He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 64


__ADS_3

Abrisam sudah siap di atas motornya. Hari ini ia akan mengikuti lomba drag race yang diadakan oleh sebuah perusahaan motor yang cukup bonafid.


Ia sangat berharap bisa menang dalam lomba ini. Agar seluruh uang yang ia dapat bisa diberikan pada Adira. Walau pun tidak banyak setidaknya bisa menambah tabungan Dira untuk berkuliah di luar negeri. Nanti Sam akan carikan lagi tambahannya.


“Woi!” Manha menepuk bahu Sam, “ngelamun aja.”


Sam menoleh, “gue nggak ngelamun, tapi lagi merhatiin lawan-lawan gue nanti.”


Emran yang berdiri di sebelah Manha ikut memperhatikan orang-orang di sekitar Sam.


“Lawan lo nggak bisa disepelein juga.” Emran menatap Sam, “lo pasti menang.”


“Amin, doa terus ya. Biar gue bisa bantuin Adira.”


“Pasti.” Emran mengacungkan jempol.


“Sam, udah dateng duluan lo.” Tegur Alex yang sudah siap dengan baju balapannya.


Sam mengulurkan tangannya dan berjabatan tangan dengan Alex terlebih dulu.


“Sorry, nggak bareng sama lo dan anak-anak yang lain,” ucap Sam merasa tidak enak hati.


“Nggak masalah. Sepertinya saingan gue yang sangat berbahaya lo deh.” Alex tertawa setelah menggoda Sam.


“Bisa aja lo.” Sam menunjuk sekitarnya, “meraka itu yang berbahaya.”


Sedang berbincang-bincang. loudspeaker memperdengarkan pengumuman dari Panitia, meminta peserta lomba untuk segera berkumpul dengan membawa kendaraan masing-masing.


“Gue balik dulu. Motor ada di sebelah.” Sam mengangguki saja ucapan Alex, “good luck untuk kita semua.”


Abrisam menoleh pada Manha dan Emran yang ada di sebelahnya, “gue duluan ya guys.”


Cowok itu mendorong motornya menuju arena.


“Hati-hati Sam. Ingat fokus!” ujar Emran menasihati.


“Semangat Sam!” teriak Manha.


Kedua cowok itu lekas berlari ke tribun penonton.



Adira duduk di ruang makan sudah 20 menit. Dress biru dongker yang ia gunakan mulai kusut. Make up yang dipoleskan ke wajahnya oleh Winda juga mulai luntur.


Ia sudah bosan menunggu kedatangan calon ayah barunya itu. Katanya akan datang hari minggu ini. Kalau sampai tidak datang Adira benar-benar kesal. Karena gara-gara acara ini ia harus membatalkan jalan-jalannya dengan Violet dan Yara.


“Belum datang juga, Ma?” tanya Dimas yang masuk ke dapur sambil merapikan rompi bajunya.


Winda yang menopang dagu di meja menoleh pada anak bungsunya, “belum, macet mungkin. Ini ‘kan hari minggu.”


“Lama banget. Baru mau kenalan aja ngaret,” ujar Adira jutek.


“Sabar dong, Nak. Kalau kata Mama, Om itu terjebak macet.”

__ADS_1


Tok... tok... tok...


“Itu mungkin, Ma.” Dimas menunjuk ke arah pintu.


“Iya.” Winda refleks berdiri dan merapikan pakaiannya, “ingat kalian harus sopan!”


Setelah memperingati kedua anaknya Winda jalan lebih dulu mendekati pintu rumah.


Dira berdiri malas-malasan. Berbeda dengan Dimas yang tersenyum lebar melihat sang ibu melangkah menjauh darinya.


“Mama nggak pernah seceria ini sejak kepergian Papa.”


Adira menoleh pada Dimas yang ada di sebelahnya.


“Udah tua nggak pantas cinta-cintaan.”


Dimas menunduk melihat adiknya yang lebih rendah dari dirinya, “emangnya anak muda aja yang boleh cinta-cintaan?”


Adira membuang muka dan mengerutkan bibir.


“Sudah, ayo ke depan nanti tamunya kelamaan nungguin kita.” Dimas jalan lebih dulu meninggalkan dapur. Disusul oleh Dira dengan wajah kesal dan BT-nya.


“Kenalin anak-anak ini Om Tomi,” ucap Winda dengan senyum yang tidak luntur sedari tadi.


“Salam kenal anak-anak.” Tomi menyapa ramah dengan ikut tersenyum pada Dimas dan Adira yang baru datang.


“Om!” tunjuk Dira dengan wajah kaget dan mulut yang sedikit terbuka, “Om ngapain ke sini?”


“Hah?” Bagai disambar petir di siang bolong. Adira tidak menyangka, mengapa harus Tomi orangnya. Dunia ini sempit sekali.


Tomi berpikir sebentar, “oh saya baru ingat. Dia ini teman sekalasnya Sam. Iya ‘kan?” pria itu menunjuk Adira.


“Maksud Om Abrisam?” tanya Dimas.


Pria paruh baya itu mengangguk, “iya Abrisam anak Om.”


“Abrisam itu pacarnya adik saya, Om.” Dimas berbicara pelan dan menoleh pada Adira.


Dira yang terdiam mematung itu meremas dress yang ia pakai. Bahunya bergetar dan matanya berkaca-kaca.


“Dira nggak setuju kalau Om jadi suami Mama.” Gadis ini menatap Winda, “Ma, Sam itu pacarnya Dira dan Tomi Pradipta ini ayahnya Sam. Dira nggak mau jadi sodaranya Sam!” Air mata sudah menetes di mata sebelah kanan Dira.


Winda menjadi bingung harus melakukan apa. Padahal ia juga mulai menyukai Tomi.


“Sam pernah bilang sama saya kalau ada gadis yang ia cintai sampai membatalkan pertunangannya. Jadi kamu?”


“Ma, Dira mohon jangan dilanjutin ya.” Dira menggapai sebelah tangan Winda dan menggenggamnya.


“Tidak bisa!”


Ucapan tegas dari Tomi membuat gadis yang sudah bercucuran air mata itu mendongak menatap Tomi kembali.


“Harusnya sebagai orang tua Om mengalah. Om ‘kan sudah mempunyai dua istri. Benar kata Sam, Om itu bukan pria yang baik.”

__ADS_1


“Dira jaga ucapanmu!”


Dira menatap mamanya cukup lama, lalu menghempaskan tangan Winda begitu saja. Ia berlari masuk ke kamarnya.


Dimas yang sedari tadi diam. Memperhatikan Tomi dan Winda sebelum ia mengejar adiknya.


Dira mengunci pintu kamarnya. Ia menangis lebih keras lagi dengan tubuh yang dia jatuhkan ke kasur. Panggilan dari Dimas di luar kamar ia hiraukan.


Gadis itu berupaya bangun dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya meraih ponsel di nakas. Ia mencari kontak Abisam dan mencoba menghubunginya. Namun, berkali-kali hanya operator yang menyauti.


“Sam ke mana sih? Lagi butuh gini HP-nya nggak aktif.”


Sedangkan di ruang tamu Winda masih syok. Ia bingung harus membuat keputusan.


“Winda kita tidak akan membatalkan ini ‘kan?” tanya Tomi yang menatap wanita itu.


Winda mengusap sebelah pipinya yang kejatuhan air mata secara tiba-tiba. Ia menatap Tomi dan mencoba tersenyum.


“Kamu duduk dulu ya, Mas.” Wanita ini menuntun lengan Tomi untuk duduk di sofa yang tersedia, “saya bikinkan minum dulu.”


Tomi hanya mengangguk dan setelah itu Winda meninggalkannya ke dapur.



“Maaf Mas. Pertemuan dengan anak-anak saya jadi begini. Saya nggak enak sama kamu.” Sambil berjalan mengantarkan Tomi ke depan mobilnya terparkir Winda mengajak berbincang.


“Tidak apa-apa.”


“Saya juga baru tahu kamu ayah dari Sam. Padahal saya kenal anakmu sudah cukup lama.”


Tomi berhenti melangkah, lalu menghadapkan tubuhnya ke Winda. Wanita itu ikut berhenti melangkah dan melihat pria di depannya dengan dahi berkerut.


“Saya harap kita tetap menikah. Hanya kamu perempuan yang cocok untuk mendampingi saya sampai tua.”


“Terus bagaimana dengan Adira dan Sam, Mas?”


“Mereka ‘kan masih remaja. Nanti Adira akan kuliah di luar. Lama-kelamaan mereka saling melupakan. Kamu tidak usah khawatir.”


Winda menunduk, “saya menikah untuk membahagiakan anak-anak, Mas. Kalau Adira nggak bahagia untuk apa saya menikah?”


Tomi mengambil sebelah tangan Winda. Ibu dua anak itu mendongak dan menatap Tomi dengan wajah sedihnya.


“Kamu serahkan saja ke saya semuanya. Kita bisa membahagiakan anak-anakmu.”


Winda mengangguk lemas. Sekarang dia masih bingung harus melanjutkan atau berhenti saja.


“Saya pulang dulu.” Tomi melepas gandengannya. Ia membenarkan jas yang terpakai, lalu melangkah melewati pagar rumah Winda.


Winda yang diam di tempatnya hanya menatap kepergian Tomi dengan mobil mewah itu.



JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE GAES:') AKU BUTUH SUPPORTNYA. MAKASIH UDAH SETIA BACA KARYAKU. LOVE YOU BUAT READERSKU ❤🙆

__ADS_1


__ADS_2