
Gadis dengan bulu mata lentik itu melangkah mendekati Abrisam dan Adira. Sam masih terdiam. Sedangkan Dira terus memperhatikan perempuan yang memakai seragam sekolahnya itu.
“Sudah lama kita tidak bertemu. Kamu tidak banyak berubah. Apa kabar, Sam?” Gadis itu tersenyum dan berdiri di depan mereka.
“Kanaya? Lo kok bisa di sini?” Sam menarik tangannya yang ada di bahu Dira.
Gadis bernama Kanaya itu tertawa kecil, “aku bosan tinggal di tempat Oma. Aku pengen balik ke tempat lahirku ini. Nggak nyangka bisa satu sekolah lagi sama kamu.”
“Oh begitu. Jadi, lo sekarang bakal ngelanjutin sekolah di sini?”
Kanaya mengangguk, “kamu tahu aku harus membayar banyak untuk bisa pindah. Ugh, pindah itu merepotkan.”
Sam memasukan sebelah telapak tangannya ke dalam saku celana dan melihat ke arah lain sambil bergumam, “udah tahu repot lo masih aja ke sini.”
“Kamu bilang apa?”
Cowok itu kembali menatap gadis di depannya dan menggeleng cepat, “nggak.”
“Sepertinya kalian masih mau ngobrol lama. Gue duluan ya,” pamit Dira membuatnya ditatap Sam dan Kanaya.
Tidak lama bel berdering. Membuat siswa dan siswi yang berlalu-lalang segera masuk ke dalam kelas mereka.
“Nah, sudah bel. Bye!”
Baru saja Dira akan melangkahkan kakinya. Tangan Sam kembali menarik lehernya.
“Apaan sih, Sam? Gue mau ke kelas.” Adira memukul tangan Sam yang merangkulnya.
“Kita bareng-bareng aja sayang ke kelasnya.” Sam tersenyum pada Dira, “Yuk!”
Mereka pergi meninggalkan Kanaya yang masih terdiam di posisinya.
“Sayang? Sam sudah punya pacar? Itu pacarnya?”
Banyak pertanyaan berputar di kepala Kanaya.
Kelas 12 IPS 1 sedikit ribut karena sudah lima belas menit guru yang mengajar belum juga masuk.
Semua murid sibuk masing-masing. Para perempuan ada yang asik bergosip, ada yang berdandan, ada juga yang mencoret-coret papan tulis. Tidak jauh berbeda dengan laki-laki, mereka ada yang bermain kelereng di depan kelas, bermain game di ponsel, dan ada juga yg sedang ikut bernyanyi bersama Abrisam.
“Sam itu bisa main gitar juga ya?” pertanyaan dari Yara membuat Dira menoleh ke belakang.
Di sana Sam sedang memetik gitar dengan dua anak laki-laki lain yang bernyanyi, meremaikan.
__ADS_1
“Bisa, itu buktinya,” balas Dira kembali menghadap ke depan.
“Gue kira cuma bisa buat keributan,” tambah Yara dan membuat Violet yang lagi berkipas itu tertawa.
“Dira!” tiba-tiba Sam memanggil Dira. Yang dipanggil lekas menoleh, “sebuah lagu untuk lo.”
Adira bergidik jijik. Sam akhir-akhir ini sedikit alay.
“Apaan sih Sam? Nggak usah nyanyi-nyanyi deh. Suara lo vals!”
siswa-siswi yang mendengar teriakan Dira, tertawa
Sam yang duduk di atas meja mulai memetik gitarnya lagi. Cowok itu mencoba menghayati lagu yang akan ia nyanyikan.
“Kumau dia, tak mau yang lain
Hanya dia yang selalu ada kala susah dan senangku
Kumau dia, walau banyak perbedaan
Kuingin dia bahagia hanyalah denganku...
Biarkan-ku menjaganya sampai berkerut
Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya.”
Guntur menoleh ke belakang, “teman-teman ada ibu Sukma. Ayo duduk di kursi kalian masing-masing.”
Sam menghentikan lagunya dan segera turun dari atas meja. Ia mengembalikan gitar milik temannya dan duduk di kursinya dengan rapi.
Bu Sukma tidak datang sendirian beliau bersama seorang siswi yang Adira dan Abrisam temui tadi.
“Siapa itu, Bu? Kok cantik betul?” tanya Abdi.
“Oh ini?” Bu Sukma menunjuk anak perempuan di sebelahnya, “nanti ibu kenalkan. Sebelumnya ada yang ingin ibu beri tahu. Pak Agus nggak bisa masuk, tapi beliau bilang kalian harus mengerjakan tugas di LKS halaman 142-145. Pelajaran Sosiologi berikutnya kalian harus mengumpulkan tugas itu.”
“Tolong diawasi teman-temannya ya, Guntur.” Guntur yang dititipkan amanah itu mengangguk.
“Banyak banget,” gerutu Sam yang memindahkan tasnya ke atas meja.
“Sekarang Ibu akan mengenalkan gadis manis yang ada di sebelah Ibu ini. Namanya, Kanaya. Ia siswi pindahan dari Seoul, Korea Selatan. Ibu harap kalian bisa berteman baik dengan Naya.”
“Wah, tempatnya artis yang iklan pedas jinjja itu ya,” celetuk Abdi yang terpukau.
“Enak dong, bisa ketemu BTS. Gue juga pengen tinggal di Korea,” tambah Violet sambil memeluk gagang kipasnya.
__ADS_1
“Lo nggak cocok tinggal di sana, Vi. Lebih cocok lo tinggal di korengan,” balas Abdi.
“Bacot lo. Sirik aja!” Vio mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Sudah-sudah jangan ribut!” Bu Sukma selaku wali kelas menenangkan muridnya, “Naya kamu bisa duduk di sana.”
Setelah Bu Sukma memberi tahu kursi yang kosong. Kanaya lekas berjalan menuju mejanya. Ia berhenti di meja yang berseberangan dengan Abrisam.
“Kalian jangan ribut. Ibu tinggal dulu. Ada jam di 12 IPS 3.” Bu Sukma keluar dari kelas. Suara bising mulai terdengar kembali. Walau tidak begitu keras seperti diawal.
Sam terlihat acuh tak acuh pada Kanaya. Padahal dari tadi gadis itu memandanginya.
“Sam!”
“Lo bisa nggak sih? Gue nyontek dong.” Lelaki itu seakan tidak mendengar panggilan Naya. Ia malah asik membujuk temannya yang duduk di depan.
“Sam!” Naya memanggilnya lebih keras.
Abrisam akhirnya menoleh, “apa?” tanyanya agak ketus.
“Aku senang kita bisa sekelas,” jawabnya sambil tersenyum manis.
Sam kembali melihat ke depan, “gue biasa aja,” gumamnya hampir tidak terdengar.
“Sam, kamu masih anggap aku teman ‘kan?” tanya Naya.
“Sejak kapan ya kita temenan? Udah urus aja hidup lo. Anggap gue nggak ada di sini.”
Gadis itu malah tertawa cekikikan. Dahi Sam berkerut dan alisnya tertaut.
“Kamu lucu. Mana bisa begitu. Aku melihatmu ada di depanku.” Kanaya menggeleng dan mengeluarkan bukunya yang banyak memenuhi tas.
“Lo baru beli LKS sebanyak itu?” tanya Sam yang memperhatikan.
“Iya.” Naya menoleh kembali, “katanya harus punya buku yang lengkap. Aku beli aja. Biar bisa menyusul ketinggalan materi.”
Dari jauh Adira memperhatikan Abrisam dan Kanaya yang sedang berbincang. Sebenarnya Adira masih penasaran siapa Kanaya dan apa hubungannya dengan Sam.
Violet yang tidak sengaja melihat Dira memperhatikan dua orang di belakang itu bersuara.
“Kenapa, Dir? Lo cemburu? Jadi, benaran lo jadian sama Sam? Sampai sekarang gue masih nggak percaya itu.”
Adira sedikit tersentak saat dilontarkan pertanyaan yang cukup banyak. Dia lupa kalau kedua sahabatnya tidak mengetahui misinya.
“Gue nggak cemburu.” Adira kembali mengerjakan tugasnya.
__ADS_1