
Ujian semester sudah dimulai. Adira dan Abrisam bertambah dekat. Mereka sering belajar bersama di warung Mang Suep atau di rumah Adira. Berganti-ganti saja agar tak bosan.
Sekarang mereka lagi lesehan di depan kelas. Murid-murid lain juga sama. Kelas dikunci saat istirahat, kalau pengawas sudah datang maka siswa-siswi penunggu kelas itu boleh masuk.
“Gimana tadi?” tanya Adira yang membulak-balik LKS di pahanya.
“Gampang, kan tadi bahasa inggris. harusnya gue yang nanya ke lo. Lo bisa ngerjainnya?” tanya balik Sam yang menatap Adira.
“Bisa, tapi kayaknya masih ada yang salah deh. Gue lupa sama kosakatanya.”
“Nggak apa-apa. Kita juga baru belajar beberapa bulan ini ‘kan. Nanti lo hapalin lagi."
“Siap!” Adira mengangkat tangannya dan memberi hormat. Ia tertawa melihat ke arah Abrisam.
Tidak jauh dari situ Violet mengawasi Adira dan Abrisam. Matanya tidak lepas mengamati gerak-gerik kedua sejoli itu. Padahal mereka juga tidak macam-macam.
“Kenapa sih Dira makin dekat sama Sam?”
Pertanyaan yang tidak langsung ditujukan pada Yara, behasil membuat Yara mengalihkan pandangannya dari buku ke sahabatnya yang duduk di sebelahnya itu.
Yara melihat ke arah Dira dan Sam, “namanya juga orang pacaran. Kalau lo pengen juga. Cari pacar sana!”
Violet menoleh, “gue bukan sirik karena mereka pacaran ya, tapi gue aneh aja sama Adira masa dia nolak Afraz, cowok pefect demi cowok yang bentukkannya kayak Sam?”
“Emang bentuknya Sam kayak apa?” Yara beralih dari melihat Violet ke Sam. Ia memperhatikan wajah cowok yang duduk di sebelah Dira, “Sam ganteng. Malah lebih ganteng dari Afraz.”
“Tapi kelakuannya nggak!” bantah Violet.
“Sam itu udah berubah kali. Dia udah nggak berantem dan masuk BK lagi tuh. Semenjak dia pacaran sama Dira, udah banyak perubahannya,” kata Yara memencoba menyelaskan.
“Lo belain Sam mulu.” Violet bangun dari duduknya. Ia tepuk-tepuk rok bagian belakang agar bersih dari demu yang menempel.
Yara mendongakkan kepalanya, “lo mau ke mana?”
Violet menunduk melihat ke temannya itu, “mau minta penjelasan sama Dira.”
Setelah itu ia melangkah mendekati Adira yang sedang asik membahas pelajaran selanjutnya.
“Gawat nih.” Yara buru-buru bangkit dan memakai tasnya. Ia menyusul Violet.
Adira tersentak saat tangannya di raih oleh Violet. Ia lekas mendongak, “ada apa”?
“Ayo, ikut gue!” Vio menarik-narik lengan Dira agar gadis itu segera berdiri, “lo nggak usah ikut! Ini urusan cewek-cewek.” Tunjuk Vio pada Abrisam.
Sam mengangguk saja.
“Ayo!” paksa Vio pada Dira.
“Sabar.” Dira memasang tasnya.
“Vio udahlah nggak usah dibahas lagi. Yang penting Adira bahagia,” ucap Yara membuat dahi Dira bererut.
“Ini ada apaan sih sebenarnya?” tanya Dira yang sudah berdiri.
__ADS_1
“Ikut gue dulu. Nanti lo tahu.” Kemudian Dira mengikuti aja Vio membawanya ke mana. Yara mengejar di belakang.
“Ada masalah apa mereka?” gumam Abrisam melihat punggung-punggung itu menjauh darinya.
Sam berdiri. Membersihkan celananya dari debu, lalu melangkah dengan tas ia tinggal saja di sana. Cowok ini penasaran dan sekaligus khawatir dengan pacarnya. Ia menyusul ketiga gadis tuh.
Violet mengajak Dira ke taman belakang. Ketiga gadis itu duduk di satu bangku.
“Mau ngapain sih kita ke sini?” tanya Adira yang duduk di tengah.
Dari jauh Sam bersembunyi di balik pohon besar. Dia memilih untuk menguping dari pada nanti di suruh pergi.
“Ini Vio masih nggak terima hubungan lo sama Sam,” jawab Yara mendahului Violet.
“Diem lo! Gue aja yang ngomong.” Bentak gadis cerewet itu.
Kipasnya terus ia kepakkan padahak tidak terasa panas, “kenapa lo masih aja pacaran sama Sam? Gue nggak abis pikir lo tolak Afraz dan malah pilih Sam. Kata lo dulu lo suka banget sama Afraz. Dia cinta lo dari SMP, tapi sekarang malah milih cowok kayak Sam.”
“Perasaan orang bisa aja ‘kan berubah sejalannya waktu?”
“Diam lo! Gue nggak butuh jawaban dari lo. Yara yang dibentak lagi akhirnya mengunci mulut.
“Gue ‘kan sudah bilang sama kalian. Kalau gue ada alasanan sendiri. Kalau waktunya udah tepat bakal gue kasih tau,” ujar Adira dengan tenang.
“Apa? Lo juga cinta dia? Jilat ludah sendiri lo!”
“Bukan itu Vio!” Adira menegakkan badannya dan menatap sekelilingnya. Sam yang menyembulkan kepalanya segera bersembunyi. Melihat keadaan yang aman Adira berbicara lagi, “gue cuma pura-pura jadi pacar Sam. Gue juga nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba ngaku jadi pacar gue. Karena kata mama melembutkan seseorang kita pun harus lembut. Jadi, karena moment-nya pas gue gunain itu. Ternyata lo liat Sam udah berubah ‘kan?”
“Jadi lo nggak suka sama dia?” tanya Vio sekali lagi.
Abrisam bersandar lemas di balik pohon. Ternyata tipuannya dulu dibalas dengan tipuan juga oleh Adira.
“Kalau batas waktu dari Pak Yuhdi sudah habis gue bakal minta putus,” ucap Adira dengan ragu. Hatinya seperti tidak mau berkata seperti itu.
Violet tersenyum, “bagus deh, gue nggak mau cewek seperfect lo jatuh sama cowok begitu.”
“Apa ini nggak berlebihan. Mainin perasaan orang?” tanya Yara.
“Nggak masalah-lah, Sam ini yang kita kerjain,” balas Violet dengan entengnya.
“Inget! Kalian jangan kasih tahu siapa-siapa! Gue cuma cerita ini ke kalian. Jangan sampai rencana gue gagal total.”
“Siap!” balas Violet bersemangat.
Sam keluar dari persembunyiannya dan berjalan pelan ke arah ketiga cewek itu. Kakinya berhenti saat sedikit lagi sampai.
“Dari dulu kek lo ceritain. Gue jadi nggak mikir macam-macam ‘kan.”
“Kalau lo nggak maksa gue nggak cerita sekarang.” Adira melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “ayo balik! Lima menit lagi masuk.”
Yara dan Violet mengangguk. Mereka bertiga segera berdiri dari bangku panjang berwarna putih itu. Betapa terkejutnya ketiga gadis itu melihat Sam memandangi mereka dengan wajah garang.
“Sam,” lirih Adira.
__ADS_1
“Gue udah tahu semuanya, Dir. Terima kasih atas perasaan palsu lo. Membuat gue jadi jatuh cinta benaran sama lo. Gue nggak nyaka lo bisa sepintar itu berakting. Mungkin, lulus dari SMA lo bisa ikut casting jadi pemain film.”
“Sam, gue nggak bermaksud buat bohongin lo. Ini gue lakuin buat ngerubah lo.”
“Bohong tetap aja bohong Dira. Lo jangan lagi nunjukin muka di depan gue!”
Setelah itu Sam berlari masuk ke gedung sekolah kembali. Dira mengejarnya. Violet memanggil pun tidak Dira gubris.
Yara dan Violet terpaksa ikut berlari menyusul Adira.
“Sam dengerin penjelasan gue dulu!” Teriak Adira terus mengejar Sam yang langkahnya lebih lebar.
Mereka membuat perhatian siswa dan siswi lain ke arah mereka. Semua orang jadi bertanya-tanya.
Sam meraih tasnya. Kanaya yang sedang ngobrol dengan temannya yang lain seketika berdiri mendengar keributan itu. Ia berjalan ke dekat Sam.
“Gue nggak bermaksud buat mainin perasaan lo, Sam. Dengerin gue dulu,” ucap Adira yang memegangi lengan cowok itu.
Dengan kasar Sam menepis tangan Adira, “lepas!”
“Ada apa ini?”
Abrisam menoleh ke belakang. Melihat Kanaya menatap bingung.
“Naya.” Gadis yang disebut itu namanya, mendongak, “bilang sama Om Adam perjodohan kita lanjutkan aja.”
“Hah?” Naya masih tidak mengerti maksud temannya itu. Namun, Sam sudah berlari pergi.
Adira berlari lagi. Begitupun dengan Yara dan Violet.
“Adira udah nggak usah dikejar lagi!” teriak Violet sambil berkipas dan membenarkan tatanan rambutnya.
“Dira!” teriak Yara.
“SAM!”
Dira tidak mengacuhkan panggilan kedua sahabatnya. Ia berteriak memanggil cowok tinggi itu.
“Sam!” Manha yang melihat Sam melintasi kelasnya mencoba memanggil. Namun, Sam tidak mengubrisnya.
Tidak lama Adira dan kedua sahabatnya juga ikut melintas membuat Manha tambah bingung.
“Ada apa sih?” tanya Manha dan mendapat gelengan oleh Emran yang juga melihat kejadian itu.
Sam keluar lewat pintu belakang yang memang di buka. Semua orang yang ada di warung Mang Suep menoleh padanya.
Adira berhenti saat Sam nggak mungkin ia kejar lagi. Masih ada satu pelajaran yang akan diujikan. Dira nggak mungkin bolos.
“Sam! Jangan pergi masih ada ulangan!” teriak Adira sekuat tenaganya.
“Percuma dia nggak dengar,” ujar Yara yang masih terlihat ngos-ngosan.
Air mata menetes ke pipi Adira. Ia merasa bersalah sekarang. Harusnya ia tidak pakai cara ini. Serapat apa pun ia menyembunyikan rahasia pasti baunya akan tercium juga.
__ADS_1
Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Adira cuma berharap Abrisam bisa memaafkannya.