
Beberapa Bulan Kemudian
Seorang gadis dengan rambut panjang terurai mengeret kopernya keluar dari bandara Soekarno-Hatta. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satu pun orang terdekatnya yang ada di sana. Gadis itu berhenti melangkah, lalu mengeluarkan ponsel dari sling bag yang ia pakai. Mencari nomor seseorang di sana. Setelah berhasil menemukannya, ia menempelkan ponsel ke telinga.
“Halo?” Balas orang yang ada di dalam mobil.
[Sam, kamu di mana sih? Belum sampai juga?]
Abrisam Pradipta menghela napas saat melihat kendaraan berbaris di depannya. Ia yang akan menjemput kekasihnya di bandara terjebak oleh kemacetan panjang ini.
“Di sini macet, sayang. Sabar ya, kamu tunggu aja dulu di situ!”
Terdengar helaan napas dari Adira. Mau bagaimana lagi. Dira harus pasrah menunggu.
[Oke, aku tunggu.]
Sam menyimpan kembali handphone-nya ke saku celana. Menekan klakson berkali-kali, berharap mobil di depannya bergerak. Namun, tidak ada satu pun mobil yang bergeser saat itu.
Adira sudah menunggu sampai satu jam. Ia terlihat bosan dan tidak sabar untuk berjumpa dengan sang pacar.
Sejak kejadian beberapa bulan lalu mereka masih sering komunikasi. Bahkan setelah seminggu pulang ke Indonesia Sam akhirnya menghubungi Dira lagi. Padahal gadis itu terus berusaha meminta maaf padanya. Dira sebagai pacar pun harus pengertian. Gadis ini berharap kembalinya ia ke Indonesia akan membuat hubungannya dan Sam selalu harmonis.
Adira kembali menyimpan ponsel mengusir sepinya ke dalam tas saat melihat Abrisam datang mendekatinya.
Gadis itu berdiri di tempatnya dan tersenyum lebar. Sam yang berhenti melangkah ikut tersenyum menatap kekasih yang sudah ada di depan mata. Mereka saling pandang dan melempar senyum untuk beberapa detik. Kemudian Dira berhambur memeluk lelaki tinggi itu.
“I miss you, Sam.”
Abrisam membalas pelukan itu dengan erat. Berharap rindu ini terobati dengan pelukan.
“Miss you too, Dira.”
Suasana romantis seketika buyar ketika Adira memukul dada lelaki di depannya itu cukup keras.
“Kok di pukul sih?” tanya Sam yang merintih sakit sedikit.
“Aku sebel. Kamu lama banget. Aku sampai lumutan nunggunya.” Dira memajukan bibirnya seperti bebek.
Sam tertawa dan bibir Dira tambah maju saja, “maaf, jalanan macet banget. Nggak seperti biasanya. Saat aku liat ternyata penyebabnya ada aksi demo.”
“Oh begitu?”
Lelaki itu mengangguk. Ia mengusap kepala Adira. Menyalurkan rasa kasih sayangnya.
“Sudah jangan cemberut lagi. Ayo kita pulang! Banyak yang sudah menunggumu.”
Adira mengedipkan berkeli-kali matanya. Mendongak menatap Sam.
“Benar? Paling yang nunggu Mama dan Kak Dimas ‘kan?”
“Keluargaku juga menunggu pulangnya kamu.” Sam menggambil alih koper milik gadis itu, “ayo!”
Dira memeluk salah satu lengan Sam. Mereka berjalan bersamaan keluar dari kawasan bandara.
•••
Adira melihat sekelilingnya. Mobil Sam terparkir di depan sebuah toko kue.
“Kok ke tokonya, Mama?”
__ADS_1
Gadis ini memang tahu kalau ibunya memilik toko kue karena diawal kuliahnya ia masih sering pulang ke Indonesia.
“Mereka semua ada di sini?” Sam melepas sabuk pengaman yang terpasang ke tubuh, “ayo keluar!”
Lelaki itu keluar lebih dulu dari dalam mobil, lalu tidak lama Adira menyusulnya. Abrisam jalan ke sisi Dira. Menggandeng pacarnya dan berjalan masuk ke toko kue itu.
“Selamat datang kembali Adira!” seru semua orang yang ada di toko itu dengan meniup terompet.
Adira bergeming melihat penyambutan yang begitu direncanakan. Toko kue sengaja tidak beroprasi hari ini. Ada benner besar yang tergantung bertuliskan welcome back to Adira. Ia hanya bisa berterima kasih sebanyak mungkin untuk orang yang menyayanginya. Sam yang berdiri di sebelahnya tak berhenti tersenyum.
“Terim kasih semua. Dira terharu,” ucap gadis ini menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Winda mendekati putrinya. Menariknya ke dalam pelukan. Dira menangis sambil memeluk sang ibu. Ibu dua anak itu mengusap pipi Dira. Ia tidak mengizinkan anaknya itu untuk meneteskan air mata pada hari bahagianya.
“Selamat Dira atas wisuda dan kelulusannya,” ucap Violet yang sengaja datang demi sahabatnya.
Adira tersenyum melihat kedua sahabat lamanya, Violet dan Yara datang. Sangat rindu pada kedua cewek biang rusuh itu.
“kita bela-belain datang loh. Miss banget sama lo,” tambah Yara.
“Kalian...” Adira melangkah mendekati kedua orang itu dan memeluknya sekaligus.
Adira melepas kembali pelukannya. Mengusap kedua pipi sahabat karimnya, “makasih ya sudah datang. Bagaimana kuliah kalian?”
“Baik, tapi lulusnya masih setahun lagi.” Violet menjelaskan dengan sedikit malas.
“Selamat Dira atas kelulusannya.” Tomi mengulurkan tangan kanannya, “Om dengar nilaimu bagus? Maaf Om dan sekeluarga nggak bisa hadir di acara wisudamu.”
Dira tersenyum dan membalas uluran tangan lelaki tua itu, “makasih banyak, Om. Semua jasa Om untuk Dira dan keluarga nggak akan pernah Dira lupakan.”
“Sama-sama. Cukup kamu balas dengan menyayangi Sam.” Tomi menepuk-nepuk punggung anak sulungnya.
Adira dan Abrisam terlihat malu-malu. Emran serta Manha yang juga hadir di acara penyambutan ini berseru cie untuk kedua orang itu.
•••
“Enak banget makanannya,” ucap Manha dengan mulut yang masih mengunyah.
“Telan dulu baru ngomong! Nanti keselek-loh.” Sam mengingatkan temannya ini.
“Kebiasaan Manha. Jorok,” celetuk Violet.
“Gue duduk di mana nih?” tanya Yara dengan tangan memegang piring dan gelas. Ia baru datang sehabis mengambil makanan.
“Letakkin dulu bawaan lo di sini!” Dira menepuk meja di sebelahnya, “terus ambil kursi itu!” lanjut ia menunjuk kursi yang tidak digunakan.
Mereka para anak muda berkumpul di satu meja. Berbincang ringan tentang kuliah masing-masing sambil menyantap makan siang.
“Kanaya mana?” tanya Adira yang sadar bahwa satu sahabatnya tidak terlihat.
“Oh itu, katanya ada urusan dulu. Nanti menyusul ke sini, “ jelas Emran.
Manha celingukkan melihat keluar, lalu bergumam, “cepat Nay datang nanti nggak kebagian makanan.”
Violet yang duduk di sebelah cowok itu, tertawa mendengarnya.
“Itu bukan?” Yara menunjuk mobil yang baru datang. Seperkian detik sang empunya keluar.
Benar saja itu Kanaya. Gadis berkulit putih dan berambut panjang ini melangkah memasuki toko. Terlebih dulu ia menyapa orang tua Dira dan Sam. Setelah itu gadis yang memilik darah keturunan korea itu mendekati teman-temannya.
__ADS_1
“Adira!” Naya memeluk Dira hangat, “selamat datang kembali di Indonesia. I miss you.”
Dira tersenyum, lalu mengelus-elus punggung gadis itu. “Terima kasih, Nay. Miss you too.”
Kanaya kembali berdiri tegak, “sorry aku telat. Harus nganter Bunda dulu ke supermarket. Mana jalanan kots Jakarta macet.”
“Nggak apa-apa. Ambil makanan dulu sana. Lo pasti laper ‘kan?” tebak Adira.
Dengan malu-malu Kanaya mengangguk. Adira bangkit dari duduknya. Ia pergi menemani Kanaya.
“Ngedip, Mran!” Sam menjentikkan jarinya ke depan wajah Emran, “begitu amat lihat Naya?”
Manha ikut memperhatikan Emran. Cowok itu sudah mengalihkan pandangannya lagi.
“Udah setengah tahun nggak bertemu Naya. Kok dia tambah cantik ya?” tanya Emran sesekali masih curi-curi pandang pada gadis itu.
“Lo naksir?” tanya Yara.
“Nggak boleh, Mran.” Larang manha tiba-tiba saja, “bukannya lo punya gebetan yang adik kelas itu? Lo pacaran nggak sama dia?”
“Udah lama putus kali. Cuma jadian satu bulan.”
Manha tertawa, “itu pacaran atau paket kuota bulanan? Cepat amat udah putus. Mending kayak gue.”
“Jomblo kok mending. Jangan ngajak-ngajak gue jadi jomblo lumutan kayak lo deh!”
Sam, Violet, dan Yara yang menyimak hanya tertawa.
•••
Sekarang mereka sudah lengkap. Teman yang dekat dengan Adira sudah hadir semua. Beberapa orang juga telah selesai makan.
Hanya Kanaya yang isi piringnya masih terlihat banyak.
“Sampai sekarang masih dekat dengan Afraz nggak, Nay?” tanya Adira sebelum menyendok makanannya.
Kanaya menggeleng, “sejak itu anak kuliah keluar negeri nggak ada kabarnya lagi.”
Emran terlihat senang setelah mendengar jawaban gadis itu.
“Gue kira kalian itu pacaran tadinya,” kata Violet mencoba bergabung pada topik obrolan.
“Aku sama dia nggak pernah pacaran. Aku itu ngawasin dia biar nggak ganggu hubungannya Adira dan Sam. Anaknya si baik dan kadang nyebelin juga. Mana mungkin juga dia suka sama aku.”
“Nih Emran suka sama lo, Nay!” Manha menepuk bahu Emran.
Emran yang ditatap Kanaya terlihat salah tingkah dan menyalah-nyalahkan Manha.
“Apaan sih lo?” Emran memelototi Manha yang ada di sebelahnya.
“Tadi ‘kan lo bilang dia cantik. Tembak aja sebelum diambil orang!”
“Manha!” Emran geram. Ia berusaha menutup mulut Manha.
Yang lainnya tertawa memperhatikan kelakuan kedua lelaki itu. Sudah besar, tetapi kelakuannya seperti anak kecil. Kecuali Kanaya yang menunduk malu.
•••
Note:
Sekarang Adira udah pulang. gimana-gimana bahagia nggak kalian? 😆
__ADS_1
Aku cuma ngingetin, tolong ya kalau kasih saran ataupun kritik pakai kata-kata yang sopan. Udah itu aja. sampai bertemu di bab begikutnya. 😉