He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 18


__ADS_3

Abrisam sesekali melirik Gabriel yang duduk di sebelahnya. Ia akan terus mengawasi gerak-gerik cowok ini. Sam berdiri, lalu berjalan ke arah kamar sambil melepas jaket yang masih menempel di tubuh.


“Makanan sudah jadi.” Dira datang dengan nampan yang penuh, “nggak apa-apa ‘kan makan mie aja?”


Gabriel menggeleng, “no problem.”


Adira tersenyum dan memindahkan semua makanan di nampan ke atas meja. “aku nggak sempat kalau harus masak yang ribet. Kalian pasti sudah lapar ‘kan?”


“Masakan apa saja buatan kamu pasti enak.” Puji Gabriel membuat Adira melempar senyum padanya.


“Bisa aja gombalnya.” Gadis itu kembali melangkah ke dapur, “Sam, kamu lagi apa? Itu makanannya sudah siap. Makan dulu yuk!”


Teriakan Dira memenuhi ruangan sempit ini. Bersamaan dengan Dira yang sudah kembali dari dapur Sam juga keluar dari kamar dengan pakaian sudah berganti.


Sam berdiri, memperhatikan Adira yang sedang menyusun minum ke meja. Lelaki itu menyeret kursi dari arah dapur dan meletakkan di ruang tamu. Sam menarik tangan Dira hingga gadis itu mendongak menatapnya.


“Kamu duduk di situ!” tunjuk Sam pada kursi yang tadi ia ambil.


Gabriel yang ada di sebelah Adira hanya memperhatikan saja. Dira menoleh ke Gabriel, lalu ia yang mengerti terpaksa pindah tempat duduk. Sam menggantikan Dira untuk duduk di samping Gabriel.


“Ayo-ayo di makan!” Dira memecah kecanggungan di antara mereka.


Sam mengambil sumpitnya, mengaduk mie spesial bikinan Dira, dan setelahnya ia menyantap mie itu.


“Udah lama kenal cewek gue?” tanya Sam yang tiba-tiba membuka percakapan. Ia menatap Gabriel sambil menyeruput mienya.


Gabriel menghentikan makan, “makasudnya?”


“Kamu udah lama kenal aku. Begitu tanyanya Sam,” ucap Adira membantu menjelaskan pertanyaan Sam.


Cowok bule ini membentuk mulutnya bulat, “sejak satu kelas.”


Abrisam mengangguk saja. Ia terus melanjutkan memakan makanannya yang tinggal setengah porsi.


“Kamu kalau ngobrol sama Gabriel pakai bahasa indonesia yang benar atau pakai bahasa inggris aja.” Dira memberi tahu Sam.


Sambil mengunyah dan memaikan sumpit di jarinya Sam menjawab, “Aku kira dia ngerti bahasa indonesia gaul.”


Adira menepuk paha Sam pelan dan tertawa kecil bersama laki-laki itu. Abrisam melepas sumpitnya dan mengulurkan tangan ke arah gadis yang sedang asyik makan itu. Ia membersihkan sudut bibir Dira yang kotor.


“Makan kayak bocah,” protes Sam yang mendapat ekspresi cemberut dari Dira. “Gemas banget sih.”


“Aaaa... Sam!” Adira melepas tangan pacarnya yang mencubit pipi itu. “sakit tahu.”


Sedangkan Sam tertawa melihat Dira mengelus pipi. Ternyata sedari tadi Gabriel memperhatikan sepasang kekasih yang bercanda itu.

__ADS_1


“Kamu sudah sampai mana skripsinya?” pertanyaan Gabriel behasil mencuri perhatian Dira.


“Baru bab 1.” Dira tertawa setelahnya, “Kamu?”


“Proses ke bab 2,” jawab Gabriel yang begitu singkat.


“Cepat banget sih? Aku sementara dipending dulu. Karena Sam lagi liburan di sini aku mau ajak di keliling kota ini dulu.”


Kali ini giliran Abrisam yang memperhatikan kedua orang itu ngobrol. Ia juga melanjutkan aktifitas makannya yang sempat terhenti.


“Besok kita mau jalan lagi ‘kan, Sam?” Abrisam tersenyum dan mengangguk.


“Aku boleh ikut?”


Baru saja Sam ingin mendeguk minumannya pertanyaan Gabriel membuatnya menoleh. Lebih terkejut mendengar jawaban Adira.


“Boleh dong, lebih rame lebih asyik. Bukan begitu Sam?” tanya Dira disertai senyum lebarnya.


Sam tidak menjawab lelaki itu menelan minuman di gelas yang sudah tersedia.


“Ini serius? Aku sedang bosan dan ingin sesekali reflesing.”


Gadis itu mengangguk semangat, “serius. Sam juga pasti senang. Kalian bisa lebih dekat.”


Dilihat dari sudut mana pun rasa senang itu tidak terlihat di wajah pemuda ini.


•••


Abrisam memasukan beberapa pakaian dan makanan ke dalam tas. Adira keluar dari kamar dengan rambut dikuncir dan topi pantai menambah daya tariknya.


“Gabriel beneran diajak?” tanya Sam yang belum yakin atas keputusan Adira.


Dira mengangguk, “iya, benaran. Memangnya kamu nggak suka?”


Baru saja Sam akan menjawab pertanyaan sang pacar. Namun, Gabriel sudah muncul di depan pintu yang terbuka lebar.


“Saya sudah datang. Tidak telat ‘kan?” tanya Gabriel dengan wajah sumringah.


“Nggak. Ini kita juga lagi siap-siap.” Adira menoleh pada Sam, “sudah belum Sam?”


Abrisam beridiri dan memakai ranselnya, “sudah.”


“Ayo berangkat!”


Lelaki yang membawa ransel cukup besar itu keluar lebih dulu dari apartemen. Ia juga sengaja menyenggol pundak Gabriel. Cowok bule ini tidak mempermasalahkannya.

__ADS_1


Mereka pergi menggunakan mobil Gabriel. Dengan Dira yang duduk di belakang dan kedua pemuda itu di jok depan.


Tidak terasa mengabiskan waktu cukup lama mereka sampai di Pantai Bondi Beach. Masing-masing dari mereka berganti pakaian dan menyimpan barang-barang pada tempat yang disediakan.


Adira yang menggunakan celana pendek dan kaus kebesaran itu berlari ke arah laut sampai topi pantai yang ia pakai terbang dibawa angin.


Sam yang memperhatikan dari jauh tertawa memegangi perutnya.


“Adira itu cantik ya?” pertanyaan dari seseorang membuat tawa Sam berhenti dan menoleh ke samping.


Ternyata itu suara Gabriel. Apa maksudnya bertanya seperti itu? Cowok rambut pirang, rahang tegas, dan hidung mancung ini tersenyum menatap Sam.


“Kamu beruntung dapat dia.” Sam jadi tersenyum. Namun, senyum itu luntur saat cowok di sebelahnya ini lanjut bicara, “tapi Dira nggak beruntung dapat boyfriend seperti kamu. Karena kamu cuma sering nyakitin hatinya.”


“Maksud lo apa?” Sam menabrakan tubuhnya pada tubuh Gabriel yang tidak memakai baju. Lelaki itu hanya menggunakan celana pendek selutut. Sedangkan Sam masih memakai kaus dan celana sebatas paha.


Gabriel terjatuh saat bersamaan Adira melihat ke arah mereka. Padahal Sam rasa ia tidak mendorongnya begitu kuat. Gadis yang sedang bermain air itu berlari menghampiri kedua cowok ini.


“Sam apa-apaan ini?” Adira mendorong dada Sam agar kekasihnya ini menjauh dari Gabriel. “kalian kok malah ribut? Malu banyak orang.”


“Dia duluan tuh!” Sam menunjuk Gabriel. Adira menoleh pada temannya itu.


Sekarang Gabriel sudah berdiri kembali dan membersihkan celananya yang penuh pasir. Adira merasa ragu kalau Gabriel yang bersikap tenang ini mengajak Sam untuk berkelahi. Adira mendongak menatap Sam yang ada di depannya itu, tetapi kalau Sam memang suka cari ribut sejak dulu. Apa lagi dia tidak suka dengan Gabriel.


“Kenapa kamu liat aku kayak gitu?” ternyata Sam menyadari tatapan yang berbeda dari sepasang mata Dira, “nggak percaya sama pacarnya sendiri?”


Adira mudur beberapa langkah, “bukan begitu.”


“Sudah-sudah kalian tidak perlu ikut berdebat di sini. Aku tidak apa-apa kok.”


Sam melirik Gabriel dengan pandangan tidak suka. Sekarang ia tahu isi otak lelaki ini.


“Dari pada ribut kita main saja?” Gabriel berdeham sambil memperhatikan sekitar pantai, “bagaimana kalau main jumping point?”


Abrisam mengikuti arah tunjuk Gabriel. Cowok itu ingin membawanya bermain lompat tebing. Dari jauh Sam dapat melihat orang-orang yang melompati tebing tinggi. Walau pakai tali pengaman tetap saja itu tinggi. Ketinggian adalah ketakutan Sam paling besar.


Adira melongo melihat tawaran Gabriel. Setahu Adira ia telah menceritakan kalau Sam takut pada ketinggian dengan temannya ini. Namun, mengapa cowok bule itu masih mengajak Sam bermain seperti itu.


“Ayo!” dengan mantap Sam menerimanya. Tidak mungkin ia menolak, akan jatuh harga dirinya.


Terselip maksud lain dari senyum yang Gabriel tunjukan, “let's go kita ke sana!” Lelaki ini berjalan lebih dulu.


Sam mengikutinya dari belakang tanpa memerdulikan Adira yang menganggilnya.


“Sam? Kamu yakin?” teriak Adira. Namun, tidak ada yang berhenti dari kedua orang itu.

__ADS_1


Dira memutuskan untuk menyusul mereka yang berjalan menuju tempat permainan. Menerobos banyaknya pengunjung di pantai itu.


•••


__ADS_2