He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 40


__ADS_3

Winda berjalan masuk ke dalam kantor dengan menenteng kantung plastik berisi tiga kotak kue pesanan Tomi. Ia lekas ke meja resepsionis.


“Maaf mbak, saya mau bertemu dengan Pak Tomi.”


“Oh ibu Winda ya?” ditanya seperti itu Winda mengangguk, “sudah ditunggu Pak Tomi di ruangannya, Bu.”


“Begitu, kalau gitu saja permisi. Mau langsung ke sana.”


Karyawan itu tersenyum ramah, “silakan, Bu.”


Tok... tok...


Winda mengetuk beberapa kali pintu itu, “permisi!”


“Masuk!”


Saat mendengar sahutan dari dalam Winda lekas membuka pintu dan masuk ke ruangan yang terasa dingin itu.


“Eh, kamu Winda. Silakan duduk!” Tomi menunjuk sofa di depannya dan duduk lebih dulu.


Winda tersenyum dan meletakkan kue di meja sebelum ia benar-benar duduk.


“Saya mau mengantarkan pesanan Bapak.”


“Terima kasih.” Tomi menarik keresek itu lebih dekat dan memeriksa kuenya, “oke, lengkap. Berapa semuanya?”


“450 ribu saja, Pak.”


Tomi mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar ke Winda.


“Nggak ada uang pas saja, Pak? Saya nggak ada kembaliannya,” tanya Winda dengan melihatkan uang yang ia terima.


“Sudah kamu ambil saja semua, Win.”


“Jadi nggak enak saya dikasih bonus terus.”


“Nggak apa-apa. Semua kue kamu ini enak. Pantas saya kasih bonus.” Tomi tersenyum diakhir kalimatnya.


“Saya terima uangnya, Pak.” Winda menyimpan uang itu di saku, “izin pamit pulang. Masih ada pesanan untuk besok yang belum selesai.”


Tomi ikut berdiri saat wanita itu berdiri dari duduknya.


“Sayang sekali padahal saya ingin mengobrol lebih banyak dengan kamu.”


Winda tersenyum kikuk, “maaf pak mungkin lain kali.”


“Baiklah, hati-hati di jalan Winda.”


Janda yang sudah menginjak kepala empat itu mengangguk dan jalan keluar dari ruangan Tomi.


Setelah tidak dapat menangkap sosok Winda, pria ini melangkah mendekati telepon yang ada di atas meja kerjanya.


“Fani cepat ke ruangan saya!” ia menelepon sekretarisnya.


“Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita dengan rambut di cepol itu setelah masuk ke ruangan CEO ini.


“Itu ada kue.” Tunjuk Tomi pada meja di depan sofa, “tolong kamu salin beberapa, dicampur saja. Terus antarkan lagi kemari. Sisanya kamu bagikan ke karyawan lain. Kalau kamu mau, boleh, ambil saja.”


“Baik, Pak.” Fani segera melangkahkan kaki jenjangnya untuk mengambil keresek di meja.


“Oh iya,” ujar Tomi membuat Fani menoleh. Pria itu sudah duduk di kursi kebesarannya lagi, “buatkan juga saya kopi. Seperti biasa takarannya.”


Fani menundukan kepala dan mengangguk sekilas, “baik, Pak.”


Wanita dengan kulit putih dan glowing itu lekas keluar dari ruangan dengan membawa kotak-kotak kue yang ada di dalam kresek.



Hari ini Adira membawa Abrisam ke rumahnya. Katanya, mau belajar di rumah. Karena ujian semester makin dekat saja.

__ADS_1


“Sore Tante,” sapa Sam mencium punggung tangan Winda ketika wanita itu membukakan pintu.


“Kamu lagi?"


“Iya, Tante. Calon mantu datang lagi.” Adira menyikut perut cowok itu dan mengakibatkan Sam meringis kesakitan, “ada yang salah?”


“Bacot lo tuh seenak jidat. Siapa juga yang mau nikah sama lo?” balas Dira dengan sewot.


Sam menghela napas, “kalau udah jadi pacar berarti sudah 50% akan jadi mantu atau lo mau ningkatin persenannya?”


“Maksudnya?”


“Kita tunangan biar jadi 80% akan jadi mantu.”


Adira menjulurkan lidah seperti ingin mengeluarkan isi perutnya, “ngarep lo mau tunangan sama gue.”


“Sudah-sudah jangan ribut terus!” Winda yang sedari tadi berdiri di depan pintu memperhatikan mereka mencoba melerai, “ada apa kamu ke sini lagi?”


“Kita mau belajar bersama, Ma.” Adira menikung duluan untuk menjawab.


“Oh gitu, ayo masuk! Mau belajar di luar?” Winda masuk lebih dulu ke dalam rumah.


“Kalau ada yang enak ngapa pilih yang nggak enak, Tante.” Sam dan Dira menyusul di belakang.


“Bener sih kamu. Mau minum apa?” Winda berdiri tidak jauh dari sofa, menunggu Sam menjawab pertanyaannya.


Sam melepas ransel dari pundak dan menyimpannya di atas sofa, “nggak usah repot-repot tante. Es jeruk aja kalau ada.” Kemudian ia duduk.


Winda mencebikan bibir, “tunggu deh sebentar. Tante ambilin dulu.”


“Dira juga mau ya, Ma.” Teriak Adira saat mamanya itu sudah melangkah menjauh.


“Gue ganti baju dulu ya. Lo tunggu sini aja. Jangan ke mana-mana!”


“Yaiyalah, emangnya gue mau ke mana lagi?” tanya Sam.


Dira cekikikan sambil tertawa menuju kamarnya. Sam hanya merespon dengan dengusan kesal.


Sambil menunggu Winda dan Dira datang kembali Sam menyusuri ruang tamu itu dengan matanya. Mata dengan iris hitamnya menangkap beberapa foto yang berjejer di dinding, tepat di belakang ia duduk.


Sam mencoba berdiri dan memperhatikan lebih dekat. Ada foto Dira masih duduk di taman kanak-kanak. Ada foto keluarga lengkap dengan Ayah Dira sebelum meninggal. Dira dan Kakaknya juga masih terlihat kecil di foto itu.


“Mungkin, cowok yang jemput Dira waktu itu abangnya ya?” Sam jadi bergumam sendiri saat melihat foto baru Dira dan Dimas di dinding tergantung.


“Kamu sama Dira beneran pacaran?” Sam tersentak dan berbalik ke belakang. Winda sedang memindahkan dua gelas es jeruk dan sepiring kue buatannya dari nampan ke meja.


“Iya, Tante.” Cowok itu kembali duduk.


Winda memeluk nampan dan berdiri tegak kembali, “Dira tidak pernah cerita apa-apa ke Tante. Tante kira itu cuma bercandaan kalian aja.”


“Kita baru juga kok jadiannya, Tante. Mungkin Dira belum sempat cerita. Memangnya kenapa, Tan?”


Winda memperhatikan penampilan Abrisam dari bawah hingga ke atas. Sedikit berantakan, celana yang sedikit robek di satu lutut, baju yang keluar setengah, dan tidak memakai dasi.


“Sebenarnya saya menyayangkan sekali kalau Dira pacaran karena ia harus fokus ke sekolah, tapi kalau dia memaksa untuk mempunyai pacar saya juga tidak melarang. Namun, carilah pacar yang benar. Soalnya yang saya dengar dari Dira, kamu itu sering bikin masalah di sekolah. Jadi, lebih baik kalian temenan saja.”


Wajah Sam yang tadinya sumbringah dan semangat kini mendadak lesu dan sedikit murung. Cowok itu paham kalau Winda bersikap seperti itu. Semua ibu mau yang terbaik untuk anaknya. Apa lagi anak seperti Dira. Dilihat dari sudut mana pun Sam memang kurang pantas bersanding dengan Adira.


“Mama.”


Winda berbalik saat mendengar suara Adira di belakangnya. Gadis itu berdiri sambil memeluk alat tulis dan buku-buku yang akan digunakan saat belajar.


“Mama kok bilang gitu?” Adira melangkah mendekati ibunya, “Sam sudah berubah kok, Ma.”


“Mama nggak suka saja kalau kamu harus menjalin hubungan dengan anak ini. Carilah yang lebih baik Dira.”


Dira tersenyum mendengar ucapan Winda. Ia sangat mengerti maksud ibunya. Gadis itu melihat ke arah Sam. Namun, Sam mengalihkan pandangannya saat kedua mata mereka saling bertemu. Kemudian Dira kembali menatap sang ibu.


“Mama jangan khawatir. Dira bisa jaga diri. Dira juga udah tahu yang mana yang baik buat Dira atau nggak. Sam sudah banyak bantu Dira dipelajaran bahasa inggris, Ma. Mama inget itu ‘kan?”

__ADS_1


“Ya sudah deh terserah kamu.” Winda menoleh ke Sam, “inget ya kamu, jangan bikin anak saya menangis atau sakit hati.”


Abrisam mengangguk, “baik, Tante. Terima kasih sudah merestui kita.”


Winda mengeleng-gelengkan kepala, lalu pergi ke arah dapur. Dira menatap Sam kembali. Ia segera duduk lesehan di depan meja. Sam yang melihat itu ikut duduk lesehan.


“Alhamdulillah ya kita udah di restuin,” ujar Sam tersenyum senang.


Adira bergidik, “kata-kata lo itu udah kayak kita mau nikah aja.”


Dira memisah-misahkan buku-bukunya di meja.


“Memangnya lo nggak mau nikah sama gue?”


Gadis itu terdiam menatap cowok di depannya. Jantung Dira berdetak lebih cepat dari biasanya. Air liur pun susah untuk ia telan. Kemudian ia tersadar kembali dan lekas memalingkan wajah.


“Nikah itu bukan main-main Sam. Harus siap lahir batin. Lo aja masih pengangguran sok ngajak nikah.” Dira berbicara sambil membalik lembaran buku tulisnya, “dari pada bahas nikah mending kita belajar.”


“Kalau gue udah punya kerjaan lo mau nikah sama gue?”


“Tergantung.”


“Tergantung apa?”


Adira berhenti menulis sesuatu di bukunya, “kalau lo jadi bos besar. Apa itu waktu itu lo bilang? Oh jadi pemilik bengkel. Nah, kalau lo udah jadi juragan bengkel terbesar. Terus bisa bikin lomba balapan termegah. Gue baru mau jadi istri lo.”


Sam melongo mendengarkan penuturan Adira.


“Lo matre juga ya?” Cowok itu menyikut lengan Dira.


Adira tidak tersinggung. Dia malah tertawa terbahak-bahak mendengar respon dari Sam.


Akhirnya mereka terdiam dan serius belajar. Namun, baru setengah jam keadaan itu tenang. Ruang tamu kembali berisik saat Dimas masuk ke rumahnya membawa ikan cu*pang di dalam toples.


“Assalammualikum.” Karena pintu yang terbuka lebar Dimas langsung masuk saja.


“Walaikumsalam,” jawab Adira dan Abrisam bersamaan.


“Eh, ada tamu.” Dimas meletakkan ikan cupangnya di atas meja, “siapa ini, Dir? Pacar lo?”


Adira menggeleng cepat. Sam mengerutkan alisnya melihat jawaban Dira.


“Kita ‘kan emang pacaran, Dir. Kok malah geleng-geleng?”


Dira menoleh ke Sam, “mam*pus gue. Refleks, geleng-geleng lagi.” Batin Dira.


“Oh jadi adik kakak ini udah ada pacar. Kenapa nggak pernah kasih tahu? Pasti takut gue mintain pajak jadian ya?” Dimas duduk bersila di depan mereka.


Adira hanya menyengir.


“Mungkin Dira lupa, Kak. Oh iya, Kakak ini yang suka jemput Dira di sekolah?” tanya Sam.


“Bukan cuma jemput. Gue kadang juga nganter. Siapa nama lo?” Dimas mengulurkan tangan kanannya, “Adimas Saputra.”


“Abrisam, Kak.” Sam menjabat tangan pemuda di depannya.


Dimas menarik kembali tangannya, “inget, jangan pernah bikin adik gue sakit hati!”


“Baik, Kak.”


Dimas kembali berdiri dan mengambil ikan cupangnya, “lihat nih gue baru beli ikan. Terus aduan sama punya temen. Eh, ikan gue nambah. Hebat kan?” ceritanya memamerkan ikan yang ada di dalam toples.


Adira mendongak untuk melihat itu, “kayak bocah kelakuan lo.”


“Bodo! Yang penting gue bahagia. Bye, gue mau mandi dulu.” Dimas berlalu menuju kamarnya sambil memperhatikan ikan yang ada di dalam toples.


“Pantesan jomblo terus!” teriak Dira yang tidak dibalas lagi oleh lelaki yang punya hobi baru itu.


__ADS_1


__ADS_2