
Abrisam bergantian memperhatikan keluarganya yang sedang sarapan, lalu matanya berhenti pada Tomi. Pria yang akan menjadi ayah untuk ketiga kalinya itu ternyata menyadari kalau anak sulungnya melihat ke arah dirinya.
“Ada apa, Sam?”
Pertanyaan Tomi membuat yang lain menatap ke arah Abrisam. Cowok itu menggeleng dan menyuap lagi makanan ke dalam mulutnya.
“Kalau ada yang mau kamu omongin bilang aja. Ayo, beri tahu Papi! Kamu butuh apa? Uang jajanmu habis?”
Sam mengangkat kepalanya, “bukan itu, Pi.”
“Terus?”
“Di kantor Papi ada kerjaan yang tugasnya malam nggak?” tanya Sam membuat kening Tomi berkerut.
“Memangnya siapa yang sedang butuh pekerjaan? Kamu?”
Pemuda ini menggeleng, “teman Sam, Pi. Dia perlu kerjaan yang malam hari karena siang sampai sore kuliah.”
Tomi meletakkan sendoknya. Menopang kedua tangan di meja, lalu pria itu berpikir.
“Kalau malam kantor Papi sudah tutup, Sam. Paling ada juga satpam. Apa temanmu mau jadi satpam? Kerjanya dari malam sampai jam 7 pagi.”
Sam terdiam, ia berpikir mana mungkin memberi Tania pekerjaan sebagai satpam. Itu pekerjaa laki-laki walau sebenarnya tampang Tania seperti lelaki juga. Jamnya juga terlalu lama kalau kuliah pagi Tania bisa terlambat terus. Cowok itu menghela napas panjang.
“Bagaimana?” Tomi mengambil sendok dan garpunya kembali, “temanmu mau jadi satpam? Gajinya lumayan.”
Kedua sudut bibir Sam tertarik hingga membentuk senyuman. “Nggak dulu deh, Pi. Soalnya selesai pekerjaannya terlalu pagi. Yang ada teman Sam selalu telat ke kampus.”
“Ya sudah nggak apa-apa. Memang susah kalau cari kerja sambil kuliah. Papi pernah merasakan hal yang sama dengan temanmu itu.”
“Jadi, Papi pernah kerja part time juga?” tanya Sam yang baru tahu.
Karena mulutnya penuh Tomi hanya mengangguk.
“Sudah ayo berangkat ke sekolah! Nanti Yasmin terlambat.” Siska berdiri dan memasangkan ransel ke kedua bahu anaknya.
Tomi mengecek jam di pergelangan tangannya. Pria itu lekas minum dan berdiri.
“Ayo, Yasmin bareng Papi!” Tomi menjinjing tas kerjanya.
“Hati-hati, Mas!” Siska dan Anna bergantian bersaliman dengan suaminya.
Abrisam pun ikut berdiri dan bersaliman dengan ayahnya itu.
•••
Sinar mentari sangat menyengat di siang itu. Namun, Sam harus masuk kelas. Kuliah siang memang banyak orang malas untuk menghadirinya karena ini waktu-waktunya berkencan dengan kasur.
Demi lulus dengan nilai yang baik Sam tetap bersemangat menyusuri koridor fakultasnya. Tangannya mengipas brosur yang ia dapat di gerbang tadi, pada wajahnya. Panas sekali sekarang.
“Sam! Sam!”
__ADS_1
Seseorang yang meneriaki namanya berhasil menghentikan langkah cowok itu. Ia menoleh ke belakang. Itu suara Tania. Gadis ini berlari-lari menghampiri Abrisam.
“Gue mau kembaliin ini.” Tania mengulurkan tangannya yang memegang sapu tangan milik Sam. Cowok itu hanya melihat saja, “udah gue cuci.”
Sam tersenyum, “Nggak usah dikembaliin. Ambil aja buat lo, gue masih banyak di rumah.”
“Dih, songong amat lo.” Tania dan Sam tertawa bersamaan.
Mereka melanjutkan jalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Tania mengajak Sam berbincang santai.
“Kata Jodi, lo sama Adira berantem ya?”
“Tadinya sih begitu. Sekarang udah baikan lagi,” jawab Sam melihat lurus ke jalan.
“Syukurlah, kenapa bisa berantem?”
Belum sempat Sam menjawab pertanyaan Tania. Seorang gadis mengejutkan mereka di depan pintu masuk kelas.
“Akhirnya lo datang juga, Sam.” Dahi Sam mengerut, “popolasi orang jelek mengurang juga.” Celsie mengibas tangannya ke leher seperti orang kegerahan.
“Itu ‘kan ada Jodi.” Tunjuk Sam pada temannya yang duduk di atas meja pengajar sambil memeluk gitar.
Abrisam berjalan masuk ke kelas dengan Tania menyusul di belakangnya.
“Jodi cuma nambah-nambahin populasi orang jelek.”
Sam tertawa pelan saat mendengar balasan dari teman perempuannya ini.
“Itu ‘kan cuma kata emak lo. Buat nyenengin hati anaknya aja. Padahal emak lo juga enek, Jod.” Celsie tertawa terbahak-bahak sehabis mem-bully temannya itu.
Tania ikut tertawa sekarang. Namun, ia menunduk melihat sapu tangan yang masih tergenggam. Gadis ini tersenyum, lalu menoleh ke arah Sam. Cowok yang diam-diam disukai Tania ini tertawa menikmati lelucon dari kedua temannya.
“Teman-teman tolong perhatiannya sebentar!" mahasiswa yang memang sudah cukup ramai di kelas itu menoleh, “saya akan menyanyikan lagu berjudul kumau dia dari Andmesh.” Jodi mulai memetik gitar di pangkuannya.
“Mending lo diem aja deh, Jod. Itu lebih membantu,” celetuk salah satu mahasiswa.
Akhirnya tawa pun pecah. Jodi memajukan sedikit bibirnya. Belum apa-apa konsernya sudah tertolak.
Tania mengalihkan pandangannya. Ia menyimpan sapu tangan itu ke dalam tas. Ketika menoleh lagi ke arah Sam. Pemuda itu sudah bergabung dengan teman-temannya yang ada di bangku belakang.
•••
Sudah dua kali libur semester Adira mengabarkan kalau ia tidak bisa pulang lagi. Padahal Sam sangat menunggu gadisnya itu datang dan mengikis rindu yang makin lama makin menebal ini.
Abrisam menempelkan kedua kaki panjangnya di tembok dengan tubuh berbaring di kasur. Hari ini ia tidak memutuskan untuk ke mana pun. Kemarin lusa ia sudah pergi dengan Emran dan Manha. Sedangkan kemarin ia sudah main dengan Jodi dan Tania. Sekarang cowok itu bingung harus mengerjakan apa lagi.
Rasanya lama sekali kalau harus menunggu Adira menyelesaikan pendidikannya di Australia. Sam sudah tidak kuat kalau harus menunggu lagi.
“Sam!” tiba-tiba Abrisam mendengar suara Tomi memanggilnya.
Pemuda yang tidur terbalik ini berusaha melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Baru pukul 2 siang, tatapi Tomi sudah pulang. Sam memcoba mengacuhkannya karena ia pikir dia sedang berhalusinasi.
__ADS_1
“Sam!” suara itu terdengar lagi makin keras dari yang pertama.
“Sam! Turun dulu! Ada yang ingin Papi kasih,” teriak Tomi dari lantai dasar rumahnya.
“Papi benaran sudah pulang,” gumam pemuda itu menurunkan kedua kakinya dan turun dari kasur.
Ia merapikan kaus yang dipakai, lalu berjalan keluar dari kamar. Sam melihat Tomi duduk di sofa ruang tv. Lelaki ini mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.
“Ada apa, Pi? Kok tumben udah pulang?”
Sam menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepatnya di sebelah Tomi.
“Papi pulang cepat khusus kamu.” Dahi Sam berkerut. Ia belum paham apa yanh Tomi bicarakan.
“Nih, Mas.” Siska datang, lalu meletakkan camgkir di atas meja, “kopinya.”
“Terima kasih, Sayang.” Tomi tersenyum lembut.
“Sam masih nggak ngerti maksud Papi.” Cowok itu menatap Siska yang berdiri di depannya sambil memegang nampan, “ada apa sih, Bun?”
Siska yang juga tidak tahu hanya mengedikkan kedua bahunya. Tomi membuka tasnya mengeluarkan sesuatu dari tas kerja itu.
“Untukmu!” Pria tua ini memberikan kotak persegi panjang pada anak sulungnya.
“Sam dapat kado? Padahal ulang tahun Sam sudah lewat, Pi.”
“Buka dulu!” perintah Tomi.
Dengan masih dikuasai bingungnya Sam mengikuti saja mau ayahnya itu. Ia membuka penutup dari kotak kecil berbentuk persegi panjang ini.
Betapa terkejutnya Sam saat melihat selembar kertas bertuliskan tiket pesawat dan tujuannya adalah ke Australia.
“Ini benar buat, Sam?” Tomi mengangguk, “terima kasih Papi. Sam memang mau liburan ke tempat Dira.” Abrisam memeluk ayahnya itu.
Tomi tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung Sam.
“Papi tahu kamu merindukan gadis itu. Kalau dia nggak bisa pulang karena sibuk. Maka kamu aja yang datangi dia ke tempatnya. Papi beri itu karena nilaimu bagus semester ini.”
Sam melepas pelukannya, “Sam jadi terharu. Papi baik banget. Terima kasih Papi.”
Siska yang menyasikkan kehangatan anak dan ayah ini, tersenyum.
“Sama-sama, Nak. Kamu hati-hati di sana nanti ya. Jangan lupa kabarkan Papi, Bunda, Mama di sini kalau kamu sudah sampai.”
Lelaki itu mengangguk dengan senyum yang tidak luntur, “Itu pasti, Pi.”
“Ya sudah, sana beres-beres barangmu yang mau di bawa besok!” Tomi meraih cangkir yang ada di meja, “biar besok nggak keburu-buru. Periksa jangan sampai ada yang tertinggal.” Tomi menyerut kopi hangat miliknya.
“Siap, Bos!” Sam berdiri, lalu berlari menuju kamarnya dengan tangan memegang hadiah dari Tomi.
"Sam, Sam." Siska menggelengkan kepala dan tertawa pelan dengan mata melihat sosok anaknya makin menjauh.
__ADS_1
•••