
Abrisam dan Adira sudah ada di sebuah kafe. Mereka memilih meja yang ada di luar dan hanya memesan dua gelas minuman. Sam sedang fokus memakan bekal yang tadi Dira bawakan untuknya.
Dira memperhatikan sambil sesekali menyeruput minumannya.
“Kamu nggak makan?” tanya cowok ini melihat meja yang tidak ada makanan di sekitar kekasihnya, “pesan makanan gih!”
Adira menggeleng, “nggak usah deh. Aku nggak lapar. Aku cuma mau temani kamu makan aja sambil mandangin wajahmu yang serius itu.”
“Jangan dipandang terus nggak akan berubah,” goda Sam disertai tawanya.
Adira ikut tertawa hingga mencetak garis-garis di wajah mulusnya.
“BTW, kamu masih berteman dengan Gabriel?
Pertanyaan Sam membuat Adira teringat ucapan cinta dari cowok bule itu. Ia belum pernah menceritakan ini ke Sam. Takut hubungan jarak jauhnya terganggu lagi.
“Kok diam?” tanya Sam lagi.
“Aku jarang bertemu dia, tapi ketika mau pulang ke sini kami sempat mengucapkan salam perpisahan.”
“Aku kira kamu masih akrab aja sama dia. Kamu nggak mematuhi ucapanku,” ucap Sam terus menyendok makanannya.
“Awalnya memang aku mau memaafkan dia atas perbuatannya, tapi Gabriel malah bilang dia cinta sama aku.”
Refleks Sam menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya. Lelaki ini terbatuk-batuk. Dira lekas memberikannya minum.
Sam meneguk beberapa kali air berwarna itu agar tenggorokannya lancar kembali.
“Apa aku bilang cowok itu memang ada maksudnya saat menciummu. Makanya aku hajar.”
“Sudahlah, aku nggak mau bahasnya lagi. Jadi males saat tahu dia suka sama aku. Padahal udah aku anggap sahabat. Sejak pulang ke sini aja aku udah nggak komunikasi lewat telepon lagi.”
“Bagus deh.” Sam menggerakan sendoknya kembali, “lebih baik memang kalian nggak komunikasi lagi.”
“Kamu juga harus jauhin Tania! Seperti yang aku lakuin dengan Gabriel,” perintah Adira tegas.
Abrisam jadi kepikiran soal permintaan Kasih yang menitipkan anaknya pada dirinya. Ia tidak bisa menjauhi Tania begitu saja.
“Masalahnya Tania ini udah jadi tanggung jawab aku, sayang. Nggak mungkin aku menjauhinya. Mungkin sedikit jaga jarak bisa aku lakukan.”
“Tanggung jawabmu? Kamu bapaknya? Bukan ‘kan?” Adira menyerbu dengan banyak pertanyaan.
Sam meletakkan sendoknya dan melipat tangan di atas meja.
“Aku memang bukan orang tua atau saudaranya, tapi ibunya sendiri yang menitipkan ke aku untuk mengawasi dan menjaga Tania,” jelas Sam perlan dan lembut.
Adira berdiri sambil menggebrak meja. Sam sampai terkejut dibuatnya.
“Urus aja sana Tania itu! Jadiin istrimu sekalian!”
Pengunjung kafe yang mendengar suara keras Dira dengan kompak menatap sepasang kekasih yang sedang cekcok ini.
__ADS_1
“Kamu kenapa malah ngomong begitu?”
Gadis ini tidak menjawab iya memakai kembali sling bag yang ada di atas meja, lalu bergegas pergi meninggalkan kafe.
Sam berdiri, “Adira!”
Dira terus saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan pacarnya. Helaan napas panjang Sam hembuskan dari hidung dan mulutnya. Ia tidak mengejar gadis itu karena setelah mengecek jam tangannya lelaki ini harus segera kembali ke kampus.
•••
“Yeee, Abang menang!” sorak Sam mengangkat kedua tangannya ke atas.
Abisam dan Yasmin baru saja bertanding bermain basket. Bagaimana Yasmin akan menang lawannya tak sebanding dengan dirinya sendiri.
“Abang curang.” Yasmin berusaha menaiki punggung kakak laki-lakinya itu, “pokoknya Yasmin tetap mau diteraktir es krim! Titik!”
Pemuda ini menggendong adiknya ke dalam rumah, “Abang kasih uang aja ya? Nanti Yasmin ke warung sendiri.”
Gadis kecil yang sudah kelas 6 SD itu mengangguk, menyetujui ucapan sang kakak.
Sam kembali menurunkan Yasmin saat sampai di ruang tengah. Merogoh saku dan kebetulan ada uang 20 ribu yang ia kantongi.
“Nih!” lelaki ini memberikan uangnya ke Yasmin, “hati-hati ke warungnya!”
“Siap! Yasmin pergi dulu,” ucap gadis kecil itu setelah menerima uang. Ia berlari keluar dari rumahnya.
Abrisam tertawa dan menggelengkan kepala melihat tingkah laku adik keduanya yang sudah tumbuh menjadi seorang remaja cantik.
Sam mencari nomor Dira, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
[Ada apa?] tanya Adira yang masih jutek.
“Masih cuek aja kamu sama aku. Maafkan aku, Adira.”
[Berapa kali lagi aku harus memaafkanmu?] tanya gadis itu dari seberang sana.
Sam tertunduk. Ia merasa susah sekali menyakinkan pacarnya. Padahal ia selalu jujur dengan Adira. Makin ke sini Dira makin posesif menurutnya.
“Aku telepon kamu mau ngajak dinner malam ini. Anggap aja ini sebagai penebus kesalahanku. Kamu mau?” Sam mengalihkan saja pembicaraannya.
Cukup lama Adira bergeming. Kemudian bersuara lagi.
[Oke, aku mau. Jam berapa?]
Sam tersenyum dan mengucapkan yes dangan suara sangat kecil.
“Akan aku jemput jam tujuh. Dandan yang cantik ya sayang!”
Bukannya mendapat balasan kembali. Sambungan telepon Dira putus begitu saja. Sam menatap layar ponselnya dengan alis bertaut.
“Masih ngambek aja.” Sam mengelus dadanya, “sabar Sam!”
__ADS_1
Setelah meletakkan ponselnya ke nakas lagi. Cowok ini melepas kaus berkeringatnya. Menampakkan setengah tubuh bagian atas. Ia berjalan mendekati kamar mandi, lalu masuk ke sana untuk membersihkan badan, lalu bersiap untuk nanti malam.
•••
Seperti biasanya Tania bekerja di night club. Dengan pakaian mini dan make up yang terpoles di wajah gadis ini dengan ramah melayani pengunjung.
Tangannya yang lembut itu meracik satu gelas pesanan pelanggan. Setelah siap memberikannya pada pemesan.
“Silakan dinikmati, Tuan!” ujar Tania disertai untaian senyum.
“Terima kasih cantik.” Pria bertubuh tambun yang duduk di depan meja bar ini dengan lancang mencolek dagu Tania.
Bagi Tania ini biasa, sudah risikonya. Ia bergeser menjauh saja dengan tak lagi tersenyum.
Gadis rambut terurai bergelombang ini mengantarkan minuman ke sebuah kamar karaoke. Ketika pintu ia buka ada tiga laki-laki dan satu wanita penghibur di sana.
Di lantai dua club memang menyediakan fasilitas karaoke sedangkan di bawah. Ada bar, lantai dansa dengan DJ-nya, dan beberapa kamar untuk yang ingin menginap.
“Cantik siapa namanya?” tanya salah satu cowok yang memperhatikan Tania sedang memindahkan gelas-gelas dari nampan ke meja.
Tania menatapnya sinis. Ia tidak menunjukkan keramahan sedikit pun.
“Cantik-cantik kok galak sih?” goda lelaki yang satunya, “punyamu gede juga ya.”
Tania cepat berdiri dan menutup dadanya. Ternyata dari tadi pria itu melihat ke arah dada gadis ini yang terbuka.
Ia sangat malu, tapi mau bagaimana lagi. Ini pilihannya. Namun, ia bukan perempuan murahan.
“Permisi!” Tania mengambil nampan, lalu ingin melangkah keluar.
Baru satu langkah tangannya sudah ditahan oleh lelaki nakal ini, “jangan cepat-cepat dong perginya sayang. Kita karaokean dulu!”
“Lepasin!” Tania memberontak. Kedua lelaki yang tadinya duduk sekarang ikut berdiri mengepung gadis ini.
Sedangkan satu wanita yang dari tadi hanya memperhatikan itu tidak ada niatan untuk menolong Tania.
“Lepas!” Tania terus memberontak. Nampannya jatuh, kedua tangannya dicengkram erat, dan air mata mulai keluar dari sudut matanya.
Dengan keberanian penuh Tania menendang ************ lelaki itu. Tidak percuma ia belajar taekwondo saat SD, berguna juga. Tania berhasil melarikan diri dari ruangan karaoke itu.
Gadis ini menangis dan air bening itu telah memasahi pipinya sampai make up pun luntur.
“Heh! Jangan lari kamu!”
Teriakan dari lelaki tadi terdengar lagi. Tania melebarkan kedua matanya. Ia berlari turun ke lantai dasar.
Tania mengeluaran ponselnya, mencari nomor Abrisam, dan menempelkan handphone itu ke telinga.
“Sam angkat telepon aku!” gumamnya berlari menerobos orang-orang yang berkerumun. Memang club sedang ramai-ramainya malam itu.
•••
__ADS_1