
Tania berjalan keluar dari perpustakaan dengan membawa satu buku di tangannya. Gadis berkaus lengan panjang dan bercelana jeans ini menoleh saat namanya dipanggil seseorang.
Rambut panjang yang tergerai terkibas ke kanan ketika Tania menoleh. Ia tersenyum mengetahui siapa yang meneriakan namanya.
Abrisam berlari mendekati gadis ini. Lelaki itu mengatur napasnya yang ngos-ngosan saat sampai di dekat Tania.
“Ada apa, Sam?” tanya Tania menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga.
“Gue mau kasih ini.” Sam mengulurkan tangannya yang memegang sebuah undangan.
Dahi Tania berkerut. Dengan ragu mengambil undangan yang diberikan temannya itu.
“Cuma lo aja yang belum dapat.” Sam membenarkan tali ranselnya yang turun, “jangan sampai nggak dateng ya. Soalnya lo udah kayak sahabat gue.”
Bagai dihujam banyak belati. Dada Tania begitu sakit menatap nama pengantin yang tertulis di undangan itu.
Tania mendongakkan pandangannya pada Sam, “lo sama Dira mau menikah?”
Abrisam tersenyum lebar. Ia mengangguk penuh semangat. Terlihat sekali lelaki ini begitu bahagia.
“Iya, seminggu lagi gue sama Adira akan menikah. Sebulan ini kita udah sibuk mengurus semuanya.” Sam menggosok kedua telapak tangannya, “gue udah nggak sabar mau ijab kabul.”
Gadis ini merasa sepasang matanya panas dan mulai berair, tetapi ia berusaha tidak mengeluarkannya di depan Abrisam. Tania berusaha tersenyum.
“Selamat ya. Akhirnya setelah LDR bertahun-tahun kalian nikah juga. Semoga langgeng. Gue ikut senang,” ucap Tania dengan bibir yang bergetar.
Namun, Sam tidak merasakan perbedaan pada teman perempuannya ini.
“Makasih doanya,” balas Sam dengan senyuman yang tidak luntur.
“Maaf, gue masih ada urusan. Gue pergi duluan ya.”
Senyuman lelaki itu memudar, “urusan apa?”
Tania mulai gelisah. Bibir bawahnya ia gigit. Kepalanya berpikir keras mencari alasan lagi. Namun, air mata sudah tak sanggup ia tahan.
“Ada urusan pokoknya. Dah, sampai ketemu di kelas.” Tania berlari meninggalkan Abrisam.
Alis Sam sampai tertaut memperhatikan temannya yang agak berbeda itu sikapnya.
Tania berhenti melangkah saat sampai di depan kamar mandi. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Gadis ini segera masuk dan mengunci pintu kamar mandinya.
Ia menumpah air bening yang sudah tertahan sedari tadi. Tania menangis sambil memandangi lagi undangan pemberian Abrisam.
Sakit rasanya mengetahui orang yang kita suka akan menjadi milik orang lain secara hukum dan agama. Itu tandanya tidak ada lagi peluang buat Tania terhadap Sam.
__ADS_1
Begini rasanya mencintai seseorang dalam diam. Merasakan sakitnya hanya sendirian. Pipi Tania sudah basah dan ia masih menangis sampai sesegukan.
•••
Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Akad berjalan dengan hikmat dan Sam melakukannya secara lancar. Sekarang ia dan Adira telah sah menjadi sepasang suami-istri.
Resepsi langsung dilakukan setelah ijab kabul. Acaranya begitu mewah karena semuanya kemauan Tomi. Rekan kerja serta saudara-saudara berkumpul di pesta itu.
Tampak sekali Abrisam dan Adira begitu bahagia di atas pelaminannya. Menyalami setiap orang yang memberikan doa restu pada mereka.
“Selamat Sam,” ucap Tania tersenyum tipis.
“Terima kasih, Tan. Akhirnya lo datang juga.” Sam tersenyum menyambut uluran tangan temannya itu.
Tania mengalihkan pandangannya ke Adira. Ia mengucapkan selamat juga pada gadis itu. Adira membalasnya dengan ramah. Tidak ada lagi benci terlihat dari wajah Adira.
Setelahnya Tania buru-buru turun dari pelaminan. Berlari menjauhi orang ramai.
“Itu ‘kan Tania ya?” tanya Manha melihat dari kejauhan.
Emran yang sedang makan melihat ke arah yang sama, lalu mengangguk.
“Kok dia malah pergi sih?” tanya Manha lagi.
“Kenapa nangis? Padahal ini acara nikahan bukan kematian,” ucap Manha menatap ke Emran.
Emran membentuk jari-jarinya seperti hati, lalu membelahnya. “Hatinya potek.”
“Jadi benar kalau dia suka sama Sam?” Manha menggeleng tidak percaya.
“Bisa jadi. Kalau nggak kenapa nangis coba setelah lihat Sam nikah?” Emran melanjutkan makannya.
Manha meneguk sedikit es jeruknya, “iya juga sih. Pasti Sam nggak tahu kalau temannya itu suka sama dia. Di mata Sam cuma ada Adira doang yang perasaannya kelihatan.”
“Lebih baik nggak usah diomongin. Ini ‘kan cuma perkiraan gue aja. Belum tentu benar.”
“Kayaknya habis ini lo deh yang bakal nangis, Mran.”
Emran berhenti menyuap makanannya. Mendongakkan pandangan pada Manha, “maksud lo?”
Manha menunjuk dengan memajukan bibirnya. Emran lekas mengikuti arah tunjuk itu. Tidak jauh darinya. Kanaya sedang berbincang dengan seorang lelaki yang tidak asing.
“Afraz udah balik dari London ya?” tanya Manha.
Emran menggepalkan sebelah tangannya di atas meja. Wajahnya tampak memerah.
__ADS_1
“Lo Naya ‘kan?” tanya Lelaki yang berpapasan dengan Kanaya saat mengambil minuman.
“Eh, Afrza.” Naya tersenyum memandangi cowok tinggi di depannya, “iya ini aku, Naya. Apa kabar, Fraz? Kamu kapan balik ke Indonesia?”
Afraz tertawa pelan, “benaran ternyata Naya si cewek satpam itu.”
“Ih!” Naya menepuk gemas lengan Afraz, “masih aja manggilnya begitu.”
“Habisnya itu yang paling gue ingat dari lo.”
“Terserah deh. Pertanyaan aku belum kamu jawab ya.” Kanaya memegang satu gelas es di tangannya.
“Gue balik baru seminggu ini. Dapat kabar Dira dan Sam mau nikah aja. Kaget gue, padahal rencananya mau rebut Dira lagi dari Sam.”
Mata Kanaya melebar mendengar ucapan lelaki di depannya ini, “nggak boleh ganggu mereka!”
Lagi, Afraz tertawa. Ia suka sekali menjaili gadis kecil yang mempunyai rambut panjang ini.
“Bercanda. Gue udah nggak ada tujuan buat rusak hubungan mereka. Malah gue salut mereka bisa pacaran selama ini. Bahkan sampai menikah.” Afraz menatap pasangan baru yang sedang ada di pelaminan itu, “gue jadi pengin seberuntung Sam. Dapat istri seperti Dira.”
“Kalau mau begitu ya cari cewek-lah!” ujar Kanaya.
“Kalau lo aja jadi cewek gue mau nggak?”
“Hah?” Kanaya begitu terkejut sampai mulutnya terbuka, “aku?”
Afraz tertawa lagi, “just kidding. Lo terlalu serius banget.”
Kanaya jadi malu-malu. Padahal ia mengira itu benaran. Ternyata Afraz hanya bergurau.
“Ih, sekarang jail banget. Makan apa aja di London sampai berubah gini sikapnya?” Kanaya harus mendongak menatap pemuda berjas hitam ini.
“Makan beling.”
“Kayak kuda lumping aja.” Kanaya dan Afraz tertawa bersamaan.
Tiba-tiba Emran datang dan menyenggol lengan Afraz. Bermaksud membuat lelaki itu terdorong, lalu jatuh. Malah bikin Afraz memeluk Kanaya.
Kanaya dan Afraz saling pandang serta tidak bergeming. Hal ini membuat Emran makin kesal. Ia cepat meyambar gelas minuman, lalu pergi meninggalkan kedua orang itu. Dari jauh Manha tertawa terbahak-bahak melihat kecerobohan sahabatnya.
“Maaf.” Afraz cepat mundur dari gadis berkulit putih ini.
Sedangkan Kanaya mengangguk sambil menundukan kepala. Pipinya bersemu kemerahan dan malu untuk menatap Afraz kembali.
•••
__ADS_1