
Perkelahian berakhir di kantor polisi. Pengurus perpustakaan melaporkan kedua orang yang berkelahi itu pada pihak berwajib. Gara-gara Abrisam yang tidak bisa menahan emosinya akhirnya Adira pun terseret ikut ke kantor polisi untuk memberikan jaminan pada polisi.
Gadis itu jadi teringat dulu juga pernah begini saat duduk di bangku sekolah. Dira ikut masuk ke ruang BK gara-gara Sam dan sekarang kejadian lagi bahkan kali ini lebih serius.
“Oke, don't fight in public again next time!” Pak Polisi berdiri dan tersenyum ramah.
(Baik, lain kali jangan berkelahi di tempat umum lagi!)
Adira tersenyum dan berjabat tangan dengan polisi itu. “I make sure this will not be repeated again. We will excuse me.”
(saya pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Kami permisi.)
Ketiga orang itu melangkah keluar dari kantor polisi sesudah semuanya selesai diurus. Gabriel merintih memegangi pipinya yang lebam.
“Kamu mau kita ke rumah sakit dulu?” tanya Adira yang tampak khawatir pada temannya ini.
Gabriel menggeleng, “tidak usah. Aku mau langsung pulang saja. Ini sudah terlalu malam.”
Dira menatap langit yang sudah gelap. Dia jadi tidak enak hati pada Gabriel yang babak belur karena ulah Sam.
“Nggak usah lebay gitu deh, Dir. Sampai rumah dia juga bisa kompres lukanya.” Adira menoleh pada Sam yang melipat kedua tangan di depan dada.
Wajah Sam tidak ada luka sedikit pun karena Gabriel tak membalasnya. Sedangkan pemuda ini meluapkan seluruh emosi yang sudah lama ia tahan.
“Lebay-lebay, ini juga semua gara-gara kamu.” Dira merubah posisinya menatap Sam, “coba kamu nggak langsung tonjok Gabriel, mungkin kita nggak harus masuk kantor polisi begini. Dari dulu kelakuannya sama aja.”
Abrisam menurunkan tangannya. Lelaki itu menatap Adira tajam, “emang, aku dari dulu begini. Nggak pernah baik di matamu. Sam memang selalu mainnya otot nggak berpikir dulu kayak Adira.”
Lelaki ini mundur beberapa langkah, “belain aja terus cowok yang katanya temanmu itu!”
Gabriel memperhatikan sepasang kekasih yang bertengkar itu. Abrisam berjalan pergi menjauh dari dua orang itu.
“Sam! Kamu mau ke mana?”
Baru saja Adira akan berniat mengejar pacarnya ini. Namun, tangannya ditangkap oleh Gabriel. Dira menoleh pada lelaki itu.
“Udah jangan dikejar. Mungkin, Sam butuh waktu untuk sendiri.”
Gadis itu terdiam. Ia hanya melihat kepergian Sam. Makin lama lelaki itu makin jauh. Dira pulang bersama Gabriel. Teman lelakinya ini mengantarnya sampai di depan apartemen.
Sudah satu jam Abrisam pergi dan sekarang ia telah sampai di apartemen kekasihnya kembali. Dari luar tampak lampu kamar Adira saya yang masih terang. Sedangkan penghuni lain telah mematikan lampu mereka.
__ADS_1
Sam membuka pintu yang tidak dikunci itu. Gadis yang baru saja tertidur di atas sofa ini terbangun mendengar decitan pintu apartemennya.
“Sam.” Dira tersenyum, lalu berdiri. “Kamu dari mana aja?”
Abrisam menutup pintu kembali. Berjalan lebih masuk. Ia berhenti di depan Adira.
“Habis ngurus tiket buat pulang besok.”
Adira terkejut mendengar menuturan Sam. Ia lekas mendekati pemuda itu.
“Kamu mau pulang? Cepat sekali? Katamu mau 2 minggu di sini?”
Tanpa menatap Dira, Sam bersuara lagi. “Untuk apa aku lama-lama di sini? Cuma menyiksa hati sendiri. Aku juga nggak ada artinya buat kamu.”
“Sam kok kamu ngomongnya begitu?” gadis itu mendongak untuk menatap Sam yang lebih tinggi darinya, “kamu sangat berarti buat aku.”
“Kalau iya seperti itu, kamu nggak akan bawa masuk Gabriel ke dalam hubungan kita,” ujar Abrisam menatap Dira. “Dia nggak akan ikut ke mana pun kita pergi.”
“Kamu tahu, aku pikir dengan Gabriel yang ikut dengan kita bisa buat kamu akrab dengannya. Agar kamu nggak terus cemburu sama dia.”
Sam mundur selangkah. Memberi jarak antara ia dengan gadis di depannya.
“Kamu mikir juga nggak sih, kalau Gabriel itu memang tujuannya ingin kita bertengkar seperti ini. Dia sengaja bikin aku marah.”
“Cih, pencitraan doang.” Sam mengibaskan satu tangannya, ”sudahlah, aku mau ke kamar mandi dulu.”
Adira terdiam di tempatnya. Tangannya bergerak memegang pipi yang tadi dikecup Gabriel. Kejadian itu begitu cepat hingga gadis ini tidak bisa mencegahnya.
•••
Adira merenggangkan otot-otatnya. Matanya menyipit saat cahaya matahari menerpa wajah. Dira menoleh ke pintu kamar saat mendengar suara gaduh di ruang tamu. Ia cepat-cepat keluar dari kamar sempit itu.
Baru bangun dia sudah mendapati Sam yang sedang membereskan pakaiannya. Cowok itu juga sudah rapi dengan kaus yang berlapis jaket.
“Kamu beneran mau pulang hari ini juga, Sam?” Pertanyaan Adira membuat lelaki ini menoleh, kemudian berdiri.
“Iya,” jawab Sam yang masih bersikap dingin.
Dira berjalan mendekati pemuda itu. Ia melingkarkan tangan ke pinggang Sam.
“Maafkan aku. Jangan pulang sekarang! Aku masih kangen sama kebersamaan kita.”
__ADS_1
Sam tidak melepas pelukan gadis ini dan juga tidak membalasnya, “kamu sendiri yang menghancurkan kebersamaan kita.”
Gadis itu mendongak, matanya mulai berkaca-kaca, “Sam maafkan aku.”
Sam menunduk melihat pacarnya yang sudah meneteskan air mata. Dengan lemah lembut lelaki ini mengusap pipi Dira.
“Jangan menangis! Aku nggak bisa lihat kamu nangis.”
Adira menegakkan tubuhnya lagi, “kalau kamu nggak mau lihat aku nangis di sini-lah sampai beberapa hari lagi.”
“Nggak bisa, tiketnya sudah kupesan.”
“Batalkan saja. Aku akan mengganti uangmu.”
Sam tertawa dibuatnya, “ini bukan soal uang.” Cowok itu memegang kedua pundak Dira, “sekarang tugasmu menjaga kepercayaanku setelah aku nggak ada di sini. Jangan kecewakan aku lagi.”
“Kamu masih marah ‘kan karena tadi malam?”
Sam menggelengkan kepalanya.
“Bohong!”
Air mata membasahi pipi Dira lagi. Gadis itu menunduk, “apa yang harus aku perbuat agar kamu nggak marah lagi?”
Sam menjadi tidak tega melihatnya. Ia juga geram sendiri. Mengapa perempuan selalu mengandalkan air matanya? Tidak bisakah tidak menangis?
Sam mendekat, lalu memeluk kekasihnya. Ia usap-usap punggung gadis itu. Berharap bisa menyalurkan ketenangan untuk Dira.
“Aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis lagi! Kita bisa kabar-kabaran lewat telepon seperti biasanya.”
Setelah itu Abrisam melepas pelukannya. Meraih koper dan tas ransel. Ia berjalan keluar dari apartemen perlahan. Dira berhenti menangis dan berlari sampai ke depan pintu.
“Nggak mau aku antar?”
Sam menoleh kembali, “nggak usah. Aku tunggu pulangmu ke Indonesia.”
Lelaki itu tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya. Ia menghilang di tikungan tangga.
•••
Note:
__ADS_1
maaf kalau makin lama makin lebay, nde 😞 ntah aku menulis apa ini.