
Gabriel menutup laptopnya dan membereskan semua barang miliknya. Adira juga merapikan buku-bukunya.
“Nanti malam Aku akan mengeprintnya. Kamu tinggal menunggu hasilnya saja,” ujar cowok itu memasukan barangnya ke dalam tas.
Adira mengangguk, “oke, thank you. Aku selalu terbantu kalau kerja kelompok bersamamu.”
Lelaki yang memiliki rahang tegas, pipi sedikit tirus, hidung mancung dan rambut pirang itu membalas, “Aku pun senang bisa meringankan bebanmu.”
Adira mengangguk dan tersenyum manis. Lelaki ini beralih pada arloji di tangannya. Jam menunjukan pukul empat sore.
“Aku harus pulang. Ini sudah sore,” ujar Gabriel berdiri dan memakai ranselnya kembali.
Dira ikut berdiri, “oke, hati-hati di jalan.”
Gabriel tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya ke arah pintu. Adira mengikuti dari belakang. Mengantarnya sampai keluar dari Apartemen.
Setelah melambaikan tangan dan sosok Gabriel hilang di tikungan tangga. Dira menutup pintu, lalu tangannya meraih ponsel yang sedari tadi ia biarkan tergeletak di meja.
Gadis ini kembali duduk di sofa dengan tangannya menyalakan ponsel. Ia melihat satu panggilan masuk dari Abrisam. Namun, ia tidak merasa mendengar benda pipih itu berdering.
“Oh pantas, gue nggak dengar Sam telepon. Masih di silent,” Adira mengatur dering handphone-nya untuk kembali berbunyi.
Ia mencoba menghubungi balik pacarnya itu. Namun, yang ia dapat jawaban dari operator. Ponsel milik Sam tak aktif.
“Maafin aku, Sam. Teleponmu nggak keangkat.” Adira merasa menyesal sendiri. Ia putuskan menelepon kekasihnya beberapa jam lagi. Mungkin saja sekarang sedang sibuk.
•••
Abrisam mengidupkan keran yang ada di depan ruangan praktiknya. Tangan besar dan jari-jari yang panjang ini penuh dengan minyak. Kelasnya baru saja menyelesaikan pelajaran terakhir di hari ini.
“Sam ini punya lo.” Tania datang dan memberikan ransel serta jaket milik cowok itu.
Sam mematikan keran, lalu berdiri tegak kembali. Ia menerima tas dan jaketnya dari tangan Tania.
“Makasih.” Abrisam memakai kembali jaket denimnya dan memasang ransel di kedua bahunya “ayo balik!”
Tania yang diajak Sam ini hanya mengangguk, lalu mengikuti cowok itu yang sudah jalan lebih dulu.
Setelah sampai di Parkiran Sam baru sadar kalau Tania mengikutinya.
“Kok lo ngikutin gue ke parkiran? Sekarang udah punya motor?” beberapa pertanyaan dilontarkan oleh leleki itu.
Tania menggeleng, “dari pada beli motor mending uangnya untuk Ibu berobat.”
__ADS_1
“Terus ngapain?” tanya Sam yang kini sudah duduk di atas motor dan sedang memasang helm ke kepala.
Gadis dengan rambut selalu dikuncir kuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitarnya. Ia mencari seseorang.
“Gue ini nyariin Jodi, mau nebeng ke depan.”
Sam melihat ke arah motor-motor yang masih tersisa di sana. Kemudian ia menatap teman perempuannya itu.
“Motornya aja udah nggak ada. Mungkin, udah pulang duluan.”
Tania terlihat lemas menggetahui itu, “yaah, masa gue harus jalan ke depan? Coba angkotnya bisa masuk ke dalam kampus.”
Abrisam tertawa sedikit. Tania yang mengetahui itu mendengus.
“Nggak lucu ya, Sam.” Gadis ini menghela napas, “kalau gitu gue jalan aja deh. Hitung-hitung olahraga sore.”
Baru saja Tania melangkahkan kakinya untuk meninggalkan parkiran Sam tiba-tiba memanggil.
“Tan!”
Gadis itu berhenti berjalan dan menoleh ke belakang.
“Apa? Kalau cuma mau ngejekin besok aja deh. Takut kesorean sampai rumah.”
Mata Tania berbinar, “benaran lo? Cius?”
Cowok yang sudah siap akan menyalakan mesin motornya itu mengangguk, “benaran. Mau nggak?”
“Boleh deh. Lumayan bisa ngirit.” Tania tertawa malu-malu.
Sam mengendarai motornya ke arah Tania berdiri. Kemudian berhenti lagi, lalu memberikan helm kuning yang biasa Adira pakai.
Tania menerima helmnya dan memakai, kemudian ia segera naik ke atas jok motor.
“Sudah siap?” tanya Sam melihat dari spion motornya.
“Sudah, let's go!” seru Tania menepuk kedua bahu Abrisam.
•••
Akhirnya Abrisam sampai di rumahnya. Karena rumah Tania tidak searah dengannya, cowok itu pulang sedikit lebih lama dari waktu yang diperkirakan.
Sam memarkirkan motornya dan melempar kunci pada satpam yang menjaga rumah, “tolong masukin garasi ya, Pak!”
__ADS_1
Satpam itu mengangguk, “baik, Den.”
Ketika menginjakkan kakinya di teras rumah. Sam mendapati Adiknya yang berumur hampir 9 tahun itu sedang bermain.
“Yasmin... Kangen!” Sam mendekati anak perempuan yang sedang asik dengan boneka-boneka barbienya ini.
Yasmin yang melihat Abrisam merentangkan tangan seperti ingin memeluknya segera menghindar.
“Abang nggak mau! Abang bau asem!” teriaknya berusaha menghindar. Namun, Sam sudah memeluk tubuhnya.
“Abang wangi, dek!” Bukannya melepas dan menyudahi aksinya Sam makin menjadi. Ia senang sekali mengusili adik satu-satunya itu.
“Aaaaa... Bunda! Tolong Yasmin!” teriak Yasmin yang membuat Sam tertawa.
Sebenarnya sekarang Abrisam tidak sebau yang Yasmin kira. Namun, anak yang duduk di bangku kelas 4 SD itu hanya trauma oleh kejadian beberapa bulan yang lalu. Abangnya ini pernah memeluknya saat keadaan berkeringat sehabis olahraga. Keringat yang banyak itu menghasilkan bau yang tidak sedap. Dari situlah Yasmin kapok dipeluk oleh Sam.
“Ada apa sih ribut-ribut?” suara berisik itu memancing Siska keluar dari rumahnya.
Wanita berhijab itu memergoki Sam yang sedang memeluk Yasmin. Sedangkan putrinya ini memberontak memohon untuk menyudahi pelukan itu.
“Bunda ini abangnya! Yasmin nggak mau dipeluk,” adu anak itu yang hampir menangis.
“Lepas, Sam!” Siska menepuk lengan Sam, “senang betul bikin adiknya nangis.”
Abrisam tertawa dan melepas pelukannya. Yasmin menatapnya sinis dengan mengusap matanya yang sudah sedikit berair.
“Habisnya, Yasmin sensi banget sama Sam,” ujar cowok ini membela dirinya.
“Makanya kamu mandi dulu kalau mau meluk-meluk dia. Takut dia sama bau badanmu itu.” Siska malah mengomeli anak laki-lakinya.
Sam mengendus bau tubuhnya, “masih wangi gini, Bun."
Ia menatap ke arah Yasmin lagi. Namun, gadis kecil itu menatapnya dengan bibir bawah digigit. Sam menggelengkan kepalanya sambil tertawa tanpa suara, lalu bangkit untuk berdiri.
“Ya sudah, Sam masuk dulu ya, Bun!”
Siska mengangguk, “jangan lupa mandi!” teriaknya.
Abrisam tidak menjawabnya. Cowok yang duduk di bangku kuliah semester 3 ini terus melangkah menuju kamarnya.
•••
Note Author:
__ADS_1
part ini nyantai dulu dikit. Lemesin dulu urat-uratnya wkwk 😹