
Winda membiarkan Dira ada di dalam pelukannya. Tangannya menepuk-nepuk punggung gadis itu. Adira masih terlihat murung dan kesal akibat ulah Abrisam yang tiba-tiba meninggalkannya.
“Sudah jangan dipikirin terus. Mungkin aja itu memang mendesak. Jadi, Sam nggak bisa menunggumu.”
“Dia pergi cuma buat tolong teman ceweknya itu, Ma. Sepenting itu temannya dari pada Dira?”
“Kalau temannya itu dalam bahaya bagaimana? dan hanya Sam yang bisa membantu?”
Adira melepaskan tubuhnya dari pelukan Winda, “dari tadi Mama belain Sam mulu bukan anaknya sendiri. Anak Mama itu sebenarnya siapa?”
Winda tertawa tanpa suara, “kamu itu lucu sekali. Anak Mama iya kamu.” Wanita ini mencolek sekilas hidung Dira.
“Dira jadi kesal sama Mama.” Adira membuang muka.
“Mama nggak bela siapa-siapa, Nak. Cuma kamu jangan terus berpikiran buruk tentang Sam. Selama kamu nggak ada di sini Sam itu rajin mengunjungi toko. Dia suka bercerita tentang kegiatannya selama seminggu. Dia nggak hanya peduli padamu, tapi keluarga kita. Jadi Mama rasa dia orang yang cukup bisa dipercaya.”
Adira hanya bergeming memikirkan hal-hal yang bisa saja terjadi. Sebenarnya selama kenal sama Abrisam, cowok itu memang susah buat didekati. Namun, perubahan usia dan zaman bisa saja Sam ikut berubah.
“Assalammualikum.” Abrisam mengetuk-ngetuk pintu rumah Adira, “Dir, ini aku. Tolong keluar dulu Dira! Ada yang mau aku jelaskan.”
“Itu suara Sam?” tunjuk Winda ke luar, “sana temui dulu!”
“Nggak mau ah. Biarin aja dia teriak-teriak sampai suaranya habis,” jawab Adira yang masih duduk di tepi kasur.
“Kamu nggak boleh begitu. Kamu benar-benar mau pacarmu itu berpaling ke orang lain?”
Adira menoleh saat mendengar pertanyaan sang ibu.
“Mama kok malah doain seperti itu? Harusnya berdoa yang baik untuk anaknya.”
“Habisnya sikapmu nggak dewasa sama sekali. Coba dengarkan dulu apa yang akan Sam sampaikan ke kamu.” Winda berdiri, “lebih baik kamu sakit hati setelah mendengar penjelasan Sam. Dari pada kamu diam di sini, lalu menyesal nggak keluar dan mempelurus semua ini bersama laki-laki itu.”
Setelah berujar menasihati anak bungsunya. Winda keluar dari kamar. Ia melarang Dimas yang akan membukakan pintu untuk Sam.
“Jangan biar Adira saja yang buka!” wanita paruh baya ini melangkah memasuki kamarnya.
Dimas menurut saja. Sambil berjalan kembali ke kamarnya ia memperhatikan pintu kamar Adira yang belum juga terbuka. Pria ini mencoba masa bodo.
“Adira keluar dulu dong!” Sam masih saja berusaha membujuk gadis itu. Suaranya mulai serak, tetapi batang hidung Dira belum juga muncul.
Setelah Abrisam pasrah dan menyerah. Ketika langkah kakinya mulai menjauh dari pintu. Pintu coklat itu terbuka, muncullah orang yang dari tadi lelaki ini panggil.
Abrisam menoleh dan tersenyum. Ia kembali mendekati pacarnya itu. Sam genggam kedua tangan gadis ini.
“Maafkan aku ya! Aku nggak bermaksud untuk membatalkan dinner kita. Kita bisa ubah jadwal dinnernya menjadi besok.”
__ADS_1
Adira menarik kedua tangannya, “nggak usah! Kamu nggak perlu mempedulikan aku lagi! Sana urus saja temanmu yang bernama Tania itu.”
Sam menghela napas beratnya, “sayang, aku pergi bukan nggak peduli sama kamu. Tania tadi sangat butuh aku. Kamu tahu? Tadi dia akan dilecehkan oleh laki-laki jahat.”
“Aku nggak bisa dipermainkan seperti ini terus Sam.” Adira mulai mengeluarkan air matanya, “rasanya sakit saat kamu mementingkan orang lain dari pada aku.”
Lelaki ini kembali menggenggam kedua tangan kekasihnya.
“Kamu bukannya nggak penting bagiku, Dir. Kamu aman ada di rumah saat aku tinggalkan. Sedangkan Tania? Dia hampir diperkosa. Aku akan menyesal seumur hidup jika nggak bisa menolongnya. Wasiat dari ibunya yang selama ini aku jalankan. Bukannya aku menaruh hati pada Tania. Cintaku itu hanya untuk kamu.”
Adira makin terisak, “maafkan aku, Sam.” Gadis itu menundukkan kepalanya, “aku egois, tapi aku hanya takut kamu pergi dan meninggalkan aku. Hubungan jarak jauh yang kita jalanin selama ini yang membuat aku takut kamu lebih nyaman ke Tania dari pada ke aku lagi.”
“Maafkan aku juga kalau tanpa sengaja membuat hatimu sakit.” Sam mengusap pipi Adira dengan kedua ibu jarinya, “jangan menangis lagi. Aku nggak bisa melihat air matamu ini mengalir keluar.”
“Dengarkan aku baik-baik! Sam tetap cinta sama Diranya. Nggak pernah berpaling sedikitpun pada yang lain. Aku serius menjalani hubungan ini sayang.”
“Kamu dapat dipegang omongannya? Kamu harus janji nggak akan seperti Om Tomi!”
Lagi-lagi Adira menyamakan Abrisam dengan Tomi. Sam kesal sebenarnya dengan perbuatan ayahnya di masa lalu. Orang berpikir Sam akan sama dengan Tomi. Mempermainkan hati wanita. Sam tidak begitu. Ia bisa meyakinkan semua orang kalau dia tidak sama dengan sang ayah.
Sam mengulas senyum dan menganggukan kepala. Ia menurunkan tangannya dari pipi Adira.
“Bagaimana kalau kita menikah aja?”
Gadis itu cukup terkejut dengan ajakan kekasihnya ini.
“Iya, serius. Ini bukti aku serius sama hubungan kita. Kalau aku sudah milikmu seutuhnya. Kamu nggak akan takut kehilangan aku lagi ‘kan?”
Adira jadi terdiam.
•••
“Kalian mau nikah muda?” Kanaya terkejut mendengar cerita dari sahabat laki-lakinya ini.
Abrisam menggangguk, “bagaimana menurut lo?”
Gadis yang rambutnya dikuncir asal ini meletakkan segelas minuman ke atas meja, lalu duduk berhadapan dengan Sam.
“Nggak masalah sih kalau itu memang menjadi keputusan kalian berdua.”
“Oke, kalau gitu gue akan bicarain ini ke kedua orang tua gue dan Dira.” Abrisam meraih gelas yang ada di meja.
“Kamu yakin Sam? Kamu aja belum ada kerjaan. Nanti mau dikasih makan apa Adira?”
Pemuda ini jadi berpikir lagi, “gue sih kepikiran juga soal ini. Rencananya gue akan buka usaha. Minjam modal dari Papi. Kuliah ‘kan tinggal nyusun skripsi lagi. Tahun depan gue udah wisuda.”
__ADS_1
“Semoga masa depan yang kamu rancang lancar ya. Aku selalu mendoakan yang terbaik buat kalian.”
“Oh iya sebenarnya gue mau tanya.” Sam meletakkan gelas di tangannya kembali ke meja setelah meneguk beberapa kali isinya, “lo cerita apa aja soal Tania ke Adira? Cewek gue itu selalu curigaan soal Tania.”
“Apa yang aku liat. Kalian dekat banget kayaknya. Kata Bunda Siska, Tania itu juga beberapa kali datang ke rumah kamu.”
“Bikin orang salah paham aja tahu presepsi lo itu.” Kanaya memanyunkan sedikit bibirnya, “gue sama Tania cuma teman sekelas. Memang sangat dekat kayak lo ke gue.”
“Tapi beda Tania kayak lebih spesial.”
“Sama aja kok. Malah kalau gue jalan sama Tania, Jodi suka ikut dengan kami. Jadi gue jarang banget berdua sama Tania aja.” Sam duduk dengan tega, “tolong ya, yakinin Dira kalau gue itu beneran setia sama dia. Lo ‘kan kenal gue udah lama.”
“Iya, iya, Sam yang setia. Makanya kelakuan kamu itu jangan yang bikin aku curiga! Namanya juga cewek liat cowoknya dekat sama cewek lain pasti cemburu.”
Abrisam mengusap-usap tengkuknya sambil tertawa garing, “ya maaf, yang penting gue nggak seperti dugaan kalian.” Ia menurunkan tangannya kembali, “cewek tuh ribet bener.”
Baru saja Kanaya ingin menimpali lagi. Namun, suara ngebass yang muncul dari balik pintu membuat Naya dan Sam sama-sama menoleh.
“Hai guys!” sapa Emran dan tidak lama Manha muncul dari belakangnya.
“Ayo, Sam main!” ajak Manha yang mengambil minuman di meja dan meneguknya.
“Kok kalian tahu Sam di sini?” tanya Kanaya menatap Emran dan Manha bergantian.
“Sam sendiri yang kasih tahu,” jawab Emran.
“Kita pinjam Sam-nya dulu ya Naya. Buat diajakin main playstation,” ujar Manha sambil cengengesan.
“Ya sudah bawa aja. Aku ‘kan bukan mamanya Sam.”
Manha tertawa dengan meletakkan kembali gelas milik Naya. Cowok yang berdiri di sebelah Emran ini menyenggol lengan Emran, memberi isyarat karena dari tadi pemuda itu malah melamun memperhatikan Kanaya.
“Eh, iya?” Manha menujuk Sam dengan bibirnya, “ayo Sam, buruan!”
Setelah ditarik oleh Emran. Sam yang duduk itu akhirnya mengikuti mau dari kedua sahabatnya.
“Balik dulu ya, Nay! Nanti datang ke nikahan gue!” teriak Abrisam sambil melangkah keluar rumah.
Kanaya yang sudah berdiri itu tertawa pelan, “siap, my bro!"
“Lo mau nikah Sam?” tanya Manha yang kaget mendengar kabar itu.
“Yoi!” Sam memasang helm dan menunggangi motor kesayangannya, “nanti sampai rumah gue ceritain.”
Kemudian ketika laki-laki itu pergi meninggalkan rumah Kanaya dengan kendaraan masing-masing.
__ADS_1
•••