He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 53


__ADS_3

“Tibalah kita di puncak acara. Saatnya pasangan kita yang sedang berbahagia ini untuk memasangkan cincin pengikat pada wanitanya.” MC sangat bersemangat membawakan acara pertunangan itu berbeda jauh dengan Abrisam.


Kanaya sesekali memperhatikan wajah Abrisam yang terlihat gusar. Cowok itu meremas ujung jasnya. Perkataan Naya tadi di dalam kamar terus berputar-putar di kepalanya.


“Sam kelihatan nggak bahagia ya?” ujar Emran menyenggol lengan Manha dengan sikunya.


Manha yang sedang asik icip-icip dessert menegakkan kepala, lalu menatap ke arah Sam.


“Iya, kayak orang bingung.”


Emran menoleh pada sahabatnya itu. Tangannya masih memegang piring kecil yang berisi cake.


“Astaga, lo dari tadi udah abis berapa porsi? Makan mulu kerja lo. Ini acara paling penting kita harus liat,” omelnya pada Manha yang tidak berhenti makan.


“Gue liat kok.” Manha menatap Emran, “abis makanan di sini enak-enak, Mran. Nyesel lo kalau nggak makan. Ini aja gue belum makan nasi.”


Emran hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian ia melihat ke depan kembali dan mengacuhkan Manha yang masih asik makan.


Kedua orang tua Abrisam dan Kanaya sudah ada di atas panggung kecil, menemani kedua anaknya. Untuk Sam hanya Siska yang mewakilkan. Sedangkan Anna menunggu di bawah sambil menjaga Jasmin.


“Silakan boleh memasangkan cincinnya,” ucap pria yang berkerja sebagai MC acara itu.


Sam masih tidak bergerak. Ia melamun dan tidak mendengar perkataan MC. Kanaya juga sudah memanggilnya dengan suara pelan. Ia masih terperangkap di dalam pikirannya sendiri.


“Sam!” Tomi menyenggol lengan anak laki-lakinya itu dan berhasil membuat lamunan Sam buyar, “cepat keluarkan cincinnya dan pasangkan ke jari Naya. Jangan malu-maluin Papi!”


Cowok yang menoleh ke belakang itu segera merogoh saku jas dan mengeluarkan kotak berisi cincin. Senyum dibibirnya terlihat terpaksa. Sam hanya mengambil cincinnya saja, lalu memasukkan kembali kotak merah itu ke saku.


Kanaya mengulurkan tangannya saat Sam menatap dirinya. Tangan cowok itu bergetar ketika ingin memasukan cincin ke jari manis Naya. Tiba-tiba sekelebat bayangan Adira melintas di kepalanya. Semua orang berteriak kecewa karena Sam menjatuhkan cincinnya.


“Tenang-tenang hadirin dan hadiron. Kita bisa cari cincinnya dulu.” MC mencoba membuat acara tetap kondusif. Ada beberapa tamu sudah mengosibkan yang aneh-aneh.


Tidak butuh waktu lama Adam menemukan cincin itu. Ia melangkah mendekati calon mantunya.


“Hati-hati! Kamu harus fokus.” Setelah memberikan cincin ke tangan Abrisam. Adam menepuk-nepuk punggung Sam sebelum kembali ke tempatnya semula.


“Maaf,” satu kata itu keluar dari mulut Sam untuk Naya.


Kanaya tidak marah. Ia malah tersenyum, “nggak apa apa.”


Kanaya melangulurkan tangannya lagi dengan posisi kepala mendekat ke telinga Abrisam.


“Jangan lanjutkan!” bisikan itu membuat Sam menghentikan tangannya untuk memasang cincin, “lebih baik kamu pergi. Kejar cintamu! Aku tidak mau hanya menjadi cadangan. Acara ini biar aku yang mengurus.” Kemudian Kanaya menjauhkan wajahnya lagi. Ia menatap Sam sambil tersenyum lebar.


Kedua orang tua mereka serta tamu undangan sangat menunggu-nunggu cincin itu terpasang. Namun, Sam menggenggam cincinnya. Berlari turun dari panggung dan keluar dari ruangan pesta. Tanpa diminta air mata Naya menetes dari mata kirinya. Ia cepat menyeka itu tak mau dikira lemah. Ini juga keputusannya sendiri untuk benar-benar melepas Abrisam.


Bagi Kanaya cinta yang tulus adalah bisa mengikhlaskan orang yang kita cinta untuk bahagia dengan orang yang ia suka. Bukan memaksanya untuk tetap tinggal.


Semua orang terheran-heran mengapa Sam melarikan diri. Tomi yang marah menyuruh anak buahnya mengejar Sam.

__ADS_1


Cowok tinggi yang juga penyuka basket itu terun dari lantai 12 dengan lift. Segera ia berlari lebih kencang ketika sampai di lobby. Sam meminta tulang ojek yang mangkal tidak jauh dari hotel lekas membawanya pergi dari sana.


Orang suruhan Tomi berhenti mengejar saat Sam sudah tidak terlihat lagi oleh mereka.



Adira menutup pintu kamar dan setelahnya ia merapikan sweater yang ujungnya dimasukan ke dalam rok. Gadis ini terlihat cantik dengan rok selutut dan sweater krimnya. Rambut ia biarkan tergerai dengan memakai bandana yang senada dengan warna tas bebeknya.


“Ma, Dira main dulu ya sama Vio dan Yara. Udah dijemput Vio!” teriak Adira dari ruang tengah.


Dimas yang sedang menonton televisi di sana, menoleh ke belakang, “mama nggak ada. Lagi nganterin kue pesanan.”


Mulut Adira membulat dan kepalanya terangguk, “kalau gitu Dira pamitan sama kakak aja deh. Tolong ya bilangin mama Dira pergi sama teman-teman.”


“Mau ke mana lo?” tanya Dimas.


“Mau ke Ancol, main wahana.” Dira tersenyum hingga menunjukan deretan giginya, “kenapa? Mau ikut? Perjaka tua dilarang join!”


Mendengar olok-olokkan adiknya. Dimas melempar kulit kacang yang ada di meja ke arah Dira. Namun, gadis itu menghindar.


“Nggak kena, Wlee...” Dira menjulurkan lidahnya dan tertawa, “beresin nih nanti kena marah mama, nyampah!”


“Lo sih ngeselin!”


“Lah, kok gue?” Dira menunjuk dirinya sendiri, “sudahlah, Vio sama Yara udah nunggu di depan. Gue pergi dulu ya, Kak. Dadah...” Gadis itu melambaikan tangannya sambil terus berjalan mendekati pintu rumah.


Dimas yang menyandarkan sebelah tangannya di kepala sofa masih memperhatikan Dira.


“Apa lagi sih, Kak?”


“Tas lo itu kayak bocah paud.”


Adira menunduk memperhatikan tas berbentuk bebek itu. Kemudian ia mendongak kembali.



“Bodo, yang penting gue jadi kelihatan tambah imut.” Setelah itu ia menghilang di balik pintu.


“Najis!” umpat Dimas dan kembali menonton.


Baru sampai di teras. Adira melihat Yara dan Violet melambaikan tangan di dekat mobil. Dira tahu itu pasti mobilnya Vio. Gadis itu segera menutup pintu.


Ia berlari menuju pagar rumah. Membuka pagar yang tidak di gembok itu. Namun, betapa terkejutnya dia saat sebuah motor metik berhenti di hadapannya. Vio dan Yara tadinya mau menghampiri Dira juga jadi ikut mematung.


“Terima kasih, Mas.” Sam memberikan uang dari dalam dompetnya.


Sambil menyimpan dompet ke dalam saku kembali. Mata Abrisam tidak lepas memandangi Adira yang ada di hadapannya sekarang.


“Sam,” lirih Dira tidak percaya atas kedatangan cowok itu.

__ADS_1


Sam berhambur memeluk Adira. Detak jantung Dira seperti berhenti untuk persekian detik. Matanya juga tidak berkedip. Tubuhnya tidak menolak saat Sam memeluknya. Malah ia tak ingin dilepaskan lagi.


“Dira maafin gue. Sebenarnya lo nggak salah seutuhnya juga. Ini juga ada salah gue.”


Adira menoleh ke Sam yang berbicara di belakang.


“Bukannya Sam tunangan ya? Kok bisa ke sini?” tanya Vio yang berbisik pada Yara.


Yara mengedikkan bahu, “gue juga nggak ngerti.”


Sam melepas pelukannya. Menatap kedua mata Dira dengan tajam, “lo mau ‘kan maafin gue?”


“Lo salah apa?”


Sebenarnya Adira tidak mengerti dengan maksud lelaki di depannya ini.


“Gue juga bohongin lo. Gue sengaja ngaku kalau kita pacaran saat Afraz nembak lo.” Sebelum Adira berkata Abrisam cepat memotongnya, “ta-tapi sekarang gue benar cinta sama lo.”


Sam memengang dadanya sendiri,” ini bukan tipuan dan juga bohong. Cinta itu datang tiba-tiba aja, Dir. Gue baru sadar kalau saat Afraz nembak lo ternyata gue cemburu.”


Adira bingung harus menanggapi seperti apa, tapi untuk kehilangan Sam lagi ia rasa terlalu berat.


Sam kembali memeluk Adira. Kedua sahabat Dira hanya memperhatik mereka.


“Dir, lo mau ‘kan maafin gue? Terima cinta gue dan jadi pacar gue!”


Adira menelan air liurnya, “gue udah maafin lo, Sam. Sekarang kita satu sama.” Gadis itu tersenyum.


“Untuk balas cinta lo, gue masih bingung. Perasaan gue masih aneh,” lanjut Dira yang masih ada di dalam pelukan Sam.


Cowok yang berpakaian rapi itu tersenyum, “nggak apa-apa. Gue senang lo udah mau maafin gue. Soal cinta, kalau lo belum juga ada rasa sama gue. Gue akan sabar menunggu dan membuat lo jatuh cinta sama gue.”


Sam melepas pelukkannya dan menggenggam sebelah tangan Adira.


“Sekarang lo ikut gue!”


Dahi Adira berkerut dan pandangannya tertuju pada kedua gadis yang masih memperhatikan mereka.


“Udah pergi aja, Dir! Nggak masalah,” ucap Yara seakan tahu apa yang akan Adira sampaikan.


“Tapi ‘kan kita ma—“ mulut Violet di bungkam oleh Yara. Gadis itu memberontak, tapi Yara hanya senyam-senyum ke arah Dira dan Sam.


“Gue pinjem dulu,” ujar Sam, lalu menarik tangan Adira melangkah bersamanya.


“Iya, bawa aja asal jangan ada lecet pas dipulangin!” teriak Yara, terlihat ikut bahagia.


“Ahhh...” Violet menghela napas saat tangan Yara menjauh dari bibirnya, “kok lo biarin pergi?”


“Kasihan Dira kalau nggak bisa ikut Sam. Kita jalan berdua aja yuk!" Yara merangkul Violet. Membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1



__ADS_2