
Nama yang tidak asing terdengar di telinga Abrisam menuntun laki-laki ini untuk berjalan ke sumbernya. Matanya berusah melihat sosok yang dipanggil itu.
Namun langkah itu harus terhenti dengan beberapa orang yang menghalangi jalannya. Sam sangat penasaran ingin memastikan siapa yang dimaksud oleh orang itu.
Cowok berpostur tubuh tinggi ini dari kejauhan melihat seorang wanita berambut panjang bergelombang terurai sampai di punggung. Namun, sayang ia tidak bisa melihat wanita yang berdiri di bar itu. Sam hanya bisa memandangi tubuh berdress ketat itu membelakangi pengunjung.
“Sam!” Abrisam terkejut saat pundaknya di rangkul seseorang.
“Bikin kaget aja lo.” Jodi cengengesan dengan ikut melihat-lihat apa yang tadi temannya itu perhatikan.
“Lo tadi liat apa sih?” tanya Jodi menatap Sam.
Sam menatap ke depan untuk mencari sosok yang ia lihat. Namun, gadis itu sudah tidak ada di tempatnya.
“Bukan apa-apa,” jawab Sam kemudian.
“Ya sudah, ayo gabung sama yang lain!” Jodi menarik leher Sam yang ia jepit, “mereka udah pesan makanan tuh.”
Sambil berjalan Sam masih melihat ke arah meja bar. Ia nggak mungkin salah dengar. Namun, yang jadi pertanyaan itu Tania temannya atau bukan.
•••
Abrisam melihat Tania sedang berjalan menuju kelasnya. Cowok ini lekas berlari untuk menyusul cewek itu. Tania menoleh ke samping ketika menyadari keberadaan Sam.
“Pagi!” sapa Sam mencoba berbasa-basi. Ia tersenyum, lalu matanya curi curi pandang pada rambut dan tubuh teman perempuannya ini.
“Pagi juga, Sam. Sudah sarapan?” tanya Tania tanpa menghentikan langkahnya.
“Rambutnya sama panjang, tapi nggak gelombang. Rambut Tania lurus.” Sam berbicara dalam hatinya.
Tania yang merasa diabaikan cowok itu. Menghentikan langkah dengan tangan mencengram tangan Sam.
Lelaki itu tersadar dan ikut berhenti berjalan, “ada apa?”
“Harusnya gue yang nanya, ada apa? Dari tadi lo mikirin apaan?” Tania melepas genggamannya di pergelangan Sam, kemudian memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaket.
Sam mencoba bersikap biasa saja, “maaf, tadi gue lagi mikirin Adira.”
Abrisam terpaksa mengarang alasan agar temannya ini tidak curiga.
“Ada apa? Kalian bertengkar?” tanya Tania lagi.
__ADS_1
Sam menggeleng, “cuma kepikiran aja. Btw, lo tadi malam ke club ya?”
“Hah?” Tania terkejut dengan pertanyaan Sam.
Gadis itu bergeming beberapa saat. Sam masih menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut cewek itu.
“Gue nggak ke mana-mana. Gue ‘kan udah bilang sama kalian kalau malam gue harus jaga ibu,” jelas Tania dengan santai.
“Tapi gue dengar nama lo dipanggil orang.”
Tania tertawa, “Sam-sam, lucu lo. Di Jakarta ini nama Tania bukan gue aja. Mungkin ada beratus-ratus orang yang namanya sama.”
Abrisam tersenyum canggung. Ia jadi malu sendiri. Mengapa pikirannya terlalu sempit.
“Baguslah, lo nggak ke tempat seperti itu. Nggak baik buat cewek,” ujarnya mengingatkan.
Tania berhenti tertawa, “gue juga nggak pernah ke sana. Lo sendiri ngapain ke situ?”
Gadis ini menatap Sam curiga.
“Ngapa liatnya begitu? Gue cuma makan dan minum. Nggak macem-macem. Anak-anak yang maksa buat mampir ke situ.”
“Sembarangan, kita tuh ke sana malah mesen jus. Gue ini harus jaga hati buat Adira seorang.”
Cewek yang menyimak perkataan Sam itu, mencibir.
“Bucin.” Ledeknya, lalu berjalan kembali.
“Tulus bukan bucin!” sorak Sam dengan melangkah mengekori Tania.
•••
“Bunda, Nay main sepedaan dulu ya!” teriak Kanaya dari depan pintu rumahnya.
“Jangan pulang kemalaman!” teriak sang Bunda dari dalam.
“Oke!” Kanaya membalas lagi, lalu berlari mendekati sepedanya yang terparkir di halaman rumah.
Baru saja akan naik ke sepedanya handphone yang ada di tas kecil Naya berbunyi. Gadis itu mengurungkan niatnya dan menjawab dahulu telepon yang baru masuk itu.
“Halo Adira!”
__ADS_1
Ternyata itu telepon dari Adira. Dira dan Naya masih sering komunikasi. Seiring jalannya waktu sahabat perempuan Sam ini menjadi sahabatnya pula.
“Apa kabar, Nay? Udah lama kita nggak ngobrol,” tanya Adira dari tempatnya yang jauh di sana.
“Baik, kamu gimana?”
“Aku baik. Bagaimana dengan Sam? Kamu masih sering main ke rumahnya?” tanya Adira lagi. Gadis itu memang sering menanyakan kabar pacarnya sendiri dari Kanaya.
“Kemarin Aku teleponan sama dia. Sam sehat-sehat aja, tapi Aku belum sempat main ke rumahnya. Biasalah, banyak tugas kuliah Aku.”
“Oh begitu, kalau ada yang mencurigakan dari Sam, lapor gue ya, Nay! Jangan ditutup-tutupin. Kayak Manha yang bilang Sam nggak macem-macem terus tiap di telepon. Nggak detail.”
“Oke, Aku ‘kan selalu cerita sama kamu. Lagi pula kalau Sam sampai macem-macem bakal Aku marahin,” ucap Kanaya yang selalu bisa diandalkan.
Sebagai pendukung nomer satu hubungan Sam dan Dira. Naya memang selalu berharap mereka langgeng terus sampai ke pelaminan. Gadis ini tidak mau melihat kesedihan dari keduanya. Apa lagi mereka itu sama-sama sahabatnya.
“Dira udah dulu ya. Aku mau sepedaan dulu keliling kompleks,” pamit Kanaya yang akan mengakhiri teleponnya.
“Kamu lewat rumah Sam ‘kan? Sekalian mampir ya, Nay!”
Rumah Sam dan Naya dari dulu memang berjarak tidak terlalu jauh. Kalau pakai sepeda sepuluh menit juga sampai.
“Siap.”
“Makasih, Nay. Bye!”
Kanaya menyimpan kembali poselnya ke dalam tas kecil. Ia menaiki sepeda dan mulai mengayuhnya meninggal rumah.
Sampai di rumah sahabat masa kecilnya itu. Kanaya memarkirkan sepedahnya. Ia melihat motor yang tidak ia kenal terparkir di samping motor milik Sam. Gadis ini melihat ke arah pintu. Tampak ramai sekali di dalam. Namun, gadis yang sempat digosipkan berpacaran denga Afraz itu tetap masuk ke dalam rumah Abrisam.
Omong-omong soal Afraz. Cowok yang selalu cemburu dengan kedekatan Sam dan Dira ini sekarang ada di London. Ia mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan di sana. Cowok itu terpaksa meninggalkan teman-temannya termasuk Naya. Kanaya tidak pernah berharap lebih pada lelaki itu. Ia dekat karena mengawasi Afraz yang dicurigai akan mengganggu hubungan Sam dan Dira.
“Assalammualikum, Sam!” seru Naya dari depan pintu rumah.
Abrisam yang sedang asik dengan kedua temannya itu menoleh ke sumber suara. Jodi dan Tania ikut menoleh ke arah pintu besar yang terbuka itu.
“Masuk!” teriak Sam dari dalam. Dia sudah hafal suara siapa itu.
Kanaya yang sudah dibolehkan masuk lekas berlari kecil menghampir Sam. Namun, melihat cowok itu berkumpul dengan teman-temannya, senyum di bibir tipis gadis ini memudar. Matanya tertuju pada Tania yang duduk di sebelah Abrisam.
•••
__ADS_1