi gadis itu masih mengetuk pintu sebelum masuk.


“Silakan masuk saja!” teriakan itu terdengar dari dalam ruangan.


Dira memutar gagang pintu, lalu mendorong pintu coklat ini ke dalam. Ia lekas masuk dan mendapati Gabriel yang duduk di kursinya.


“Ada apa Dira?”


Sepasang kaki wanita ini berjalan lebih masuk dan mendekati Gabriel. Dira meletakkan kotak berwarna merah muda yang belum sama sekali ia lihat isinya.


“Ini dari kamu ‘kan? Aku mau kembaliin ini.” Dira menggeser kotak lebih ke depan Gabriel.


Pemuda itu mengangguk, “iya benar ini dari aku. Kenapa kamu kembalikan? Kamu tidak suka dengan kalungnya?”


“Aku nggak tahu itu isinya apa. Aku belum lihat isinya. Aku cuma menebak kalau itu dari kamu. Jadi aku kembalikan.”


Gabriel mendorong kembali kotak hadiah itu ke depan Dira, “aku tidak menerima penolakan.”


Gadis ini mundur selangkah, “aku nggak bisa menerimanya!”


Dira memutar tubuh ingin keluar dari ruangan itu. Dengan cepat Gabriel bangkit, lalu meraih kotak merah muda itu dan mengejar Adira. Lelaki ini berdiri di depan pintu. Ia menghalangi jalan keluar Dira.


Adira menghentikan langkah dan menatap lelaki itu, “minggir aku mau lewat!”

__ADS_1


“Kamu tidak boleh ke mana-mana sebelum terima hadiah dariku!” Gabriel membuka kotak merah muda itu dan dengan jelas Adira bisa melihat isinya, “aku pasangkan ke lehermu ya?”


Gabriel mengeluarkan kalung dengan gandulan berlian indah di ujungnya dari kotak, lalu membuang kotak itu asal.


“Sini!” Ia mengulurkan tangan untuk memasangkan kalung ke leher Dira. Namun, Dira memberontak untuk menolaknya.


“Aku nggak mau!” Dira berusaha menepis tangan Gabriel.


“Kamu jangan banyak bergerak!”


Adira berjalan mundur dan terus berusaha mengelak. Sebaliknya dengan Gabriel yang mendekati dia terus-menerus.


“Aaa!” Pekik gadis itu saat tubuhnya jatuh ke single sofa.


Gabriel tertawa pelan, “makanya kamu nurut aja apa kata aku.”


Adira menatap tidak suka pada leleki itu. Ketika Gabriel menunduk, lalu mendekatkan wajahnya. Dira menendang sela*ngkangan pemuda ini. Akhirnya Gabriel jatuh ke lantai sambil merintih kesakitan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Dira cepat berlari keluar dari ruangan itu.


Setidaknya sekarang ia sudah bebas dari lelaki pemaksa itu. Namun, ia juga khawatir kalau perbuatannya berlebihan. Adira menggigit jari telunjuk sambil memperhatikan pintu di depan. Ia lantas berlari kembali pergi dari sana.


•••


Satu mahasiswa masuk ke ruangan itu setelah Sam melangkah pergi. Namun, ia berpapasan dengan Jodi.


“Gimana, Sam? Sukses?” tanya lelaki yang rambutnya kini sudah memanjang. Mungkin, ia belum sempat cukur lagi.


“Alhamdulillah, lancar, Jod.” Sam menepuk-nepuk pundak temannya ini, “semoga lo juga bisa ya.”


Abrisam dan Jodi bercita-cita akan lulus bersama tahun ini. Sam jadi teringat temannya yang lain.


“Tania bagaimana ya kuliahnya? Sayang banget berhenti gitu aja.”


Jodi mengedikkan kedua bahunya, “nggak tahu juga. Mungkin nggak kuliah lagi. Dia nggak pernah hubingin gue.”


“Sama aja,” ucap Sam memperhatikan Jodi, “gue duluan ya. Mau ke bengkel. Kalau kangen main ke bengkel aja.”

__ADS_1


“Dih, siapa yang kangen sama lo, Sam!”


Abrisam tertawa pelan, “ya sudah gue pergi dulu. Semangat!”


Jodi menggepalkan satu tangan ke atas mengikuti gaya temannya itu, “semangat!”


Abrisam mengambil motor dahulu di parkiran. Kemudian pergi meninggalkan kampus menuju tempatnya bekerja. Sudah hampir dekat dengan bengkel hati lelaki itu tiba-tiba risau. Padahal sebelumnya ia sangat senang. Mendadak perasaannya tidak enak.


Ia terus menatap lampu merah yang menghentikan perjalanannya itu. Ketika lampu lalu lintas ini berubah warna menjadi hijau Sam cepat melajukan motornya lebih kebut lagi.


Hati Sam tampak gundah saat melihat asap yang tidak besar mengudara di jalan yang tidak jauh dari bengkelnya berada. Betapa terkejutnya ia melihat kalau yang terbakar adalah bengkel miliknya. Di pinggir Rio meratapi nasib dengan bengkel yang sudah hangus terbakar.


Ketika Abrisam menepikan motor dan melepas helm. Rio mendekatinya sambil menangis.


“Maaf Sam, gue nggak tahu kenapa bengkelnya bisa ke bakar. Gue baru datang dan lihat bengkel ini lagi dipadamkan orang-orang.”


Sam terdiam menatap tempat usaha yang mulai meningkatkan pernghasilan itu hampir tidak ada yang bisa diselamatkan lagi. Lelaki berjalan lunglai mendekati warga yang berkerumun.


“Mas, ini bengkelnya ke bakar gitu aja. Kami lihat api sudah membesar. Akhirnya kami bantu padamkan. Maaf, nggak bisa menyelamatkan bengkel ini dengan cepat,” jelas salah satu warga yang membantu memadamkan.


Pria ini tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi. Bibirnya terlalu berat untuk mengucapkan kata-kata. Hati terasa hancur. Belum juga berhasil mengembalikan uang dari Dira. Sekarang tempat itu tidak bisa dipakai usaha.


Sam mengusap kedua mata yang berair. Ia benar-benar rapuh dan tak bisa berpikir saat ini. Orang-orang memberi semangat kepada Sam. Satu-persatu dari mereka membubarkan diri. Rio mendekat pada Abrisam.


“Sam, gue tahu pasti lo pusing sekarang mikirin usaha kita yang sudah gagal ini.”


Pemuda itu menatap temannya, “lo tahu ini sebabnya kenapa?”


“Kata warga sih konslet listrik, tapi seingat gue ketika kita mau tutup bengkel ini. Gue udah periksa semua listrik bahkan sampai ke sakelarnya,” jawab Rio yang sudah lebih tenang sekarang.


Sam masuk ke teras bengkel. Ruko yang lelaki ini beli sudah padam apinya hanya sisa-sisa asap sedikit yang tertinggal.


Pria dengan mata tajam itu memperhatikan sakelar yang ada di samping bengkelnya. Benar saja sakelarnya mati.


“Kita harus ke kantor polisi!” ajak Sam yang diangguki Rio.

__ADS_1


Mereka segara menaiki motor masing-masing dan bergabung ke jalan raya.


•••


__ADS_2