He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 30


__ADS_3

Adira menutup pintu kamarnya sedikit keras. Dia masih memikirkan Abrisam. Lebih tepatnya memikirkan perubahan laki-laki itu.


“Kesambet apa sih itu anak?” gumam Dira.


Ia berjalan mendekati kasur dan melempar tasnya ke sana. Dira melepas dasi yang ia pakai. Tiba-tiba handphone-nya yang ada di dalam tas berbunyi. Dengan cepat Dira mengeluarkannya dan melihat pesan di sana.


Abrisam


Sayang, aku udah sampai rumah.


Adira bergidik, lalu membuang ponselnya ke atas kasurnya.


“Benaran kesambet ini orang. Besok harus gua bawa ke pak ustad buat dirukiyah.”


Dira berjalan mendekati lemari dan mengambil baju gantinya. Lagi, handphone-nya berbunyi. Kali ini berturut-turut pesan masuk. Ia hanya mendekati ponsel itu dan melihatnya sedikit karena memang belum dikeluarkan dari room chat tadi.


Abrisam


Kok nggak di balas?


Gue cuma mau ngasih tahu itu aja.


Jangan lupa makan


Minum juga biar nggak seret.


Karena sudah bingung dan kesal sama perhatian dari Sam yang tidak biasa ini. Dira meraih benda pipih yang tergeletak di atas kasur itu, lalu membalas pesannya.


Sekretaris resek


Lo kenapa sih? Aneh!


Jangan-jangan lo kesambet ya? Kemasukan jin bucin?


Kita ‘kan nggak pacaran. Jangan sok perhatian!


Lagi pula ini bukan di sekolah. Afraz juga nggak liat.


Dasar cowok aneh!


Abrisam yang membaca pesan itu di depan meja belajarnya tertawa saja. Ia memang iseng menjaili Adira. Membuat gadis itu bertanya-tanya akan sikapnya.


“Lucu juga ini anak.” Ia meletakkan ponsel di atas meja.

__ADS_1


Sam memandang helm yang ia pegang di tangan satunya. Itu helm pilihan Dira tadi di toko.


“Tapi kenapa gue nggak suka ya sama si Afraz itu kalau terlalu dekat dengan Dira.”


Cowok ini menggeleng kuat, “nggak! Masa gue suka benaran sama tuh cewek. Gue begini biar dia capek dekat gue dan akan bilang ke Pak Yuhdi kalau dia lebih baik dihukum dari pada ngerubah sikap gue.”


Sam meletakkan helmnya di kolong meja. Kemudian ia bangkit dan keluar dari kamarnya.



“Bawa bekal lagi, Dir?” tanya Violet yang baru ikut bergabung dengan membawa makanan yang baru di pesannya.


Dira mengaduk-aduk nasinya, “iya nih. Lagi hemat, usaha mama lagi menurun.”


“Boleh nggak coba?” tanya Vio memperhatikan kotak bekal yang ada di hadapan Dira.


“Nih.” Dira menggeser kotak makanannya ke depan Vio.


“Kebiasaan lo!” celetuk Yara.


“Biarin Dira aja nggak masalah.” Vio menjulurkan lidahnya. mengejek Yara, “masakan mamanya Dira itu enak sih.”


Violet menyuap satu sendok ke dalam mulutnya. Kemudian menggeser lagi kotok bekal itu ke Adira.


“Gimana lo sama Sam, Dir?” pertanyaan Yara membuat Dira berhenti menyuap makanannya.


“Masih, gue udah larang dia nganggap gue ini pacarnya, tapi itu anak malah balik ngancem. Selalu bawa-bawa Pak Yuhdi.”


“Pinter banget dia. Kalau kayak gitu lo pasti harus nurut aja,” ujar Yara menanggapi.


“Mana sikapnya masih begitu. Suka buat masalah. Kemarin UTS malah nyontek.”


Violet hanya menyimak sambil memakan somay yang tadi ia pesan.


“Waktu lo tambah sedikit buat ngerubah sikapnya, Dir. Inget batas yang Pak Yuhdi kasih buat lo,” ucap Yara sehabis menyeruput minumannya.


Adira terdiam, ia memikirkan perkataan Yara yang sebenarnya ada benarnya juga. Bagaimana ini? Makin lama waktunya makin tipis. Sedangkan Abrisam masih sama saja.


“Hayo ngegibahin gue ya?” seru Abrisam yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di sebelah Adira.


Dira menggeser sedikit duduknya, “apa sih lo? Tiba-tiba datang langsung nimbrung aja. Sana gih main sama teman-teman lo itu.”


“Kok lo ngusir pacar sendiri sih? Kata Bunda jadi cewek itu nggak boleh galak-galak,” tanya Sam yang menatap Dira dari samping.

__ADS_1


“Bodo! Lagian cowok kayak lo emang pantasnya digalakin.”


Sam menggeser botol yang ia pegang sedari tadi ke arah Dira.


“Diminum dulu, pasti lo seret ‘kan? Kurang baik apa gue jadi pacar.”


Dira menoleh, melihat botol itu dan Sam bergantian. Ia cepat-cepat menutup kotak bekalnya.


“Nggak perlu, gue punya minum sendiri.” Dira menunjukkan botol minum miliknya yang dibawa dari rumah.


Setelah itu ia beranjak pergi dari sana.


“Dira! Dira sayang mau ke mana? Kok gue ditinggal?” teriak Sam yang membuat Adira menggerutu sambil berjalan.


Karena teriakkan itu berhasil membuat Dira jadi pusat perhatian.


“Aw!”


Rintihan dari seseorang yang tidak sengaja Dira tabrak membuat langkah gadis itu berhenti.


“Maaf Pak, saya tidak sengaja.” Dira menunduk-nunduk memohon maaf.


“Nggak apa-apa. Lain kali liat-liat ya,” ucap guru itu.


Dira mendongak dan menghela napas, “makasih, Pak.” Ia tersenyum.


“Oh iya, Dira. Bapak ingin bertanya bagaimana dengan perubahan sikap Sam? Sudah ada perkembangannya?”


Adira menggigit bibir bawahnya saat pertanyaan yang sangat ia takuti itu terlontar dari mulutnya Pak Yuhdi sang guru BK.


“Maaf lagi nih, Pak. Belum ada perkembangan, tapi saya akan terus berusaha.”


“Nggak apa-apa, semua butuh proses. Kamu lakukan saja terus tugasmu. Karena kalau sikap Sam nggak berubah bagaimana pihak sekolah akan meluluskannya.”


Mau Sam lulus atau tidak itu bukan urusan Dira. Namun, gadis itu jadi merasa kasihan. Temannya itu akan tinggal kelas. Tertunda masuk ke universitas.


“Saya akan usahakan lagi, Pak. Sam pasti berubah.”


“Bapak percaya denganmu. Maka itu bapak memilihmu untuk jadi pengawas Sam. Kamu harus berhasil karena kalau tidak kamu juga dihukum.” Pak Yuhdi menepuk-nepuk bahu Dira sebentar, “saya pergi dulu.”


Dira tersenyum miris dan mengangguk. Pak Yuhdi berlalu pergi dari hadapannya.


Sam yang mengawasi dari balik tembok tertawa pelan menyaksikan Dira dan Pak Yuhdi yang berbincang.

__ADS_1


“Nggak semudah itu ngerubah gue Dira. Secepatnya gue akan bikin lo menyerah,” ucap Sam dengan suara pelan.



__ADS_2