
“Dari mana saja kamu?” tanya Tomi yang menunggu Abrisam di depan rumah.
“Bukan urusan, Papi.” Sam ingin melewati Tomi begitu saja. Namun, lengan kekar milik pria 40 tahun itu mencengkeram bahu Abrisam.
Sam berhenti melangkah dan dengan malas menoleh ke ayahnya itu.
“Ada yang harus Papi omongin ke kamu.” Tomi menurunkan tangannya, “besok kamu tidak usah sekolah dulu. Papi akan mengurus izin ke sekolahmu.”
“Ada apa? Tapi Sam nggak bisa kalau harus bolos sekolah. Besok harus ngumpul tugas.”
Baru kali ini seorang Abrisam menolak diajak libur sekolah.
“Papi butuh kamu. Besok ada wawancara. Temanya keluarga harmonis. Jadi, papi akan mengajakmu, Bunda Siska dan Yasmin.”
Sam tertawa keras dengan mendongakkan kepalanya dan berkacak pinggang. Dahi Tomi sampai berkerut melihatnya.
“Papi-papi.” Sam menggelengkan kepala dan masih tertawa sedikit, lama-kelamaan meredakan tawanya, “Papi mau bikin wawancara palsu. Keluarga kita ini nggak harmonis, Pi. Udah dari lama kacaunya dan semua itu ulah Papi.”
“Lancang kamu!” Tomi sudah mengangkat satu tangannya lagi ke udara, tapi ia urungkan untuk memukul Sam.
“Apa? Mau pukul Sam lagi? Ini pukul aja, pukul!” tunjuknya ke pipi.
Tomi menurunkan tangannya lagi, “Papi tidak mau tahu besok kamu harus datang ke kantor bersama Bunda.”
Setelah itu Tomi yang emosi pergi masuk ke dalam rumah. Sam kembali tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala. Menurutnya ini begitu lucu.
Dari tadi Adira mondar-mandir di depan pintu kelasnya. Tak ketinggalan ia juga sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan.
“Ngapa sih lo, Dir? Udah kayak setrikaan aja.” Tanya Violet yang dari tadi memperhatikan.
Dira berhenti berjalan, “udah jam segini Sam juga belum nongol batang hidungnya. Tugas itu dibawa dia.”
“Tenang aja kali. Paling telat. Iya nggak, Vi?” sambar Yara yang menyender di kusen pintu.
Violet mengangguk, “betul. Biasanya Sam ‘kan emang sering telat.”
__ADS_1
“Permisi!” seorang Satpam menghentikan pembicaraan tiga siswi yang ada di depan kelas itu.
“Ada apa Pak mamat?” tanya Adira.
“Ini tadi saya dititipin tugas oleh bapak-bapak. Katanya dari Sam untuk Adira.”
“Buat lo, Dir.” Tunjuk Violet.
“Saya Adira, Pak.” Dira mengambil kertas yang sudah dijilid rapi itu, “terus Sam-nya ke mana?”
“Oh dia izin, Neng. Ini juga suratnya. Tolong sampaikan pada guru yang mengajar.” Berikutnya Satpam itu memberikan amplop putih.
Dira mengambilnya dan mengangguk, “baik, Pak. Terima kasih.”
Setelah itu Satpam pun pergi dari sana. Violet mendekat ke Dira.
“Coba buka! Dia izin kenapa? Tumben benar mau libur sekolah ngasih surat.”
Adira mengikuti instruksi Vio dan kebetulan surat itu mudah sekali dibuka. Yara yang juga ternyata penasaran ikut mendekat. Mereka bertiga membacanya.
“Ada acara keluarga,” ucap Adira kembali melipat surat itu.
Pelajaran berjalan dengan lancar. Lebih tenang saat tidak ada Sam. Biasanya anak itu selalu menceletuk dan menggoda Miss Jesica. Sepi juga, itu yang dirasakan Dira.
“Baiklah anak-anak Miss akan mengumumkan 3 kelompok yang mendapatkan nilai tertinggi.”
Tiga puluh lima murid di dalam kelas itu langsung tegang. Harap-harap cemas ingin mengetahui siapa yang mendapatkan nilai tertinggi itu.
“selamat untuk Abrisam dan Adira memperoleh nilai paling tinggi yaitu 97. Beri tepuk tangan anak-anak.” Sesuai instruksi Miss Jesica semua bertepuk tangan.
Adira bertepuk tangan dan tersenyum senang. Baru ini nilai bahasa inggrisnya nyaris sempurna. Kedua matanya sesekali melirik kursi pojok belakang, tempat biasa Sam duduk.
Miss Jesica pun melanjutkan pengumumannya. Sampai jam pulang Adira tetap merasa hampa. Ternyata nggak berantem sehari dengan Sam juga membuat hari Dira sepi. Padahal selama ini, hari ini yang Dira tunggu-tunggu.
“Kenapa lo?” Adira tersentak saat pundaknya ditepuk oleh Violet.
Gadis itu cepat menggeleng, “nggak apa-apa.” Ia mengulas senyum.
__ADS_1
“Mau bareng gue nggak? Naik motor,” tawar Yara.
“Motor baru?” tanya Violet antusias.
Yara tersenyum sambil mengangguk, “baru dibeliin kemarin, tapi gue cuma ngajak Dira. Lo ‘kan dijemput, Vi.”
“Iya, deh. Gih sana kalian pulang,” ucap Violet yang sedikit memanyunkan bibirnya.
Adira dan Yara tertawa melihat reaksi yang diberikan sahabatnya itu. Kemudian Adira dan Yara berjalan ke parkiran.
Dari siang tadi Sam sudah tidak tahan dengan acara orang tuanya itu. Masuk malam acara itu baru selesai. Sumpah, penuh kemunafikan apa yang ayahnya sampaikan di depan kamera.
Pura-pura akrab dan mengetahui semua kegiatan anaknya walau ia sibuk. Menyayangi istrinya dan selalu bersikap romantis. Padahal yang Abrisam lihat di rumahnya bukan itu.
Ditambah ada sesi makan malam bersama. Sam rasanya ingin lari saja dari ruangan yang serasa neraka baginya. Untunglah sekarang ia sudah berhasil keluar dan menghirup udara segar.
“Bagaimana ya kabarnya si bawel?” gumam Sam sambil menatap langit yang tidak berbintang malam ini.
“Siska tunggu dulu! Siska!”
Sam langsung menoleh. Ia melihat ibu tirinya menangis pergi dari gedung besar itu dengan menggandeng tangan Yasmin.
“Bunda! Bunda kenapa?” teriak Sam saat Siska tambah jauh darinya.
“Ada apa ini, Pi?” tanya Abrisam meminta penjelasan pria bertuxado hitam itu.
“Sudah tidak usah pikirkan Bundamu!” Tomi memegang pergelangan tangan Abrisam, “sekarang kamu masuk. Kita harus tutup acaranya dulu.”
Sam menghempaskan tangannya yang digenggam Tomi hingga genggaman itu terlepas.
“Papi egois! Papi urus saja acara Papi itu. Sam nggak mau lagi berpura-pura. Mungkin papi bisa berbohong demi terpandang baik di depan orang-orang dan rekan bisnis Papi, tapi Sam nggak bisa.”
Anak laki-laki berjas hitam senada dengan celana denimnya ini melangkah pergi meninggalkan gedung tempat acara.
“Aaaaa!” Tomi berteriak dan meninju angin. Karena terlalu kesal.
__ADS_1