
Pintu kamar terbuka saat Abrisam baru saja selesai mandi dan berganti pakaian sepulang bekerja.
Rambutnya masih tampak basah. Kaus putih kebesaran yang dipakainya serasi dengan celana pendek hitam dengan motip dua garis berwarna putih. Ia berjalan ke arah ruang tengah.
Sesampai di ruangan itu. Ia menemukan Adira sedang bersantai sambil menonton acara di TV. Perempuan yang perutnya sudah sedikit membuncit ini meyemili kacang yang ada di toples.
“Jangan dihabiskan kali cemilannya. Nanti batuk banyak makan kacang. Nggak baik juga buat adek di dalam perutmu. Banyak minyak,” ucap Sam yang selalu menasihati sang istri.
Adira menoleh pada Abrisam yang sudah duduk di sebelahnya, “enak sih, sampai nggak sadar mau habis.”
Dira tertawa pelan, lalu meletakkan toples yang ia pangku sedari tadi ke meja.
Gadis itu mencium aroma yang berbeda saat Sam bergeser mendekat padanya. Baunya membuat perut Dira bereaksi.
“Jauh-jauh kamu!” Adira mendorong lengan sang suami.
Dahi Abrisam berkerut menatap Adira, “kenapa sih? Aku baru saja mandi.”
“Kamu pakai parfum?”
Sam mengangguk, “iya, bagaimana wangi ‘kan? Parfum baru ini. Coba aroma baru biar kamu nggak bosan.”
Wanita itu sudah menutupi hidung dengan telapak tangannya.
“Apaan, yang ada aku mual. Bau parfummu nggak enak. Pakai yang seperti biasa saja!”
Lelaki ini mengendus aroma tubuh sendiri, “ini wangi sayang. Hidungmu itu aneh.”
“KAMU NGATAIN AKU ANEH SAMA SAJA NGATAIN ANAKMU SENDIRI. INI BISA SAJA BAWAAN BAYI TAHU!”
Abrisam jadi tidak berani menjawab lagi ketika Adira sudah mengeraskan suaranya. Sejak mengandung emosi ibu hamil itu memang naik berkali-kali lipat. Mudah tersinggung pula. Siska sudah memberi tahu itu pada Sam. Jadi, pemuda ini memilih mengalah saja.
“Kalau begitu aku ganti baju dulu. Agar kamu nggak mual-mual dekat aku.”
Sam segera bangkit dan berjalan kembali masuk ke kamar.
•••
“Ada 2 detak jantung, Pak-Bu.” Dokter yang sedang meng-USG Adira terlihat antusias memberi kabar baik ini.
Hari libur Abrisam sempatkan untuk mengantar Adira check up ke rumah sakit. Memeriksakan kandungan yang sudah berusia 7 bulan. Tidak terasa suara dari bayi-bayi mungil akan meramaikan kediaman mereka.
Antusias ini tidak datang dari mereka saja. Tomi dan Winda juga tidak kalah heboh bahkan lebih bersemangat sampai terkesan terburu-buru menyambut cucu-cucu mereka yang belum jelas jenis kelaminnya.
__ADS_1
“Laki-laki atau perempuan, Dok?” tanya Sam yang berdiri di samping brankar.
“Sebentar ya, Pak.” Dokter wanita ini masih sibuk memperhatikan layar di depannya.
“Sehat dan lengkap ‘kan, Dok?” kali ini Dira yang bertanya.
“Alhamdulillah, Bu.” Dokter ini tersenyum menatap Dira yang terbaring, “bayinya sehat dan lengkap.”
“Syukurlah, yang penting bagi saya itu, Dok.”
“Oh iya, Pak.” Dokter itu beralih menatap Abrisam, “ini bayinya sepasang. Perempuan dan laki-laki.”
Sam menggaruk kepala yang tidak gatal. Adira memperhatikan sang suami yang tampak bingung.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma belum lahir saja aku sudah pusing mikirnya.”
“Nggak boleh begitu. Bersyukur dapat anak sekali dua.”
“Aku bersyukur, aku senang dapat dua dan sepasang.” Lelaki ini mengumbar senyum.
Dira mengulurkan tangan ke atas. Mengusap-usap pipi Sam dengan kasih sayang.
•••
Katanya, mau berbelanja barang yang masih kurang.
“Jangan banyak-banyak, Yang. Sebagian sudah dibelikan Mamamu dan Papiku.” Abrisam mengikuti Dira dari belakang.
“Aku mau beli baju saja. Mama dan Papi belum kasih baju. Sekarang jenis kelaminnya sudah jelas. Aku jadi tahu apa yang harus di beli. Terus beberapa juga dibeli cuma satu. Anak kita ‘kan ada dua.”
Sam menghela napas, “ya sudah beli saja. Seperlunya jangan boros!”
Adira melirik Abrisam yang ada di sebelahnya, “iya.”
“Bukan apa-apa takut uangku nggak cukup.”
“Kamu nggak bawa ATM?” tanya Dira dengan tangan sibuk memilih baju yang tergantung.
“Bawa.”
Wanita itu menoleh ke belakang, “pakai itu saja dulu. Selama ini nabung juga buat anak.”
__ADS_1
“Iya, sayang.”
Dira menatap Sam dengan menyelidik, “kamu nggak ikhlas.”
“Nggak sayang, aku ikhlas. Masa nggak ikhlas untuk anak sendiri.”
“Mukamu seperti nggak ikhlas begitu.”
Sam menekuk wajahnya. Selalu dicurigai yang tidak-tidak oleh wanita hamil satu ini.
Selesai belanja mereka lekas kembali ke tempat mobil terparkir. Abrisam tampak kerepotan dengan belanjaan yang banyak. Katanya, hanya beli yang kurang saja. Namun, tidak menyangka yang kurang sebanyak itu. Sedangkan Dira jalan lebih dulu di depan dengan membawa dua papar bag.
Akhirnya, Sam bisa merebahkan tubuh ke kasur kesayangannya. Ia merasa lebih lelah dari pada ibu hamil. Adira, ia sedang sibuk membongkar belanjaan di ruang tengah.
Baru saja akan memejamkan mata, handphone yang lelaki itu kantongi bergetar dan berbunyi. Ia cepat merogoh saku celana.
Dengan masih berbaring Sam mengecek siapa yang menelepon, tetapi ponsel itu jatuh mengenai wajah sebelum sempat membaca nama yang tertera di layar.
“Aduh...” ringis Sam merintih kesakitan dengan mengusap hidung yang terpentok. Lumayan juga sakitnya.
Dering handphone itu sampai berbunyi karena Sam tidak mengangkatnya segera. Namun, tidak lama berdering lagi. Sam lekas mengangkat tanpa membaca nama yang tertera.
“Halo.”
[Halo Sam. Bagaimana hasil check up bayimu?]
Dari suara itu Sam mengenalinya. Itu Winda, mertuanya.
“Bagus, Ma. Ternyata anak Sam kembar sepasang.”
[Alhamdulillah, Mama ikut senang bisa punya cucu sekali dua. Adira ke mana? Kenapa Mama telepon ke HP-nya nggak diangkat?]
“Ada kok, Ma. Lagi bongkar-bongkar belanjaan di ruang tengah.”
[Kamu lagi apa?]
“Rebahan, Ma. Capek habis temani Dira belanja.”
[Mama mau ke sana ya?]
“Ya sudah ke sini saja, Ma.”
[Iya, Mama mau titip toko sama karyawan dulu.]
__ADS_1
Setelah berbincang ringan sambungan telepon itu terputus. Sam menyimpan ponsel di sampingnya. Ia meneruskan apa yang sempat tertunda. Yaitu, tidur sejenak.
•••