He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 36


__ADS_3

“Sam! Sam!” Kanaya berlari mengejar cowok itu yang baru beberapa langkah menjauh dari mejanya.


Abrisam berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, “Apa?”


“Aku boleh ikut pulang bareng kamu? Aku masih tinggal di tempat yang sama,” ucap Naya memegangi tali ranselnya.


“Gue nggak pulang.”


“Terus kamu mau ke mana kalau nggak pulang?”


“Banyak tanya banget sih lo? Ini bukan urusan lo.”


Nyali Naya langsung menciut saat Sam sedikit keras padanya.


“Sam jadi hari ini ‘kan mau ngajarin gue?” tanya Adira dari seberang meja.


Sam mengangguk dan tersenyum. Cowok itu melanjutkan langkahnya mendekati Adira.


“Emang Sam mau ngajarin lo apa, Dir?” tanya Violet.


“Bahasa inggris. Kalian duluan aja. Bye!” Dira melambaikan tangan ke kedua temannya yang masih ada di meja masing-masing.


Adira dan Abrisam berjalan bersamaan keluar dari kelas. Namun, Kanaya menyusul di belakang mereka.


“Aku ikut kalian ya? Bolehkan?” mendengar pertanyaan itu Sam menghentikan langkahnya lagi. Adira yang ada di sebelah Sam juga ikut berhenti.


“Nggak boleh. Udah sana pulang! Sopir lo pasti udah nunggu.”


Kanaya menggelengkan kepala. Tanda ia menolak perintah Abrisam.


“Aku udah suruh Pak sopir pulang karena aku tadinya mau pulang sama kamu, Sam.”


“Gue sama Dira bukan mau main-main ya. Kita itu mau belajar,” ucap Sam lagi.


“Tumben, Kamu mau belajar?”


Pertanyaan itu membuat Sam sangat tidak nyaman, “bukan urusan lo!”


Sam mengambil sebelah tangan Dira, “ayo!” ia menggandeng Adira menuju belakang sekolah.


Adira menoleh sekilas ke belakang. Kanaya mengikuti mereka. Dira menatap Sam yang melihat ke depan dan seperti tidak peduli.


“Sam, Naya ngikutin kita.” Adira memberi tahu dengan suara yang sengaja dikecilkan.


“Udah biarin aja anaknya dari dulu emang keras kepala.”


Akhirnya Adira hanya diam dan terus melangkah dengan tangan yang masih digandeng oleh Abrisam.


Sampai di warung Mang Suep yang telah sepi itu Dira dan Sam segera mengambil tempat duduk.


“Lo bawa buku cetak inggris ‘kan?” pertanyaan dari Sam diangguki Dira.


Cewek itu mengeluarkan alat tulis yang akan ia gunakan selama belajar. Kanaya mengambil tempat duduk di depan mereka.


“Aku gabung ya. Janji nggak ganggu deh,” ujar Naya tidak dipedulikan Abrisam.


“Ya sudah, nggak apa-apa Nay.” Adira tersenyum tipis.


“Kamu pacarnya Sam?”

__ADS_1


Adira menoleh ke Sam dan kebetulan cowok itu melihat ke arahnya juga. Kemudian Dira melihat Naya kembali yang sedang menunggu jawabannya.


“Iya,” jawab Dira yang kelihatan ragu.


“Ah, aku keduluan,” lirih Kanaya.


Alis Dira berkerut, “maksudnya?”


“Liat ke sini, Dir. Jangan ngobrol aja!” ujar Sam sedikit keras.


“Iya, iya, galak bener lo.” Belum sempat Naya menjawab Adira sudah lebih dulu menyauti perkataan Sam.


Selama mereka belajar Kanaya hanya diam dan sesekali memainkan handphone-nya.


“Besok kita lanjut lagi. Sekarang sampai di sini dulu,” ujar Sam yang mendapat anggukan dari Dira.


“Iya.” Adira membereskan alat tulisnya kembali memasukan ke dalam ransel.


Sam berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati warung Mang Suep, “berapa, Mang?” ia membayarkan pesanan mereka bertiga.


Adira memperhatikan Kanaya yang menyimpan ponselnya ke dalam tas. Ia penasaran sebenernya ada kedekatan apa antara Naya dan Sam dulunya.


“Lo deket banget ya sama Sam dulunya?” Kanaya menatap Dira. Namun, belum sempat Naya menjawabnya cowok itu sudah datang lagi.


“Ayo balik!” Sam memasukan barang-barangnya ke dalam tas.


“Aku bareng kamu ya Sam? Kita ‘kan searah?” ujar Naya tersenyum.


“Nggak bisa. Gue harus anterin Dira pulang. Lo sama sopir aja. Biasanya juga dijemput ‘kan?” tolak Sam, lalu menarik tangan Dira pergi dari sana.


“Sam!”


“Kenapa sih lo?” tanya Adira yang berjalan di sebelah Sam.


Abrisam menoleh, “apanya yang kenapa?”


“Katanya dia dulu teman satu kelas lo, tapi yang gue liat lo begitu jutek sama dia. Lo benci sama dia?” pertanyaan Adira membuat Sam berhenti di gerbang masuk sekolah. Mereka memutar lewat depan.


“Lo boleh pulang sendiri.” Sam melepas gandengannya, lalu berlari masuk ke dalam halaman sekolah untuk mengambil motornya dulu.


Adira tambah bingung dengan sikap cowok ngeselin itu. Sejak bertemu Kanaya, Sam menjadi lebih tertutup.


Tidak lama Abrisam melintas di depan Dira dengan motornya itu. Dira menghela napas dan menoleh ke arah lain. Dari jauh ia melihat Naya masuk ke mobil mewah.


Mobil itu melintas di depan Adira. Masih banyak pertanyaan yang memutar di kepala gadis itu.



“Assalammualikum, Dira pulang!” seru Adira masuk ke rumahnya.


“Waalaikumsalam,” jawab Winda di ruang tengah.


Gadis kelas 12 SMA ini lekas melangkahkan kaki menuju Winda. Ia tidak lupa bersalaman dengan sang ibu.


“Ke mana aja kamu jam segini baru sampai rumah?” tanya Winda yang mendongak menatap Dira.


Adira menjatuhkan bokongnya di sebelah Winda.


“Tadi pagi ‘kan Dira udah bilang mau belajar bahasa inggris sama Sam. Mama lupa?”

__ADS_1


“Oh iya.” Winda menepuk dahinya, “maaf mama lupa. Pikiran mama tadi pagi itu cuma nganterin pesanan. Jadi, kamu bilang apa masuk telinga kanan keluar telinga kiri deh.”


Adira mencibir, “terus gimana pesanan kuenya?”


“Sudah diantar ke kantor itu dan kamu tahu?” Winda membenarkan posisi duduknya lebih tegak. Tangannya menepuk pelan paha Dira, “CEO-nya kasih bayaran lebih ke Mama.”


“Wah, Mama cair dong. Boleh dong ajak Dira sama Kak Dimas makan di luar?” Gadis ini menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menatap Winda.


Winda tertawa pelan, “iya,iya, Malam ini kita makan di luar. Mama juga sengaja nggak masak sih.”


“Asik...” Adira menggepalkan tangannya tinggi-tinggi sambil berteriak.


Wanita itu tersenyum melihat putrinya bahagia.


“Harus kasih tahu Kak Dimas nih.” Dira segera berdiri dari sofa, lalu berlari kecil menghampir kakaknya di kamar.


“Jangan lupa mandi dulu Dira!” teriak Winda.



Adira, Winda, dan Dimas ada di dalam taksi online yang tadi mereka pesan. Sekarang masih di perjalanan menuju restoran.


“Mama hampir lupa.” Winda menoleh ke Dira yang memang duduk di sebelahnya, “Bagaimana pelajaran bahasa inggris dengan Sam? Kata kamu Sam itu hanya pembuat masalah?”


“Oh, lancar kok, Ma.” Dira tersenyum tipis, “Sam memang pembuat masalah, Ma. Pelajaran yang paling dia bisa juga cuma bahasa inggris.”


Winda mengangguk-anggukan kepalanya.


“Jangan remehin orang yang cuma bisa bahasa inggris loh, dek.” Sambar Dimas yang duduk di sebelah supir.


“Kenapa, Kak?”


“Itu Kakak kelas Kakak aja sekarang kerja di ekspor-impor karena dia pasih berbahasa inggris. Gajinya lumayan,” jelas Dimas yang sesekali menoleh ke belakang.


“Berarti bagus kalau kamu belajar bahasa inggir,” sambung Winda.


“Mama mendukung?” tanya Dira.


Wanita pembuat kue itu mengangguk, “mama dukung yang terbaik buatmu.”


“Mama dukung juga nggak kalau Dira kuliah di luar negeri? Rencananya kalau berhasil dapat beasiswa Dira mau kuliah di Victoria University, Australia.”


Dimas cekikikan di depan. Dira yang mendengarnya bersungut-sungut.


“Mimpi lo ketinggian!” celetuk Dimas.


“Kamu mau ninggalin, Mama?” pertanyaan dari sang ibu membuat mata Dira terlihat sendu.


“Dira nggak bermaksud ninggalin Mama. Dira cuma pengen mengejar cita-cita Dira setinggi-tingginya.”


“Kuliah di luar negeri biayanya besar Dira. Belum biaya hidup di sana. Walau pakai beasiswa kamu tetap butuh biaya makan dan lain-lain.”


“Jadi, Dira nggak boleh kuliah di luar?” tanya Dira dengan nada yang tidak bersemangat seperti tadi.


“Sudah nanti kita bahas lagi. Sekarang kita makan dulu.”


Adira akhirnya diam. Tidak lama mobil itu menepi di sebuah restoran. Adira sekeluarga segera turun dan masuk ke dalam resto.


__ADS_1


__ADS_2