He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 56


__ADS_3

“Jadi lo udah nyatain cinta selama ini?” tanya Manha dengan tangan mencomot gorengan yang terhidang di depan warung Mang Suep.


Sam mengangguk, “iya, tapi Adira belum menjawab apa-apa. Gue rasa dia nggak suka sama gue.”


“Tahu dari mana lo?” tanya Emran sesudah menyeruput kopi hitamnya, “kata Yara, Dira nolak Afraz waktu class meeting. Terus dia nggak nolak lo deket sama dia. Itu artinya dia suka.”


Sam bersedekap, “kalau suka kenapa nggak terima gue waktu gue tembak?”


“Mungkin, masih ragu sama kelakuan lo,” jawab Manha dengan mulut yang mengunyah.


“Bisa jadi. Coba lo tes!”


Mendengar usul dari Emran dahi Abrisam berkerut, “tes bagaimana?”


Emran mengambil bakwan dari tempat gorengan tersusun, “terserah lo sih. Misalnya, bikin cemburu. Kalau dia cemburu dia pasti suka.”


“Kalau dia nggak cemburu nanti gue yang malu,” ucap Abrisam.


“Kalau lo nggak berani coba nggak akan ketahuan,” kata Emran yang masih menghabiskan gorengan di tangan.


Abrisam tidak menanggapi lagi ia mengambil gelas kopi yang tersisa setengah itu, lalu mendeguknya.



Adira berjalan pelan mendekat ke arah Winda yang sedang menonton acara favorit-nya di TV.


“Ma,” lirih Dira membuat Winda mendongakkan kepalanya. Tidak lama pandangannya beralih lagi ke TV.


Dira menjatuhkan bokongnya ke sofa tepat sebelah wanita paruh baya itu duduk, “Ma ada yang mau dira omongin.”


“Ngomong aja, Dir.” Winda menanggapi tanpa melihat ke anaknya itu.


“Soal kuliah di luar negeri Dira udah coba nyari-nyari bea siswa. Kalau Dira dapat, boleh ‘kan kuliah di sana?”


Winda menoleh, lalu mengecilkan suara tv dari remot yang ia pegang.


“Kamu masih mau kuliah di sana?” pertanyaan Winda membuat Dira mengamgguk bersemangat, “boleh ‘kan Ma?”


“Mama itu takut kangen sama kamu tahu nggak.” Winda memasang wajah sedihnya.


“Ma, sekarang jaman smartphone. Kita bisa video call, setiap libur semester nanti Dira pulang. please, Ma biarkan Dira mengejar cita-cita setinggi-tingginya.”


Winda meletakkan remot yang ia pegang ke sofa. Kemudian mengambil sebelah tangan putrinya. Tangan itu ia genggam hangat.


“Sayang, mama hanya khawatir denganmu kalau kita berjauhan. Bukannya mama tidak mendukung kamu mengejar cita-citamu.”


“Ma... Dira sudah besar. Dira bisa jaga diri. Dira janji akan selalu ngabarin mama setiap harinya. Boleh ya, Ma? Dira butuh restu Mama agar ilmu yang Dira dapat di sana berkah.”


Adira terus mengiba, “kalau Dira jadi orang sukses Mama juga ‘kan yang bangga?”

__ADS_1


Winda tersenyum tipis, “Mama memang selalu bangga sama prestasi anak-anak Mama. Kalau kamu dapat bea siswanya Mama boleh ‘kan kamu kuliah di luar negeri.”


“Benaran, Ma? Ini seriusan ‘kan?” tanya Adira tidak percaya hati Winda berhasil ia luluhkan.


“Iya, benar. Setelah Mama pikir-pikir nggak baik kalau Mama mematahkan semangatmu yang begitu keras.”


“Makasih banyak, Ma.” Adira mengangkat tangan yang digenggam sang ibu, lalu mengecupnya berkali-kali.


Kebahagian yang Dira dapat malam ini sungguh tidak terkira. Senyumnya tidak luntur-luntur.


“Mama akan usaha mencari uang lebih banyak lagi untuk biaya hidupmu di sana,” lanjut Winda tersenyum menatap Dira.


“Nggak usah, Ma. Nanti Dira di sana kuliah sambil kerja aja.”


“Tidak boleh! Kamu di sana hanya fokus belajar agar cepat lulus dan dapat nilai yang terbaik. Kuliah sudah jauh-jauh kamu nggak boleh leha-leha. Soal uang itu urusan Mama sebagai orang tuamu.”


“Mama...” lirih Dira melepas genggaman di tangan. Ia merentangkan tangan dan memeluk Winda, “Dira jadi terharu. Dira sayang Mama.”


Winda tersenyum, “Mama juga sayang kamu.” Wanita ini mengelus-elus kepala putrinya.



“Kak, tahu gak? Mama udah izinin gue kuliah di luar negeri!” teriak Adira bercerita di boncengan Dimas. Suaranya tertelan suara kendaraan lain hingga Dimas kurang jelas mendengarnya.


“Hah, ayam negeri?” tanya Dimas ikut berteriak.


“KULIAH DI LUAR NEGERI!” teriak Adira yang sedikit kesal.


Adira memeluk pinggang kakaknya itu, lalu mencondongkan kepala ke depan.


“Lo bakal rindu nggak sama gue Kak?” tanya Dira yang mendapat gelengan dari pemuda itu, “ih jahat!”


“Gue malah senang. Berarti jatah makan gue bakal nambah.” Setelah bicara seperti itu Dimas tertawa.


“Kak Dimas emang Kakak yang nggak berprikeadeaan,” gerutu Adira di belakang.


Tidak terasa motor vespa milik Dimas sudah berhenti di depan gerbang SMA Nusa Bangsa. Dira turun dan menyerahkan helm yang ia pakai.


“Gue pasti kangen kalau lo pergi belajar di luar. Selamat ya gue jadi ikut senang punya saudara yang pinter banget kayak lo.”


Perkataan Dimas membuat Adira terharu sekaligus ingin tertawa.


“Belum pasti juga.”


“Maksudnya?”


“Maksudnya itu, Adira belajar di luar kalau dapat beasiswa. Kalau nggak mama nggak bolehin. Biayanya mahal.”


“Lo ‘kan pintar pasti dapat. Belajar yang benar atau lo masuk ke kampus gue aja.”

__ADS_1


“Kayaknya gitu kalau nggak jadi.”


“Kampus gue bagus kok sejakartahh.” Dimas sengaja melebarkan mulutnya di depan wajah sang adik.


Adira cepat menutup hidung, “bau kak Dimas.” Tangannya memukuli pundak pemuda itu. Karena merasa serangan Dira tidak berhenti-henti Dimas melarikan diri bersama vespa kesayangannya.


“Awas lo di rumah!” teriak Adira sambil menunjuk.


Gadis itu berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Tangannya sesekali merapihkan rambut yang berantakan karena memakai helm.


“Punya kakak satu, tapi ngeselinnya kebangetan, heran.” Adira masih mengerutu di perjalanannya.


Ketika sampai di depan pintu masuk ke kelas langkah gadis itu terhenti. Ia menepi sambil mengintip ke dalam kelas. Matanya menangkap sosok Abrisam yang sedang mengobrol dengan Kanaya.


“Oh jadi ini urusan penting sampai nggak jadi jemput gue?” gumam Adira yang terus memperhatikan.


Sam terlihat tertawa sesekali saat berbincang dengan Kanaya. Adira tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, ia begitu kesal melihat ekspresi cowok itu.


“Kok nggak masuk, Dir?” pertanyaan Violet berhasil mengagetkan Dira, “malah ngintip-ngintip kayak orang mau maling.”


“Sttttt...” Dira meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, “jangan berisik!”


“Liatin siapa sih?” Vio yang penasaran ikut melihat ke dalam.


Mata gadis itu langsung tertuju pada Sam dan Kanaya. Ia mengerti sekarang. Sam duduk di sebelah Naya. Sesekali terlihat Sam yang menyingkirkan rambut Naya dari pipi. Entah disengaja atau tidak yang jelas Adira mulai naik pitam.


Di kelas itu bukan hanya mereka berdua. Sudah ada murid lain yang datang. Tetap saja kalau orang cemburu yang terlihat hanya kedua orang itu.


“Ngapain sih mereka berduaan begitu?” Adira menggepalkan tangannya.


Violet menoleh, “itu nggak berduaan, Dir. Rame, lo kenapa sih? Cemburu?”


Mendengar pertanyaan itu Adira menatap sahabatnya yang ikut mengintip ini.


“Gue cemburu? Nggak mungkin.”


“Lucu ya ternyata seorang Adira cemburu,” goda Violet yang tertawa melihat mimik wajah Dira.


“Nggak!”


“Ngaku aja kali, Dir! Cemburu ‘kan?”


“Gue nggak cemburu!” teriak Adira kesal karena terus diledek.


Siswa dan siswi yang ada di kelas dan yang melintasi kelas 12 IPS 1 menoleh ke Adira dan Violet. tidak terkecuali Abrisam. Cowok itu tertawa pelan.


Adira menoleh ke dalam kelas. Melihat Sam dan Naya menatapnya. Karena malu Dira memilih melarikan diri.


“Dir, mau kemana?” pertanyaan dari Violet pun tidak ia jawab.

__ADS_1


Sedangkan di dalam Sam menutup mulutnya dengan punggung tangan untuk menahan tawa. Kanaya yang tepat di sebelahnya menepuk lengan cowok itu.



__ADS_2