He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 26


__ADS_3

Abrisam sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Dasi kupu-kupu melengkapi gaya tampilannya malam ini. Kali ini lelaki itu membawa mobil putihnya. Ia tidak mungkin harus membawa motor. Pasti Adira akan ribet dengan gaunnya itu.


Abrisam


Sayang aku udah di depan rumahmu. Aku tunggu di sini aja ya.


Sam mengirim pesan singkat ke kekasihnya itu. Ia menoleh ke arah pintu rumah Adira yang masih tertutup rapat dari jendela mobil yang terbuka.


Tak lama Sam mendapat balasan. Cowok ini lekas membacanya.


Adira


Sebenatar ya, Sam. Aku masih memasang anting-anting.


Abrisam


Siap bosku!


Wanita memang rempong kalau sudah akan pergi ke mana pun. Sam hanya perlu sabar menunggunya. Padahal jam terus berputar dan sekarang sudah pukul 07:15. Baru saja akan menyimpan ponselnya ke saku jasnya. Benda pipih itu berbunyi lagi.


Tertera nama Tania di layar ponselnya. Sam ragu akan mengangkatnya. Namun, handphone-nya terus saja berdering. Akhirnya karena merasa cemas lelaki ini menerima panggilan telepon itu.


“Ada apa Tania?”


[Sam lo di mana? Tolong gue!] mendengar suara isakan gadis itu dari seberang sana. Sam menjadi tambah kahwatir.


“Lo kenapa, Tan? Sekarang lo di mana?”


[Tolongin gue, Sam! Ada pengunjung club yang gangguin gue. Sekarang mereka ngejar gue sampai ke luar.] Tania masih terus menangis sambil menjelaskan keadaannya.


“Lo sementara cari tempat sembunyi! Sepuluh menit lagi gue sampai di sana.” Setelah berbicara seperti itu, Sam mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu menyimpan alat komunikasi jarak jauh itu.


Ia mengidupkan mesin mobilnya lagi. Pemuda ini sempat melihat ke arah rumah Adira yang pintunya juga belum terbuka. Lelaki ini langsung tancap gas saja.


Adira baru saja keluar dari rumahnya dengan dress selutut dan rambut yang sudah ditata rapi. Namun, matanya menangkap kepergian mobil putih milik Sam.


“Loh? Loh? Sam! Aku kok ditinggal?” teriak Adira berusaha memanggilnya. Seperkian detik sebuah pesan masuk ke ponsel yang Adira pegang.


Abrisam


Maaf sayang, sepertinya dinner kita harus diundur. Aku harus tolong Tania. Dia diganggu orang jahat. Nggak apa-apa ‘kan? Aku harap kamu mengerti.


Adira menghempaskan tangannya. Ia menjadi kesal. Baru saja lelaki itu meminta maaf, tapi sekarang sudah membuat kesalahan lagi.


“Apa sepenting itu Tania buat kamu?” gumam Adira dengan yang wajahnya sudah ditekuk.


Gadis cantik ini kembali masuk ke rumahnya. Ia menadapat sambutan dari Dimas yang ingin pergi ke dapur.


“Kok lo balik lagi? Nggak jadi pergi sama Sam?” Dimas melontarkan banyak pertanyaan.


“Tau ah, BT gue!” Adira terus berjalan memasuki kamarnya.


Dahi Dimas berkerut melihat respon adiknya. Padahal belum ada lima menit Adira terlihat bahagia. Sampai senyum pun tak putus, tapi sekarang sudah berubah drastis.

__ADS_1


“Adikmu nggak jadi pergi?” tanya Winda yang menghapiri Dimas karena mendengar suara pintu kamar yang Adira banting.


“Nggak kayaknya, Ma. Dia kelihatan kesal gitu. Mungkin berantem lagi sama Sam?”


“Ya sudah, nanti Mama coba lihat dia”


•••


Abrisam sudah sampai di depan club. Sesudah memarkirkan mobilnya ia lekas mencari Tania. Ia menggunakan handphone untuk melihat lokasi gadis itu.


Ada di belakang club dari titik yang Sam lihat dari layar ponselnya. Lantas lelaki ini berlari ke arah belakang.


Jalanannya sepi, Sam menyusuri jalan yang diterangi lampu remang-remang itu. Orang yang mengganggu Tania juga tidak terlihat.


“Tolong!”


Sam menyimpan ponsel saat mendengar suara Tania meminta pertolongan. Pemuda ini lekas berlari menuju sumbernya.


Di sana lengan Tania sudah dipegangi dua orang laki-laki. Gadis itu terus memberontak berusaha melepaskan diri. Namun, orang-orang itu terlalu besar darinya.


Sam berjalan mendekat sambil melepas kancing jasnya. Ia mengendurkan dasi yang ada di leher.


“Lepasin dia!”


“Siapa lo? Jangan ikut campur!”


“Dia itu bartender bukan wanita penghibur. Apa kalian ini nggak tahu tugas bartender itu apa?” Sam meludah sambil tertawa meremehkan, “orang-orang kayak kalian ini malah mengerti begitu ‘kan? Pikirannya kotor terus.” Ia menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.


“Banyak bacot lo!”


Melihat kawannya mulai kewalahan menghadapi Sam. Lelaki yang satunya ikut membantu menyerang.


Tania yang sudah lepas lekas menepi. Ia takut terkena pukulan mereka yang sedang berkelahi. Dalam benaknya ia terus mendoakan Sam agar temannya itu bisa selamat.


Kedua orang itu tersungkur di jalan akibat melawan Abrisam.


“Masih mau lagi?” tanya Sam yang pelipisnya sudah dipenuhi keringat.


“Ampun, Bang.” Kedua lelaki pengganggu itu buru-buru pergi sampai terjatuh-jatuh saat ingin bangkit.


Abrisam tertawa melihat kelakuan dua orang itu. Namun, pelukan tiba-tiba dari Tania membuatnya terkejut dan mengangkat kedua tangan.


“Makasih, Sam. Untung lo datang buat selamatin gue.”


“Sama-sama.” Pemuda itu sedikit risih saat tubuhnya terus Tania peluk dengan erat, “tapi bisa nggak pelukannya udahan?”


Tania cepat melepas pelukan itu. Dengan malu-malu ia menatap Sam, “maaf nggak sengaja. Sangking gue senang banget. Malah jadi peluk lo.”


“Ya udah nggak apa-apa. Bagaimana keadaan lo? Lo belum diapa-apain mereka ‘kan?”


Tania menggeleng, “syukurnya mereka belum sempat macem-macem sih.”


“Syukurlah, pokoknya malam ini lo harus undur diri dari pekerjaan itu! Kali ini nggak boleh membantah omongan gue.”

__ADS_1


“Oke, kali ini gue nurut, tapi bagaimana kalau gue butuh uang? Gue ‘kan nggak bisa kerja di siang hari. Lo tahu jadwal kuliah kita nggak menentu.”


“Nanti gue cariin kerja. Kalau perlu gue kasih uang lo! Ayo ikut!” Sam menarik sebelah tangan Tania untuk kembali ke club.


•••


Tania yang duduk di atas kap mobil Sam tersenyum melihat kedatangan lelaki itu.


“Minum dulu!” Abirsam memberikan sebotol minuman pada temannya ini. Ia juga ikut duduk di sebelah Tania.


Tadi Sam sempat marah-marah dengan manager club itu. Akhirnya Tania mengundurkan diri dengan mendapat uang pesangon sekalian sebagai permintaan maaf karena teledor mengawasi karyawannya.


“Makasih ya sekali lagi udah nolongin gue. Gue tadi itu bingung mau minta tolong siapa lagi. Orang-orang itu nggak peduli sama teriakan gue. Yang gue ingat cuma lo.”


Sam menutup botol minumnya saat selesai menyesap isi minuman itu.


“Sama-sama, lo ‘kan teman gue. Kita harus saling membantu. Apa lagi ibu lo udah nitipin lo sama gue. Gue jadi merasa memegang amanah yang besar.”


“BTW, sebenarnya lo mau ke mana? Kok pakai jas dan tampilannya formal gini?” tanya Tania yang menunjuk baju Sam.


Lelaki itu menepuk dahinya, “gue baru ingat. Tadi gue ninggalin Dira gitu aja. Padahal gue ada janji mau dinner malam ini.”


“Jadi kalian itu mau pergi? Tapi gue malah gangguin rencana kalian.” Tania menundukkan kepalanya, “maaf Sam, gue nggak bermaksud.”


“Udah nggak apa-apa. Tadi gue udah kirim chat sih ke Dira. Mudah-mudahan aja dia mengerti kalau ini darurat.” Sam berbicara sambil menatap Tania, “lo nggak usah pikirin ini semua biar gue aja yang ngurus.”


“Kalau begitu ayo kita pulang!” Tania segera turun dari kap mobil, “malam ini juga lo harus minta maaf ke Dira! Makin cepat makin bagus. Gue takut dia salah paham.”


Sam ikut turun. Melempar botol yang telah kosong ke tong sampah dari jarak jauh.


“Ayo, gue antar lo pulang dulu!”


Tania menggeleng, “nggak perlu, gue pulang sendiri aja.”


“Gue nggak akan ngebiarin lo pulang dengan baju begini Tania.” Sam menunjuk pakaian gadis itu. Tania memajukan sedikit bibirnya, “sudah ayo nggak usah nolak lagi!”


Abrisam berjalan ke sisi kiri mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk Tania.


“Cepat masuk!”


Dengan terpaksa Tania patuh. Ia masuk ke mobil itu dan duduk di kursi penumpang. Sam menutup pintu mobilnya lagi, lalu berlari ke sisi yang satunya.


Beberapa detik kemudian mobil itu melaju meninggalkan kawasan club.


•••


Note:


Banyak yg protes kenapa sih ada phonya? Begini-begitu, hei hidup itu gak ada yg mulus-mulus aja. Setiap cerita pasti ada konfliknya. Walau tania dan gabriel adalah pengganggu hubungan orang mereka tetap tokoh penting di sini. jadi nikmati aja prosesnya. aku udah mikirin cerita ini mau gimana kok gaes, tapi sabar ya. Semoga gak mengecewakan akhirnya.


aku gak akan jadiin Sam sama Tania kok. tapi aku akan jadiin Sam sama aku aja hahaha🤣


Aku terima kasih banyak buat pembaca he is abrisam, masih setia baca karyaku ini. Jangan bosen-bosen ya gaes walau ceritanya agak ngeselin wkwk.

__ADS_1


sampai bertemu di bab berikutnya~


__ADS_2