He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 46


__ADS_3

Abrisam cepat-cepat masuk ke dalam rumah dengan meneriaki nama istrinya.


“Adira! Adira!”


Adira yang masih menggunakan celemek berlari kecil keluar dan menghampiri. Dahi wanita ini melihat mimik wajah Sam yang tampak tak bersahabat.


“Kamu kok masuk bukan ucap salam malah teriak-teriak. Ada apa?”


“Aku mau tanya.” Sam melipat kedua tangan di dada.


“Itu yang ada di perutmu anak siapa? Tolong dijawab jujur. Aku nggak suka dibohongi.”


Wanita yang rambut sengaja dikuncir kuda ini tertawa geli, “kamu ini pertanyaannya ada-ada saja.”


Sam melepas tas yang tersangkut di pundak, lalu meletakkan di atas meja. Ia menatap Dira dengan tajam hingga gadis itu berhenti tertawa.


“Aku serius. Itu anak siapa?”


“Ini anak kamu-lah. Memang anak siapa lagi?” Adira memegang perutnya, “kamu nuduh aku selingkuh? Kamu kenapa punya pikiran begitu?”


“Bukan anak Gabriel?” Abrisam malah bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya.


Alis gadis di depan Sam ini menaut. Adira heran kenapa Sam bisa berpikiran ke sana.


“Ini anak kamu, Sam. Aku nggak pernah berhubungan sama Gabriel. Kenapa kamu bisa menuduh seperti itu?”


“Karena Gabriel ada di Jakarta. Dia satu tempat kerja dengamu, tapi kamu nggak pernah kasih tahu aku soal ini.” Mata tajam milik Abrisam benar-benar terlihat seram saat dia marah, “Kenapa kamu tutupi dariku? Takut hubungan gelapmu ketahuan?”


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Sam sampai lelaki ini menoleh ke samping. Rasa panas dan perih di wajah tidak seberapa dengan sakit hatinya.


“Tega kamu menuduh aku begitu, Sam.” Adira meneteskan air mata, “aku nggak pernah ngapa-ngapain sama Gabriel. Ini anak kamu.”


Pria ini memperhatikan sang istri yang sudah terisak sambil memegangi perut yang masih datar itu. Kemudian tidak sengaja Sam melihat tetangga dari luar memperhatikan mereka. Kedua orang itu jadi tontonan. Sam dengan cepat menutup pintu rumahnya. Menarik sebelah tangan Adira untuk lebih masuk ke dalam rumah.


“Terus kenapa Gabriel bilang itu anak dia? Kenapa juga kamu nggak pernah cerita kalau cowok itu sudah ada di sini? Seakan-akan kamu memang sengaja menutupinya demi hubungan kalian.”


Dira masih saja menangis dan menundukkan kepalanya.


“Jawab Dira!”


Wanita itu mencoba mendongakkan pandangan kembali. Ia mengusap sebelah pipi yang basah.


“Maafkan aku, aku tahu merahasiakan kedatangan Gabriel itu salah. Aku takut kalau kamu tahu kamu akan suruh aku pindah dari tempat kerja. Sedangkan mencari pekerjaan itu susah. Aku juga nggak mau kalian berkelahi kalau bertemu. Aku sudah mau cerita semua ini ke kamu beberapa hari lalu, tapi aku pikir kamu udah banyak beban pikiran dan cerita itu tertunda lagi.”


Adira mengambil sebelah tangan sang suami. Mengenggamnya dengan penuh cinta.

__ADS_1


“Maafkan aku yang nggak terbuka sama kamu. Gara-gara ini Gabriel jadi menfitnah aku. Ini asli anak kamu. Aku berani bersumpah. Gabriel memang selalu mendekatiku, tapi aku selalu menolaknya, Sam. Semua itu karena hatiku sudah ada kamu.”


Abrisam bergeming di tempatnya.


“Kamu percaya ‘kan sama aku? Nggak mungkin dong kalau ini anak Gabriel, tapi kamu yang merasa mengidam dan mual-mual. Kamu lebih percaya aku dari pada orang lain ‘kan Sam? Selama ini kamu tahu Gabriel bagaimana dan sekarang Gabriel sedang teropsesi kepadaku. Makanya, dia ingin merusak hubungan kita.”


Lelaki yang masih memakai pakaian kerja itu menyerap semua perkataan Dira. Semua yang Adira ucapakan benar. Tidak mungkin Sam yang merasakan seperti orang hamil kalau bukan dia, ayah dari anak Dira.


“Maaf sudah menuduhmu. Tadi aku betemu Gabriel dan dia berkata kalau itu bukan anakku. Dia juga berasumsi yang membuatku menjadi bimbang.” Sam melihat ke arah lain, “rasanya ingin aku hajar lagi manusia satu itu.”


Tangan Sam terkepal menahan emosi yang meletup-letup.


“Nggak apa-apa.” Adira tersenyum tipis, “terpenting kamu percaya sama aku. Pantas wajahmu luka-luka begitu. Habis berkelahi sama Gabriel?”


Sam mengangguk, “aku dan Papi mengadakan pertemuan dengan klien di restoran Gabriel. Dia manas-manasin aku. Aku hajar saja.”


Adira menggelengkan kepala pelan mentap suaminya. Abrisam mengapus sisa air mata gadis itu. Ia menarik Dira ke dalam pelukan.


“Lain kali jangan pernah tutupi apa pun dariku. Aku ini suamimu. Bukannya kita pernah janji nggak akan ada yang dirahasiakan?”


“Iya, maafkan aku, Sam.”


“Aku sudah maafkanmu. Aku juga minta maaf. Jadi marah-marah sama kamu. Harusnya aku memang nggak mempercayai Gabriel.”


Tiba-tiba handphone Abrisam yang ada di tas kerjanya berdering. Lelaki itu melepas pelukan di tubuh Dira.


Pemuda ini mengeluarkan ponsel dari tas itu dan berbicara sebentar pada orang di sana. Dira memilih untuk duduk sambil menunggu Sam menyudahi perbincangan dengan orang yang ada di telepon. Makin kemari Dira makin merasa tubuhnya mudah lelah. Mungkin, faktor bayi dalam perutnya.


Adira kembali mendongak dan menghentikan mengelus perut saat sang suami selesai menelepon.


“Dari siapa Sam?” tanya Dira yang dari tadi sudah penasaran.


“Kepolisian. Katanya, orang yang membakar bengkelku sudah dapat. Aku harus ke kantor polisi, kamu tunggu di rumah saja ya!”


Sam mengambil kunci motornya kembali. Adira mengangguk saja dan berusaha berdiri.


“Iya, lagi pula aku masih masak. Hati-hati kamu!”


Sam tersenyum dan menganggukkan kepala. Dira lekas bersaliman setelah itu lelaki ini berlari keluar dari rumah.


•••


Abrisam memperhatikan komputer yang ditunjukan oleh komandan polisi. Ia menjelaskan data-data yang didapat. Dengan terus menyimak Sam mengangguk paham.


“Beberapa orang yang katanya suruhan orang yang mempunyai cincin itu sudah ditangkap, Pak Sam.”

__ADS_1


“Lalu siapa yang menyuruh mereka, Pak?” tanya Sam dengan tatapan serius.


“Dari introgasi kami pada kedua orang suruhan itu. Ini ulah orang yang bernama Gabriel Alexander.”


“Gabriel?” gumam Sam yang masih dapat didengar polisi itu.


“Kami punya fotonya, Pak.” Polisi ini membuka laci meja, lalu menunjukkan selembar foto, “Bapak kenal sama orang ini?”


Betapa terkejutnya Abrisam melihat foto itu. Gabriel yang dimaksud adalah teman Adira. Orang yang baru saja tadi siang Sam hajar hingga babak belur.


“Dia lagi.” Sam menggepalkan tangan. Ia kesal sekali dengan Gabriel yang mengganggu hidupnya.


“Bapak kenal?”


Sam menatap polisi itu “kenal banget, Pak. Dia teman istri saya saat berkuliah di luar negeri. Akhir-akhir ini dia memang sering mencari gara-gara dengan saya.”


“Kalau begitu kita langsung saja menangkapnya. Kami sudah mempunyai alamat restoran dan rumahnya.” Polisi ini melihat jam yang ada di pergelangan tangan, “jam segini dia ada di restoran. Bagaimana Pak? Kita pergi sekarang.”


Abrisam mengangguk tegas, “iya kita seret dia ke sel sekarang juga. Saja nggak terima usaha saya dia hancurkan.”


Polisi itu memanggil anak buahnya yang lain. Mereka berkumpul dan berdiskusi sebentar. Bersamaan dengan polisi-polisi ini Sam lekas pergi ke restoran Gabriel kembali.


“Lepaskan saya! Saya nggak tahu apa-apa soal bengkel yang terbakar itu.” Gabriel memberontak ketika ditarik keluar restoran.


“Sudah jangan berkelit lagi. Kami sudah tahu semua. Bukti cincin itu sudah jelas.”


“Sialan!” Gabriel mengumpat dengan tubuh yang tidak mau diam.


“Selicik itu ternyata lo. Gue nggak nyangka.” Perkataan Sam membuat Gabriel menghentikan langkah. Kedua tangannya diborgol dan dipegangi polisi.


“Awas kamu! Kamu memang bisa menangkap aku, tapi ingat anak itu anak aku!”


Pria yang melipat kedua tangan di dada ini tertawa pelan, “lo pikir gue percaya? Gue lebih percaya sama istri gue dari pada lo. Kalau mau sesuatu itu pakai cara yang bersih dong.”


Gabriel menyeringai dan menatap Sam tajam. Ia seperti ingin menghajar lelaki di depannya ini.


“Gue berterima kasih sama lo.” Sam menepuk-nepuk pelan dada Gabriel, “gara-gara lo gue sadar. Kalau gue harus ikutin permintaan bokap dan lebih percaya sama istri sendiri. Semoga lo juga bisa belajar dari kesalahan ini.”


“Banyak omong kamu!”


Sam malah tertawa mendengar Gabriel menggas padanya. Polisi lantas menyeret lelaki bule itu untuk masuk ke dalam mobil.


“Terima kasih Pak atas kerja samanya.” Sam dan komandan polisi ini berjabat tangan.


“Sama-sama, Pak Sam. Kami senang membantu anda. Saya dan rekan-rekan pamit dulu.”

__ADS_1


Abrisam mengangguk. Ia melepas kepergian Gabriel bersama para polisi dengan senyuman. Akhirnya, Sam lega karena masalah bengkel telah usai dan tidak ada lagi orang yang akan mengganggu Adira.


•••


__ADS_2