
Adira membuka pintu kamar saat itu juga ia dapat melihat Abrisam yang tidur memunggunginya. Wanita ini ingin sekali bercerita tentang kejadian tadi siang di restoran. Namun, ia tahu suaminya sudah banyak pikiran. Ia tidak mau menambah beban pikiran Sam lagi.
Apa lagi kalau Sam tahu Gabriel ada di Jakarta. Satu tempat kerja dengan dirinya. Pasti Abrisam tidak akan suka itu.
“Sayang, kenapa melamun?”
Adira tersentak dan menatap Abrisam yang sudah tidur telentang dan kini melihat ke arahnya. Wanita itu menggelengkan kepala.
“Nggak apa-apa sayang.” Adira menutup pintu kamar, lalu naik ke atas ranjang. Ia duduk di sebelah Sam yang masih berbaring.
Abrisam mengubah posisi menjadi duduk bersandar di ranjang. Ia mengenggam sebelah tangan sang istri.
“Kalau ada apa-apa cerita ke aku. Ada masalah dipekerjaanmu?”
Gadis ini menggeleng lagi. Namun, kali ini disertai senyum agar Sam yakin padanya dan tak bertanya lagi.
“Pekerjaanku lancar aja. Aku nggak apa-apa.”
“you are sure?”
“Iya, tapi aku ke pikiran belum bisa kasih kamu anak.” Adira menarik tangan yang digenggam Sam. Ia mengelus-elus perut datarnya, “aku pengin ngasih kamu anak dan cucu untuk mama.”
“Aku nggak masalah. Kapan dikasih sama tuhan aja. Yang terpenting kita sudah berusaha dan berdoa. Kamu jangan terlalu memikirkan. Aku nggak mau kamu sakit karena mikirin pengin punya anak doang.”
Dira mengangguk, lalu mengalungkan tangan ke leher Sam.
“Senangnya dapat suami pengertian.”
“Jangan terus memujiku. Nanti aku tambah tampan.”
Kerutan tercetak jelas di dahi Dira, “apa hubungannya?”
“Aku kalau dipuji akan senang. Terus tersenyum. Kata orang, kalau aku senyum, aku tambah tampan.”
Adira tertawa kecil, “dasar narsis.”
__ADS_1
Sam juga tertawa karena leluconnya sendiri dan reaksi yang sang istri tunjukan. Tawa mereka seketika berhenti saat mendengar bunyi perut kelaparan dari perut Abrisam. Adira menundukan pandangan pada sumber suara itu.
“I’m hungry.” Sam memegang perutnya yang merasa cacing diperut sudah pada berdemo.
Dira menurunkan tangan, “bukannya kamu sudah makan tadi?”
“Aku belum sempat makan. Dari tadi cuma mengerjakan skripsi.”
Gadis ini menatap jam dinding yang bertengger di tembok kamar. Sudah pukul 10 malam. Ia kembali melihat ke arah Sam.
“Kamu ini sampai lupa makan. Lain kali jangan lupa ya. Ayo keluar! Tadi itu aku sudah masak.”
Mereka bersamaan turun dari kasur dan berjalan keluar dari kamar.
•••
Adira membawa beberapa belanjaan dari luar ke dalam dapur. Masih pagi ia sudah sampai restoran. Baru ada beberapa pegawai yang datang. Sampai menunggu gadis itu susun belanjaan yang ada di kantong plastik ke dalam kulkas besar.
Tidak sengaja ia menjatuhkan tomat hingga harus membuatnya berjongkok. Namun, saat tangan kecilnya mendapatkan buah merah itu tangan yang lebih besar memegang tangannya. Adira lantas menoleh, ia mendapati Gabriel tersenyum pada dirinya.
Gadis ini tidak memedulikan teman sekampusnya itu. Ia melanjutkan pekerjaan.
“Tidak disangka-sangka ya kita bisa bertemu lagi. Apa kabar kamu?” Gabriel menocoba membuka suara.
“Seperti yang kamu liat. Aku baik.” Adira menjawab tanpa menatap lelaki itu.
“Kamu masih jadi kekasihnya, Sam?” tanya Gabriel lagi.
Adira menutup kulkas saat pekerjaan menyusun belanjaannya selesai. Ia menatap gabriel sekilas.
“Aku sudah menikah dengan Sam. Jadi kita jangan terlalu dekat. Lagi pula nggak enak dilihat sama yang lain.”
Baru saja Dira ingin melangkah pergi dari tempatnya berpijak, tetapi Gabriel menangkap sebelah tangan gadis itu. Akibatnya, Dira kembali menoleh pada Gabriel.
“Kamu masih marah karena waktu itu? Aku sudah meminta maafkan.”
__ADS_1
Perlahan Dira melepas genggaman di pergelangan tangan, “aku nggak marah. Cuma aku harus menjaga perasaan suamiku. Jadi tolong jangan terlalu dekat! Lagi pula karena kejadian itu aku sudah ilfil padamu.”
Setelah mengucapkan kalimatnya Dira keluar dari dapur. Gabriel marah dengan sikap gadis itu. Semua terlihat dari wajah yang memerah dan tangan terkepal kuat.
“Kata daddy, aku harus bisa mendapatkan yang aku mau. Aku mau kamu jadi milikku, Dira.” Gabriel bergumam tidak jelas. Kebetulan dapur sedang tidak ada orang. Cuma ia sendiri di situ meratapi kepergian Adira.
Gabriel menempelkan ponselnya di telinga. Sudah 15 menit ia berbicara lewat benda pipih itu.
“Lalu bagaimana daddy, aku sangat mencintainya? Aku tidak ingin ia menjadi milik orang lain.”
[Apa kamu sudah pernah mengungkapkan perasaanmu padanya?]
“Belum.” Gabriel tertegun, “tapi kemarin aku mencium pipinya.”
[Kamu sudah berani menciumnya? Wah, kamu sangat berani. Ungkapkan perasaanmu agar dia tahu!]
“Aku tidak berani. Aku tahu setelahnya ia akan menjauh. Aku ingin meminta maaf besok padanya atas kejadian itu.”
[Kamu tidak boleh lemah! Anak saya tidak ada yang penakut menghadapi perempuan. Terus kejar sampa ia jadi milikmu! Ungkapkan perasaan itu supaya dia tahu.]
Satu hari berlalu. Gabriel menjalankan perintah dari sang ayah yang ada di Indonesia. Kini ia menelepon pria itu lagi. Namun, matanya sedikit sembab.
“Halo daddy!”
[Suaramu terdengar aneh. Kamu kenapa?]
“Aku sudah mengikuti perintah daddy, tapi Adira menjadi marah. Ia tidak mau melihatku lagi. Aku kehilangan dia gara-gara daddy!”
Lewat telepon itu Gabriel melampiaskan kekesalannya.
[Hei, laki-laki tidak kalah hanya karena tertolak. Kamu harus terus mendekati dia. Sampai impianmu tercapai. Kamu harus bisa mendapatkan apa yang kamu mau. Daddy akan bantu.]
•••
Note:
__ADS_1
Itu kalimat akhir-akhir yang diitalik maksudnya flashback ya.