He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 31


__ADS_3

Acara pernikahan itu berjalan lancar sampai selesai. Abrisam dan Adira pulang ke rumah baru yang sudah Tomi sediakan. Walau tidak suka dengan keputusan anaknya yang ingin membuka usaha sendiri pria tua itu tetap memberikan hadiah pernikahan untuk mereka.


Rumah itu cukup besar. Terdiri dari dua lantai. Namun, lantai atas hanya ada satu kamar dan rooftop untuk menjemur pakaian.


Sekarang sepasang pengantin baru itu duduk di satu ranjang dengan jarak cukup jauh dan saling membelakangi. Rasa canggung dan malu menyelimuti keduanya. Untuk menatap satu sama lain saja sangat susah dilakukan. Padahal sudah melewati proses pacaran lama masih saja gugup kalau dihadapkan dengan situasi baru seperti ini.


“Kamu suka nggak sama rumahnya?” Sam mencoba membuka suara. Usaha untuk mencairan suasana kembali.


Adira menoleh dan mendapati Sam yang masih membelakanginya. Gadis ini kembali menatap jendela besar di depannya. Mereka berbincang dengan tak saling tatap.


“Suka, rumahnya bagus. Papi baik juga ya. Terlalu banyak kebaikan Papi untuk keluargaku.”


“Iya, Papi sudah kembali seperti dirinya dulu. Walau masih suka memaksa sampai sekarang.” Lelaki yang memakai kaus putih dan celana boxer itu mengusap tengkuknya, “sampai usaha saja aku dipaksa mengurus bisnisnya.”


Adira menoleh, “lalu kamu mau?”


Sam menggeleng. Kemudian menatap Dira, “nggak, aku penginnya mendirikan usahaku sendiri. Aku ingin coba mulai dari bawah. Kamu setuju? Menurutmu bagaimana?”


Gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrinya Abrisam ini, mengulas senyum. Ia mengangguk dengan semangat.


“Aku setuju. Itu ide yang bagus untuk mandiri. Semangat! Aku akan mendukung usahamu.” Adira menggepalkan tangannya di udara, “hm, kamu butuh modal? Aku punya tabungan.”


“Aku sudah punya modalnya dari tabunganku. Uangmu jangan diutik-utik, simpan aja!”


Adira bergeser sedikit dari tempat duduknya, “tapi kalau kamu ada masalah sama usaha itu bilang aku ya. Kalau perlu tambahan modal bilang ke aku. Jangan diam dan tanggung sendiri. Sekarang kita ini keluarga. Kamu bagian terpenting aku.”


Gadis yang memakai gaun tidur sebatas lutut itu menatap suaminya dengan tajam begitupun dengan Sam. Perlahan Abrisam bergeser hingga mengikis jarang antara mereka. Lelaki itu menangkup pipi Dira dan mengusap lembut wajah mulut itu.


Adira melingkarkan tangannya ke pinggang Abrisam. Lelaki ini membalas pelukan yang gadis itu beri. Mengusap punggung istrinya dengan lembut. Satu tali kecil dari gaun tidur yang Dira pakai terjatuh.


Dira mendongakkan kepalanya. Pandangan Gadis itu dan Sam bertemu. Sam merendahkan kepala dan mendekatkan wajah pada Dira yang lebih rendah dari dirinya. Mereka saling menempelkan bibir. Perlahan Sam membaringkan tubuh Adira ke kasur.


•••

__ADS_1


“Au!” Dira merintih saat pipinya terpukul oleh tangan besar milik Sam.


Adira memegang pipi yang terasa sedikit sakit. Ia membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerapkan mata sebelum memperhatikan sekelilingnya.


Pandangan Dira berhenti di lelaki yang tertidur di sebelahnya. Sam masih memejamkan mata dengan telanjang dada. Sedangkan dari pusar ke bawah ditutupi selimut.


Gadis itu mencoba mengintip ke dalam selimutnya. Ia terkejut dan merapatkan kembali kain tebal itu ke dada.


“Sam bangun!” Adira menggoyang-goyang tubuh suaminya ini, “kamu nggak ke kampus?”


Adira teringat sesuatu. Ia mengambil jam weker di atas nakas. Matanya melotot saat melihat jarum jam menunjukan pukul enam pagi. Ia lekas memungut baju yang berserakan.


“Sam bangun!” Adira menendang-nendang kaki lelaki yang masih pulas ini. Sedangkan Dira sekarang sudah memakai pakaiannya dengan lengkap.


Sam menggeliat kecil dan mengubah posisi tidurnya tanpa berniat ingin bangun. Adira berjalan ke sisi ranjang mendekati suami barunya itu.


“Sam ayo bangun nanti kamu telat.” Adira menepuk-nepuk wajah Sam. Ia juga menarik selimut yang dipakai lelaki itu sampai ke bahu.


“Aku masuk jam 9 sayang,” jawab Sam dengan suara seraknya. Ia masih saja tidak mau membuka mata.


•••


Bersamaan dengan membuka helm dari kepala Abrisam menguap lebar. Untung tidak ada Jodi. Cowok jail itu pasti sudah memasukan sesuatu ke mulut Sam yang terbuka itu.


Pemuda ini masih merasakan kantuk. Padahal sudah bangun pukul tujuh pagi. Sampai-sampai Adira sudah tidak ada di rumah. Untung saja istrinya itu sempat memasakan sarapan.


Mereka memang tidak mengambil libur panjang. Hanya libur beberapa hari sebelum pernikahan saja. Sekarang harus beraktifitas seperti biasa kembali.


Sam menoleh ke sebelahnya saat sedang memperhatikan dosen yang menerangkan di depan. Kursi yang biasa Tania duduki hari ini kosong. Abrisam juga tidak tahu ke mana perginya gadis itu.


“Sttt...” Abrisam berusaha memanggil Jodi yang duduk cukup jauh darinya.


Lelaki dengan rambut hampir botak itu menoleh, “apa?” tanya Jodi dengan suara berbisik.

__ADS_1


“Lo tahu kenapa Tania nggak masuk?” tanya Sam yang sesekali melirik dosennya. Takut ketahuan mengobrol.


Jodi mengedikkan kedua bahunya, “nggak tahu juga. Sakit mungkin.”


Mendapat jawaban tidak pasti dari temannya itu. Sam kembali diam. Ia berusaha fokus untuk belajar. Namun, Tania yang tidak ada kabarnya itu juga membuatnya kepikiran. Padahal kemarin masih melihat gadis dengan keadaan baik-baik saja.


Abrisam kira Tania hanya tidak ikut di kelas pertama. Namun, kelas kedua gadis itu tetap tak terlihat batang hidungnya. Bahkan sampai selesai perkulihanan.


Tetapi hari kedua dan ketiga Tania juga tidak masuk kampus. Ia sudah banyak ketinggalan pelajaran. Sam khawatir kalau sebenarnya terjadi sesuatu dengan temannya itu. Handphone Tania juga tidak bisa dihubungi.


Adira melihat sesuatu yang berbeda pada suaminya, “kamu lagi mikirin apa?”


Abrisam terkejut dan menghentikan tangannya yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan.


“Nggak ada.” Sam tersenyum pada Dira.


“Kalau nggak ada, kenapa makanannya nggak di makan? Apa nggak enak?”


Sam menunduk melihat ke arah piringnya yang isinya sudah berantakan.


“Enak kok. Masakan kamu mana pernah nggak enak.” Sam dengan cepat menyendokkan makanannya ke dalam mulut.


Adira menggenggam sebelah tangan suaminya hingga pemuda itu menatap Dira.


“Kalau ada masalah cerita sama aku. Aku ini sekarang istrimu bukan pacarmu lagi. Bukannya kita harus saling terbuka sebagai suami dan istri?”


Sam hanya takut kalau ia bercerita tentang Tania. Adira akan marah lagi. Menganggap ia terlalu mementingkan Tania.


Abrisam menggelengkan kepala, “nggak apa-apa. Ayo cepat habiskan makan malamnya. Setelah itu kita pergi nonton?”


Dira tersenyum, “benaran malam ini perginya?”


Lelaki itu membalasnya dengan mengangguk , “iya, sesuai janjiku siang tadi.”

__ADS_1


Adira dengan semangat menyantap makanan yang tinggal setengah porsi itu. Sam merasa lega karena istrinya tidak menanyakan lagi masalah yang sedang menjadi pikirannya saat ini.


•••


__ADS_2