
“Kalau lo masih nekat ngejar gue. Gue nggak segan-segan lukain lo!”
Mata Dira membulat melihat pisau dan mendengar ancaman si penjambret.
Dari jauh Abrisam yang menaiki motornya menyipitkan mata agar jelas melihat objek di depan.
“Adira?” gumamnya.
Sam menoleh ke sebelah, “Kin, Kino kita berhenti tolong cewek itu dulu!”
Teriakan Sam membuat temannya yang juga mengendarai motor menoleh, lalu mengangguk. Kedua lelaki itu menepikan motornya.
Si penjambret menoleh ke belakang. Sam dan Kino turun setelah melepas helm mereka.
“Siapa kalian?” pria berwajah seram dengan luka di pipi itu menodongkan pisau ke arah Sam dan temannya, “nggak usah jadi pahlawan kesiangan.”
“Sam HP gue dijambret dia,” ucap Adira yang masih duduk di jalan.
“Kembaliin HP-nya! Atau lo mau jodet di pipi itu nambah?” Sam mengepalkan tangan dan mengelus-elus dengan tangan satunya.
“Aaakkh... banyak omong!”
Si penjambret mengacungkan pisau ke depan Sam. Dengan sigap Sam menghindar. Dibantu Kino, teman satu geng motornya itu Sam mengajar penjambretnya.
Adira yang ketakutan akan terkena pukulan oleh ketiga cowok itu segera bangkit dan menepi, mencari tempat yang lebih aman.
Sam lebih dulu menjatuhkan pisau dari tangan penjambret. Bergantian dengan Kino, Sam memberikan tinjuan di wajah, perut dan menyiku punggungnya. Kino merogoh saku celana pria yang sudah terkapar itu. Memberikan ponsel yang ia dapat pada Sam. Setelahnya si penjambret yang ternyata masih bisa berdiri itu lari terbirit-birit meninggalkan mereka.
“Woi ini pisaunya ketinggalan!” sorak Kino pada pria yang sudah menjauh itu, lalu ia dan Sam tertawa.
Sam menoleh ke Adira yang terdiam di pinggir. Cowok itu memandangi Dira cukup lama sambil mengatur napasnya yang sesak.
Ia tersadar saat Kino menepuk pundaknya. Sam berjalan mendekat ke depan Adira.
Sam mengulurkan ponsel ke Dira, “HP lo.”
“Makasih.” Adira menerima ponselnya, “untung ada lo, Sam. Terima kasih sekali lagi.” Mata hitam milik Dira tidak lepas menatap Abrisam.
“Ini juga berkat Kino.” Sam menoleh sekilas ke belakangnya.
Adira melihat ke arah Kino. Cowok itu tersenyum ramah.
“Dia satu sekolah sama lo, Sam?” pertanyaan Kino diangguki cowok itu, “lebih baik lo anter dia pulang deh. Takutnya jambret itu balik lagi.”
Mendengar ucapan Kino. Adira melihat Sam kembali. Cowok yang berdiri di depan Dira itu menunduk dan kembali mengangkat kepalanya. Terlihat jelas ia bingung dan ragu.
“Ayo, gue anter pulang.” Dira tersenyum mendengar penawaran Sam.
Gadis ini tahu seorang Abrisam yang kasar dan pembuat rusuh di sekolah itu masih punya hati tidak akan tega membiarkan perempuan sendirian di tempat sepi.
__ADS_1
Adira duduk di boncengan. Senyumnya tidak luntur. Begitu senang hari ini bisa selangkah lebih dekat lagi dengan Sam.
“Gue nggak bawa helm untuk lo. Semoga udah nggak ada polisi lagi,” ujar Sam.
Dira mengangguk, “iya nggak apa. Semoga kita nggak ketilang.”
Yang membuat Abrisam terkejut Adira nggak segan-segan memeluk pinggangnya. Alasannya ia masih gemeteran. Ditengah perjalanan Kino berbelok arah dan berpisah dengan Adira dan Abrisam.
Motor itu berhenti di depan pagar rumah Dira. Cewek ini lekas turun, “makasih.”
Sam menoleh. Dari kaca helmnya yabg terbuka ia menjawab, “sama-sama.”
“Gue nggak nyangka lo masih peduli sama gue.”
“Jangan GR dulu, kalau bukan lo yang kejambretan juga gue akan tolong dia. Gue nolong karena kemanusiaan.”
Adira mendadak lesu. Sam masih jutek padanya. Cowok itu memperhatikan tangan Dira yang memegang lengan dan Sam juga melihat lutut cewek itu yang lecet.
“Lo luka-luka. Jangan lupa nanti di obatin.”
Sam menutup kaca helmnya dan menggas kembali motor, lalu pergi begitu saja meninggalkan Adira yang masih terdiam sendiri.
Perlahan sudut bibir Dira tertarik dan bibirnya membentuk setengah lingkaran.
“Aw... pelan-pelan, Ma.”
Winda sibuk mengobati luka di tangan anak perempuannya itu. Dengan hati-hati ia melumuri betadin ke siku dan lutut Adira yang lecet.
“Untung ada Sam yang menolongmu. Lain kali, main ke rumah teman jangan terlalu sore pulangnya. Itu tuh nggak mau dengerin kata Mama.”
Dimas yang duduk di tangan sofa hanya mengamati sang ibu yang mengomeli adiknya dengan sesekali menoleh ke arah televisi yang menyala.
“Maaf, Ma. Adira kira nggak apa-apa soalnya sudah sering main ke rumah Vio.”
“Tapi kamu waktu itu pulang sama temanmu ‘kan?”
Adira mengangguk pelan, “Yara nggak ikut tadi dia ada urusan.”
“Sekarang ini kamu nggak boleh main sampai sore. Kalau nggak ada yang nganter kamu pulang.”
Adira hanya tertegun. Dari belakang Winda, Dimas menunjuk-nujuk adiknya mengikuti gaya sang Mama.
“Ma, Kak Dimas itu ngeledek,” seru Dira menunjuk ke depannya dan berhasil membuat Winda menoleh, lalu manepuk pahanya.
“Aw... sakit, Ma.” Dimas ngelus pahanya yang terasa panas.
“Jangan seperti itu mama sedang menasihati adikmu!" kemudian Winda menatap Adira lagi.
__ADS_1
“Dengar itu Adira! Kalau kamu melanggar Mama nggak kasih kamu uang jajan selama seminggu.”
“Baik, Ma.” Adira menjawab dengan lesu.
Winda membereskan kotak obat setelah beres mengobati anaknya.
Kemudian ia berdiri, “kalau kamu main jangan lupa hubungi Mama dulu.”
Adira mengangguk, “iya.”
Winda berjalan pergi membawa kotak P3K ke arah belakang. Dira membenarkan posisi duduknya dan menatap televisi yang sedang menayangkan sebuah acara.
Dimas turun dari atas tangan sofa pindah ke sebelah Dira.
“Ngomong-ngomong yang nolong lo Sam ‘kan?” tanya Dimas berhasil membuat dirinya ditatap Dira.
“Iya, kenapa?”
“Kok dia nggak pernah ke sini lagi?” Dimas menoleh dan membuat matanya dengan mata adiknya itu bertemu, “bukannya kata lo, kalian mau belajar bersama selama ulangan?”
“Ulangannya udah selesai kali. Makanya gue tadi main.” Adira menunduk, memeriksa luka dilutut yang sudah diberi obat.
“Dari kemarin dia nggak ke sini.”
Dira mendongak kembali, “kepo banget sih lo? Udah deh nggak usah ngurisin urusan orang.”
“Kalian lagi marahan ya?” bukannya marah karena sudah dijutekin sama Dira. Dimas masih saja berusaha agar adiknya bercerita padanya.
“Kayak netizen lo, sok tahu,” balas Adira dengan volume suara yang dinaikan sedikit.
“Kalau ada masalah cerita aja sama gue.” Dimas memukul-mukul dadanya, “gini-gini gue pakar cinta.”
Adira mencebikkan bibirnya, “heleh, mana ada jomblo pakar sama cinta. Pacar aja nggak punya.”
Adira tertawa setelahnya. Perkataannya berhasil bikin Dimas sewot.
Winda yang datang lagi ke ruang tengah tiba-tiba berbicara. Membuat kakak-adik itu menoleh padanya.
“Besok pulang sekolah ajak Sam ke sini ya! Bilang mau Mama ajak makan-makan. Sebagai ucapan terima kasih Mama sama dia udah selamatin kamu.”
“Tapi Ma...”
“Nggak ada tapi-tapian.” Winda terus berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Dira menggigit bibir bawahnya. Sekarang ia berpikir bagaimana mengajak Sam untuk main ke rumahnya.
“Kalau nggak ada masalah ajak aja kenapa kelihatannya bingung?”
Adira menggeleng saat mendengar Dimas bertanya.
__ADS_1
“Dira nggak bingung kok.”