
Manha dan Emran sampai ternganga melihat Abrisam yang sedang asyik melahap mangga muda. Padahal mereka membelikan untuk Adira yang sedang hamil.
Dari semalam memang sudah berdatangan orang yang menjenguk Sam. Tomi, istri dan anak-anaknya, Dimas yang datang sebelum berangkat bekerja, dan sekarang kedua sahabat Sam.
“Sam apa nggak asem?” tanya Manha yang penasaran. Karena temannya ini sangat lahap memakan buah tangan darinya.
“Dikit, asem ada kecut-kecutnya juga. So far enak di lidah gue. Makasih ya, guys. Kalian tahu aja gue mau makan mangga.” Sam tertawa, menganggap ini lucu.
“Itu untuk Adira yang lagi ngidam kenapa lo makan?” tanya Emran, “yang hamil ‘kan, Dira.”
Abrisam berhenti memasukkan potongan mangga ke mulutnya, “gue sudah izin kok. Katanya, makan aja. Dia nggak mau, asem.”
Manha menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Bingung ‘kan lo?” kedua lelaki itu mengangguk, “gue pun sama. Kenapa gue jadi suka mangga muda gini. Kata Dira ini karena penyakit gue.”
“Ada penyakit seperti itu?” tanya Emran dengan dahi berkerut.
Adira datang membawakan dua gelas minuman dingin dan cemilan di piring. Ia menata semua itu ke meja.
“Sam terkena sindrom kehamilan simpatik. Ada beberapa yang harusnya dialami ibu hamil, tapi digantikan oleh suaminya.” Adira ikut bergabung dalam percakapan ketiga lelaki ini.
“Ini pasti karena Sam terlalu bucin.” Manha tertawa keras sehabis meledek sahabatnya.
“Eh, eh, berhenti nggak ngatain gue bucin!” Sam menunjuk-nunjuk menggunakan otongan mangga di tangan, “mau gue patahin tulang leher lo itu?”
Manha berhenti tertawa dan memegang lehernya. Ia berantisipasi terhadap serangan Sam.
“Sam...” Adira melirik Abrisam dan menggeleng saat lelaki itu menoleh padanya.
Dira kembali ke dalam dengan membawa nampan. Ia membiarkan ketiga lelaki itu mengobrol di ruang tengah. Banyak mereka bicarakan hingga tidak terasa sudah satu jam berada di rumah Sam.
“Kita pamit balik dulu ya, Sam.” Emran mengambil kunci motor di atas meja. Sedangkan Manha sudah berdiri.
“Buru-buru amat?”
“Ada urusan mendesak.”
“Memang urusan lo apa? Kan udah nggak kuliah lagi.”
“Biasa si Emran, mau pacaran sama Kanaya. Bucin kedua iya begini,” ujar Manha yang kini bersuara lagi.
“Sirik bilang, mblo!”
Manha mencibir setelah mendengar balasan Emran.
“Pamit ya, Sam. Cepat sembuh. Dua hari lagi kita lihat nilai kelulusan. Semoga kita semua bisa lulus bareng seperti waktu di SMA.”
“Amin.” Sam berdiri dan merapikan baju kaus yang sedikit terlipat di ujung bawahnya, “kalian hati-hati bawa motornya!”
__ADS_1
“Siap bosque!”
•••
Abrisam dengan setelan jas hitam dan kemeja biru dongker, duduk di atas motor kesayangannya. Ia sedang menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.
Pria yang sudah sedikit membaik dari sindromnya ini baru saja selesai melihat nilai di kampus. Penampilan yang begitu rapi sempat menggemparkan teman-teman sekelasnya. Bahkan mahasiswi dari kelas lain pun memujinya sangat tampan. Ini karena Sam masih bekerja di kantor dan meminta izin keluar dengan Tomi sebentar untuk ke kampus. Maka dari itu ia memakai pakaian untuk ke kantor.
Selagi menunggu Sam tidak sengaja melihat seseorang yang dikenal ada di dalam taksi yang berhenti tepat di sebelahnya. Ia membuka kaca helm dan memfokuskan penglihatan pada seorang gadis.
“Tania?” gumamnya.
Baru saja akan menyapa lampu lalu lintas sudah berubah warna. Semua kendaraan kembali berjalan. Taksi itu berbelok sedangkan Sam harus lurus. Karena butuh penjelasan mengapa Tania meninggalkan kampus begitu saja tanpa pamit dengan Sam dan teman-teman yang lain akhirnya Sam mengejar taksi itu.
“Tania!” Sam terus menekan klakson motor, “Tania tunggu!”
Ia juga tidak berhenti berteriak agar taksi ini berhenti.
“Tania gue mau bicara sama lo!”
“Mbak sepertinya ada yang mengikuti kita,” ucap sopir taksi yang mengamati kelakuan Sam dari spion.
Tania menoleh ke belakang. Samar-samar ia mendengar Sam meneriaki namanya.
“Sam? Mau apa dia?” gumam gadis ini sambil berpikir.
Tania menoleh ke depan, “kita berhenti sebentar, Pak.”
Abrisam tersenyum melihat taksi itu menepi. Ia pun memelankan laju motor dan ikut menepi. Sam melepas helm, lalu segera turun dari motor.
Tania keluar dari taksinya. Beberapa detik mereka saling melempar pandangan sebelum percakapan dimulai oleh Sam.
“Lo ke mana aja? Gue dan Jodi cari lo ke mana-mana. Kata tetangga lo, lo pulang kampung.”
“Gue emang pulang kampung. Gue balik lagi hanya mengambil barang yang tertinggal dan hasil penjualan rumah,” balas Tania perlahan menjelaskan.
“Kenapa lo tiba-tiba saja pergi? Kuliah juga lo telantarin dan...”
“Gue udah berhenti kuliah, Sam.” Tania lekas menyela ucapan teman laki-lakinya itu.
“Pasti semua ini ada alasannya ‘kan? Lo ada masalah? Kenapa nggak pernah cerita sama gue?”
“Masalah gue itu lo!”
Tania yang sudah berusaha menahan emosi akhirnya meledak. Ia sudah sedikit melupakan Sam beberapa bulan ini. Namun, melihat lelaki itu ada di hadapannya lagi semua perjuangan terasa cuma-cuma. Kalau bahasa gaulnya ia gagal move on.
“Gue?” Sam merasa bingung. Mengapa dia jadi masalahnya, “gue ada salah apa sama lo? Bukannya selama ini kita berteman baik.”
“Salah lo karena sudah bikin gue jatuh cinta sendirian. Gue suka sama lo, Sam. Melihat lo menikah dengan Dira, gue merasa nggak ada lagi kesempatan. Maka itu gue pilih buat jauhin lo. Jauh dari kota ini.” Tania menangis menjelaskan isi hati sebenarnya.
__ADS_1
Sam mundur selangkah. Ia sempat tidak percaya, “gue anggap lo sahabat. Nggak sangka ternyata lo punya rasa berlebih. Seharusnya lo nggak seperti ini, Tan!”
“Lo salahin gue?” Tania menunjuk-nunjuk dada, “lo mikir nggak sikap lo ke gue bagaimana? Siapa yang nggak akan baper diperhatikan Sam? Selalu dijaga. Sikap lo ke gue yang buat gue suka.”
Abrisam baru sadar kalau selama ini perhatiannya sebagai teman dianggap berbeda dengan Tania. Padahal ia dulu juga memperhatikan Kanaya sama seperti memperhatikan Tania. Namun, ia sangka gadis itu akan biasa saja ternyata berbeda yang didapat. Sam tidak bisa menyamaratakan orang seperti Kanaya.
“Gue hanya mencoba care ke semua teman dekat gue. Gue nggak sangka lo malah jatuh cinta. Maafkan gue, selama ini gue memang menjaga lo karena lo cewek dan amanah dari nyokap lo sendiri. Gue nggak bisa kasih status selain sahabat buat lo. Lo tahu sendiri gue sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak.”
Tania mendongakkan kepala agar air mata tidak meluncur lagi di pipi. Ia menatap Sam sambil tersenyum miris.
“Jadi lo mau punya anak?”
Sam mengangguk, “Adira sedang mengandung sekarang.”
“Selamat ya, semoga kalian terus bahagia.” Tania melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan, “gue harus pergi takut ketinggalan bis.”
“Lo nggak akan tinggal di sini lagi?”
Pertanyaan Sam membuat langkah Tania terhenti lagi. Gadis berpakaian casual ini mengusap wajah yang masih berair, lalu kembali menoleh ke belakang.
“Untuk apa? Kuliah gue sudah ancur, ibu sudah nggak ada dan cinta? Gue nggak mendapatkannya. Lebih baik gue tinggal di kampung. Mencoba menata hati kembali.” Tania masih mencoba untuk tersenyum.
“Maafkan gue, Tan. Coba kalau gue nggak seperti itu. Mungkin kita bisa sama-sama lulus tahun ini.”
“Setelah gue pikir ini sepenuhnya bukan salah lo, tapi gue juga salah. Karena cinta gue malah menghancurkan masa depan. Bodoh!” Tania tersenyum kecil. Ia menundukan kepala dan membuat air mata itu terjun bebas di pipi, “gue terlalu berekspetasi tinggi dan akhirnya mendapat kekecewaan yang dalam.”
Abrisam jadi tertegun mendengarkan perkataan gadis itu. Tania menghapus air matanya lagi.
“Nggak apa-apa. Gue dapat pelajaran yang banyak dari kejadian ini. Kalau ada uang. Kuliah bisa gue ulang lagi. Gue pamit, semoga lo selalu bahagia dengan Dira.”
Setelah mengucapkan kalimat terakhir Tania kembali masuk ke taksi. Sedangkan Abrisam hanya bisa meratapi kepergian kendaraan roda empat itu.
•••
Cuap-Cuap~
Kalau ada yang menganggap mengapa sikap Sam begitu. Itu memang karakternya di season ini. Meraka masih muda jadi wajar sedikit labil. Sam punya sifat care ke orang-orang sampai nggak sadar kalau berlebihan. Semua ini ada karena sebagai pengalaman hidup. Yang salah jangan sampai terulang lagi.
kok beda sama Sam yang dulu? hampir sama kok guys. Sam dulu pemberontak dan care ke keluarga, teman, dan orang bernasib kurang baik dibawahnya. hingga pemberontakannya jadi jalan untuk menyadarkan Tomi. selalu berusaha membuat Adira bahagia. Sekarang dia menuju dewasa. Tetap care ke keluarga, teman, dll. masih keras kepala dan berusaha tidak goyah pendirian. namun, nasib membuatnya melunturkan ego. selalu berusaha membuat adira bahagia.
Pesan yg bisa diambil dari part ini.
Untuk cowok kalau perhatian jangan terlalulah sama perempuan. apa lagi gak bisa kasih kepastian wkwk
Kalau cewek, jangan jadi tania. cepet baper, dan berekspetasi tinggi. akhirnya kecewa juga kalau gak sesuai harapan.
Oke itu aja ocehan gue yg panjang ini. kalau gak dibaca juga gak apa-apa. sampai bertemu di part berikutnya. ~
Oh iya, TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SETIA MEMBACA CERITA INI DAN MEMBERIKAN LIKE, KOMEN, VOTE, SERTA RATE. MAKASIH BANYAK. JANGAN LUPA DI VOTE YA HEHE ❤
__ADS_1