He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 65


__ADS_3

Abrisam sedari tadi tersenyum menyusuri koridor sekolahnya. Ia sengaja tidak pergi bersama Adira kali ini. Cowok itu beralasan kalau dia kesiangan dan akan telat menjemput Dira. Jadi, dari pada telat berdua Sam menyuruh Adira berangkat duluan ke Sekolah. Padahal Sam sudah bangun pagi-pagi sekali.


Ia sudah tidak sabar ingin memberikan amplop coklat yang dari parkiran sudah ia genggam. Amplop itu berisi uang hadiah Sam saat lomba balap motor kemarin. Mungkin ini karena niat baik Sam, ia berhasil mendapatkan juara satu di lomba itu.


“Pasti Dira nggak akan nyangka gue bisa dapat uang sebanyak ini.” Sam berbicara sendiri sambil terus melangkah.


Senyumnya tambah mengembang saat melihat Dira berdiri di depan kelas. Gadis itu terlihat uring-uringan. Sam menyembunyikan amplop ke belakang punggungnya.


“Pagi Adira.”


“Sam, lama banget sih?”


“Maaf, ‘kan aku kesiangan.” Sam masih saja berbohong, “ada yang mau aku omongin sama kamu.”


“Aku juga.”


Dahi Sam berkerut, “apa itu?”


“Kamu duluan aja,” ucap Adira memberi kesempatan


“Cewek duluan aja!”


“Kalau gitu ikut aku!” adira menarik salah satu lengan Sam.


“Tunggu!” Sam tidak bergeser sedikit pun. Adira menoleh ke belakang kembali, “ada apa lagi?”


“Aku taro tas dulu.” Sam masuk ke dalam kelas dan meletakkan tasnya di meja depan dengan asal.


Kemudian Sam keluar kelas lagi dan berjalan mengekori Adira. Gadis itu membawanya ke taman belakang. Mereka berdiri berhadapan.


“Apa yang mau kamu kasih tahu aku?” tanya Sam yang menatap Adira lekat-lekat.


“Papimu kemarin ke rumahku.”


Sam terkejut, “Papi tahu rumah kamu? Perasaan aku nggak pernah kasih tahu. Tahu dari mana ya? Terus dia ngapain ke rumahmu?”


“Melamar mamaku.”


“Hah?” kali ini Sam lebih terkejut lagi sampai amplop di belakang punggungnya terjatuh, “me-melamar?”


Adira memiringkan kepalanya, “itu apa yang jatuh?” tunjuk Dira ke bawah.


Sam melihat ke belakang dan menunduk. Cepat dia mengambil uangnya yang terjatuh. Ia menatap Adira dan mengulurkan amplop itu pada kekasihnya ini.


“Sebenarnya ini buat kamu.”


“Apa ini?” Adira mengambilnya dari tangan Sam. Gadis itu membuka amplopnya. Betapa kagetnya ia melihat uang puluhan juta, “kamu dapat uang ini dari mana?”


“Aku sengaja bilang bangun kesiangan cuma buat kasih itu ke kamu. Mau bikin kamu kaget, tapi malah aku yang lebih kaget.” Sam mendengus dan menoleh ke arah lain, “aku dapat itu dari lomba balap motor kemarin.”


Sam menatap Adira lagi, “balapannya resmi tidak liar dan itu bukan hasil mencuri. Untuk bantu kamu kuliah keluar negeri.”


“Sam...” Mata Adira berkaca-kaca ia begitu terharu sama niat baik kekasihnya ini. Adira lekas memeluk Sam, “Aku nggak mau pisah sama kamu. Aku nggak mau ada yang memisahkan kita.”

__ADS_1


Sam membalas pelukan Dira, “kita nggak akan berpisah Dira dan nggak akan ada yang bisa memisahkan kita. Sekali pun itu Papiku.”


Dira melepas pelukannya dan mendongak menatap Abrisam, “terus bagaimana kita menggagalkan niat orang tua kita?”


“Aku akan coba ngomong sama Papi. Kamu coba bicara sama tante Winda, oke?”


Adira mengangguk, “oke!”


“Udah jangan nangis!” Sam mengusap sudut mata Adira yang berair.


“Aku cuma terharu kamu ikut mikirin kuliahku. Harusnya kamu nggak usah repot-repot gini. Aku jadi nggak enak”


Sam menurunkan kedua tangannya lagi, “aku nggak repot. Balapan juga kesukaanku. Jadi, walau nggak bantu kamu aku pasti tetap ikut balapan itu. Aku tahu kamu pengen banget melanjutkan pendidikan di sana. Kalau kamu sukses ‘kan aku juga yang bangga.”


Tiba-tiba bel sekolah terdengar berbunyi nyaring. Itu tandanya semua murid di suruh masuk ke dalam kelas.


“Ayo ke kelas!” Sam mengangguki ajakan Dira.


Mereka melangkah berdampingan sambil mengobrol ringan.


“Makasih uangnya. Akan aku tabung.”


Sam tersenyum, “sama-sama sayang.”



Abrisam membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang keras. Anna dan Siska bersamaan keluar untuk menghampiri Sam.


“Ada apa Sam? Kenapa kamu membanting pintunya?” tanya Siska.


“Ada di kamarnya baru pulang kerja.”


Lelaki remaja itu lekas melangkah menuju lantai dua. Kedua ibu tirinya itu bingung dengan sikap Sam yang tiba-tiba brutal.


“Pasti akan ada pertengkaran lagi,” gumam Anna yang masih dapat terdengar oleh Siska.


“Pertengkaran?” Siska berpikir sebentar, “ayo kita liat! aku takut jika Mas Tomi memukul Sam lagi."


Anna mengangguk, “ayo mbak!”


Bersamaan mereka berlari kecil menaiki anak tangga.


Sam membuka pintu kamar dan terlihatlah Tomi yang memakai kaos putih dan celana bahan untuk kerjanya. Pria itu belum selesai berganti pakaian.


“Kamu baru pulang? Sore sekali.” Tanya Tomi yang berdiri di dekat cermin.


“Ada yang mau Sam omongin sama Papi.”


“Ada apa Sam? Tidak bisakah kita bicara setelah Papi mandi?”


Anak laki-laki yang masih memakai seragam sekolah dan ransel di pundak itu melangkah masuk ke kamar.


“Sam cuma mau tanya ke Papi” Dahi Tomi berkerut, “Papi nggak suka liat Sam bahagia?”

__ADS_1


Tomi tertawa pelan, “pertanyaan apa itu Sam? Papi selalu mau liat kamu bahagia.”


Anna dan Siska mengintip dari luar kamar. Mereka menguping pembicaraan anak dan ayah ini.


“Kalau begitu tinggalkan Tante Winda!”


Tomi menatap anaknya tajam, “papi tidak bisa. Lebih baik kamu berhenti pacaran dengan Adira. Karena ia akan menjadi saudaramu.”


Sam mengelengkan kepalanya tidak percaya, “jadi ini yang mau liat Sam bahagia? Sam udah banyak mengalah, Pi. Sam juga sudah berubah sikap hingga Papi tidak menemui guru di sekolah lagi. Cuma ini yang Sam minta, Pi. Tolong jangan pisahkan Sam dengan Adira!”


“Mas, Tomi mau nikah lagi sama Mbak Winda?” gumam Anna.


Siska yang mendengar lekas menoleh ke madunya itu, “kamu kenal, Ann?”


“Iya, Mbak.” Anna menjatuhkan air matanya, “dia tempat Anna memesan kue. Ibunya Adira.”


Siska memeluk Anna. Ia juga merasa kesedihan yang sama dan nggak abis pikir kalau wanita itu mau dengan Tomi. Dari anggapan Siska kalau wanita ini tidak baik dan hanya ingin harta dari suaminya. Karena kebanyakan perempuan yang dekat dengan Tomi hanya memikirkan itu.


“Sam kamu masih muda dan tampan. Banyak gadis yang mau denganmu. Kenapa harus memaksakan Adira?”


“Oh, kalau gitu. Mengapa Papi ngotot maunya Tante Winda? Papi harusnya ingat umur. Papi nggak pernah mikirin perasaan kedua istri Papi yang lain. Papi hanya mengikuti nafsu bejat Papi aja. Papi itu berubah sejak Mami nggak ada.”


Sam terus menghakimi Tomi dengan kata-katanya. Nada suranya juga naik satu oktaf. Tomi juga mulai terselut emosi.


“Jaga ucapanmu Sam! Ini Papimu.” Tomi mengangkat tangannya ke udara. Ia ingin menampar Sam. Namun terhenti.


“Kenapa? Mau nampar? Ini tampar aja tampar!” Sam menunjuk-nunjuk pipinya.


“Sam,” gumam Tomi menurunkan tangannya lagi, “Papi nggak akan ubah keputusan ini. Kamu harus segera putuskan Adira.”


“Orang tua macam apa anda ini?” Mata Sam mulai berkaca-kaca, “anda lebih memilih kebahagian anda sendiri tanpa memikirkan saya?”


“Papi pikir Tante Winda yang selama ini Papi cari. Ia mirip almarhum Mamimu.”


Sam mengusap rambutnya ke belakang dengan dua tangan, “AAAAAA” ia berteriak kencang dan menghempaskan kedua tagannya itu.


Anna masuk begitu saja ke dalam kamar, “saya tidak merestui kalau Mas mau menikah lagi.”


Sam terkejut saat Mamanya masuk ke dalam.


“Saya nggak butuh restumu Anna.”


“Saya juga tidak merestui, Mas. Harusnya kamu memikirkan Sam saat ini bukan memikirkan dirimu sendiri. Karena anak-anakmu butuh kamu.” Siska ikut menambahkan.


“Eh... eh...” Tomi menunjuk-nujuk, “dengar ya kalian bertiga. Tidak ada satu orang pun yang bisa melarang saya menikahi Winda.”


“Papi juga harus tahu kalau Sam dan Dira tidak akan menyerah untuk terus bersama.” Setelah itu Sam melangkah pergi dengan pipinya yang sudah basah.


“Sam! Kamu dan Adira itu ingin menjadi saudara. Kalian tidak boleh pacaran!”


Teriakan dari pria paruh baya itu tidak digubris lagi oleh Abrisam. Cowok ini terus melangkah menuju luar rumah.


Sam menaiki motornya dan melanjukan kendaraan roda dua itu dengan cepat. Ia mengusap pipinya kasar. Emosi yang menguasainya membuatnya ugal-ugalan di jalan raya. Banyak pengendara lain memarahinya karena hampir tertabrak.

__ADS_1



udah greget belum sih woi? 😭


__ADS_2