
Sesampainya di Kantin Abrisam melihat kedua sahabat karibnya sudah duduk di salah satu meja yang ada di sana.
“Wes, Bro. Udah ada di sini aja. Nggak ada kelas?” tanya Sam duduk berhadapan dengan Emran.
Emran, si lelaki berkumis tipis dan menggunakan kacamata itu menggeleng, “baru kelar gue. Makanya bisa nyamperin lo.”
Teman SMA Sam yang satu ini memang sengaja merubah gaya berpenampilannya. Ia menumbukan kumis dan selalu pakai kacamata sekarang. Kalau kata Sam banyak gaya, tapi pacar juga belum punya.
“Lo, Ha? Nggak ada kelas?” tanya Sam pada Manha yang sedang makan. Tania yang duduk di sebalah Sam juga melihat ke Manha.
“Satu jam lagi. Ini diajak-in si kampret satu ini buat temui lo.” Sambil mengunyah Manha menunjuk Emran dengan bibir dimajukan.
Manha tidak banyak yang berubah. Cuma rambutnya sudah sedikit panjang saja karena belum sempat cukuran lagi. Dari ketiga cowok yang bersahabat dari SMA itu hanya Manha yang mengambil jurusan dengan alasan yang sedikit lucu.
Cowok yang rambutnya sudah menutupi tengkuk dan menyentuh telinga ini memilih jurusan Bimbingan Konseling alias BK. Padahal zaman SMA-nya sering masuk BK. Alasannya ia ingin mencetak sejarah yang berbeda. Jarang-jarang guru BK alumni dari tersangka yang sering masuk ruangan keramat itu. Ia juga ingin membuat muridnya yang nakal jera dengan caranya sendiri.
Emang sedikit aneh anak satu itu, tapi ya sudahlah Emran dan Sam selalu mendukungnya untuk meraih impian itu.
“Kapan nih kita pesan makanan?” tanya Jodi yang membuat semua di meja itu mentapnya.
“Pesan aja kali Jod! Nggak ada yang larang,” tutur Emran.
Emran dan Manha memang sudah kenal pada teman sekelas Sam ini. Terutama Jodi dan Tania.
“Oke, gue pesan. Lo mau nitip nggak, Tan?” tanya Jodi saat ia sudah berdiri.
Tania menatap Sam, “lo mau pesan juga, Sam?”
“Gue pesan sendiri deh,” ujar Sam yang melihat ke arah Jodi.
“Gue juga,” sambar Tania cepat.
“Kalau gitu gue duluan.” Jodi pergi sendiri menghampiri penjual yang berjajar di kantin itu.
Abrisam membuka tasnya dan mengambil dompet, lalu memindahkannya ke saku. Ia menutup lagi resleting tas.
“Gue titip ya!” ujarnya menunjuk ransel di meja, saat berdiri, pada Emran.
Emran yang sedang memakan isi es cendol itu mengangguk. Abrisam melangkah pergi dan Tania mengekorinya. Gadis ini memang senang berdekatan dengan Sam.
Manha memperhatikan saja kedua orang itu pergi.
“Lo perhatiin nggak sih?” Emran menoleh padanya, “itu si Tania ngintilin Sam mulu. Dia ‘kan tahu Sam bukan jomblo.”
__ADS_1
“Tiap hari ‘kan memang begitu kalau di kampus. Lo nggak tahu Sam aja. Waktu SMA semua cewek suka sama dia, tapi cuma Adira doang yang berhasil bikin Sam bucin.”
“Bukannya apa-apa, gue yang terus jadi sasaran Adira buat nanya-nanya soal Sam. Kalau gue kasih tahu aslinya takut hubungan mereka jadi ribut,” ucap Manha menyampaikan yang selama ini ia rasakan.
“Ya nggak usah dikasih tahu dodol!” Emran menempeleng kepala Manha, “kita ini sahabatnya Sam bukan Adira. Kita kenal Sam udah lama. Jadi, kasih tahu aja kalau Sam nggak macem-macem di sini.”
“Pada ngomongin apa sih? Ngomongin gue ya?” tanya Jodi yang kembali bergabung setelah mendapatkan seporsi batagor dan es cendol.
“Idih, PD benar lo, Jod.” Seru Manha, “hidup lo nggak ada yang menarik buat kita omongin.”
•••
Adira melangkah keluar dari kelasnya. Hari ini mata kuliahnya sudah selesai. Ia akan kembali pulang ke Apartemen.
“Hi Adira!”
“Hello Dira!”
Sambil melangkahkan sepasang kakinya menuju luar kampus Dira juga harus tersenyum dan membalas beberapa sapaan dari orang yang ia kenal.
Adira memang cukup terkenal di kampusnya karena ia lumayan aktif di organisasi.
“Adira! Adira, tunggu sebentar!” terdengar suara seseorang yang sudah tidak asing bagi Dira. Suara lelaki dengan bicara Indonesia. Namun, memakai logan inggris.
Adira menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, “ada apa Gabriel?”
“Hari ini kamu harus kerja kelompak denganku. Kamu lupa?” tanyanya memastikan ingatan Adira.
Dira berpikir sebentar, setelahnya ia tertawa kecil dengan kepala menggeleng.
“Sorry, I really forgot. if we still have unfinished tasks,” ujar Adira yang tampak menyesal.
(Maaf, saya benar-benar lupa. Kalau kita masih ada tugas yang belum selesai.)
“No problem, di mana kita akan mengerjakannya?” tanya Gabriel.
“Bagaimana kalau di Apartemenku saja? Aku masih punya banyak pekerjaan rumah yang lain. Tidak bisa pergi ke tempat lain lagi."
Gabriel mengedikkan kedua bahunya, “aku mengikutimu saja.”
Setelah itu Adira berjalan beriringan dengan Gabriel keluar dari kampusnya. Mereka memang satu kelas. Akrab karena Gabriel juga keturunan Indonesia. Cowok itu juga pasih bahasa Indonesia.
Lelaki keturunan Indonesia-Australia ini pernah tinggal di Indonesia selama 10 tahun. Jadi, wajar saja ia bisa berbicara bahasa itu. Walau terdengar kaku dan baku.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit menggunakan bus akhirnya mereka sampai di Apartemen Dira. Perlu menaiki tangga satu kali barulah mereka menemui tempat tinggal Adira yang ukurannya tidak seberapa besar. Hanya ada ruang tamu, satu kamar, dapur kecil serta kamar mandi. Pas-pasan sekali.
Selama berteman dengan Adira, Gabriel baru satu kali ke tempat itu. Sekitar satu tahun yang lalu dan ini kedua kalinya.
“Duduk dulu! Kamu mau minum apa?” tanya Adira sambil berjalan ke kamarnya.
Gabriel menjatuhkan bokongnya ke sofa ukuran kecil, muat 2 orang dan Dira hanya punya satu sofa serta satu meja di depan sofa.
“Apa kamu punya minuman dingin? Aku mau itu,” jawab Gabriel sambil mengeluarkan buku dan laptopnya.
“Aku punya. Sebentar akan aku ambilkan untukmu!” teriak Adira dari dalam.
Adira mengganti banjunya menggunakan kaus yang lebih longgar. Ia mengambil alat tulis dan keluar lagi dari kamar sempit ini.
Gadis itu meletakkan bukunya ke atas meja. Ia melihat Gabriel sudah sibuk dengan sebuah laptop.
“Tugas kita ada di laptopmu bukan?” tanya Dira sambil berjalan ke arah dapur.
“Iya, tinggal setengah lagi selesai.”
Adira membuka kulkas dan mengambil dua minuman kaleng dari sana. Ia berjalan menghampiri Gabriel lagi.
“Ini minuman untukmu.” Dira meletakkan minuman itu di atas meja. Kemudian duduk bersebelahan dengan teman laki-lakinya ini, “untung saja kamu mengingatkanku kalau masih ada tugas. Aku benar-benar lupa tadinya.”
Gabriel tertawa dan mengalihkan perhatiannya pada laptop, lalu menatap Adira.
“Aku sudah mengira. Tugas kita banyak sekali. Wajar kamu lupa.”
Adira membuka minuman kalengnya sambil mendengarkan cowok di sampingnya ini.
“Ayo kita kerjakan!” ajak Adira menyadarkan Gabriel yang terus menatapnya.
Cowok bule itu kembali menatap laptopnya. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing yang sebelumnya sudah dibagi.
Adira tiba-tiba berhenti membacakan buku yang isinya sedang disalin ke laptop.
“Aku ingin ke kamar mandi. Boleh?” tanya gadis ini membuat Gabriel tertawa tanpa suara.
“Tentu saja. Silakan!”
“Oke, lima menit saja.” Adira lalu berlari menuju kamar mandinya.
Namun, handphone-nya yang tergeletak di meja tiba-tiba bergetar. Adira masih mensilent ponselnya. Gabriel yang mengetahui benda pipih itu menyala lekas meliriknya.
__ADS_1
Tertera nama Abrisam di layar ponsel. Namun, bukan bantu mengangkatnya cowok dengan kulit putih itu mematikan sambungan telepon. Kemudian fokus lagi mengerjakan tugasnya.
•••