He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 60


__ADS_3

Abrisam menghentikan motornya saat sampai di parkiran. Namun, bukannya melepas pelukan Adira lebih kuat melingkarkan tangannya di perut Sam. Gadis itu juga menempelkan pipi yang terhalang helm di punggung pacarnya.


Sam menoleh ke belakang, “udah sampai, Dir. Nggak mau turun?”


“Gue mau begini dulu.”


Cowok itu memperhatikan sekitar. Keadaan sekolah belum terlalu ramai. Namun, ia merasa tidak enak juga dilihat oleh siswa dan siswi yang melintas di parkiran.


Sam melepas dulu helm yang masih terpasang di kepalanya, lalu memutar tubuh menghadap Adira.


Dira melepas pelukan saat Sam merubah posisi duduknya. Gadis itu menatap Sam dengan wajah cemberut.


“Ada masalah di rumah?” Sam membantu Adira melepaskan helmnya.


Adira mengangguk saja.


“Masalah apa? Cerita dong sama gue. Siapa tahu bisa kasih solusi.”


“Mama mau nikah lagi.”


Sam terkejut, “hah? Berita bagus dong itu. Bukannya Tante Winda udah lama sendiri.”


“Gue nggak mau punya Papa tiri. Lagian nggak tahu siapa juga cowoknya. Baik atau nggak pun gue belum kenal.”


“Memangnya belum di ajak ke rumah?” tanya Sam hati-hati.


Adira menggeleng, “Mama belum ngenalin. Kemarin aja ngomongin soal dia mau nikah lagi pakai sembunyi-sembunyi di kamar Kak Dimas.”


“Mungkin sengaja ngobrol sama anaknya yang lebih dewasa dulu.”


“Jadi maksud lo, gue ini anak kecil? Gue udah gede kali bisa diajak tukar pikiran.”


“Bukan begitu juga.” Bantah Sam saat Adira mulai salam mengartikan kata-katanya, “kalau sudah siap pasti Tante Winda akan mengenalkan calon suaminya itu ke kalian.”


“Tapi gue nggak mau punya Papa tiri. Pasti sayang ke anak tirinya beda. Apa lagi kalau yang mama nikahin ini duda beranak.” Adira bergidik setelah membayangkan.


“Nggak semua yang tiri-tiri itu kejam. Buktinya kedua ibu tiri gue. Mereka sayang banget sama gue kayak anak kandungnya. Sayangnya bunda ke gue dan Jasmin itu nggak ada bedanya.”


Dira menunduk, “iya sih, tapi gue takut setelah menikah Mama melupakan Papa kandung gue yang udah meninggal itu. Kasihan Papa di alam sana.”


“Mama sama Papa lo saling sayang?”


“Ya iyalah.”


Sam tersenyum dan salah satu tangannya merangkul adira, “kalau orang yang saling sayang ia mau orang yang disayangnya bahagia. Kalau menikah lagi membuat Mama lo bahagia. Papa lo di alam sana juga pasti bahagia.”


“Kayak gitu?” Sam mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Dira.


“Jadi, lo juga seperti itu? Sayang sama gue, lalu mau liat gue bahagia?”


Sam melepas rangkulannya dan menjepit hidung gadis di hadapannya itu dengan kedua jari. Ia goyangkan hidung itu ke kiri dan kanan hingga sang empunya memberontak minta dilepaskan.


“Gemesnya...”


“Sam!” teriakan Adira membuat jari cowok itu menjauh dari hidung Dira, “sakit tahu!”


Abrisam tertawa pelan melihat ekspresi gadisnya.


“Lo lucu sih pertanyaannya. Pastilah gue mau lo selalu bahagia.”

__ADS_1


Adira cemberut sambil mengusap hidungnya yang sedikit memerah.


“Woi, pacaran mulu. Masuk kelas udah mau bel!” teriak Violet yang berdiri tidak jauh dari parkiran bersama Yara. Tampak mereka baru datang.


Adira dan Abrisam sama-sama menoleh dan mendengarkan omongan teman satu kelasnya itu.


Gadis yang duduk di atas jok motor itu menepuk dahinya, “hari ini ‘kan mulai LUN. Lo udah belajar?”


“Udah sih,” jawab Sam ragu-ragu, “tapi nggak tahu deh nempel di otak apa nggak.”


Adira memutar bola matanya, lalu lekas turun dari motor Sam yang cukup tinggi.


“Ayo masuk!”


Gadis itu menarik lengan kekasihnya dan menyeretnya ke dalam gedung sekolah.



Suasana koridor terasa tenang. Karena kelas 12 sedang mengadakan ujian pihak sekolah meliburkan kelas 10 dan 11 untuk sementara. Maka dari itu kelas-kelas banyak yang kosong di hari ini.


Sekarang Sam dan semua temannya satu kelas sedang ada di Lab. Komputer. Mengerjakan soal LUN berbasis komputer.


Sedari tadi kaki tangan bahkan kepala cowok itu tidak mau diam. Bukannya mengerjakan soal Sam malah tengok kanan dan kiri.


“Bisa, Dir?” bisik Sam ke Dira yang ada di sampingnya.


Adira mengangguk, “lumayan. Yang kemarin gue pelajarin masuk beberapa.”


Sam hanya menggut-manggut sambil menggaruk kepalanya. Adira menoleh dan melihat pacarnya itu kebingungan.


“Lo kenapa? Nggak ngerti?” kemudian Dira menatap komputer yang ada di depannya lagi. Kalau kelamaan natap Sam bisa-bisa di ciduk guru pengawas.


“Abrisam!”


Bentakkan keras dari guru pengawas membuat Sam tersentak dan menjauhkan tubuhnya yang mencondong ke Adira.


“Iya saya, Bu.” Sam mengangkat satu tangannya ke atas.


“Kamu ngapain liat-liat komputer Adira? Kamu ’kan sudah punya komputer sendiri. Mau nyontek ya kamu?”


Sam menggeleng cepat, “nggak kok, Bu. Komputer yang Dira pakai lebih bagus.”


Guru itu mengerutkan dahi saat mendengar jawaban muridnya ini. Sedangkan Sam hanya sengengesan saja.


Murid lain yang mendengar juga menyimak omelan guru itu pada Sam. Begitu juga Adira yang ada di sebelahnya.


“Bisa aja kamu mencari alasan. Liat ke komputermu! Jangan tenggok kanan-kiri! Cepat kerjakan lagi soalmu!”


“Baik, Bu.” Sam tidak membantah lagi. Ia langsung fokus dengan soal-soal di depannya.


Adira sedikit tertawa melihat tingkah laku pacarnya ini. Kemudian kembali menyelesaikan pekerjaannya.


“Yang lain ayo kerjakan lagi!” siswa dan siswi yang tadinya menoleh dan menyimak perdebatan Sam dan guru itu kembali menghadap komputernya, “jangan mencontek! Ini baru latihan kok sudah mencontek.”


Sam yang merasa dirinya disindir hanya memutar bola matanya saja. Kemudian berusaha fokus dengan pekerjaannya.



Sudah sepuluh menit Abrisam berdiri di depan ruang BK. Kali ini ia tidak masuk ke ruangan itu. Di dalam ada Adira dan Pak Yuhdi yang sedang berbicara serius.

__ADS_1


“Kamu sudah bebas dari tugas yang Bapak kasih. Terima kasih Adira, Abrisam sudah banyak peningkatannya. Gara-gara Sam tidak berulah lagi teman-temannya itu juga tidak sering menghadap Bapak. Kamu hebat bisa menakhlukan anak itu.”


Gadis yang duduk di hadapan guru BK ini tersenyum lebar, “jadi saya tidak terikat dengan tugas itu lagi, Pak. Saya nggak dihukum membersihkan perpustakaan selama seminggu?”


Pak Yuhdi menggeleng, “tidak Dira. Kamu bebas.” Senyum manis terjuntai di bibir pria berusia kepala empat itu.


“Terima kasih, Pak.” Dira tidak henti-hentinya tersenyum.


“Harusnya Bapak yang banyak terima kasih padamu sudah meringankan tugas Bapak. Sesuai janji jika ada nilaimu yang kurang. Bapak akan bicarakan itu pada guru bidang studi bersangkutan.”


Hari ini rasanya Adira gembira sekali. Sampai lupa soal mamanya yang akan menikah lagi.


“Makasih lagi, Pak. Saya nggak tahu mau bilang apa lagi.”


Melihat keantusiasan Adira, Pak Yuhdi jadi tertawa.


“Kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas. Masih ada ujian ‘kan?”


Dira mengangguk cepat, “iya Pak.” Adira berdiri dari kursinya, “saya permisi dulu.”


Adira segera berjalan keluar dari ruangan dengan ukuran bisa dibilang sempit itu.


Sam terlihat lega saat Adira ada di dekatnya lagi.


“Apa kata Pak Yuhdi?” tanya Sam yang sedikit kepo.


Gadis itu bukannya menjawab malah senyum-senyum membuat alis Sam tertaut.


“Ada apa sih? Kok kayaknya lo senang benar?”


Adira menghadapkan dirinya pada cowok itu. Kedua tangannya memegang bahu Sam.


“Kata Pak Yuhdi gue dibebaskan dari hukuman membersihkan perpustakaan. Gue berhasil menjalankan tugas untuk merubah lo.” Adira tersenyum setelah menjelaskannya.


Keingin tahuannya sendiri membuat Sam berubah espresi menjadi murung.


“Lo pasti mau jauhin gue ‘kan sekarang?”


Pertanyaan itu membuat dahi Adira berkerut, “Lo kok bisa berpikir begitu?”


“Bukannya tujuan lo deketin gue emang untuk menjalankan tugas dari Pak Yuhdi?”


Dira menurunkan kedua tangannya kembali. Menghela napas panjang sebelum bicara lagi.


“Awalnya memang begitu, tapi sekarang gue deket lo karena cinta.”


Perlahan sudut bibir Sam tertarik hingga membentuk setengah lingkaran.


“Gitu dong senyum. Tenang aku nggak akan ninggalin kamu.”


“Aku?”


“Nggak boleh ya manggil aku-kamu?” malu-malu Adira bertanya.


“Boleh banget malah. Biar berasa pacarannya.”


Adira tertawa mendengar penuturan Sam. Cowok itu merangkul pundaknya, lalu membawanya pergi dari sana.


__ADS_1


BANTU VOTE JUGA DONG READERS 😭


__ADS_2