He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 75 [ End ]


__ADS_3

Angin yang cukup kencang di siang itu menerbangkan rambut Adira yang tergerai dan mengelus pipinya yang mulus. Gadis itu sangat menikmati pemandangan di depannya.


“Maaf lama.” Abrisam datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin dan sepering cemilan, “gue nggak biasa buat minuman jadi nunggu Bunda yang lagi goreng ikan dulu.”


Adira mendongak dan tersenyum menyambut kedatangan kekasihnya, “nggak apa-apa.”


“Ini diminum dan makan dulu.” Sam meletakkan nampan di meja bulat kecil di depan mereka.


“Terima kasih, repot banget.”


Sam yang sudah duduk mengangguk, “nggak repot cuma minum sama cemilan doang.”


“Ya udah aku minum.” Adira mengambil salah satu gelas dan mendeguk isinya, “rumahmu bagus. Aku suka bagian tamannya ini.”


Ini kali pertama Adira mengunjungi kediaman Abrisam. Setelah apa yang mereka lewati akhirnya keluarga Dira dan Sam sekarang menjalin silaturahmi yang baik.


“Kata Papi, rumah ini Mami yang pilih semasa hidupnya.”


“Berarti Mamimu pintar. Rasanya di rumah ini jadi malas mau keluar lagi.”


“Kalau begitu kamu tinggal di sini aja,” usul Sam spontan.


Adira yang ingin memasukan kripik ke dalam mulut menghentikan pergerakan tangannya sebentar.


“Tinggal sama kamu gitu?”


Abrisam mengangguk, “iya, jadi istri aku sekalian.”


“Idih, aku belum mau nikah! Kuliah dulu yang benar.”


Sam tertawa mendengar tanggapan dari Adira. Padahal ia hanya bercanda gadis itu menanggapi serius.


“Kamu jadi ngambil jurusan bisnis?” tanya Adira.


Sam menatap ke depan dan menyenderkan punggungnya ke kursi.


“Papi maunya begitu, aku ikutin aja.” Cowok itu menoleh ke Dira dan tersenyum tipis, “pilihan orang tua nggak akan salah ‘kan?”


“Sekarang Sam-nya aku tambah bijak dan dewasa ya. Semoga kamu bisa melewatinya.” Dira memberikan semangat.


“Terus kamu gimana?”


“Mama maunya aku tetap kuliah di luar, tapi aku paham. Aku nggak mau nyusahin dan jadi beban Mama. Mungkin aku akan lanjut kuliah di kampusnya Kak Dimas.”


“Sayang ya, impianmu kuliah di luar nggak jadi.”


“Mau gimana lagi. Uang yang kamu kasih waktu itu paling cukup untuk biaya awal-awal. Bagaimana dengan seterusnya? Kasihan Mama kalau harus kerja keras.”


Abrisam menatap Adira dengan senyum mengembang.


“Kamu kenapa senyum-senyum begitu?” Dahi Adira berkerut.


“Aku beruntung dapat pacar kayak kamu. Udah pengertian, pintar, baik dan berbakti pada orang tua.”


“Gombal!”


“Aku serius.”


Adira tertawa mendengarnya. Sam melihat ponselnya yang menyala di atas meja. Ia mengambilnya dan membaca pesan yang masuk.


“Jalan yuk, Dir!” ajak Sam yang memasukan kripik ke dalam mulut.


“Ke mana?”


Sam menyimpan ponsel ke saku celana.


“KUA.”


“Ih, Sam!” geram Dira gemas, “udah kebelet nikah apa?”


“Kalau sama kamu, aku maunya buru-buru nikah.”


Adira mengalihkan pandangannya. Ia tidak mau pipinya yang memerah dilihat oleh Sam.


“Bercanda. Ini Emran sama Manha ngajak main. Kamu ikut aja.”


“Boleh deh.” Adira mengangguk.


“Ayo pergi!” Sebelum berdiri cowok itu mendeguk dulu minumannya. Kemudian melangkah dengan menggandeng tangan Adira.


“Kalian mau ke mana?”


Langkah Adira dan Abrisam berhenti saat seseorang yang berpapasan dengannya di dalam rumah bertanya.


“Mau kumpul sama teman-teman, Pi.”


Tomi mengangguk, “oh begitu. Ya sudah hati-hati bawa motornya Sam. Kamu bawa cewek cantik nih.”


Dira tersenyum malu, “Om bisa aja.”

__ADS_1


“Pasti itu, Pi. Calon mantu Papi ini nggak akan ada lecet sedikit pun.” Dira menepuk bahu Sam. Sedangkan cowok itu tertawa saja.


“Oke, oke, Papi percaya. Ngomong-ngomong Adira. Om titip pesan sama mamamu. Bilang besok malam jam tujuh makan malam sama keluarga Om di restoran. Nanti alamatnya Sam yang kirimkan.”


“Jadi kita mau makan keluarga?” Tomi mengangguki pertanyaan anaknya.


“Siap, Om. Nanyi Dira sampaikan.”


“Sudah itu aja.” Pria memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, “sekarang kalian boleh pergi.”


“Kami pamit, Pi. Permisi!”


Sam dengan tangan masih mengandeng Adira jalan meninggalkan Tomi.


Tomi memperhatikan kedua orang yang menjauh itu, “saya baru kali ini melihat Sam senyum lebar tanpa beban setelah kepergian maminya.”



Dress merah selutut membalut tubuh Adira. Dengan rambut digerai dan bandana motif mahkota mengiasi kepala gadis itu.


Ia tersenyum memasuki sebuah restoran bersama Mama dan Kakaknya.


Malam ini walau dingin. Namun, tidak terasa karena hangatnya sambutan dari keluarga Sam ketika mereka datang.


“Silakan duduk!” ujar Tomi yang menunjuk kursi kosong.


“Terima kasih, Pak.” Winda dan keluarga lekas duduk.


“Nyasar nggak ke sini?” tanya Tomi berbasa-basi.


“Nggak dong, Om. ‘Kan driver taksinya udah pro.” Dira tertawa pelan. Membuat yang lain ikut tertawa.


“Kalau begitu kita pesan makanan dulu aja. Pasti Adira dan keluarganya sudah lapar, Mas.” Usul Siska memegang lengan suaminya.


“Kamu benar.” Tomi mengangkat tangannya, “Mbak, saya minta menunya.”


Setelah makanan datang mereka segera memyantap pesanan masing-masing. Sesekali Dira tertawa melihat Sam yang menjaili Jasmin. Perbincangan ringan juga meramainkan acara makan bersama itu.


“Dira kamu masih mau kuliah di luar negeri?” pertanyaan Tomi membuat Adira menoleh ke arah Winda. Ibunya itu juga menatapnya.


Dira beralih melihat ke arah Tomi, “kayaknya nggak deh, Om? Kuliah di indonesia aja. Lagian jurusan tata boga banyak di kampus Jakarta.”


“Kenapa?” tanya Tomi yang bingung, “kata Sam, kamu sangat ingin kuliah di sana sampai daftar beasiswa.”


Adira dan Sam saling tatap sebentar.


“Sebenarnya bukan nggak mau, Om. Uangnya nggak ada.” Adira menatap Winda sekilas, “kasihan Mama kalau harus kerja banting tulang. Dira nggak mau nyusahin. Biaya di luar negeri ‘kan mahal. Jadi, Dira nggak masalah kuliah di sini juga.”


Siska dan Anna serta Winda terkejut. Dimas terpukau mendengarnya.


“Ini serius Om?”


“Iya, serius. Memangnya Om kelihatan bercanda?”


Gadis itu masih bingung. Berasa mimpi. Ia menoleh pada Sam. Cowok itu nganggukkan kepalanya dan tersenyum.


“Om nggak akan minta nikah sama mama saya lagi ‘ka?”


Tomi memperhatikan Winda. Kebetulan wanita itu menatap ke arahnya.


“Mamamu cantik juga.”


“Hah?” Adira terkejut dengan ucapan Tomi. Berbeda dengan ekspersi kedua istri pria itu. Mereka terlihat tenang.


“Papi,” geram Sam membuat Tomi tertawa geli.


“Om, bercanda Dira.” Tomi berusaha menghentikan tawany, “kamu mau ‘kan? Tolong jangan tolak tawaran Om ini.”


Adira menghela napas lega, “Om ini iseng juga ya. Dira mau Om. Makasih sebelumnya.”


“Bapak serius?” Kali ini Winda yang bertanya.


“Serius, Win. Kata Sam anakmu itu pintar. Saya pikir sayang kalau wawasannya nggak kita perluas. Biarkan ia mandiri,” jelas Tomi meyakinkan semua orang.


“Terima kasih, Pak. Saya sangat berutang budi.”


“Tidak usah begitu. Dira ini ‘kan calon mantu saya. Anak Saya juga.”


Dira tersipu malu.


“Buat Sam, kamu boleh memilih jurusan yang kamu suka. Papi tidak melarangmu lagi.”


Sam terkejut dan hampir saja tersedak. Ia mendongakkan kepalanya, lalu menghentikan makan.


“Papi serius? Ini nggak mimp ‘kan?” tanya Sam.


“Serius. Coba dicubit, Ra!”


Adira mengangkat tangannya dan menyubit sebelah pipi Abrisam yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sampai merintih kesakitan.

__ADS_1


Semuanya tertawa melihat respon Sam itu. Adira menurunkan tangannya kembali.


“Nyata ‘kan?” pertanyaan Dira mendapat anggukan dari Sam.


“Ayo di makan lagi!” ajak Anna yang dari tadi menyimak, “ada yang mau tambah?”



Sebulan kemudian...


“Hati-hati, Ra. Jangan lirik cowok bule di sana! Aku di sini selalu menantikan kepulanganmu.”


Hari ini banyak orang terdekat Dira mengantarnya ke bandara. Ia akan berangkat bersama Winda. Sang ibu akan membantunya mempersiapkan segalanya sebelum kuliah benar-benar di mulai nantinya.


Adira tersenyum, “kenapa kalau aku lirik cowok bule? Kamu cemburu?”


“Nggak.”


“Kok nggak sih?”


“Karena masih ganteng aku dari pada bule di sana. Aku yakin kamu nggak akan jatuh hati selain sama aku.”


“Ih, pede betul!” gadis itu menepuk lengan Sam. Hingga kekasihnya meringis kesakitan, “bisa nggak narsisnya dikurangin.”


“Nggak!”


Adira memegang kedua pundak kekasihnya, “sini aku bilangin!”


Sam memposisikan tubuhnya berhadapan dengan perempuan itu. Padahal di situ ramai keluarga mereka. Ada Tomi, Siska, Anna, Winda dan Dimas. Jasmin tidak bisa ikut karena ia sekolah. Namun, kedua sejoli itu berasa dunia milik berdua.


“Bilanga apa?”


“Kamu di sini jangan nakal. Patuhi omongan Papi, Bunda dan Mama ya!” Sam mengangguk, “aku nggak mau kamu berkelakuan kayak dulu. Ingat jangan ganjen! Kuliah aja yang benar. Kita masih bisa komunikasi lewat handphone."


“Iya, bawel.” Sam menahan tawanya.


Dira memeluk tubuh tinggi Abrisam. Cowok itu membalas pelukan kekasihnya.


“Aku pasti kangen sama kamu. Sebenernya aku nggak bisa LDR. Apa kuliah di luarnya batal aja?”


Sam mendorng bahu Dira, “jangan! Masa batal. Kesempatan nggak datang dua kali, Dir. Aku ‘kan mau juga punya istri lulusan luar negeri. Biar anak-anak kita nanti bangga sama mamanya.”


“Tapi ‘kan...”


“Nggak ada tapi-tapi-an. Kuliah di Victoria university itu impian kamu selama ini. Kamu harus mencapainya. Aku di sini akan tetap setia sama kamu. Jangan khawatir!”


Adira menjatuhkan air mata. Namun, cepat dihapus oleh Abrisam.


“Jangan nangis. Katamu kita masih bisa bertemu setiap libur semester.”


“Aku akan belajar dengan rajin agar cepat lulus dan pulang ke Jakarta. Biar kita bisa sama-sama lagi,” ucap Adira yang mendapatkan anggukan dari Dira.


“Mama pergi dulu antar adikmu ya.” Winda berbicara pada anak sulungnya, “jaga rumah. Jangan lupa dibersihkan sesuai pesan Mama tadi.”


Dimas mengangguk, “siap, Ma. Jangan lama-lama di sana!”


“Sampai adikmu lulus Mama di sana,” ujar Tomi menjaili Dimas.


“Ih, Om!”


Winda tertawa dibuatnya, “kamu ‘kan anak laki-laki nggak boleh cengeng ditinggal Mama seminggu doang.”


“Adira!” teriak Yara dan Violet berlari-lari mendekati rombongan yang mengantar Dira dan Winda. Mereka terlambat datang. Untung saja Dira belum pergi.


Gadis yang dipanggil itu menoleh, lalu memeluk kedua temannya setelah dekat.


“Gue bakal kangen sama kalian berdua,” ucap Dira yang masih memeluk.


“Kita juga Dir,” balas Yara.


“Yang rajin belajar biar jadi lulusan terbaik Dira,” tambah Vio.


Adira melepaskan pelukannya. Ia tersenyum dan mengangguk pada kedua gadis itu, “itu pasti.”


“Ayo, Dira pamitan sama yang lain!” suruh Winda.


Dira berpelukan dengan Dimas. Kakaknya itu memberi sedikit nasihat. Kemudian ia bersaliman dengan orang tua Sam.


Dengan menyeret kopernya ia mendekati Sam kembali. Tangannya menggenggam tangan kekasihnya itu.


“Aku pergi ya?”


“Iya, hati-hati.”


“Yuk, Dir. Nanti kita ketinggalan pesawat.” Itu suara Winda yang terus mendesak Dira.


Perlahan tangan Dira bergerak dan menjauh akhirnya gandengan sepasang kekasih itu terlepas. Namun, mata Adira masih tertuju pada Sam. Dengan bergandengan tangan bersama Winda. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang mengantarnya.


End

__ADS_1



Mau kasih saran atau kritik juga boleh. jangan lupa votenya gaes. makasih banyak udah baca sampai selesai ceritaku ini. aku cinta readersku ❣ semoga karyaku selanjutnya bisa lebih baik dan menghibur kalian.


__ADS_2