He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 29


__ADS_3

Hari ini keluarga Sam dan keluarga Dira bertemu di rumah Dira. Mereka membicarakan rencana pernikahan anak keduanya. Pembicaraan ini lebih mirip diskusi menurut Sam karena dari tadi ia dipertanyakan soal kelulusan dan pekerjaannya.


“Kenapa nggak menunggu kamu lulus dulu Sam?” tanya Winda menatap anak laki-laki itu dengan serius.


“Sam pikir lebih cepat lebih baik Tante. Sam dan Dira ‘kan pacaran juga sudah lama. Kami nggak mau begini terus.”


“Udahlah nikahnya nanti aja nunggu gue nikah dulu!” celetuk Dimas yang mendapat senggolan di lengan dan ditatap tajam oleh adiknya. Ia masih sempat saja bercanda. Kemudian lelaki itu tertawa garing.


“Saya juga udah bilang begitu pada Sam, Win. Tapi anaknya tetap pada pendirian. Padahal saya bukan melarang mereka untuk menikah cuma ya umur mereka juga terlalu muda. Masih panjang jalan yang akan mereka lewati,” ucap Tomi yang ikut menimpali.


“Dira rasa umur kami sudah cukup kok, Om. Kedewasaan nggak diukur pakai usia ‘kan? Tolong Om, Tante, dan Mama restuin Dira sama Sam untuk menikah.” Adira ikut menumpahkan pendapatnya.


“Udah nggak apa-apa, Mas. Kita jalankan aja niat baik ini,” ucap Anna yang memangku baby Farel. Anak laki-lakinya yang berusia 8 bulan.


Tomi menarik napas dalam-dalam, “baiklah, Papi dari kemarin juga sudah ngomong ini. Papi merestui kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan.”


Abrisam dan Adira bersamaan mengaminkan doa Tomi. Mereka tampak senang. Namun, saat menoleh pada Winda, Dira kembali khawatir. Ibunya ini tampak serius berpikir.


“Kalau Mama bagaimana?” tanya Adira.


Winda memperhatikan satu persatu orang yang ada di ruang tamunya. Kemudian ia menganggukkan kepala.


“Mama juga merestui, tapi ingat itu Sam. Jangan pernah sakiti anak Tante!” Sam mengangguk, “kalau ada masalah dalam rumah tangga kalian nanti jangan cepat-cepat mengadu ke orang tua. Selesaikan dulu sendiri. Toh, yang ingin cepat menikah ‘kan kalian juga.”


“Iya, Tante. Sam paham kok. Sam akan membagaiakan Dira.” Lelaki ini tersenyum. Pandangannya pindah menatap Adira yang ada di hadapannya.


Adira pun membalas dengan ikut tersenyum. Berbeda dari Dimas yang menekuk wajahnya karena posisinya yang dilangkahi sang adik.


•••


“Kamu saya terima menjadi chef di sini,” ucap manager itu mengembalikan dokumen milik Adira.


“Ini benaran, Pak?” Adira tidak percaya akhirnya setelah mencari pekerjaan di mana-mana sejak kemarin lamarannya diterima di sebuah restoran terkenal di Jakarta.


“Benar, kamu sudah bisa bekerja besok.” Manager berusia kira-kira 40 tahunan ini berdiri, “mari saya antar untuk melihat-lihat serta mengambil seragammu.”


Adira mengikuti intruksi dari sang manager. Mereka melihat-lihat setiap sudut restoran sampai ke dapur. Tempat inti gadis itu bekerja nantinya.


Restoran bergaya klaksik ini mempunya tiga titik tempat untuk menyantap makanan. Yang pertama di teras restoran yang di desain sangat apik, instagrable banget. Bagian dalamnya sangat luas dan juga nyaman tidak kalah dengan diluar, lalu yang terakhir rooftop-nya. Dari lantai dua itu kita bisa makanan sambil melihat pemandangan ibu kota.


Adira rasa ia akan betah bekerja di situ. Rekan kerjanya pun sangat ramah dan sopan. Sepertinya tidak susah bergaul dengan mereka.


Sesi mengenal ruang lingkup tempatnya berkerja sudah selesai. Sekarang Dira ingin mengunjungi toko kue milik ibunya. Ia berhenti berjalan saat sampai di depan restoran, lalu merogoh tas untuk mengeluarkan ponsel. Kabar bahagia ini harus ia beritahukan pada Abrisam.

__ADS_1


[Halo sayang!] terdengar sapaan Sam dari seberang sana.


“Holo, Sam. Aku mau kasih tahu kamu kabar gembira. Coba tebak apa kabar gembiranya?”


Adira begitu semangat menelepon ke kasihnya sampai tersenyum-senyum dan tidak memedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.


Lelaki itu bergumam, [ah, aku nggak tahu. Cepat kasih tahu aku!]


“Kamu payah!” ledek Dira, “Aku dapat pekerjaan di restoran yang bagus lagi.”


[Wah, selamat sayang. Aku turut senang dengarnya. BTW, kita harus rayain ini.] Dari suaranya lelaki itu ikut bahagia. Sampai bersorak dan membuat rasa senang itu tersalur ke Adira.


“Bagaimana kalau lunch? Kamu sibuk siang ini?” Adira melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, “sudah jam 12. Kamu masih di kampus?”


[Siang ini nggak bisa. Aku masih ada kelas sekitar satu jam lagi.]


Bahu adira mengendur. Ia terlihat sedikit kecewa.


[Bagaimana kalau sesudah aku pulang dari kampus. Jam 3 sore ini kita makan-makan?] usul Sam berusaha mengilangkan kekecewaan kekasihnya. Tiba-tiba terdengar suara Manha, [Adira, gue sama Emran di traktir juga ‘kan?]


Gadis itu menjadi tersenyum dibuatnya, “nggak ada yang ngajak kalian berdua. Gue Cuma ngajak Sam.”


[Gitu ya lo, Dir. Cukup tahu gue!] Ucap Manha sekali lagi.


Adira kali ini tertawa gara-gara sahabat pacarnya itu.


[Iya, Yang. Selesai kelas aku langsung ke sana.]


Setelah mematikan sambungan telepon dan menyimpan ponselnya kembali. Adira berjalan lebih ke tepi jalan. Menghentikan sebuah taksi, lalu pergi meninggalkan restoran.


•••


Abrisam menoyor kepala Manha setelah menyimpan ponsel milinya ke saku.


“Lo kalau makan nomor satu,” gerutu pemuda itu sebelum menyeruput jus mangganya.


“Jangan lupakan gratis!” Manha mengacungkan jari telunjuknya sambil tersenyum, “kalau makan harus bayar sendiri sih gue biasa aja.”


Begitulah Manha dari dulu sedikit konyol dan senang yang gratisan. Padahal Manha orang yang cukup berada. Ayahnya pedagang yang mempunyai dua kios. Walau seperti itu Sam nggak pernah ilfil dengan tingkahnya. Terkadang sikap absurd-nya membuat suasana menjadi ramai.


“Masih waras ‘kan, Mran?” tanya Sam saat melihat Emran senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.


Pertanyaan Sam membuat Manha ikut menoleh.

__ADS_1


“Chattingan sama siapa sih lo?” Manha yang penasaran berusaha mengintip. Namun, Emran menjauhkan ponselnya.


“Kepo banget sih lo! Protes Emran.


Manha kembali membenarkan posisi duduknya. Melihat sahabatnya itu sewot membuat Manha tertawa.


“PDKT sama Kanaya ya, Mran?” tanya Sam lagi.


Emran mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Manha yang mendengar itu malah terkejut.


“Serius?" lelaki itu cepat menadahkan kedua tangan setinggi dada, "mudah-mudahan mata batin Naya terbuka agar tidak menerima Emran ya Allah.”


Satu jitakkan mendarat di kepala Manha. Ia melihat sinis pada Emran.


“Doa itu yang baik dong. Memang ada yang salah kalau gue sama Naya nanti jadian?”


“Salah! Karena gue nggak ada teman ngejomblonya,” jawab Manha.


“Itu sih derita lo!” sorak Emran di depan wajah Manha.


Abrisam menggeser piringnya yang telah kosong. Makanan yang ia pesan sedari tadi sudah abis tertelan.


“Kalau sampai benaran pacaran. Jangan dimainin sahabat gue!” pesan Sam sebelum meneguk abis jus mangganya.


“Beres. Kalau benaran dapat gue nggak akan main-main kayak sebelumnya.” Emran menatap ponselnya, “Sayang banget cewek secantik Naya dimainin.”


Manha memiringkan kepala untuk melihat benda pipih yang temannya ini sedang pegang. Ternyata Emran memandangin foto Kanaya.


“Lo lagi cari sana pacar!” Sam mendorong pelan lengan Manha.


“Dimana? Lo kira cari pacar itu mudah?”


“Pakai biro jodoh aja, Ha.” Setelah menyarankan Sam tertawa.


Manha menatap Sam tidak suka sedangkan Emran tidak peduli dengan kedua temannya.


Abrisam berdiri, “ayo ke masjid! Salat zuhur dulu.”


“Lo aja deh. Gue masih mau di sini!” tolak Manha.


“Heh, dosa lo itu paling banyak. Cepat bangun!” Sam menarik kerah belakang Manha, “gimana mau dapat jodoh ketemu yang punya jodoh aja malas.”


“Ayo, Mran!” Sam berganti menarik Emran yang kembali cengegesan dengan handphone-nya.

__ADS_1


Kedua lelaki itu mau mengikuti Abrisam menuju masjid yang ada di kampus mereka.


•••


__ADS_2