
Abrisam sudah sepakat bersama Jodi mau mencari Tania karena gadis itu sudah seminggu tidak masuk kampus. Selesai kelas kedua lelaki ini menaiki motornya masing-masing. Pertama mereka mampir ke tempat kerja Tania yang baru.
Sebuah kafe milik teman Sam. Tania bisa kerja paruh waktu di sana dengan jadwal menyesuaikan kuliahnya atas rekomendasi Sam.
“Sudah empat hari dia nggak masuk kerja,” jawab Andre, si pemilik kafe.
“Dia kenapa ya? Udah seminggu juga nggak masuk kuliah.” Memutar otaknya untuk memikirkan dugaan-dugaan.
“Gue rasa dia ada masalah Sam. Soalnya waktu kerja dia sering murung, terus banyak buat kesalahan. Sampai diomelin pengunjung mulu,” tutur Andre lagi.
“Bagaimana kalau kita langsung cari ke rumahnya,” usul Jodi membuat Sam mengangguk.
“Sudah, kita pamit dulu ya, Ndre.”
“Iya, hati-hati kalian. Semoga bertemu sama Tania.”
Jodi dan Sam meluncur ke rumah Tania. Namun, sampai di sana rumah itu terlihat sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
“Tania! Woi Nek Lampir!” Jodi berteriak agar gadis itu cepat keluar. Namun, sia-sia. Teriakannya hanya membuat suara habis saja.
“Kayaknya nggak ada orang deh, Sam.” Tunjuk Jodi pada rumah teman perempuannya itu.
“Dek, itu rumah nggak ada orangnya!” teriakan dari seorang ibu membuat kedua laki-laki ini menoleh.
Abrisam berjalan mendekati ibu itu, “kalau boleh tahu orangnya ke mana ya, Bu?”
“Katanya si pulang kampung ke malang,” jawab ibu itu.
Abrisam mengangguk paham, “terima kasih, Bu.”
Ibu itu lekas pergi setelah pertanyaan selesai ia jawab. Jodi menatap Sam yang sedang bingung.
“Lo mau cari dia ke malang? Malang itu luas, Bro. Malang sebelah mana coba?”
“Bukan itu, tapi gue masih bingung kenapa dia milih pulang kampung? Kehabisan uang pasti nggak mungkin. Dia punya pekerjaan.” Sam menoleh ke belakang. Melihat rumah tua di hadapannya, “sampai rumahnya dia tinggalkan.”
“Mungkin, tinggal di sini mengingatkan dia sama ibunya. Jadi milih pulang kampung.”
“Bisa jadi.” Sam menepuk pundak Jodi, “ayo kita pulang.”
Mereka mengendarai motor masing-masing lagi. Berkendara itu kembali membelah jalanan ibu kota.
__ADS_1
Sam bingung kalau Tania pergi dari dekatnya bagaimana bisa mengawasi dia. Dari dulu lelaki ini selalu berusaha menjalankan amanah dari Kasih. Kalau begini berarti Tania sendiri yang menolak untuk dijaga. Sam sudah berusaha mencari sebagai tanda ia masih menjalankan amanahnya. Namun, kalau sudah seperti ini ia lepas tangan.
Pemuda itu memasukkan motornya ke halaman rumah. Ia melepas helm dan turun dari kendaraan roda dua ini. Baru saja ingin menutup pagar rumah. Sebuah taksi berhenti di depannya. Muncul Adira dari balik pintu taksi. Istrinya baru pulang bekerja.
“Sayang!” Adira berlari kecil sambil mengulurkan kedua tangan ke depan.
Abrisam tersenyum dan kembali membuka lebar pagar. Mereka berpelukan, melepas rindu tidak bertemu dari pagi.
Adira merasakan dengan tangannya kalau Sam masih memakai ransel. Ia mendongak menatap suaminya itu.
“Kamu baru pulang?” tanya Dira.
Sam melepas pelukannya, “iya, tadi ada urusan dulu sama Jodi.”
Dira mengangguk dan tersenyum. Sam menutup pagar rumahnya. Kemudian menggandeng tangan istrinya melangkah ke dalam rumah.
“Malam ini kamu mau makan apa?” tanya Dira, membuka percakapan lagi.
•••
Sam duduk sendiri di ruang tengah sambil melahap makanan ringan. Dira datang dan ikut duduk di sebelah suaminya.
“Bagaimana kerjaanmu?” tanya Sam setelah menelan keripiknya.
“Nggak bisa ya kamu kerjanya jangan pulang sesore itu? Kadang aku kesepian di rumah,” ucap Sam membuat Adira menggeleng.
“Itu saja bosku sudah memberi keringan aku boleh ngambil job dari pagi sampai sore. Malamnya digantikan dengan yang lain.” Adira mengusap sebelah pipi suaminya, “kamu yang sabar ya. Yang penting aku malam selalu di rumah untuk kamu.”
“Kamu nggak usah kerja deh. Sebentar lagi bengkelku itu ‘kan akan beroperasi. Pemasukan kita dari kerjaan aku aja.”
Adira membenarkan posisi duduknya. Ia menegakkan punggung, lalu menatap Sam dengan serius.
“Usaha kamu itu belum kelihatan hasilnya sayang. Lagi pula aku senang bekerja. Bagiku ini bukan beban yang berat. Kamu juga mau mengurus skripsikan. Untuk sementara biar saja uang hasil kerjaku bantu keuangan rumah tangga kita ya.” Sam terdiam menyimak ucapan istrinya, “sama seperti kamu. Aku nggak mau membebani keluarga kita nantinya. Nggak apa ‘kan?”
Kalau sudah seperti itu Abrisam tidak bisa menolaknya. Pria ini mengangguk saja. Ia juga tidak mau nantinya Tomi ikut campur dalam keuangannya.
Adira memasukan lagi keripik ke dalam mulutnya, “tadi kamu ada urusan apa sama Jodi?”
“Uhuk, uhuk!”
Abrisam terselak keripiknya. Dira panik di depannya tidak ada minum. Gadis itu lekas berlari menuju dapur.
__ADS_1
“Nih minum dulu!” Dira memberikan segelas air kepada Sam.
Sam menerima air itu, lalu meneguknya hingga tinggal setengah. Setelah selesai ia meletakkan gelas ke atas meja.
“Makanya, makan itu hati-hati. Oh iya, pertanyaanku belum kamu jawab loh.” Dira meletakkan bantal kecil di pahanya. Ia menunggu Sam untuk menjawab.
“Jangan marah ya,” ucap Sam membuat dahi Dira berkerut.
“Kenapa harus marah?”
“Tadi siang aku sama Jodi cari Tania.” Garis wajah Adira mulai berubah, “dia aneh banget nggak masuk kuliah seminggu dan ternyata nggak masuk kerja juga. Kata tetangganya dia pulang kampung. Dia pulang kampung, tapi nggak ada pamit ke aku atau pun Jodi.”
“Jangan-jangan ini yang buat kamu kayak banyak pikiran beberapa hari ini?”
Sam mengangguk pelan, “aku cuma merasa khawatir aja. Apa lagi orang tuanya nitipin dia ke aku. Kamu marah?”
“Nggak.” Adira mengulas senyum yang membuat Sam terkejut, “aku paham sekarang Sam. Kamu begitu baik hingga mementingkan keselamatan orang lain sampai lupa dengan urusanmu sendiri.”
Gadis ini mengusap-usap punggung suaminya.
“Ini benaran?” Sam meletakkan toples cemilannya ke meja. Ia menggenggam kedua tangan Dira, “kamu harus percaya sama aku kalau di hatiku hanya ada kamu. Aku care ke Tania cuma menjalankan amanah itu aja. Nggak lebih.”
Adira mencoba mencerna ucapan suaminya. Dilihat dari wajah Sam terlihat begitu terbebani dengan tanggung jawab yang ia pegang. Adira harus mengerti sebagai istri. Kalau bisa bantu Sam. Mulai hari ini dia harus bisa percaya ke suaminya.
“Iya, Sam. Aku percaya sama kamu. Selama ini kamu sudah banyak membuktikan kepada aku.” Adira tersenyum. Begitu juga dengan Abrisam.
“Yang aku lihat waktu acara pernikahan kita Tania memang agak aneh. Sepertinya menyimpan sesuatu. Matanya juga agak sembab.”
Sam melepas genggaman di tangan gadis itu. Dira mengambil gelas yang masih ada air dan meneguknya sedikit.
“Sembab. Dia nangis maksudmu?”
Dira mengangguk, “bisa jadi. Malamnya dia habis menangis. Ada masalah mungkin ya.”
Abrisam yang tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik aneh pada Tania. Memang tidak curiga sama sekali saat itu.
"Andre temanku yang sekarang jadi bosnya Tania, juga mengira kalau Tania ada masalah."
“Udah, kamu jangan pikirkan lagi. Tania udah pulang ke kampungnya. Dia aman di sana. Lagi pula dia udah dewasa Sam.”
Lelaki itu mengangguk menatap sang istri.
__ADS_1
•••