He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 35


__ADS_3

“Muka ini nggak berhenti jerawatan.” Keluh Violet menatap cermin kecil yang ia pegang.


Hari ini Adira dan ketiga temannya mengatur pertemuan di sebuah kafe. Violet dan Yara sudah datang dari 10 menit yang lalu. Mereka sedang menunggu Kayana dan Adira yang datang ngaret.


“Lo sih dilarang makan kacang masih aja disantap,” balas Yara menanggapi sambil mengaduk minuman yang baru datang setelah dipesan.


“Habisnya enak sih. Kata nyokap gue ini hormon juga. Biasa masih berjiwa muda.”


“Jiwa muda, muka tua.” Yara tertawa keras sehabis mengejek temannya itu.


Pintu kafe terbuka, Kanaya melambaikan tangan pada meja yang ada di bagian tengah. Kedua gadis yang sedang menunggu itu ikut melambaikan tangan mereka.


Kanaya melangkah cepat untuk mendekati Violet dan Yara. Ia lekas duduk saat sampai di tujuan. Matanya memperhatikan kedua gadis itu.


“Dira belum datang juga?” tanya Naya meletakkan tasnya di atas meja.


“Belum, nggak tahu nih kemana itu anak. Padahal tadi ditelepon bilangnya OTW,” jawab Violet dan menyimpan cermin kecilnya ke dalam tas.


“Aku pikir tadi aku telat datangnya. Ternyata Dira lebih telat.”


“Ya sudah pesan dulu aja! Mau pesan apa?” Violet mengangkat sebelah tangan untuk memanggil pelayan kafe.


“Itu Adira ‘kan?” tanya Yara memastikan. Violet dan Kanaya menoleh ke arah pintu.


Adira baru saja turun dari motor dan memberikan helm. Ia datang diantar oleh Abrisam. Namun, setelah bersalaman lelaki itu pergi. Gadis yang sudah ditunggu-tunggu ketiga temannya ini segera masuk dan mendekati meja yang temannya tempati.


“Maaf ya, guys. Gue harus izin dulu ke bos buat kerja setengah hari aja. Kalian sih ngumpul bukan saat gue libur.” Adira sudah bergabung duduk bersama teman-temannya itu.


“Lo juga aneh minggu kok kerja,” balas Yara.


“Mau gimana lagi, gue kebagian libur di hari rabu. Udah aturan dari sananya.”


“Ya sudah nggak usah bahas kerjaab terus.” Kanaya memberikan buku menu ke Dira, “pesan minum sama makan dulu aja.”


“Oh iya, rencananya gue udah mau tunangan,” ucap Violet kembali membuka percakapan setelah semua pesanan terhidang ke meja mereka.

__ADS_1


Dira menolehkan kepalanya, “cepat amat? Lo baru pacaran 2 bulan ‘kan?”


“Iya,” balas Violet dengan ringan, “untuk apa berlama-lama. Kita ngerasa udah cocok dan siap nikah. Ya, jalanin aja. Doi juga yang ngajakin pertama kali.”


“Selamat ya, Vio. Semoga langgeng.” Kanaya tersenyum lebar, lalu lanjut menyantap makanannya.


“Terima kasih Kanaya. Naya kapan nih nyusul punya pacar. Jangan kayak Yara. Nunggu dijodohin dulu kelihatan nggak lakunya.” Violet mengecilkan suara mengucapkan kalimat terakhir.


“Jangan bongkar-bongkar gitu dong lo! Lagian gue mau dijodohin bukan nggak laku ya. Cuma punya prinsip pilihan orang tua lebih baik.” Yara mencoba membela diri.


Violet tertawa sambil memotong daging yang ia santap.


Sambil menunduk Kanaya menceletuk, “aku udah punya pacar kok.”


Ketiga gadis yang sedang makan ini serentak terkejut mendengar penuturan temannya yang kalem ini.


“Sama siapa?” tanya Violet dengan cepat.


Adira mengangguk, “iya, kapan jadiannya? Kok nggak cerita ke gue?”


Kanaya menatap ketiga temannya itu, “baru 2 hari yang lalu. Aku malu buat cerita ke kalian.”


Malu-malu Kanaya menjawab, “Emran.”


Semuanya terkejut kembali. Tidak menyangka Emran dan Kanaya bisa pacaran. Padahal mereka pikir Naya akan jadian dengan Afraz.


“Gimana ceritanya bisa jadian kalian?” tanya Adira sebelum meneguk minumannya.


Kanaya menjelaskan proses ia mulai dekat dengan cowok itu. Mulai dari chattingan. Ketemu sampai Emran menyatakan cinta padanya. Ia juga memberi tahu kalau sebenarnya nggak suka dengan Afraz selama ini.


•••


Adira jadi kepikiran pertanyaan teman-temannya ketika kumpul kemarin di kafe.


“Lo udah isi, Dir? Udah lumayan lama ‘kan lo nikah?”

__ADS_1


Wanita ini menunduk sambil mengelus-elus perutnya yang datar. Sudah 4 bulan menikah ia juga belum ada tanda-tanda hamil. Winda juga beberapa kali bertanya apakah Dira sudah mengandung.


Ia ingin sekali memberikan keturunan cepat untuk Abrisam dan cucu untuk orangtua mereka.


Namun, belum dikasih sampai sekarang. Adira cuma takut saja ini berlangsung terlalu lama atau bahkan ia tidak dapat memberikan anak pada Sam.


Adira menggelengkan kepalanya kuat. Ia menepis pikiran buruk itu. Dia harus optimis. Kalau terus berusaha dan berdoa kelak pasti ia diberi kesempatan untuk hamil.


Ketika pintu ruang staf dapur terbuka Adira menoleh. Ternyata teman satu profesi dengannya masuk.


“Ada apa Mbak Anita?” tanya Adira yang masih bersantai di sofanya, “butuh aku buat masak ya?”


Adira cepat berdiri. Padahal baru beberapa menit dia beristirahat setelah memasak pesanan pengunjung.


“Bukan, tapi semua koki disuruh keluar sama Pak Manager karena kita mau menyambut koki kepala yang baru,” jelas wanita yang usianya lebih tua dari Dira ini.


“Hah?” Adira sedikit terkejut, “oke-oke, Mbak. Ini saya mau keluar.”


Anita lebih dulu keluar ruangan santai itu. Sedangkan Dira merapikan dulu pakaiannya. Tidak enak nanti dilihat buruk oleh koki kepala yang baru. Kita harus menunjukan kesan pertama yang bagus untuk orang baru. Agar kedepannya semua berjalan mulus.


Adira mengambil posisi di sebelah Anita saat keluar dari ruang santainya. Sekarang ia terfokus pada Pak Manager.


“Kalian juga semua sudah tahu mengapa kita ganti kepala koki yang baru. Karena yang sebelumnya pindah keluar kota. Jadi, saya harap dengan kepala koki yang baru kalian kerja lebih bagus lagi. Tolong berikan kesan yang baik untuk kepala koki kita ini. Jangan membuat saya malu sudah memilih kalian sebagai karyawan.” Pak Manager menoleh ke pintu dan memberi kode agar orang yang menunggu di luar segera masuk, “silakan masuk, Pak!”


Seperti melihat hantu di siang bolong. Adira membuka kedua matanya lebar-lebar. Dua bola mata itu seperti ingin melompat keluar. Betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang masuk ke dapur.


Pria dengan rambut pirang, hidung mancung dan sepantar dengan Dira ini, mengulas senyum pada semua orang yang ada di ruangan itu.


“Perkenalkan saya Gabriel Alexander yang akan menggantikan koki kepala terdahulu. Senang bertemu dengan kalian. Jangan takut atau bahkan menyepelekan saya karena lebih muda dari kalian. Saya bisa diandalkan.”


“Pak Gabriel adalah anak dari pemilik restoran ini. Beliau baru lulus dari Universitas Australia beberapa bulan lalu dengan nilai terbaik. Semoga kalian bisa mengakrabkan diri dengan beliau.”


Semua orang sibuk memberikan selamat atas kelulusan Gabriel. Namun, berbeda dengan Adira yang masih tidak percaya ia bertemu pria itu lagi. Apa lagi kali ini Gabriel adalah bosnya. Ternyata Pria bule itu juga menyadari keberadaan Dira, tetapi ia tidak terkejut bahkan terlihat biasa saja.


•••

__ADS_1


Note:


Kemungkinan ini konflik terakhir sebelum cerita ini End. Jadi kalian siap-siap terguncang. Pakai sabuk pengaman dulu biar selamat sampai akhir :v wkwk


__ADS_2