He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 73


__ADS_3

“ABRISAM!”


Teriakan keras dari ibu dan ayahnya tidak dihiraukan oleh Sam. Ia melajukan motor itu dengan kecepatan di atas rata-rata hingga dia tidak menyadari dari sebelah kanan ada truk yang melintas.


BRAK


Motor dengan kombinasi warna oranye dan putih itu terjatuh, lalu terseret sejauh 5 meter.


Siska, Anna dan Tomi yang sudah berhenti berlari syok melihat ke jadian yang tidak jauh dari pandangan mereka.


“SAM!” teriak keras Siska dengan bercucuran air mata.


“Aaaaaa!”


Mata Sam refleks terbuka beberapa orang yang sedang berbincang juga ikut kaget mendengar teriakan Sam.


“Sam kamu kenapa?” tanya Adira berdiri samping brankar kekasihnya.


Cowok yang masih syok dengan mimpinya itu terdiam menatap Adira. Namun, perlahan bibirnya tertarik hingga membentuk setengah lingkaran.


“Cewek resek?”


“Ih.” Adira menepuk pelan tangan Sam, “Jangan panggil begitu, nggak suka.”


Sam tertawa tanpa suara. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


“Aku kangen kamu,” bisik Sam pada telinga Dira.


“Aku juga kangen banget sama kamu.” Adira menatap wajah cowok itu yang sangat dekat dengannya, “cepat sembuh biar bisa sekolah.”


Sam yang mendengar ucapan kecil dari Dira menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


“Ekhem, udah kali pelukannya. Ramai orang ini,” ujar Winda yang berusaha menggoda mereka.


Abrisam yang menyadari itu segera melepaskan Adira. Gadis ini kembali berdiri dengan tegak. Beberapa orang berdiri di samping brankar tempat Sam berbaring.


“Maaf, Tante. Terlalu seneng liat Dira di sini.” Sam diam sebentar, “loh? Tante udah maafin Papi? Kata Dira, Tente nggak bolehin dia ketemu Sam.”


Winda dan Adira saling tatap dan tertawa pelan.


“Mama dan Om Tomi udah baikan, Sam.” Jelas Adira sambil tersenyum.


Sam lekas menoleh ke arah Tomi, “beneran, Pi?”


Pria yang berdiri di sisi brankar Sam yang lain mengangguk dan berkata, “benar, Papi sudah meminta maaf pada Tante Winda. Papi nggak akan ngulangin kesalahan itu lagi demi kamu dan keluarga kecil kita.”


Senyum Sam merekah. Begitu pun dengan Siska dan Anna. Mereka terlihat bahagia.


“Ingat ya Sam! Menatang-mentang udah dapat restu jangan langkahin gue buat nikah. Tetap harus gue duluan yang nikah,” ujar Dimas terlihat serius.


“Siap, Kak.” Cowok itu mengacungkan jempol dan tertawa.

__ADS_1


“Jangan dengerin-jangan dengerin Kak Dimas. Dia ‘kan jomblo abadi. Kalau kita nikah nunggu dia keburu jadi kakek-nenek kita,” ucap Adira yang mengerakkan kedua tangannya di depan dada.


Semua orang yang ada di kamar itu jadi tertawa, kecuai Dimas yang terlihat jengkel.


“Apaan sih!”



“Tadi kamu mimpi ya?” tanya Adira yang mengupas jeruk dan duduk di samping Sam.


“Iya, mimpi aku kecelakaan kemarin.”


“Kamu sih, keras kepala benar. Jadi, celaka ‘kan.” Dira menyuapi jeruk ke dalam mulut Sam.


“Kalau aku nggak keras kepala mereka nggak akan berdamai dan membatalkan semuanya.” Tunjuk Sam dengan bibirnya yang sedikit maju pada orang tuanya dan Winda yang ada di depan pintu.


Adira menoleh ke belakang sebentar, lalu melihat lagi pada Sam.


“Kamu benar juga. Makasih, sudah keras kepala untuk tetap bersamaku.” Gadis itu menempelkan pipinya pada sebelah tangan kekasihnya.


Sam mengelus kepala Adira, “sama-sama. kamu cewek pertama yang begitu aku perjuangin.”


Adira mendongak, lalu tersenyum malu.


“Adira ayo pulang! Besok lagi main sama Sam.” Panggil Winda dari depan pintu.


Sang empunya nama menoleh ke belakang, “iya Ma. Adira pamit dulu sama Sam.”


Dira berdiri dan menatap pacarnya yang masih ada di atas brankar.


“Ikut, ada guru yang datang ke sini. Papi yang usahakan aku tetap bisa ikut ujian.”


“Baguslah, masa pacar aku nggak lulus karena nggak ikut UN. ‘Kan nggak lucu. Belajar yang rajin.” Senyum Adira pada Sam.


“Aku rajin belajar kok. ‘Kan ini karena kamu juga.”


“Ah jadi malu.” Sam dan Dira sama-sama tertawa.


“Dira cepat atau Mama sama Kakak tinggal ini!” teriak Winda.


“Ibu negara udah teriak-teriak. Aku pulang dulu ya.” Dira melambaikan tangannya, “Dadah!”


“Jeruknya aku bawa.” Gadis itu menunjukan jeruk di tangannya sambil cengengesan jalan keluar ruang rawat.


Abrisam menggeleng pelan dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum.



“Kalian mau ikut?” tanya Dira berseru dengan penuh semangat.


“Ikut!” jawab Yara dan Vio bersamaan.

__ADS_1


“Naik motor gue aja ya, Ra!” ajak Yara pada Dira.


“Terus gue gimana?” tunjuk Violet pada dirinya sendiri.


“Lo naik mobil lo aja,” jawab Yara seadanya.


“Ih, masa gue sendirian?” Vio menarik sebelah tangan Adira, “lo sama gue aja ya, Ra?”


“Nggak bisa! Gue yang ngajak Dira duluan,” protes Yara.


“Udah-udah nggak usah ribut.” Adira melepas genggaman Vio di tangannya, “gue naik motor aja deh biar cepat.”


Violet memanyunkan bibirnya saat mendengar keputusan Adira. Baru saja ingin melangkah menuju parkiran langkah kaki ketiga gadis itu terhenti ketika seseorang yang tidak asing lagi suaranya memanggil Dira.


“Adira!”


Gadis yang dipanggil itu menoleh.


“Pulang bareng gue yuk!” ajak Afraz yang baru bergabung.


“Maaf, Fraz. Gue mau pulang sama Vio dan Yara. Kita mau ke rumah sakit.” Tolak Dira dengan hati-hati takut menyinggung perasaan temannya itu.


“Siapa yang sakit?”


“Sam, bukannya lo udah tau?” Violet yang menjawab.


“Kata lo, lo nggak boleh ketemu sama Sam oleh nyokap?” Afraz malah bertanya lagi pada Dira.


“Tadinya iya.” Dira tersenyum, “sekarang bokap Sam dan nyokap gue udah berbaikan. Jadi, kami boleh pacaran lagi.”


“Udah tahu ‘kan?” tanya Yara, “sudah ya kita mau pergi keburu sore.” Yara lekas membawa kedua temannya pergi dari tempat itu.


Afraz yang terdiam tidak menyangka kalau dia kehilangan kesempatan lagi untuk mendapatkan hati Adira.


“Aaah!”


Afraz menendang kakinya ke lantai.


"Oh jadi belum ikhlas ngelepas Adira? masih ngarep? mau hancurin hubungan orang?"


Suara dari belakang membuat Afraz berhenti menggerutu, lalu menoleh. Ia melihat Kanaya ada di belakangnya sambil melipat kedua tangan di dada.


"Siapa juga yang mau ngancurin hubungan orang?" tanya balik Afraz.


"Tadi aku denger kamu masih suka Dira. Ada kemungkinan kamu mau nikung Sam."


"Sok tahu lo!"


Afraz pergi begitu saja meninggalkan Kanaya. Ia malas meladeni cewek yang terus protektif dengan hubungan Sam dan Dira itu.


"Afraz mau ke mana?" teriak Naya melambaikan tangannya.

__ADS_1


Tanpa berbalik badan cowok itu berteriak, "pulanglah!"



__ADS_2