He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 28


__ADS_3

Tomi menyeruput kopi hangatnya sambil mendongak menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam ini. Kedatangan Abrisam membuat pandangannya teralihkan.


“Papi sibuk?” tanya Sam hati-hati.


Pria dengan rambut yang sudah mulai memutih itu menggelengkan kepalanya. Kemudian meletakkan cangkir kopi ke meja bulat di sampingnya.


“Ada apa?” kali ini Tomi yang bertanya.


Abrisam duduk terlebih dahulu sebelum menjelaskan maksud kedatangannya. Sam memang sudah jarang berbincang-bincang dengan sang ayah sejak ia disibukan dengan banyaknya tugas kuliah.


“Sam mau minta restu Papi.”


Dahi Tomi berkerut, “untuk?”


“Menikah dengan Dira.”


Mata Tomi melebar, tidak menyangka anak sulungnya sudah terpikir untuk ke jenjang yang lebih serius.


“Please, Pi! Restuin Sam sama Dira ya.” Anak laki-laki itu mengatupkan kedua telapak tangan setinggi dada.


“Papi nggak melarang kalian untuk menikah, tapi apa ini nggak terlalu cepat? Kamu dan Adira sama-sama baru akan berumur 22 tahun. Kamu pun belum lulus kuliah. Pekerjaan saja belum ada. Menikah bukan hanya soal cinta Sam.” Tomi menatap anaknya ini dengan serius, “kamu harus pikirkan ke depannya. Mau dikasih makan apa Dira kalau kamu aja nggak ada penghasilan. Belum lagi kalau punya anak. Biaya kebutuhan sehari-hari, sekolah anak, dan bayar yang lainnya. Kamu sudah siap?”


Lelaki muda itu menyerap perkataan Tomi. Memang yang dibicarakan ayahnya ini sangat benar. Namun, Sam dan Dira merasa sudah harus menikah. Terlalu lama pacaran rasanya hanya menumpuk banyak masalah.


“Kamu nggak akan menyuruh Adira untuk bekerja 'kan Sam? Karena gadis itu sudah sarjana.”


Lirikan Tomi membuat Abrisam menggeleng, “nggak, Pi. Sam juga tahu kok kalau mencari nafkah adalah tugas kepala keluarga. Sam juga sudah memikirkan semua yang Papi bilang barusan.”


“Lalu kamu bagaimana akan mencari nafkah itu?” Tomi berpikir sebentar, “hm, bagaimana kalau kamu mengurus perusahaan properti Papi aja? Lagi pula semua itu akan Papi wariskan ke kamu.”


“Nggak, Pi. Selama ini ‘kan Sam nggak tertarik semua tentang bisnis Papi itu. Beda jauh sekali sama jurusan Sam.”


Tomi bersandar di kursi sambil meluruskan kaki ke bawah.


“Kamu kok dikasih enak nggak mau. Terus mau kamu kasih makan apa Adira? Kamu jangan sampai memalukan Papi ya, membuat anak orang kelaparan.”


“Rencananya Sam mau pinjam modal ke Papi. Sam mau buka bengkel milik Sam sendiri.”


Tomi tertawa mendengarnya. Sam yang sedari tadi antusias mendadak loyo mendapat reaksi seperti itu.


“Kamu ini ada-ada aja. Seorang anak pengusaha ternama yang biasa ada di majalah atau televisi mau buka bengkel?” Tomi tertawa lagi.


“Memangnya ada yang salah? Usaha bengkel ‘kan halal. Lagian ini sesuai dengan fashion Sam. Sam biasa mengutak-atik mesin, Pi.”


Tomi kembali duduk tegak dan kali ini menatap putranya sangat tajam dan serius.


“Ya salah! Kamu mau bikin Papi malu? Sudah urus aja bisnis Papi. Kamu dikasih enak kok malah nolak.”


“Bukannya Sam nggak bersyukur, tapi Sam nggak mau berdiri di atas pijakan Papi. Sam ingin berusaha dari bawah. Jadi, Sam mau pinjam modalnya ke Papi. Nanti kalau bengkel Sam sudah maju modalnya Sam balikin.”


“Kalau kamu memang mau usaha dari bawah. Cari modalnya juga sendiri. Papi nggak mau membiayai kamu. Kecuali kamu ikut peraturan Papi.” Tomi mengambil gelas kopinya dan berdiri, “satu lagi Papi merestui kalau kamu mau menikah, tapi risiko tanggung sendiri.”

__ADS_1


Setelah menyampaikan semua itu Tomi berjalan masuk ke rumahnya. Abrisam masih termenung di tempat duduk. Ia menarik sudut bibirnya, lalu mengulas senyum. Lelaki ini berpikir optimis. Ia pasti bisa mewujudkan keinginannya. Yang terpenting sekarang restu dari Tomi sudah ia dapatkan.


“Mas, Kamu lagi ngobrol sama Sam?” tanya Siska yang berpapasan dengan suaminya saat di dalam.


Tomi mengangguk, lalu menyerahkan cangkir kopinya.


“Anakmu itu ada-ada aja. Masa dia mau menikah terus untuk kebutuhan anak dan istrinya kelak dia mau mendirikan bengkel. Saya sudah sarankan agar mengurus bisnis yang ada dia malah menolak.”


“Menikah? Sama Adira?” Siska juga terkejut mendengar kabar itu.


“Iya.”


“Apa nggak terlalu cepat? Mereka masih pada muda. Kenapa nggak selesaikan kuliah dan cari pekerjaan dulu?”


“Itu yang tadinya saya bilang ke Sam, tapi anaknya tetap pada keputusan dia. Sudahlah, biarkan aja dia melakukannya. Saya hanya bisa merestui.”


Siska yang mendengarkan sambil memegang cangkir ini menganggukkan kepala. Ia sangat paham dengan keras kepalanya Sam sama persis seperti ayahnya.


“Saya ke kamar Anna dulu ya. Nanti saya ke kamarmu.” Tomi menepuk-nepuk pelan lengan istrinya, “mau lihat Farel dulu.”


“Iya, Mas.” Siska mengizikan saja.


•••


Abrisam sudah mengabarkan Adira kalau seluruh keluarganya sudah merestui pernikah mereka. Sekarang tinggal Adira yang harus membicarakan ini kepada Mama dan Kakak laki-lakinya.


“Sarapan dulu, Dir!” suruh Winda saat gadis itu memasuki dapur.


“Iya, Ma. Ini Dira memang mau makan.” Adira menarik kursi di sebelah kakaknya.


“Mau ke mana lo udah rapi banget pagi-pagi?” tanya lelaki berdasi biru tua itu.


“Cari kerjaan.”


“Kamu mau kerja?” Winda yang sudah mengolesi roti menatap anak perempuannya itu.


Adira menoleh pada sang ibu, “Iya, Ma. Nggak apa-apa ‘kan? Masa Kak Dimas aja yang kerja. Adira juga mau dong. Percuma kuliah jauh-jauh kalau tetap jadi pengangguran.”


“Mama sih nggak masalah. Yang penting pekerjaanmu jangan diporsir. Kebutuhan kita udah tercukupi kok sama usaha Mama.”


Adira mengangguk. Beberapa menit ruang makan itu hening. Gadis ini sibuk mengolesi selai ke rotinya.


Tiba-tiba Dimas membuka suara lagi setelah meneguk secangkir teh yang sudah Winda siapkan.


“Dimas pamit dulu ya. Harus ngantor lagi. Nanti kalau telat bos bisa ngomel-ngomel. Nggak kuat telinga Dimas dengarnya.”


“Tunggu Kak!” Dimas yang sudah berdiri itu diam di tempatnya, “ada yang mau Dira bicarakan sama Mama dan Kak Dimas.”


Dimas kembali duduk, “bicara apa?”


“Iya, kamu mau ngomong apa? Kayaknya serius banget.” Winda berbicara disela-sela sarapannya.

__ADS_1


Gadis itu menoleh ke Winda dan Dimas bergantian. Menarik napas dahulu sebelum mulai berbicara lagi.


“Dira sama Sam berencana akan menikah. Dira minta restu Mama dan Kakak.”


“Apa lo mau nikah? Gue dilangkahin dong?” tanya Dimas yang tak percaya.


Adira mengangguk, “iya, maaf, Kak. Masa Dira sama Sam harus nunggu Kakak nikah dulu, kelamaan dong. Kak Dimas aja jodohnya belum kelihatan.”


Dimas mengusap wajahnya. Ada benarnya juga perkataan sang adik. Jodohnya masih terlalu jauh.


“Kalian serius akan menikah?” Winda masih tidak percaya.


“Iya, Ma. Restuin Dira ya, Ma. Orang tua Sam sudah merestui kami. Sam sendiri yang bilang sama Dira lewat telepon tadi pagi.” Gadis ini memasang tampang mengibanya agar hati Winda luluh.


“Mama belum bisa memberikan jawabannya. Kalau Sam benar serius suruh dia bawa keluarganya ke sini. Kita bicarakan semuanya,” ucap Winda menatap tajam pada putrinya itu.


“Bukannya Mama suka banget sama Sam? Dira sama Sam pacaran aja Mama nggak masalah. Kok kali ini Mama jadi harus berpikir lama dulu?”


“Dira menikah itu bukan seperti pacaran. Semua harus disusun dengan matang. Maka itu Mama harus bertemu dulu dengan keluarga Sam.” Adira cemberut karena tidak langsung diberikan restu, “apa lagi kamu anak perempuan Mama satu-satunya. Mama mau yang terbaik untuk semua anak Mama.”


“Omongan Mama itu ada benarnya, Dek. Lebih baik kamu sabar beberapa hari lagi. Kasih tahu Sam untuk membawa keluarganya ke sini. Walau kita semua juga udah tahu latar belang Sam, tapi tetap aja pernikah bukan hal yang bisa dianggap enteng.”


“Benar kata kakakmu.” Setuju Winda.


Adira hanya mengangguk saja setelahnya. Ia harus bertemu Abrisam siang ini, pikirnya.


•••


“Jadi maksudnya aku ke rumahmu melamar?” tanya Sam yang duduk di sebuah ayunan.


Adira yang duduk di sebelahnya itu mengangguk dengan mata menyipit. Siang ini begitu silau. Gadis ini menceritakan apa yang ia dan keluarganya diskusikan tadi pagi.


Sepulang mencari pekerjaan Adira menyempatkan bertemu Abrisam di sebuah taman kota. Untungnya Sam juga sudah selesai kuliah.


“Seperti itu maksud Mama, tapi Mama cuma bilang suruh Sam bawa keluarganya ke rumah Mama mau bicara dulu.”


Sam menghela napas panjang, “aku akan memberitahu Papi. Mungkin kami bisa ke sana hari minggu. Nggak apa-apa?”


Adira mengangguk-agguk, “nggak masalah. Berarti tiga hari lagi.”


Lelaki itu mengangguk dengan menggerakkan ayunan naik dan turun. sepasang kakinya terjuntai ke bawah.


“Kamu sudah mendapat pekerjaan?” tanya Sam mengalihkan pembicaraan.


Gadis yang rambutnya dikuncir itu juga memainkan ayunan yang ia duduki, “belum, susah juga cari kerja.”


“Kamu melamar jadi chef?”


Dira mengangguk, “iya, sesuai dengan jurusan kuliahku. Tujuanku selama ini ‘kan menjadi chef. Doa ‘kan aku cepat dapat pekerjaan ya, Sam!”


Sam tersenyum, “aku selalu mendoakanmu. Semangat, kamu pasti bisa!”

__ADS_1


•••


__ADS_2