He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 37


__ADS_3

Saat ini dapur dipenuhi oleh koki-koki yang bertugas. Semua sibuk memasak pesanan pengunjung restoran. Kebetulan hari ini restoran cukup ramai. Bahkan di dalam saja sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa.


Adira mengaduk sop buatannya. Ia tambahkan sedikit garam saat merasa masakan itu kurang asin. Namun, kedatangan Gabriel di dekatnya membuat gadis ini terkejut.


“Lebih baik kamu jangan dekat-dekat aku!” Adira berbicara dengan suara berbisik-bisik.


“Saya ke sini mau cek masakanmu. Saya tidak mau pengunjung protes atas kinerja kalian. Makanannya harus enak. Mengerti?”


Dira menoleh pada lelaki yang berdiri di sebelahnya ini. Gabriel terlihat mengambil sendok, lalu menyicip sedikit kuah sop. Ia meletakkan sendok begitu saja.


“Masakanmu enak.” Lelaki ini menatap Dira, “lain kali yang sopan sama saya. Ingat ‘kan kalau ini restoran punya orang tua saya? Atau kamu mau dipecat?”


Tiba-tiba Dira merasa kesal dengan temannya itu. Gabriel terlihat sombong dan angkuh. Padahal tadi pagi ia masih bersikap manis.


“Jangan melamun! Ayo kerja lagi! Pelanggan menunggu kita.”


Setalah itu Gabriel berjalan mendekati koki yang lain. Adira mengangkat sendok sayurnya. Ia merasa ingin mengetok kepala cowok itu.


Dira menuangkan sop ke dalam mangkuk. Menatanya dengan rapi. Ia menoleh saat merasa seseorang memperhatikan.


Benar saja Gabriel yang berdiri di dekat seorang koki laki-laki tersenyum ke Dira. Terang-terangan lelaki bule itu menunjukan rasa sukanya sekarang.


Adira membuang muka. Ia menyibukan diri kembali, lalu memberikan sop dan pesanan lainnya ke pelayan yang akan mengantarkan pesanan.


Sibuk bekerja membuat waktu tidak terasa. Sekarang sudah waktunya makan siang setelah pengunjung sedikit sepi barulah para koki bisa istirahat bergantian. Adira merasakan perutnya berbunyi, maklum ini sudah hampir pukul 2 siang. Wajar cacing-cacing di perut sudah meminta jatah mereka.


“Ayo makan siang sama saya di luar!” ajakan Gabriel membuat langkah Adira yang ingin masuk ke ruangan istirahatnya terhenti.


Gadis ini menoleh, “aku bawa bekal. Terima kasih atas tawarannya.”


“Ini bukan tawaran, tapi perintah. Kalau kamu tidak mau saya tidak memaksa.” Gabriel tersenyum pada Dira, “tapi besok kamu tidak usah datang lagi ke restoran ini untuk bekerja.”


Mata Adira membesar. Ia kesal padahal ini sama saja memaksa. Kalau dia tidak kerja harus bagaimana membantu Sam? Selama menikah Adira malu meminta bantuan orang tuanya. Karena Winda pernah bilang masalah rumah tangga harus ia bereskan sendiri. Karena itu risiko mereka yang memilih menikah muda. Tidak mungkin juga terus meminta uang. Lagi pula ia sudah cinta dengan pekerjaannya saat ini.


Kalau dia keturunan penyihir sudah dia hilangkan sedari tadi lelaki ini dari hadapannya.

__ADS_1


“Ayo ikuti saya!”


Gabriel jalan lebih dulu keluar dari dapur. Dengan sangat terpaksa Adira mengikutinya. Mungkin tidak masalah ini hanya makan siang biasa.


•••


“Kamu masih suka sphagetti? Mau aku pesankan itu?”


Sekarang mereka ada disebuah kafe yang cukup jauh dari tempat mereka bekerja. Padahal punya restoran sendiri Gabriel malah sengaja mengajak keluar dari sana.


“Aku nggak suka!” Adira merebut buku menunya, “biar aku pilih sendiri.”


Pelayan yang menunggu mereka menyebutkan makanan yang akan dipesan saja sampai bingung melihat kedua orang tidak akur ini.


Mereka akhirnya sudah selesai menentukan untuk memesan makanan sesuai selera masing-masing. Pelayan pun sudah kembali ke dapur.


“Bersikaplah yang manis atau kamu mau aku pecat!”


Lagi-lagi Gabriel mengancam.


“Makanya lebih baik kamu bersamaku agar tidak perlu berkerja. Aku jamin hidupmu akan bahagia.”


Adira melipat kedua tangannya di depan, “kamu nggak akan bisa membuat aku bahagia. Kerena kebahagianku ada di Abrisam. Mengerti?”


Gabriel tertawa kecil sambil membenarkan jas kebanggaannya.


“Sam itu cuma bisa merepotkanmu. Lihat sekarang saja kamu harus bekerja. Padahal kalian sudah menikah. Pasti kurangnya pemasukan untuk memenuhi kebutuhan ‘kan?”


“Sok tahu! Aku bekerja karena aku suka. Sam nggak pernah menyuruh atay memaksa. Dia juga bekerja untuk kebutuhan kami.” Adira berdiri, “aku jadi nggak nafsu makan. Lebih baik aku balik ke resto.”


Dira melangkah mendekati pintu keluar kafe. Ia tidak memedulikan Gabriel yang meneriaki namanya dan mengancam akan memecat.


“Akh!” Lelaki itu memukul meja. Ia kembali duduk di depan mejanya, “lihat saja kamu, Dira. Tidak ada yang boleh menolakku!”


•••

__ADS_1


“Assalammualaikum, aku pulang!” seru Dira membuka pintu rumah yang tidak dikunci.


Gadis ini melihat sekitar yang tampak sepi, lalu masuk dan menutup pintu rumah kembali.


“Waalaikumsalam.” Tiba-tiba Sam muncul dari dalam dan mendekati istrinya.


Adira yang merasa sangat lelah hari ini menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu. Ia menyandarkan kepala ke sofa dengan motif polkadot itu.


“Kenapa? Capek banget ya?” tanya Sam yang kini duduk di sebelahnya.


Gadis itu menunjukan wajah yang ditekuk dan bibir cemberut. Ia pindah menyandarkan kepala pada dada Sam. Rasanya kalau dekat dengan suaminya ini ia ingin selalu dimanja. Dira merasa seperti balik ke usia 5 tahun.


“Mau aku bikinkan teh hangat?” Abrisam mengelus-elus puncak kepala Adira.


Adira menggeleng pelan, “nggak usah. Aku cuma pengin bersandar di dadamu seperti ini.” Dira menghirup aroma tubuh lekaki itu, “Kamu wangi.” Kemudian gadis ini melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.


“Bosmu memberi banyak pekerjaan hari ini?” Sam menunduk untuk menatap wajah istrinya, “sampai kamu begitu kecapekan.”


Sebenarnya bukan pekerjaan yang membuat Adira lelah. Namun, sikap dari kepala koki yang baru itu. Gabriel sangat menyebalkan sejak bertemu di Jakarta. Mentang-mentang orang tuanya menjadi pemilik restoran tempat Adira bekerja.


Menurut Adira lelaki itu terus memaksa untuk Dira menyukai dirinya. Mana bisa, seluruh perasaan Dira sudah untuk Sam sejak SMA.


Gadis itu mengangkat kepala yang sedari tadi bersandar, “memang pekerjaanku sangat banyak, tapi aku senang kok mengerjakannya. Kamu nggak usah khawatir.”


“Bagaimana aku nggak khawatir. Kamu kecapekan begitu atau kamu berhenti bekerja aja ya. Bengkel kita sudah kembali maju kok.”


“Aku senang bekerja, Sam. Ini cita-citaku ‘kan? Please, biarkan aku tetap kerja.”


Sam meletakkan tangan besarnya di kepala sang istri. Mengelus kepala itu dengan kasih sayang. Lelaki ini tersenyum.


“Baiklah, tapi kalau ada sesuatu bilang aku ya!”


Adira mengangguk. Tetap saja ia tidak bisa terlalu jujur. Beberapa akan ia simpan sendiri. Asal rumah tangganya tetap baik-baik saja.


•••

__ADS_1


__ADS_2