He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 62


__ADS_3

Adira keluar dari ruangan Lab. Komputer dan kembali memasang sepatunya. Ia berjalan ke arah kantin dengan wajah ditekuk.


Yara tersenyum saat Adira mendekati mejanya, Vio dan Sam.


“Sini, Dir!” Yara mengerakkan tangan sebagai tanda.


Sam yang sedang menggigit kerupuk mendadak menoleh untuk melihat kekasihnya yang baru datang itu. Dira duduk lemas di sebelah Sam.


“Muka lo kenapa kusut begitu?” tanya Violet setelah menyeruput es tehnya.


Abrisam juga ikut memperhatikan, “iya, kayak baju yang belum distrika. Kamu kenapa?”


“Tadi gue udah lihat tuh hasil tes beasiswa di Victoria University, tapi...” ucapan Adira terpotong membuat ketiga orang yang menyimak di dekatnya itu menjadi bingung.


“Tapi apa?” tanya Yara.


“Kamu diterima ‘kan?” tambah Sam.


Adira menatap Sam, lalu menggeleng.


“Nggak, aku nggak dapat beasiswanya.” Dira seketika murung, “bagaimana ini? Tanpa beasiswa itu mama nggak akan ngizinin. Nggak ada uang untuk biaya semesteran.”


“Kamu yang sabar ya.” Sam mengelus-elus punggung Dira pelan.


“Sabar ya, Dir. Lo ‘kan masih bisa kuliah di sini,” ucap Yara mencoba menghibur hati sahabatnya itu.


Dira melipat kedua tangannya di atas meja, “padahal kuliah di sana itu impian gue selama ini.” Gadis itu menghela napas.


Sam menarik tangannya kembali dan melanjutkan menyantap ketoprak yang ada di hadapannya.


“Dari pada lo sedih-sedih mending pesan makanan sana. Itu nanti lagi di pikirin. Jangan cuma mikirin itu lo sakit,” kata Violet yang masih sibuk makan.


“Mau aku pesanin?” tanya Sam berhenti menyendok makanannya.


Adira menoleh, “boleh.”


“Mau makan apa?” Sam mengambil gelas berisi es jeruk kesukaannya. Ia meneguk minuman itu tanpa menggunakan pipet.


Adira melihat satu-persatu makanan yang di makan sama kekasih dan kedua sahabatnya.


“Samain kayak kamu aja deh.”


Abrisam meletakkan gelas yang ia pegang, “oke, tunggu sebentar ya.”

__ADS_1


Sam mulai berdiri dan mengusap sekilas kepala Adira sebelum melangkah pergi.


“Jangan pedas-pedas ya, Sam!”



Adira duduk lesehan di ruang tamu rumahnya. Sekarang ini ia sedang fokus belajar. Makin dekat dengan ulangan nasional gadis itu memang makin rajin. Dirinya juga tidak lupa mengingatkan Abrisam untuk mengulang-ulang membaca buku pelajaran agar nilainya makin meningkat.


Dimas yang baru keluar dari kamar tersenyum tipis saat melihat adiknya ada di ruang tamu dengan banyak buku di depannya. Cowok itu berjalan ke arah dapur. Tidak lama Dimas keluar lagi dengan membawa dua gelas kopi. Ia berjalan mendekati Adira.


“Tumben belajar di sini?” Dimas meletakkan salah satu gelasnya ke meja.


Adir mendongak. Melihat sang kakak yang duduk di atas sofa dengan satu kaki naik ke sofa.


“Ganti suasana aja, Kak.” Adira melihat ke arah gelas yang ada di hadapannya, “bosen juga belajar di kamar terus.”


Dimas mengangguk-angguk sambil menyeruput kopi yang masih hangat.


“Ini buat gue?” Dira mengangkat gelasnya.


Dimas mengangguk, “iya, sengaja gue bikinin buat lo. Biar bisa melek lebih lama itu mata. Baik ‘kan gue?”


“Iya deh yang baik.” Dira mencebikkan bibirnya, “makasih ya.”


“Sama-sama, diminum dong.”


“Gimana pas gulanya?”


Adira mengangguk sambil tersenyum, “pinter juga lo, Kak.”


“Dimas gitu loh.”


Adira tertawa dan kembali menatap buku-buku pelajarannya.


Pintu rumah berdecit saat seseorang masuk ke dalam. Adira dan Dimas serempak menoleh ke sumber suara.


“Dari mana, Ma?” tanya Dimas masih memegang gelasnya.


Winda kembali menutup pintu dan berjalan mendekati kedua anaknya. Wanita itu duduk di sofa dekat Dira duduk.


“Mama dari rumah, Pak RT.” Winda menyandarkan punggungnya pada sofa.


“PDKT sama Pak RT?” ceteluk Dimas.

__ADS_1


“Huss, sembarangan kamu ini.” Dimas yang ditegur malah tertawa.


Adira menatap kakaknya itu, “Kak Dimas emang mulutnya suka asal. Yang ada mama bisa dilabrak sama Bu RT kalau PDKT sama suaminya.”


“Gue ‘kan cuma bercanda. Serius amat sih lo bocil!” Adira mengerutkan bibirnya dan kembali membaca buku.


“Mama ke situ buat ngomongin pesanan kue sama Bu RT. Minggu ini ‘kan perkumpulan ibu-ibu PKK di rumah Bu RT. Jadi, butuh kue buat suguhan.”


Dimas mengangguk-angguk mengerti.


“Banyak Ma pesanannya?” tanya Adira tanpa melihat ke arah Winda.


“Lumayan, Dir.” Winda menegakkan tubuhnya dan duduk bergeser ke pinggir sofa, “oh iya, Dir. Tadi kata Bu RT ponakannya juga lagi cari beasiswa keluar negeri. Sayang dia nggak keterima. Punyamu bagaimana?”


Adira yang sedang menulis-nulis rangkuman catatannya menghentikan pergerakkan tangan. Susah payah gadis itu menelan air liurnya.


Dimas yang asik meneguk kopinya juga memperhatikan Adira.


“Iya, gimana hasilnya, dek?”


Dira menoleh pada Dimas, lalu menengok ke Winda.


Adira menggeleng pelan, “Dira juga nggak berhasil, Ma. Padahal Dira pengen banget kuliah di Victoria University.” Gadis itmenunduk lesu sambil menatap bukunya.


Winda mengelus-elus punggung anaknya, “yang sabar ya sayang. Beum rezekimu itu.”


“Coba aja Mama ada uang. Dira mau tetap kuliah di sana.”


Ibu dua anak itu ikut murung. Ia kasihan dengan putrinya ini. Impian Dira harus kandas karena biaya yang tidak cukup.


“Udah sih, kuliah di kampus gue aja. Kasihan Mama mikirin biaya kuliah mahal. Kalau bisa kita itu meringankan beban Mama.”


Adira mengangakat kepalanya. Perkataan kakaknya itu ada benarnya. Gadis ini menatap Winda.


“Ma, Dira nggak apa-apa kok. Mama jangan khawatir. Dira mau kuliah di kampus Kak Dimas aja.”


Dira memutar tubuhnya menghadap ke belakang. Ia genggam kedua tangan sang ibu dan meletakkan kepalanya di paha Winda.


Winda menarik satu tangannya dari genggaman, lalu mengelus-elus kepala anak bungsunya ini.


“Kamu benaran nggak apa-apa?”


“Nggak, Ma. Dira juga nggak mau jauh-jauh dari Mama. Kalau kuliahnya di sini kita masih bisa tinggal bersama.” Adira tersenyum tipis dengan kepala masih ia rebahkan di paha Winda.

__ADS_1


Dimas tersenyum. Adiknya tidak keras kepala. Winda tahu walau Dira bilang begitu pasti gadis ini masih sangat menginginkannya. Telah lama Dira bilang ia akan melanjutkan pendidikan di luar negeri untuk menjadi chef handal.



__ADS_2