He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 40


__ADS_3

Abrisam datang dari belakang membawa nampan. Ia meletakkan secangkir teh ke depan Tomi. Lelaki itu ikut duduk setelahnya.


“Papi sudah dengar semua beritanya. Papi turut sedih dengan musibah yang menimpahmu.”


Kejadian kebakaran itu memang diliput wartawan. Jadi, pasti Tomi melihat dari televisi semuanya. Sam hanya bisa menghela napas berat. Ayah itu pasti akan memaksa lagi dia untuk bekerja bersamanya.


“Seperti yang Papi tonton di TV atau baca koran. Bengkel Sam sudah nggak berbentuk. Nggak ada yang bisa diselamatkan.”


“Lalu bagaimana kamu dan Dira memenuhi kebutuhan?”


“Dari uang kerja Dira, Pi.”


Tomi menggeleng, “sebagai laki-laki turun harga diri kalau biaya hidup ditanggung perempuan. Kamu malu-maluin Papi aja.”


Abrisam menundukkan kepala. Perkataan Tomi memang benar, tatapi mau bagaimana lagi. Tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Sam mendongakkan pandangannya kembali.


“Sam rencananya mau cari kerja aja, Pi. Lagi pula kuliah Sam udah selesai hanya tunggu nilai keluar dan wisuda.”


“Dari pada cari kerja, lebih baik kamu kerja di kantor Papi aja. Papi beri kamu jabatan tinggi.”


Lelaki ini menjadi bingung. Ia memang butuh uang, tetapi ingin berusaha mendapatkan uang itu dari usahanya sendiri tanpa bantuan orang tua. Apa lagi ia tidak sama sekali tertarik dengan usaha Tomi.


“Maaf, Pi.” Abrisam menggeleng, “ Sam nggak bisa.”


“Kamu ini keras kepala sekali. Kamu akan belajar dulu bersama Papi. Kalau Papi sudah tiada siapa yang akan melanjutkan bisnis itu? Kamu mau usaha itu bangkrut begitu saja setelah Papi meninggal?”


Sam bergeming.


“Dulu saat Papi merintis usaha itu juga atas bantuan Mamimu. Berkali-kali usaha Papi turun. Ia rela mengorbankan tabungan dan bahkan perhiasannya.” Tomi menunduk sambil memegangi dahi. Ia menjadi sedih kalau ingat pengorbanan Nisa, “Papi nggak akan rela kalau suatu saat usaha itu bangkrut lagi.”


Abrisam jadi teringat apa yang Dira lakukan terhadapnya. Menyemangati bahkan memberikan modal dari uang tabungannya. Sam juga tidak mau melihat Dira susah.


“Assalammualikum!” ucapan dari depan pintu membuat kedua lelaki yang tertegun ini mendongakkan pandangan mereka, “Eh ada Papi.”


Gadis itu segera masuk dan bersalaman dengan ayah mertua, lalu beralih ke suaminya.


“Tumben kamu cepat pulangnya, Dir?”


Pertanyaan Sam membuat Dira yang duduk di sofa yang berhadapan dengan lelaki itu terlihat lesu.


“Aku dipecat.”


Sam terkejut. Begitu pun dengan Tomi.

__ADS_1


“Kok bisa?” tanya pria tua ini.


“Ada kejadian kemarin. Aku membuat kepala koki yang baru terluka. Dia nggak terima, Pi. Padahal aku udah minta maaf. Karena kepala koki ini adalah anak dari pemilik restoran. Jadi, dengan gampang ia memecat aku.”


Tomi menepuk-nepuk lutut menantunya, “udah nggak apa-apa. Kamu nggak perlu bersedih begitu. Lagi pula kamu nggak harus bekerja kok.”


“Yang Dira pikirkan, Pi. Bagaimana untuk biaya sehari-hari sedangkan Sam nggak kerja. Kami sedang kerisis keuangan. Dira nggak mau membebankan Sam.”


Tomi tersenyum tipis, lalu menolehkan kepala, menatap anak sulungnya.


“Lebih baik kamu terima tawaran, Papi! Kamu nggak kasihan sama Dira? Cari kerja itu susah Sam. Nggak langsung dapat. Kamu udah punya yang mudah.” Tomi terus membuka pikiran anaknya.


Sam menatap Dira yang tertegun lemas. Ia yakin sekarang ini Dira jadi banyak pikiran gara-gara dirinya. Apa lagi mengingat perjuangan Mami semasa hidup. Sam jadi tidak sanggup membayangkan kantor milik Papinya itu bangkrut gara-gara ia terus keras kepala dan gengsi.


“Sam mau kerja di kantor Papi.”


Tomi tersenyum lebar. Adira yang mendengar ikut senang. Pria paruh baya ini memeluk anaknya karena terlalu senang.


•••


“Kamu yakin menerima tawaran Papi?” tanya Adira yang duduk di samping Sam.


Abrisam yang sedang bermain playstation bersama istrinya itu menoleh sekilas.


“Sam...” Dira melepas stik playstation yang ia genggam, lalu menghambur memeluk lelaki di sebelahnya, “aku sangat sayang sama kamu.”


Gadis ini melingkarkan kedua tangan ke leher sang suami. Begitupun Abrisam yang juga membalas memeluk pinggang Dira.


“Aku juga sayang banget sama kamu.” Sam mengusap-usap punggung istrinya.


“Ho...huek...” Dira yang mendadak merasakan perutnya tidak enak itu lekas melepas pelukan dan memberi jarak antara ia dan Sam.


“Kamu kenapa sayang?” Sam terlihat cemas dan memeriksa suhu tubuh istrinya dengan telapak tangan.


“Aku juga nggak tahu huek..hu..ekk” Adira lekas membungkam mulut dengan telapak tangan. Ia bangkit dan berlari ke arah kamar mandi.


Sam yang cemas ikut mengejar Dira. Ia terpaksa menunggu di luar kamar mandi. Dira yang ada di dalam tidak berhenti mengeluarkan isi perutnya. Abrisam yang ada di depan pintu sudah tidak sabar menunggu istrinya keluar.


Lelaki ini mengetuk pintu, “Sayang, kamu nggak apa-apa?”


Seperkian detik wanita yang ada di dalam keluar dengan memegangik perut dan kepala, “aku nggak apa-apa, Sam. Cuma sedikit pusing dan mual.”


Sam merangkul sang istri, “kita periksa ke dokter ya?”

__ADS_1


Wanita ini malah menggeleng “nggak usah ini sudah malam. Aku malas keluar lagi.”


“Aku takut ada apa-apa sama kesehatan kamu.”


Adira tersenyum dan mengusap-usap pipi suaminya dengan sebelah tangan, “kamu nggak usah khawatir begitu. Apa aku hamil ya?”


“Hah?”


“Aku sudah telat 2 minggu.”


“Kalau dilihat ciri-cirinya sih sama kayak yang dialami Mama waktu pertama kali mengandung.”


“Tapi aku masih kurang yakin.”


“Besok kita ke dokter aja!”


Adira mengangguk. Kali ini ia setuju saja. Tiba-tiba Sam membungkuk di depan perut Dira.


“Kamu lagi apa?” tanya gadis itu dengan dahi berkerut.


“Aku jadi nggak sabar menunggu besok. Semoga kamu udah ada di dalam perut mama ya sayang.” Sam menyentuh perut Dira dan mengusap-usap lembut.


“Aku nggak mau dipanggil mama!”


Sam mendongak menatap Dira, “lalu kamu mau dipanggil apa?”


“Bunda.” Dira mengelus-elus perutnya sendiri, “panggilnya Bunda ya sayang.”


“Jadi, aku ayah?” Sam yang sudah berdiri tegak kembali bertanya untuk memastikan.


Dira mengangguk sambil tersenyum, “iya.”


“Bunda.” Dira menunjuk diri sendiri, lalu berganti menunjuk ke Sam, “Ayah.”


Gadis itu tertawa pelan, “lucu ya.” Dia memeluk leher Sam lagi.


Abrisam jadi ikut tertawa mendengar penuturan sang istri. Ia mengangkat tubuh Dira untuk digendong ala koala.


“Kita bereskan playstation dulu setelah itu tidur.”


Dira yang melingkarkan kedua kaki di pinggang Sam ini, mengangguk dengan masih tersenyum. Abrisam memutar tubuh dan berjalan kembali ke ruang tengah dengan menggendong istrinya di depan.


•••

__ADS_1


__ADS_2