He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 6


__ADS_3

Karena sama-sama memiliki jam kosong ketika pukul 11 siang. Sam, Tania, Jodi, Manha dan Emran berkunjung ke sebuah kafe yang baru buka. Kebetulan tidak jauh dari kampus mereka. Lumayan sedang banyak diskonnya.


“Malam ini main yuk!” ajak Manha di sela-sela menyantap makanannya.


“Ke mana?” tanya Emran.


“Ke pasar malam aja yok. Seru tuh banyak wahana dan permainannya. Bagaimana?” usul Jodi.


Sam mengangguk, “boleh juga. Sekalian kita tantangin Manha masuk rumah hantu.”


“Nggak ada!”


Emran hampir menyemburkan makanannya saat mendengar penolakan Manha yang sangat cepat.


“Entar, kalau lo berhasil gue hadiahin uang 100 ribu deh,” sambung Sam.


“Serius? Gue juga mau kalau begitu,” ujar Jodi yang ingin ikut serta.


“Lo ‘kan berani, Jod. Gue nantanginnya Manha.” Sam mengaduk-aduk makanannya sebelum menyantapnya lagi.


“Mau lo kasih 100 juta juga gue nggak mau,” tolak Manha lagi.


“Kenapa sih lo takut banget kayaknya?” tanya Jodi yang belum tahu phobia Manha yang satu ini.


“Waktu kecil pernah diculik genderuwo dia,” jawab Emran mewakilkan Manha.


Jodi menatap Manha tajam, “seriusan, Ha? Ada ya gendoruwo mau nyulik anak macam lo?”


“Sialan lo!” umpat Manha, “gue juga bingung sebenarnya waktu itu lagi main petak umpet sama teman yang lain. Tiba-tiba ada kabut hitam kira-kira setinggi dua meter. Nggak lama kabut itu nutupin penglihatan gue. Gue nggak inget apa-apa lagi. Sadar dari pingsan gue ada di atas pohon yang terletak di kuburan. Serem dong. Tetangga gue yang bilang kalau itu diculik gendoruwo.”


Jodi tertawa, “masa kecil lo penuh ketegangan juga ya.”


Tania yang dari tadi menyimak ikut senyam-senyum mendengarkan tawa dari temannya itu.


“Lo ikut ‘kan, Tan?” tanya Emran yang membuat Sam menoleh juga ke gadis yang dari tadi tidak menanggapi apa-apa.


“Sorry, bukannya nggak mau, tapi kalau malam gue nggak bisa.”


“Kenapa?” tanya Manha.

__ADS_1


Tania terdiam. Gadis itu seperti sedang berpikir.


“Setiap kita ajak jalan malam lo selalu nggak bisa. Ada apa?” tambah Sam.


“Nggak ada apa-apa kok. Ibu cuma larang gue buat nggak keluar malam. Gue ‘kan harus ngurusin ibu juga,” ucap Tania menjelaskan pada para temannya itu.


Abrisam dan Jodi mengangguk. Sedangkan Manha sedang mengunyah makanan di mulutnya.


Emran menanggapi lagi, “oh gitu, gue kira karena cover begini, lo bebas buat keluar.“


“Bagaimana pun dia ‘kan juga cewek, Bro. Ibunya juga sakit. Jadi, wajar kalau dia nggak bisa sih.” Sam menatap Tania, “pasti mau ngurus ibu lo juga ‘kan?"


Tania mengangguk dan tersenyum canggung.


“Ya sudah nggak apa-apa deh.” Emaran memahami keadaan gadis itu.


“Kalau gitu kita kumpul di rumahnya Sam aja ya?” Manha berbicara lagi, “lo tahu rumah Sam ‘kan, Jod?”


Jodi mengangguk, “tahu, pernah dua kali ke sana.”


Tania menghela napas, kemudian memakan pesanannya kembali.


•••


“Gue bilang ‘kan jangan masuk ke rumah hantu maksa banget kalian ini!”


Jodi tertawa mendengar Manha sewot pada mereka. Sam merangkul temannya yang penuh emosi ini.


“Nyantai, Sob. Nggak jadi juga masuknya.” Sam menepuk-nepuk dada sahabatnya itu.


Emran melirik jam tangan yang dipakainya, “baru jam sepuluh. Kita pulang nih?”


“Iya, pulang aja. Udah nggak mood gue main di sini.” Manha menepis tangan Abrisam dan berjalan ke arah mobil yang terparkir.


“Sensi banget yang pernah diculik genderuwo.” Jodi tertawa cekikikan sehabis menggoda Manha.


Akhirnya mereka masuk ke mobil yang Abrisam bawa. Emran yang duduk di samping Sam tiba-tiba menghentikan mobil.


“Stop-stop!” saat mendengar perintah itu Sam mengerem mendadak mobilnya hingga Jodi dan Manha terpelanting ke depan.

__ADS_1


“Bisa slow dikit nggak sih berhentinya? Kepala gue kejedot nih.” Keluh Manha mengusap dahinya.


Jodi pun juga meringis memegangi dahinya.


“Emran nih tiba-tiba banget pengen berhenti.” Tunjuk Sam pada sahabatnya ini.


“Sorry-sorry, guys. Gue cuma mau bilang mampir ke club itu yok!” ajak Emran menunjuk sebuah club malam yang ada di seberang jalan.


Manha, Jodi dan Sam sama-sama menoleh ke arah club itu. Terlihat menarik dengan lampu-lampu yang bersinar terang.


“Boleh juga tuh,” ucap Jodi yang terlihat setuju.


“Janganlah, nggak baik kita main ke sana.” Sam mencoba menasihati teman-temannya.


“Ya ampun Sam pikiran lo kolot amat. Kita ke sana main aja. Nggak buat mabok-mabokan,” Emran melihat jam tangannya lagi, “sampai jam dua belas deh.”


“Mana bisa juga gue buat minum yang begitu. Lo tahu ‘kan gue minum air mineral dua botol aja udah kobam,” rambah Manha yang mendapat tawa dari Emran dan Jodi.


“Oke-oke, kita ke sana.”


Abrisam pun setuju dengan usul teman-temannya. Ia melajukan mobil putih itu, lalu berputar arah.


Musik yang keras dan berdentum-dentum serta lampu berkelap-kelip menyambut Abrisam dan kawan-kawan saat masuk ke sebuah club.


Seumur-umur baru ini Sam masuk tempat yang dipenuhi cewek seksi itu. Sebelumnya karena belum cukup umur dan nggak ada yang ngajak. Namun, sepertinya tidak dengan Emran yang telihat biasa saja.


“Lo udah berapa kali ke sini, Mran?” pertanyaan itu datang dari Manha, tapi karena Sam mendengarnya juga. Cowok itu ikut melihat Emran.


“Gue baru pertama kali ke club ini, tapi kalau ke club lain sudah tiga kali,” jawab cowok itu dengan tenang.


“Jadi, lo suka main ke tempat begini?” tanya Sam membuat Emran menoleh.


Emran mengangguk, “iya, sama tetangga gue, tapi kita cuma dugem dan nggak minum yang beralkohol.”


Sam mengangguk sekali. Matanya tertuju pada Jodi yang sudah ikut bergabung untuk bergoyang bersama pengunjung lain. Emaran dan Manha pun pergi menyusul Jodi.


Sedangkan Abrisam memperhatikan sekeliling. Ia melangkahkan sepasang kakinya perlahan untuk menyusuri tempat itu. Beberapa wanita menggodanya. Namun, Sam tolak begitu saja.


“Tania, seperti biasa satu!”

__ADS_1


Sam menoleh ke sumber suara saat seseorang memanggil nama Tania.


•••


__ADS_2